Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 12 - Perjanjian


__ADS_3

"Frans mendekatkan wajahnya kepada Ryan, Jika kau bersikap lebih tenang saja maka kau akan terlihat lebih manis!" ucap Frans.


"Aku salah apa kepadamu Frans, selama menjadi pengawal mu, aku cukup setia, bahkan aku rela tertembak demi melindungi keluargamu, Ayahku juga berteman baik dengan Keluarga mu, apa kau tau, beratnya perjuangan kami untuk bisa keluar dari dunia judi, bisakah kau tidak melibatkan ibuku? Aku tau saat ini aku jatuh dan terbuang, hanya kau dan keluargamu yang ku harapkan bisa membantu ku, tapi justru aku salah, kau tidak seperti yang aku harapkan! Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja lah, itu lebih baik!" ucap Ryan pasrah menunduk dalam mata memerah.


Frans memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk tidak mengaktifkan kursi listrik. Ryan dan Frans, kembali ke meja interogasi, tetapi kedua tangan Ryan terikat kuat.


Frans juga memerintahkan semua anggotanya untuk kembali memakai handset dan menjauh dari posisi mereka.


"Sebaiknya kau tenang dulu, kita bicara dengan kepala dingin!" pinta Frans.


"Justru karena aku ingin membantumu, aku memberikan penawaran besar seperti ini, apa kau akan kembali mengemis lagi kepada Pamanmu, jika pun kau ingin kembali, tentu ia akan menerima kamu dengan senang hati, tapi kau ingat, ia akan memberikan syarat yang tidak akan pernah bisa kau penuhi, Benarkan? Sementara aku, aku adalah sahabatmu yang siap ada belakangmu, aku hanya memberikan satu syarat saja kepadamu yaitu hanya menikahi Adinda, aku rasa itu tidak sulit. Permasalahan ini semakin rumit karena Adinda hamil, jika ia tidak hamil, tentu aku juga tidak akan memaksamu untuk menikahinya. Aku tidak ingin Aditama tau tentang masalah ini.


Aku tidak ingin Adinda depresi, semua kebutuhannya harus terpenuhi dengan sempurna, Aku yakin dia tidak akan terjaga dengan baik jika menikah dengan lelaki lain selain kamu, hanya kamu orang yang sangat aku percaya saat ini."


"Apa kau sudah gila Frans, bagaimana jika Adinda jatuh cinta dengan ku?"


"Justru aku takut, kau lah yang akan jatuh cinta dengannya!" jawab cepat Frans.


"Aaargh (Ryan mengeluh) dia bukan tipe aku tidak akan mungkin aku jatuh cinta dengannya!"


"Bagus kalau begitu, aku tidak salah memilih kamu? Aku janji, kurang dari satu tahun atau satu tahun, aku akan mengambil Adinda dan anakku dari kamu!"


"Tapi aku benar-benar tidak bisa Frans, bisakah kau tidak memaksaku?" pinta Ryan dan raut wajah memohon.


"Hanya ini jalan satu-satunya, aku harus menikahi Nia dan jika keluarga Nia sampai tau masalah ini, aku yakin Aditama akan membunuh Adinda, kau tau sendiri, jika Nia adalah putri kesayangannya!"

__ADS_1


"Apakah kau pikir, kau akan bisa keluar setelah menikah dengan Nia?" tanya Ryan.


"Semuanya sudah aku rencanakan!"


Ryan hanya terdiam.


"Ryan, kondisimu terjepit, begitu juga dengan diriku, kita sama-sama keluar dari lubang yang sempit ini. Semua biaya pernikahan kalian akan aku tanggung? Kau tidak perlu resah. Aku yakin, GMC akan menjadi Perusahaan yang besar, karena aku percaya dengan kemampuan mu, dengan begitu kau bisa berdiri di atas kaki mu sendiri, tanpa harus mengemis lagi dengan Pamanmu?"


"Ini cukup berat Frans, Adinda itu sedang hamil?"


"Kenapa, kau takut nama baikmu jelek? Anak mantan Mafia Judi seperti kamu, jika menghamili seorang gadis, itu tidak akan menjadi trending topik di dunia sosial, masyarakat sudah memakluminya , tentu kau tidak perlu terbebani dengan hal itu!" ucap Frans kembali menyodorkan minuman beralkohol itu kepada Ryan ia mengabaikannya.


