Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 42 - Pagi Hari


__ADS_3

"Adinda!" hentakan marah Ryan, bangkit melawan hasrat yang sebenarnya mulai hidup, karena tidak bisa dipungkiri sebagai pria normal, tentu ia tergoda dengan aksi nakal Adinda.


Dengan akting Adinda yang santai, wanita itu langsung berpura-pura tertidur pulas, seolah-olah kejadian itu di luar dari kesadarannya.


Ryan bangkit menuju kamar mandi, mencuci wajah yang sudah bercampur keringat, menyadarkan dirinya agar tidak terbuai dengan rayuan maut Adinda.


"Haduh benar-benar ni perempuan meresahkan! Jujur berat banget menjalani pernikahan ini, jika bukan karena ingin membuat Lim kalah untuk kebangkitan GMC, tentu aku tidak akan menerimanya," gumam Ryan melihat jam hampir menuju tengah malam yang sunyi.


Ryan akhirnya keluar sambil membawa bantal dengan tujuan mencari lokasi tempat tidur yang aman, kaki pria itu melangkah dengan pelan tanpa suara, agar sang bunda tidak terbangun, hingga langkah itu sampai di sebuah kamar.


"Lebih baik aku mengalah tidur di kamar tamu, daripada tidak bisa tidur sama sekali!" ungkap Ryan tersenyum lega, akhirnya memukam lokasi tidur yang aman dari gangguan Adinda.


"Celtek!" Ryan mulai membuka pintu pada gagang pegangan pintu.


"cletek...celtek...celtek...!" Ryan berusaha membuka namun pintu tidak terbuka.


"Amboi, apa si bundo yang mengunci???"


"Aaargh sial, mengapa seorang perempuan itu sangat detail!" gerutu Ryan dalam tubuh lemas, berjalan lesu menuju sofa ruang tamu, namun di sana pun ia juga merasa tidak nyaman, karena Ryan harus duel sengit dengan nyamuk-nyamuk tajam yang siap memangsanya.


"Dia tidur dimana, hi hi hi 🤭 emang enak? Tau rasa kamu, aku siksa malam ini, makanya Ryan, jangan suka menghina orang, Adinda mau di lawan, slebew💃💃?" ucapan gokil Adinda merasa puas dan Menang, begitu ia mendengar suara langkah kaki Ryan, Adinda langsung menjatuhkan diri di kasur kembali berpura-pura tertidur pulas.


Ryan dalam wajah lemas, lelah dan mengantuk berat kembali memasuki kamarnya.


"Nih, anak ngigaunya jorok banget, apa isi kepalanya hanya ada tingkah-tingkah mesumnya itu, meresahkan sekali 😡" gumam kesal Ryan.


Tidak ada pilihan lagi, akhirnya ia memilih tidur di sofa, Adinda terlihat mengintip-ngintip dengan kondisi tidur Ryan yang tidak nyaman untuknya.


"Setahun terus-terusan tidur di sofa, bisa hancur badan ini, besok wajib beli kasur cadangan dan lemari!" gumam Ryan.


Keduanya akhirnya tertidur pulas sampai pagi menjelang subuh.


"Tok...Tok...!" Suara ketukan dari Bunda Khaliza di tambah lagi ponsel Adinda yang berbunyi, panggilan dari Nabila untuk membangunkan adiknya.


"Bangun, kalian tidak sholat subuh!" teriakan kecil Khaliza membangunkan anaknya dari balik pintu kamar.


"Uum...!"


Adinda langsung terbangun dari tidur pulasnya sambil menggerakkan tubuh kakunya, ia tampak sudah kembali segar di atas kasur milik Ryan yang sangat empuk.


"Iyah Mah, ini juga sudah bangun kok!" saut Adinda dalam suara seraknya.


Wanita itu masih ingin melihat kondisi Ryan yang tidur di atas sofa, saat hendak turun dari kasur.


"Hah😱!"


Adinda terkejut melihat Ryan tiba-tiba terduduk lemas dengan mata panda nya, lalu bangkit berjalan sempoyongan ke arah Adinda, ibarat zombie yang sedang kelaparan.


"Waduh...waduh...!"

__ADS_1


"Ee...eeh!"


Sangking lemas dan mengantuknya, Ryan tidak perduli terus berjalan hingga menabrak dan menindih tubuh wanita itu lalu keduanya terhempas di atas kasur.


"Gubrak!!!"


"Haduh Ryan, tubuhmu berat sekali!" keluh Adinda berjuang menolak tubuh kekar Ryan hingga terkapar di atas kasurnya.


"centil gantian!" ucap lemas Ryan mirip seperti orang mabuk.


"Baiklah! Apa dia tidak tidur semalaman?" batin Adinda bangun dengan cepat.


***


Setelah mandi dan sholat subuh, wanita muda itu mulai ke dapur, tapi ia tampak bingung menjalani profesi barunya sebagai istri.


