
Adinda berusaha bangkit dan bersandar kembali dari tidurnya. Ryan mengambil posisi duduk di ujung bibir kasur itu, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat.
"Sebaiknya, pikirkan dulu kondisi kesehatan kamu, masalah itu, nanti bisa kita urus sama-sama yah!" jawab lembut dan senyum Ryan.
"Setelah kandungan ini sudah tidak ada lagi.
Aku merasa tidak enak, terlalu lama menyandang status menjadi istri kamu Ryan. jika, kamu mencintai Vita, nikahilah dia, mengapa kalian para pria suka sekali mempermainkan wanita!" celoteh Adinda dalam wajah datarnya.
"Aku sudah katakan, kami tidak ada hubungan spesial, hanya sebatas partner bisnis saja, dia yang terlalu obsesi kepadaku. Adinda kamu tau kan, jika orang yang mencelakai kamu ini adalah Vita sendiri dan di dukung besar oleh Nia, apa kamu tidak berniat untuk mengusut kasus ini, aku janji akan membantumu!" desak Ryan yang begitu bersemangat.
"Untuk apa? Untuk memperbesar masalah? lagian, aku lah yang salah disini, hadir di tengah-tengah Frans dan kamu, Frans sudah milik Nia dan kamu juga sebelumnya sudah milik Vita. Harusnya aku tidak menikah denganmu!"
"Tapi...!"
"Ryan, yang aku inginkan sekarang adalah, keluar dari masalah ini dengan cepat, tidak ingin ada diantara kalian lagi, Vita mencintai mu, tentu dia cemburu, semakin cepat kau menceraikan aku, maka hatiku semakin tenang!" ucap Adinda dalam air mata berlinang.
"Kamu itu terlalu baik atau gimana si Adinda, sama sekali tidak ingin membalas mereka, malah menyuruhku menikah dengan Vita, si perempuan licik itu, bodohnya aku masih terjerat dengan bujuk rayunya, padahal aku sudah tau seperti apa wanita itu" gumam apes Ryan.
Sejujurnya, Ryan ingin mengungkapkan perasaannya malam itu kepada Adinda, tapi ia malu dan tidak berani, karena selama ini, ia terlalu banyak menghardik Adinda, setelah menyadari, hal itu ternyata bentuk dari rasa ego dan emosinya akibat cemburu melihat Adinda yang terlalu obsesi dengan Frans.
"Untuk saat ini fokuslah pada kesehatan mu saja, semuanya serahkan padaku!" ucap Ryan menepis pipi Adinda yang basah.
"Ouh Iyah, sebenarnya kedatangan ku kesini, ingin mengatakan, kenapa kamu mau tidur di kamar ini?" tanya Ryan.
"Supaya dekat dengan ke kamar mandi, memangnya kenapa?" tanya balik Adinda.
"Di kamar ku juga ada kamar mandi!"
"Itu kan kamar mandi kamu!"
"Kalau sedang sakit begini, kamu bebas pakai, tidak masalah!" senyum Ryan.
"Sudahlah, disini lebih aman!" ucap Adinda.
"Bukan begitu, aku sedikit khawatir!" kata Ryan.
"Maksudnya?"
"Kamar ini punya alasan, mengapa tidak dipilih menjadi kamar tetap dan lebih baik menjadi kamar tamu!"
"Aku tidak paham apa yang kamu katakan!" ucap Adinda.
"Saat malam hari, disini suka ada suara-suara aneh?" ucap Ryan mulai mengarang cerita.
__ADS_1
"Suara aneh? Aneh gimana?" tanya penasaran Adinda.
"Aneh yang sedikit horor, seperti suara kuntilanak tertawa, menangis, anak tuyul yang imut sedang bermain, apalagi kamu ini sedang keguguran!" jawab santai Ryan semakin membuat raut wajah Adinda tegang.
"Coba nanti aku tanya Mama!" jawab Adinda.
"Mama tidak tau soal itu, karena Mama itu rajin sholat, setan dan jin jahat yang disebut hantu atau sejenisnya, takut pada Mama."
"Kamu tau darimana!" Adinda mulai percaya.
"Aku pernah merasakannya!" senyum Ryan.
"Nanti aku rajin sholat disini!" ucap Adinda.
"Imam kamu tidak sama dengan Mama, mau kamu sholat atau mengaji sekalipun, setan tidak takut, karena mereka juga dulu ahli ibadah kan?" Ryan semakin kekeh menakuti Adinda, agar wanita itu berpindah tidur ke kamarnya.
Adinda terlihat diam.
