Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 72 - Tersenyum - senyum.


__ADS_3

Adinda masih terdiam dengan tingkah laku Ryan yang memberikan respon tidak terduga baginya, ia begitu kaku memperhatikan wajah Ryan dari dekat. Sedikit heran saat mendapati ada goresan bekas jahitan kecil di pelipis pria itu yang selama ini tertutup oleh rambutnya.


"Ini bekas apa?" tanya Adinda menyentuh lembut bekas jahitan luka di dahi Ryan.


"Saat kanak-kanak dulu, aku menabrak sebuah batu, batu itu cukup tajam hingga merobek dahiku."


"Ouh!"


"Ya sudah, aku bekerja dulu yah, kalau kamu ada masalah, jangan telpon kak Nabila, dia juga punya kehidupan sendiri yang tidak bisa seenaknya kamu ganggu!" pesan Ryan mengelus-elus puncak kepala Adinda dengan senyum manisnya.


Ryan keluar dari kamar Adinda langsung menuju garasinya.


Di dalam kamar, Adinda sejenak terdiam mengingat sesuatu.


(Adinda nyaris tenggelam di sebuah danau saat berpergian perpisahan bersama teman SD nya, Tidak ada yang berani menolongnya saat itu kecuali seorang bocah tanggung yang sudah mahir berenang dan tengah mengadakan kegiatan snorkeling di danau itu dengan regu club renangnya, Adinda tidak bisa mengenali wajah lelaki itu karena tertutup kacamata lebar dan selang pernafasan sederhana, yang Adinda bisa lihat ada luka bekas jahitan timbul di pelipisnya, setelah merasa baikan, Adinda tidak bisa lagi menemukan bocah lelaki itu walau sekedar ingin mengucapkan terima kasih)


"Apakah dia anak lelaki yang aku cari-cari kemarin?"


Aku tidak mengerti, mengapa Ryan selalu hadir berkali-kali di saat aku sudah pasrah ingin menuju kematian, meskipun ia membenciku, aku tetap ingin membantunya sebagai ucapan terima kasih.



"Mengapa Ryan tidak marah kepada ku?" masih menjadi pertanyaan besar bagi Adinda.


*


Sementara itu, Ryan masih terbayang-bayang dengan indahnya peristiwa malam pertama yang sangat nikmat bersama Adinda, membuatnya dirinya mirip seperti orang gila tersenyum-senyum sendiri di ruang kerjanya sehingga membuat ia sulit bekerja.


Ketika Ryan membuka email, ia langsung tertuju pada email yang datang dari Crush. PT Woong Asian Group.


Betapa terkejutnya pria itu, Crush langsung mengirimkan sebuah file penuh berisi tentang pengalihan hak waris Yong Woong kepada Tan Woong.


"Apa yang terjadi?" gumamnya masih bingung bertanya-tanya.


"Apakah ini hanya akal-akalan si Lim saja!" Ryan tidak percaya.


Tidak sabar dengan hal itu, ia langsung menghubungi orang kepercayaan Lim.


*


"Aku yakin kau pasti akan menelepon ku!" jawab santai Crush sambil makan kerupuk.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat, Crush tidak bisa bekerja tanpa perintah seorang penguasa."


"Apakah ini hanya akal-akalan kalian saja, agar aku bisa kembali lagi. Crush, kau juga seorang anak lelaki kan, andai ibumu masih hidup, apakah kau sanggup menukarnya dengar harta. Jujur, aku tidak sanggup karena aku takut, suatu hari nanti, anakku akan melakukan hal yang sama," ucap Ryan.


"Sampai detik ini belum ada persyaratan, Lim tidak ingin kau terlalu lama tenggelam dalam permainannya licik oleh Aditama dan Deny Sulaiman, juga Frans Albar, seganas apapun singa, ia punya kandang yang harus dilindungi!"


Ryan terdiam sejenak, sedikit terharu mendengar kata-kata Crush, bahkan ia ingin menangis.


"Bagaimana kondisinya?" Ryan mulai khawatir.


"Sejauh ini baik-baik saja, namun Dokter melihat ada gen yang memungkin Lim mengikuti jejak sakit Tuan besar Chen."


"Benarkah?"


"Saat ini ia lebih memilih banyak diam, entah apa yang membuat pikirannya berubah drastis secara mudah tentang prihal penahan hak waris Yong kepada kalian, belakang ini, ia membaca surat email dari seseorang, aku pikir itulah yang membuat ia benar-benar tersentuh."


"Seseorang? siapa?"


"Kau tidak mengetahuinya?"


"Sungguh, aku benar-benar tidak mengetahuinya!" jawab cepat Ryan.


