Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 99 - End


__ADS_3

Ryan menatap wajah manis Adinda sambil mengelus manja rambut halus sang istri.


"Aku sudah lelah menjadi orang yang tidak berarti, sudah banyak merugikan orang lain, terutama orang tuaku sendiri, khususnya Mama. Bertahun-tahun aku menjadi anak durhaka untuknya bahkan melupakannya, terjerat dengan lautan harta yang membutakan segalanya, namun Doa sang ibu itu tidak terbantahkan, sejauh apapun aku meninggalkan dirinya, Tuhan akan memaksaku untuk kembali kepadanya.


Suatu hari nanti, kita juga akan menjadi orang tua, aku harap, calon ibu seperti kamu, harus banyak belajar dari Mama."


Adinda menatap Ryan dengan senyum manisnya dan mengangguk kecil.


"Kini aku ingin hidup lebih berarti dan bermanfaat untuk semua orang, khususnya buat keluarga, jejak masa lalu yang buruk, biarlah itu menjadi pelajaran untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan."


"Benar sayang, aku janji akan selalu mendukungku!"


"Adinda, apakah kau tidak keberatan jikalau Mama hidup bersama kita sampai akhir hayatnya, karena aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri!"


"Tentu sayang, bukan karena kamu, aku juga sangat membutuhkan sosok Mama dan juga menyayanginya!" jawab Adinda sambil mengelus wajah manis Ryan.


"Terima kasih ya, kau juga sudah ada di waktu masa-masa sulit ku dan kedepannya aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu, Di akhir tua Mama, sebaiknya kita lebih banyak mengalah. Aku ingin sekali membahagiakan ia di akhir tuanya meski tanpa seorang Papa."


"Iyah sayang, karena aku tau kebahagiaan Mama ada kebahagiaan kamu dan kebahagiaan kamu juga kebahagiaan Mama."


Ryan dan Adinda kembali berpelukan dan berciuman mesra.


*


Ryan dan keluarga akhirnya memilih menetap di Singapura dan akan kembali ke Indonesia lagi dalam jangka waktu yang cukup lama, karena banyak sekali pekerjaan yang harus Ryan selesaikan mengingat kondisi Lim yang sudah tidak setegar dulu, Lim sudah menyerahkan semua perusahaan Yong dan tanggung jawabnya kepada Ryan, Lim juga meminta kepada kemenakannya itu, agar menjadi wakil dirinya sampai Fan chang sudah layak untuk menggantikan seorang Lim. Ryan satu-satunya Wakil yang bisa diandalkan oleh Lim Woong.


*


Crush menyerahkan berkas kepemilikan saham perusahaan milik Ryan Alaska sendiri.


"Bagaimana perasaan mu Tuan, akhirnya kembali ke istana ini!"


"Mungkin aku akan lebih mudah lelah, sama seperti Paman Lim!" senyum Ryan.


"Tapi tahukah kamu Tuan, setelah konflik itu terjadi, Tuan besar tidak bisa berpikir dan benar-benar gugup, karena selama ini ia begitu nyaman berada di samping sosok Tan Woong, mungkin rasa khawatirnya begitu besar menyebabkan ia jatuh sakit!" ucap Crush.


*


Sebelum kehamilan Adinda semakin besar, Lim dan Elena mengelar pesta pernikahan mewah namun tertutup hanya dihadiri oleh tamu penting saja.


Adinda dan Ryan tampak coupel yang sweet mengenakan pakaian yang tidak terlalu meriah namun sangat anggun dan serasi dipandang.



Acara ini lebih menunjukkan kepada semua Aliansi penting Woong bahwa Ryan Alaska sudah kembali menjadi bagian keluarga Woong yang sangat mereka banggakan. Lim juga mengumumkan bahwa keponakannya itu lah yang akan menjadi wakil dirinya jika ia tidak dapat bekerja atau menghadiri berbagai delegasi perjamuan bisnis.


*


Semua bersuka cita indah, tangis yang dulu bergema, rasa putus asa yang pernah terjadi kini telah berlalu, badai gelap itu berganti dengan cerahnya matahari diiringi pelangi warna-warni

__ADS_1


*


Pemakaman Yong Woong sendiri sudah dipindahkan ke kota Singapura, ini yang membuat Khaliza bersemangat dan senang tinggal di kota sang suami.


Setelah acara berlangsung, mereka satu keluarga berziarah ke makam kakek dan Nenek leluhur Woong, hanya Yong kuburannya yang terpisah karena ia sudah memilih menjadi seorang mualaf.


*


Perputaran badai kehidupan itu kini berbalik arah, kehidupan cerah Aditama dan keluarganya kini tengah menghadapi gelapnya badai besar.


Anggita terus berjuang membawa putri semata wayangnya itu untuk mencari pengobatan terbaik di luar negeri, di dalam jet pesawat pribadi, kedua tangan dan Kaki Nia Devira terlihat terborgol dalam pandangan kosong, sesekali ia bertingkah tidak normal. Hal ini membuat airmata Anggita sesekali meleleh di pipinya, meski di dalam sel tahanan, Aditama tetap memantau perkembangan kesehatan putrinya.