"Kalau kamu mau pindah, buruan sekarang, sebelum aku tidur!" desak Ryan.
"Aku disini saja" jawab Adinda memastikan dengan jelas.
"Hem, ternyata dia tetap tidak takut!'" gumam Ryan.
"Dah, selamat tidur dan selamat mendengarkan suara-suara yang aneh!" ucap Ryan dengan gemulai.
"Menurutku, kamu juga lebih aneh dari suara-suara aneh itu!" gumam Adinda.
*
Malam itu Ryan merasa kesepian di dalam kamarnya, ia sendiri tidak bisa tidur, biasanya selalu ada Adinda yang tidur di sebelahnya, teman berbicara dan bertengkar.
Ryan terbayang, dengan aksi centil Adinda yang dulu suka menggodanya.
"Selama ini dia menggodaku, Apakah sebenarnya Adinda itu, benar-benar menyukaiku?
Gimana kalau aku bertanya langsung kepadanya;
Adinda apakah kau mencintaiku? (Ryan memperagakannya)
Aarrrghh Norak banget!
Kenapa Mama, tidak mendukung lagi pernikahan kami!
Benar-benar menyebalkan!" gerutu Ryan yang mulai gelisah seperti cacing kepanasan dengan perasaannya.
__ADS_1
*
Pagi sebelum ke kantor, tidak sengaja Ryan mendengar sayup-sayup perkataan ibunya kepada Adinda.
"Adinda, apapun keputusan kamu, itu terserah kamu, kamu itu berhak bahagia, Mama sadar, Ryan tidak mencintai kamu, jadi percuma saja pernikahan ini dipertahankan, hanya akan membuat kamu semakin menderita, semoga suatu hari nanti, kamu menemukan pria yang benar-benar mencintai kamu, sayang kepada kamu, menerima kamu apa adanya!"
"Amiin! terima kasih yah Mah!" jawab lembut Adinda.
*
Di dalam mobil, di ruang kantor, Ryan mulai galau, karena sang Bunda tidak lagi mendukung pernikahannya.
*
Sementara Nia masih dirundung dalam kebahagiaan pengantin baru, dan masih sibuk dengan kado-kado mahalnya, ia dan Frans akan segera berangkat ke Swis untuk berbulan madu sebagai kado terindah dari Kedua orang tua mereka.
*
"Nia!" panggil Frans.
"Ada apa sayang, lihat ini (Nia menunjuk pada kado mahal dari brand terkenal yang memiliki nilai tinggi, pemberian dari berbagai kalangan) aku suka sekali, Mas!"
"Aku ingin bicara serius, soal apa yang kau lakukan kepada Adinda!" Frans menegur Nia dengan raut wajah marahnya.
Mendengar ucapan sang suami, seketika itu pula Nia kehilangan moodnya di hadapan kado-kado mahalnya.
"Mas, memangnya kenapa? kamu keberatan? Aku tidak ada masalah dengan Adinda, ini hanya untuk membantu Vita menyingkirkan Adinda dari Ryan! Karena Vita adalah sahabat terbaikku?"
"Tapi tidak harus mencelakai Adinda dan anaknya kan?" raut wajah marah Frans.
"Kenapa, kenapa kamu begitu marah kepadaku, atau Jangan-jangan kau punya saham di perut si perempuan murahan itu?" hardik Nia tidak ingin disalahkan.
"Apakah pernyataan Ryan bahkan ia juga sudah menikahi Adinda itu belum cukup bukti kepadamu?"
"Yah sudah, Kenapa kamu yang marah sama aku, kalau memang anak yang ada di kandungan Adinda itu bukanlah anakmu, sampai detik ini Ryan tidak protes!"
"Nia, kau itu memang keras kepala, dari dulu sangat egois, Ryan bukan tidak protes tapi ia masih menghargai aku, walaupun aku tidak ada hubungan apa-apa pada Adinda, tapi Ryan itu sahabatku, kau mencelakai istrinya. Bagaimana jika saat itu Adinda mati, apa kau siap menerima konsekuensi dari nama baik kita semua!"
"Mas, karena aku ini terlalu mencintaimu, aku tidak percaya jika kau tidak punya hubungan apa-apa dengan Adinda. Jujur, aku ingin dia tidak ada di dunia ini dan aku benar-benar tidak siap, jika suatu hari nanti anak itu lahir ternyata dia adalah milikmu" ucap tegas Nia menatap Frans, lalu pergi meninggalkan pria itu.
"Eeergghh!" seruan kesal Frans.
*
__ADS_1