Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 22 - Dialog Penting


__ADS_3

Aku sempat menatap suasana ruang tamu Rumah Tante Khaliza dan Ryan, tampilannya tidak terlalu besar, bergaya minimalis modern, ruangannya lebih terbuka oleh udara dan cahaya matahari, terlihat beberapa tanaman hijau mempercantik disain ruang itu, sejuk dan segar dipandang mata, sepertinya ibu Khaliza jenis wanita yang menyukai tanam-tanaman. Perabotan rumahnya cukup elegan dan klasik, disain interior ruangan yang tetap simpel dan sederhana, tidak terlalu banyak barang jadi kesannya rumah lebih luas, Rumah itu seperti rumah baru. catnya masih terlihat segar.


"Mari duduk!" sambut senyum Khaliza kepada Adinda.


"Baik Tante!"


"Mah, Ryan bisa ke kantor dulu enggak?" ucap Ryan memelas.


"Jangan, kamu tetap disini, ada tamu kok malah pergi?" pinta Khaliza.


Mereka akhirnya duduk bertiga dengan jarak masing-masing.


"Maaf yah Tante, Dinda datang dengan tangan kosong... soalnya..." Adinda menunduk malu.


(Duh Ryan tadi buat kesel, rencana mau singgah di toko buah, tapi dia malah ambil jalur kecil, benar-benar nyebeliiiiiin, atau dia memang sengaja buat aku malu begini dan terlihat sangat pelit dihadapan ibunya)


"Tidak apa-apa! Mari diminum dulu tehnya, selagi hangat!" suguhan sang tuan rumah.


"Iyah Tante!" Adinda terlihat kikuk dan malu-malu. Sementara Ryan diam seribu bahasa berharap ibunya tidak menyukai wanita itu, wajahnya tertekuk lurus ke depan.


Suasana kembali hening dan cukup tegang bagi Adinda.


"Ryan sudah menceritakan semuanya, mengapa sekarang, Tante mengundang mu ke rumah ini!"


Sontak Adinda menunduk malu tak sanggup menatap wajah wanita itu.


"Apa kamu tau jika Ryan menyetujui pernikahan ini, maka Frans akan membantunya dalam segi karir!"


"Tau Tante!" angguk Adinda.


"Orang tua masih ada?"


"Mama sudah meninggal, ketika Adinda masih kelas 3 SMP, lalu Ayah menikah lagi, Adinda tinggal bersama kakak, sampai duduk diperguruan tinggi dan kami pun berpisah karena kakak sudah berumah tangga, Dinda lebih nyaman tinggal sendiri!"


"Apa kalian termasuk keluarga broken? kamu tidak keberatan kan, jika Tante bertanya begini?"


"Tidak apa-apa Tante, Dinda akan jawab apa adanya?" senyum kepasrahan wanita yang sedang berbadan dua itu.

__ADS_1


Khaliza tersenyum lega.


"Ayah selingkuh dan mereka bertengkar, lalu ibu memilih berpisah!"


"Mama kamu sakit apa?"


"Yang Dinda tau, tidak ada sakit apa-apa Tante, tiba-tiba saja tubuhnya panas tinggi lalu dia terjatuh kemudian meninggal, Mama orangnya tidak pernah mau cerita masalah hidupnya dengan siapapun, mungkin dia sangat terkejut dan depresi, hidup sendiri mengurus kedua putrinya!" mata Adinda mulai berkaca-kaca.


"Kamu marah pada Ayahmu?"


"Dia bukan hanya telah membunuh jiwa ibu, tapi juga tidak perduli dengan kondisi kami, cukup hanya mengirimkan uang saja, semuanya selesai dan ia begitu mabuk dengan keluarganya yang baru, benar-benar melupakan kami!" Adinda menunduk sedih.


Khaliza tampak mengangguk-angguk kecil, paham seperti apa lukisan keluarga Adinda.


"Sudah berapa lama pacaran dengan Frans?" tanya Khaliza kembali.


"Sudah hampir satu tahun Tante?" jawab Adinda mulai kembali mengangkat kepalanya.


"Apa Ayahmu tau tentang kehamilan mu?"


Adinda menggeleng tidak.


"Dinda pikir itu tidak perlu, jika pun nanti dia tau, responnya pasti biasa saja!"


"Begitu yah!" sampai disana, Khaliza tampak mulai semakin mulai memahami karakter perempuan yang akan menikahi putranya itu.


"Bagaimana perasaanmu ketika justru Frans akan menikah dengan wanita lain, lalu mengabaikan kehamilanmu?"