"Ryan belum bangun juga!" sapa Khaliza sedikit mengejutkan Adinda yang masih berpikir-pikir di area dapur.


"Emmm...Belum Mah?" jawab ragu Adinda.


"Apa dia tidak sholat subuh?"


Adinda hanya diam saja!


"Anak itu belum sepenuhnya bisa taat!"


"Hari ini kan Mas Ryan mulai masuk kantor, jadi tadi malam dia tidurnya agak telat!" jawab Adinda tetap membela Ryan.


"Mungkin ada saatnya Mas Ryan akan menjadi lelaki yang taat kepada Tuhannya seperti harapan Mama!"


"Amin, terima kasih yah Din!" senyum Khaliza.


"Iya Mah!"


"Kamu mau buat sarapan apa?"


"Adinda masih bingung, biasanya kalau pagi begini, Mas Ryan sarapan apa yah Mah?"


"Dia suka minum kopi dan Roti, tidak suka yang berat!"


"Ouh, kalau itu mah, gampang, Adinda bisa buatnya, gimana dengan Mama, mau dibuatin sarapan apa?"


"Kamu urus suami kamu dulu saja yah, Mama sudah minum susu dan cereal, nanti ada Surti yang bisa masak untuk Mama! Tidak perlu kamu khawatirkan!"


"Ok Mah!" Adinda tersenyum bahagia, merasa bersyukur memiliki mertua yang tidak merepotkan dirinya.


Khaliza pun masuk kembali ke kamarnya untuk mengaji.


***

__ADS_1


Pukul 07.00 pagi hari.


Ryan belum juga keluar dari kamarnya. Menunggu sang suami, Adinda melangkah ke ruang belakang yang cukup luas di hiasi rumput lapangan yang rapi, sambil menggerakkan kecil tubuhnya dan menghirup udara segar.


"Huuuft....Aaaah!"


Kemudian Adinda lanjut memperhatikan taman belakang sekelilingnya yang dihiasi tanaman hijau minimalis serta beberapa bunga-bunga anggrek dan bunga mahal yang miliki perawatan khusus.


Disana terdapat alat-alat olahraga canggih milik Ryan serta kolam renang yang berukuran tidak terlalu besar namun terlihat cukup dalam, khusus untuk digunakan orang dewasa yang bisa berenang.


"Terlihat rapi, apa untuk area taman ada yang menata🤔 yah?" tanya Adinda merasa suka dengan tampilan rumah Khaliza.


Adinda mulai tampak bersih-bersih dan menyapu bagian belakang.


***


Pukul 07. 30 Wib.


Adinda masuk ke dalam kamar, terlihat Ryan sedang berada di kamar mandi.


"Dia sudah bangun!" batin Adinda, menuju ponselnya, melihat panggilan tidak terjawab dari Nabila, iapun kembali menelpon balik.


"Ada apa kak?"


"Apa kau baru bangun?? Aku sudah menelpon mu sejak pukul 05 tadi!"


"Hem, sudah dong, aku juga sudah membuatkan sarapan untuk sang suamiku, sesuai perintah kakak Nabila Ainin!" celoteh Adinda.


"Cici ye...asyik buat sarapan untuk suamiku yah, Ehem...ehem...ok lah kalau begitu, kakak lega mendengarnya dan kakak harap ini tidak panas-panas Taek Ayam yah🐔"


"Hem...!" jawab Adinda.


Percakapan mereka pun selesai.


**


Tidak berapa lama kemudian, Ryan keluar menggunakan handuk dengan bertelanj*ng dada, Ryan terkejut melihat Adinda yang sudah tersenyum manis duduk menatap dirinya. Lagi-lagi Adinda mulai beraksi untuk menggoda Ryan, misi berikutnya.


"Bukannya tadi dia ada di luar yah?" gumam Ryan dalam dahi yang berkerut. Mengabaikan kehadiran Adinda lalu melangkah cepat menuju ruang pakaian dan mengunci pintu.


"Cletek!" ilustrasi suara pintu yang terkunci.


"Uuu lala harus diakui Ryan lebih kekar daripada Frans, bagaimana dengan bawahnya yah🤔 apakah jauh lebih kekar atau tidak? Haha🤭 hampir saja tadi malam aku menyentuhnya, penasaran seperti apa wajahnya kalau lagi....hihi?"


Tidak lama kemudian Ryan keluar dari ruang pakaian dengan memakai pakaian kantoran dengan bentuk body yang bagus



"Wah!"

__ADS_1


"Te...tereteen!" ilustrasi musik saksofon 🎷🎷


Adinda langsung terkesima memperhatikan penampilan Ryan dengan stelan kantoran, karena selama ini, Adinda hanya melihat penampilan Ryan dengan seragam ala-ala preman, bodyguard, nge geng.


__ADS_2