Sesampai di kota Berlin, Jerman. Anggita langsung disambut oleh seorang Dokter spesialis kejiwaan.


"Nyonya Anggita, bisakah kita bicara sebentar, ada yang ingin saya sampaikan! Ini sedikit masalah!"


Melihat wajah sang Dokter. Wajah Anggita berdetak cepat.


"Ada apa yah Dok?"


"Hem, Setelah melakukan pemeriksaan lebih mendalam, ternyata Nona Nia Devira positif hamil!"


"Apah!" ucap terkejut Anggita tidak percaya.


"Bahkan kehamilannya sudah mencapai 4 bulan, jenis kelaminnya juga sudah bisa diprediksikan yaitu perempuan.


Anggita terlihat kebingungan benar-benar tidak percaya, antara senang atau sedih.


Khaliza sangat menyetujui rencana mulia Ryan yang akan menjual mobil sang ayah untuk disedekahkan sebagai amal jariyah, namun sebelum menjual mobil Papa Yong, Ryan membawa sang bunda berkeliling kota singapura dengan menggunakan mobil kesayangan Yong Woong secara bergantian di hari-hari yang berbeda. Senyum keceriaan terpancar di wajah Khaliza yang begitu cantik, mereka tampak berbahagia.


Lanjut satu keluarga Woong berangkat berlibur ke berbagai mancanegara.


*


"Sayang kamu enggak lelah kan!" tanya Ryan.


"Enggak!" Adinda menggeleng.


"Beneran!"


"Iyah Beneran, anakmu suka jalan-jalan Mas!" senyum Adinda.


"Hahahaha" keduanya tertawa bahagia.


Pakaian serta kemewahan lainnya akhirnya telah Adinda dapatkan, impiannya menjadi Cinderella telah tercapai, hubungan Adinda dengan sang Ayah beserta ibu tirinya juga semakin membaik.


*


Di sebuah ruang para dokter khusus Woong dengan menggunakan alat tekhnologi kedokteran yang canggih serta ditangani oleh beberapa dokter kandungan khusus wanita yang benar-benar berkompetensi di bidangnya. Adinda melakukan pemeriksaan USG sekaligus melihat prediksi hasil jenis kelaminnya.

__ADS_1


Dalam jantung yang berdebar-debar Ryan serasa tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan itu.


"Dokter apa jenis kelaminnya?" tanya Ryan tidak sabaran.


"Jangan dikasih tau Dok!" ucap Adinda dalam rebahannya.


"Kalau tidak kalian kasih tau, aku akan robohkan tempat ini!" ancaman sadis Ryan membuat mereka disana tertawa geli termasuk Adinda sendiri.


"Meskipun kami mengetahuinya tapi ini bisa saja berubah jika Tuhan tidak menghendaki Tuan," ucap sang Dokter.


"Iyah saya juga tau!" ucap sewot Ryan.


"Jangan di kasih tau, Dok!" teriak Adinda lagi.


"Sayaaaaaaaaaaang, kamu diam disitu!!' teriak gemes Ryan.


"Huh, si Tanduk ini heboh sekali!" Adinda ngedumel dengan wajah juteknya😒


"Jenis kelaminnya yang kami prediksikan adalah laki-laki Tuan!"


"Yeeeeeeeeeeeeaaaas!" jerit norak Ryan membuat dokter disana tertawa kecil.


Setelah selesai, sampai keluar dari ruangan itu pun, Ryan kegirangan dengan berjoged kecil.


"Kamu mau makan apa sayang!" Ryan merangkul Adinda.


"Mau makan bakso!"


"Bakso?" ucap heran Ryan.


"atau Cilok!"


"Cilok!" Mata Ryan sampai sedikit melotot.


"Aduh, kenapa sih kamu pinginnya masakan khas Indonesia, disini sedikit sulit untuk mencari yang persis, bagaimana kalau di ganti yang ini...yang ini...yang ini...!" Ryan menawarkan makanan lezat internasional dari ponselnya.


"Enggak mau!" Adinda menggeleng.


"Aduh, gimana yah?" Ryan sambil putar otak.


"Yah sudah kalau enggak bisa, enggak apa-apa kok, tapi kata orang-orang, jika nanti anak kita lahir, akan suka ngences!"


"Hahaha, untuk seorang Tan Woong, tidak ada kata tidak bisa."


Ryan akhirnya mendatangkan koki hebat dari Jakarta untuk memasak menu makanan bakso dan Cilok juga nasi goreng kesukaan Ryan, khususnya untuk sang istri tercinta yang lagi mengidam makanan.


((Sultan Mah bebas yah guys jangan iri))


Keluarga itu tampak begitu Bahagia....

__ADS_1


................TAMAT .................


__ADS_2