"Istrimu, Adinda Aira mengirimkan beberapa surel yang aku sendiri tidak membacanya!"


*


Percakapan itu meninggalkan tanda tanya pada lamunan jauh Ryan, namun ia cukup bahagia mendengar kabar berita itu, di dunia ini, Paman dan Ibunya merupakan komponen terpenting dari hidup Ryan.


*


"Tlitut!" bunyi pesan masuk dari Khaliza.


Khaliza mengirimkan sebuah foto lama sebelum Adinda keguguran, foto diambil secara tersembunyi oleh Khaliza, yaitu foto dimana Adinda sedang mencuci ulang kemeja putih Ryan, Adinda tidak puas dengan cucian Surti yang menurutnya kurang putih.


"Duh, istri Sholehah, rajin sekali mengurus keperluan suaminya!" caption bangga yang di tulis Khaliza, tepat di bawah gambar itu, membuat Ryan kembali tersenyum-senyum merasa bucin.


*


Ryan masih tampak bekerja keras sore itu, di waktu jam istirahatnya, Ryan menyempatkan diri menelpon Adinda. Hanya bertanya soal kondisi Adinda dan ibunya saja, memastikan keduanya tidak ada masalah. Percakapan Ryan begitu kaku, dingin, biasa saja, sama sekali tidak terdengar ada ucapan kemesraan di dalamnya.


Ryan juga mulai follow Instagram Adinda yang berisi foto-foto dirinya dan keluarganya, mulai ia remaja sampai terakhir post tentang kebersamaan dengan teman-tema bekerja. Ryan sudah mencari, namun tidak mendapati ada satu pria spesial di akun Adinda,


bahkan foto pernikahan mereka juga tidak terlihat. Ryan mulai merasa lega bercampur penasaran wanita se centil Adinda, belum memiliki pria yang berkesan di hatinya, termasuk dirinya yang sudah menjadi suaminya.

__ADS_1


"Dia suka apa yah?" gumam Ryan berpikir menyandarkan kepalanya di kursi kerja.


Tidak berapa lama terlihat Ryan menelpon salah satu toko galery bunga di kota itu agar mengirimkan buket mawar merah raksasa ke alamat rumahnya tanpa mencantumkan alamat si pengirim kepada wanita spesial bernama Adinda Aira



"Ting... Tong!" bunyi suara bel di rumah Khaliza.


Adinda yang hendak pergi mandi harus mengurungkannya.


"Siapa sore-sore begini datang, apa Mama sudah pulang!" Kebetulan tidak ada siapa-siapa di rumah itu, Khaliza sedang memliki kegiatan di luar bersama temannya.


Bel berbunyi berkali-kali dan seruan seseorang memanggil dengan teriakan.


"Permisi...paket pengiriman!"


"Paket pengiriman?" gumam Adinda bertanya-tanya, justru ia merasa takut dan khawatir, menurutnya ia tidak ada memesan barang online, di tambah lagi dirinya hanya sendiri di rumah itu, namun rasa penasaran yang besar, Adinda terpaksa harus membuka pintu utama dengan keraguan.


"Permisi ada kiriman bunga dari seseorang?"


"Bunga? Dari siapa yah Mas?"


"Maaf, permintaan sang pengirim, tidak ingin mencantumkan namanya!"


"Jangan-jangan di dalam bunga itu ada Bom!" tebak polos Adinda membuat sang petugas tersenyum lalu menunjukkan kartu kerja resminya.


"Kami dari perusahan galery bunga yang cukup terkenal, biasa menangani klien dari perusahaan besar dan kepresidenan, tidak mungkin merusak nama baik hanya mengirimkan satu bunga saja!" senyum sang petugas membuat Adinda masih terdiam.


"Mungkin seorang pria sedang mencintai anda namun ia malu mencantumkan namannya!" senyum sang petugas akhirnya menyuruh anggotanya agar menurunkan buket mawar merah raksasa itu.


"Saya sudah punya suami!" ucap Adinda tidak ingin berdebat.


"Taruh di meja saja!" ucap Adinda tidak ingin menyentuhnya, ia masih terlihat takut.


Tidak tanggung-tanggung Ryan mengirimkan bunga mawar dalam porsi sangat besar, petugas paket itu harus menggeser meja dan meletakkan Bunga cantik, harum itu di bawah.


Kemudian Adinda menandatangani kertas sebagai tanda bukti jika barang sudah diterima dengan baik.



*


*

__ADS_1


🙏 Yok dukung Author dengan menonton iklan, like, gift, komen, share yah dan jangan lupa Follow IG @sarah_mai 07


__ADS_2