"Sejak kapan kau berhenti minum?" tanya Frans cukup heran.


"Kita yang berada di dunia neraka seperti ini, jangan terlalu berharap untuk bisa kembali ke jalan yang lurus?" ucap Frans.


Tanpa membuang waktu lagi, Frans mengeluarkan surat perjanjian dari tasnya dengan cepat, kesimpulan Isi perjanjian itu adalah;


"Ryan Alaska harus menikah dengan Adinda Aira dan mengakui bahwa kehamilan Adinda adalah hasil perbuatan Ryan dan setelah satu tahun kemudian, Ryan harus menceraikan Adinda dan mengembalikannya lagi kepada Frans Albar!"


Ryan begitu lesu menatap isi surat itu, Sebuah pernikahan seperti permainan belaka. Ryan tidak ingin menikah diusia muda.


"Anggap ini sebuah permainan saja, tidak perlu serius di dalamnya, kau hanya tinggal menunggu waktu dan sebisa mungkin kau tidak menyentuhnya! Jika kau ingin teman tidur wanita, aku bisa memberikanmu dua, empat, bahkan lebih dari itu," ucap Frans, Ryan hanya terdiam lesu dalam pandangan kosong.


Frans menyuruh Ryan agar segera menandatangani perjanjian mereka.

__ADS_1


Akhirnya Ryan menyerah dan menyetujui semua permintaan Frans. Ia tidak bisa menolak kemauan temannya itu karen takut dengan ancaman aib kejahatan masa lalu. ditambah lagi saat ini Ryan sedang membutuhkan kucuran dana yang besar untuk kembali menghidupkan Perusahaan Ayahnya. Dana tanpa pinjaman berbunga seperti keinginan sang Ibu.


"Semua akan baik-baik saja jika kamu tidak melenceng dari perjanjian ini, tetapi jika kau berani melarikan diri saat acara pernikahanmu dengan Adinda, ibumu yang akan menjadi taruhannya," ancam keras Frans menatap sadis Ryan yang juga menatap tajam ke arah Frans.


***


Pagi yang cerah.


Pertemuan rapat di kantor X-Tren, Adinda tetap bekerja secara profesional sebagai tim sekretaris Frans, ia melawan perasaan dan emosinya saat berada satu meja dengan Frans Albar, memaksakan diri untuk mengikuti rapat pagi itu, wajahnya tampak murung dan kurang bersemangat.


Setelah rapat selesai, Daniel Flow, Asisten yang mengurus keperluan Frans mulai mengumumkan kabar bahagia pernikahan pimpinan mereka dengan seorang putri konglomerat Aditama Lukman yaitu Nia Devira.


"Kabar yang menggembirakan datang dari X-Tren, kurang dari tiga minggu lagi, kita akan merayakan pesta terbesar dan terbaik yaitu pernikahan dari Pimpinan kita Bapak Frans Albar dengan Nona Nia Devira putri kesayangan Aditama Lukman!"


Sontak semua menyambut dengan suka cita dengan memberikan tepuk tangan yang meriah kecuali Adinda yang memberikan senyuman terpaksa.


"Perusahaan mengharapkan atas partisipasi kalian dalam menyambut pesta pernikahan ini!" ucap Daniel.


Setelah rapat itu bubar, semua staf bangkit dari duduknya bergerak keluar sambil memberikan ucapan selamat kepada Pimpinan besar mereka.


"Selamat Pak, Selamat Bos, selamat!" ucap mereka beramai-ramai, terlihat staf pria memeluk kecil Frans yang tersenyum manis.


Setelah seluruh staf keluar, tinggal lah Adinda dan Frans di ruangan rapat itu, Adinda baru paham mengapa Frans tidak pernah mengakui dirinya sebagai kekasihnya dihadapan orang-orang.


Frans menatap Adinda dengan serius. Wanita itu bangkit dengan mengumpulkan jiwa ketegarannya berjalan melempar surat resign kepada Frans, sontak Frans menangkap tangan Adinda.

__ADS_1


__ADS_2