"Sakit Tante?" jawab singkat Adinda tak mampu membendung air matanya. Setelah ia kecewa dengan sang Ayah ternyata pun Adinda kecewa dengan kekasihnya.


"Iyah, tentu itu sakit sekali, itulah sebabnya mengapa kita kaum perempuan begitu penting menjaga kehormatan. Kehormatan itu bagaikan mahkota di dalam diri kita, jika ia sudah hilang, kita tidak lagi dianggap seperti Ratu, melainkan seperti ampas kelapa atau ampas tebu yang siap di buang kapan saja. Tapi zaman sekarang, sudah terlihat bebas-bebas saja, bahkan menjadi trend jika wanita kehilangan kesuciannya, yang penting tidak hamil!"


Adinda mengangguk, setuju dengan pendapat Khaliza.


"Apa kamu punya niat untuk merubah diri menjadi lebih baik?"


Adinda mengangguk cepat.

__ADS_1


"Setelah Frans lepas tanggung jawab apa sekarang kau berharap besar Ryan akan menikahi mu?"


"Tidak! Sekarang Dinda tidak berharap dinikahi siapapun, Tante!" jawab tegas Adinda.


Ryan begitu menyimak setiap percakapan ibunya dan Adinda, sesekali ia menatap Adinda dengan mata bengisnya.


"Ada saja cara Allah untuk menyatukan dua insan manusia, bisa saling mencintai, membenci bahkan saling ketergantungan!


kesalahan adalah pelajaran besar bagi hidup, jika kita ingin merubahnya menjadi lebih baik maka kita termasuk orang yang mendapat petunjuk, tetapi jika sebaliknya maka celaka kita. Jangan ragu untuk kembali pulang ke jalan Tuhanmu, kecuali sudah tidak ada lagi kesempatan yaitu kematian!"


Adinda tertegun mendengar nasihat dari Khaliza matanya berkaca-kaca, nasehat yang begitu menampar dirinya agar bangkit dari keterpurukan cinta.


Tante dan Ryan juga punya masa lalu yang jauh lebih keras daripada masalah mu hari ini. Semua orang punya masalah masing-masing.


"Tante juga tidak tau apakah Ryan masih perjaka ting-ting atau tidak? Hanya dirinya lah dan Tuhannya yang tau!"


Seketika itu Adinda menatap Ryan, dengan cepat, pria itu membuang wajahnya lalu menunduk.


"Kalau untuk Ryan aku tidak terkejut justru aku benar-benar shock dia punya ibu se-perfect ini," gumam Adinda.


"Masa lalu adalah cerita masa lalu, semua pernah terjerat, yang harus kita lakukan itu, hiduplah di masa depan dengan manusia yang lebih baik dan bermanfaat."


Khaliza pun menceritakan sekilas gambaran tentang keluarganya yang sekarang tengah menghadapi konflik berat, serta seputar masa lalu Yong dan Ryan sebagai pria yang pernah terjebak di dalam mafia perjudian serta dunia hitam lainnya.


Adinda yang mendengar cukup terkejut.


"Apakah kamu siap ada di lingkungan masalah seperti itu?"


"Dinda tidak tau Tante, hanya pasrah saja!" jawab polos Adinda membuat senyum Khaliza melebar.


"Keluarga mu setuju?"


"Adinda mengangguk, tidak ada pilihan lagi, mereka lebih malu jika Adinda tidak menikah, Kakak seorang dosen sedangkan Ayah pengusaha kuliner kecil-kecilan!"


"Ouh!" respon Khaliza.


"Pernikahan tetap lah sakral dan suci, salah satu perbuatan yang diberkahi Allah, meskipun tujuannya seharusnya tidak boleh begini, tetap kalian berniat dalam hati untuk mencari jalan keluar dan semoga Allah mengabulkannya. Tante tau, kalian tidak saling mencintai, terpaksa, merasa tidak cocok, tidak terima, tapi mungkin ini jalan yang harus dilalui, seperti apa kisah akhirnya nanti, Tante hanya ingin yang terbaik.

__ADS_1


Kalian saling ketergantungan, kamu butuh Ryan untuk pelindung dari aibmu, Ryan juga butuh kamu untuk keluar dari kesulitan karir yang selama ini ia rasakan, Tante juga ingin melihat Ryan menikah lebih cepat, kita semua punya tujuan dan harapan masing-masing, jadi ambil hikmahnya saja."


"Jadi Tante setuju? Jika Dinda menikah dengan Ryan😧?" tanya perempuan itu begitu excited.


__ADS_2