
Sebuah acara pernikahan yang spektakuler dalam alunan pentas musik, membuat siapa saja yang berada dalam suasana pesta pernikahan itu, terhipnotis akan tampilan desain-desain nya yang mampu membawa para tamu undangan seolah-olah mereka sedang berada di negeri dongeng dalam kisah sepasang pangeran dan putri yang tengah berbahagia.
Ucapan selamat terus berdatangan, teman-teman Ryan hampir semua menghadiri pesta itu, mereka menanyakan semua kabar tentang Ryan yang menghilang secara tiba-tiba dan absennya dari Woong Asian Group. Terlihat juga geng Kopasus rahasia milik Lim Woong, mereka juga ikut berfoto bersama.
*
"Adindaaaaaaa!" teriak Vero memeluk kecil temannya itu.
"Kamu cantik banget sayaaaang, kamu beruntung, aku cemburu, aku juga mau kayak kamu!" rengek Vero di atas pelaminan itu membuat Adinda kembali tersenyum bahagia.
"Ia pasti!" angguk cepat Adinda.
"Eh, kirim salam sama teman suami kamu dong, aku pesan satu yah, yang mirip-mirip seperti batang ubi itu, tanpa senyum, macho dan kaku banget!" bisik Vero menunjukkan kepada geng Kopasus Lim.
"Hahahaha, minta aja langsung, pesan online juga bisa!" jawab Adinda tertawa, moodnya kembali bahagia, keduanya berfoto centil bersama.
*
Semua terlihat menikmati pada kelompoknya masing-masing.
Panggilan bernyanyi untuk kedua mempelai terus bergema.
"Ayo pengantinnya harus benyanyi!" teriakan keras datang dari kelompok arisan dan bisnis dari teman-teman madam Elena, pesta adalah hal seru yang mereka tunggu-tunggu, Madam Elena berjoged dengan bahagia menunjukkan bahwa ia tidak bisa tertandingi oleh nyamuk-nyamuk nakal yang selalu ingin mencoret dan ikut campur dengan urusan keluarga Woong Asian Group.
Demi tidak mengecewakan orang-orang yang mendukung, Adinda berusaha tegar tersenyum bahagia melawan perasaannya yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Adinda selalu menggandeng Ryan sebagaimana keduanya adalah pasangan yang saling mencintai bukan pasangan yang sedang bersandiwara.
Ryan berusaha melepas tangan Adinda yang cukup kuat menggandeng pria itu saat mereka berdiri berfoto berdua di atas pentas pelaminan Raja dan Ratu.
"Kau tak perlu mendekap tanganku terlalu berlebihan seperti ini!" bisik Ryan di telinga Adinda yang terus menebar senyuman kepada semua orang.
"Bisakah kita bersikap sedikit kompak hari ini saja?" jawab Adinda.
"Untuk apa?"
"Aku ingin sekali Frans melihatku bahagia tanpanya, dan aku sangat menikmati pernikahan ini!"
"Percuma, dia sudah tau ini hanya sandiwara!"
"Setidaknya aku tidak bersedih!"
"Sorry, aku terlalu setia kepada siapa yang ada dibelakang ku?" ucap Ryan tak mau mengalah.
"Kalau begitu, aku akan berlari ke mikrofon, dan mengumumkan kepada semua orang, siapa sebenarnya ayah dari janin yang ada di dalam kandungan ku ini!"
__ADS_1
"Kau sedang mengancam ku!" tantang Ryan.
"Iyah!" jawab imut Adinda.
"Silahkan!" kata Ryan.
Adinda pun mulai bergerak melangkahkan kakinya menuju panggung musik disana dan menjadi pusat perhatian.
Ryan terus memperhatikan langkah lambat Dinda dalam tuntutan pengawal pengantin, wanita itu melangkah tanpa keraguan sedikitpun.
"Nih perempuan memang nekat, bagaimana jika ia benar-benar mengatakannya, selesai semua!" ucap Ryan perlahan menyusul Adinda.
Reflek tamu undangan bertepuk tangan. termasuk Madam Elena dan teman-temannya, Lim hanya tarik nafas dan geleng-geleng kepala melihat tingkah heboh istrinya.
"Hahaha, Baiklah, kami akan bernyanyi untuk kalian semua, ia kan sayang!" ucap lembut Adinda dengan tawa cengengesannya mencolek dagu Ryan, membuat Ryan terkejut sampai pipinya memerah menahan malu.
Adinda dan Ryan berhasil bernyanyi mesra di atas panggung dan ternyata mampu membuat Frans benar-benar pergi dan tidak ingin menyaksikannya lagi.
Meskipun hubungan Ryan dengan Pamannya cukup buruk, namun hari itu Ryan sangat bahagia melihat keluarganya bisa berkumpul dan mengadakan foto keluarga bersama.
Pesta berjalan dengan sukses dan meriah. Meskipun niat si dalam hati Ryan Alaska dan Adinda Aira, pernikahan itu hanyalah sandiwara belaka, namun suasana pernikahan dan tamu undangan disana tetaplah melihat dan mendoakan agar pasangan itu abadi dalam cinta mahligai rumah tangga.
*
Pesta pernikahan akhirnya berlalu dan menjadi salah satu trending topik di berita kalangan bisnis. Walaupun menyisakan kelelahan, bagi Madam Elena ia sangat puas.
*
Di sebuah Apartemen, Ryan dan Adinda akan bersiap-siap kembali ke rumah ibunya, sebelumnya, mereka harus berpamitan dengan Madam Elena namun Lim tidak ingin bertemu dengan Ryan.
Ryan memeluk bibinya itu dengan perasaan haru.
"Madam terima kasih banyak!"
Madam Elena mengelus lembut kepala Ryan.
"Madam sudah katakan, kau hanya perlu bersabar untuk melalui semua ini, butuh waktu dan usaha keras untuk mematahkan keegoisan Lim!"
"Aku akan berjalan sendiri, membawa apa yang aku miliki!" jawab Ryan.
"Percayalah, Madam akan selalu membantu kamu!"
Elena juga memeluk Adinda.
__ADS_1
"Terima kasih Madam!" ucap Adinda sangat terharu.
"Tolong jaga Tan Woong yah karena dia sudah berkenan menerima kamu apa adanya? Maksud saya Ryan Alaska!"
"Baik Madam!" angguk Adinda.
Putri Elena bernama Livia Mun datang menghampiri Ryan Alaska.
"Apakah seorang Tan tidak merindukan kami lagi" ucap Livia dalam wajah sedih. Putri kandung Lim Woong yang sudah berusia hampir 7 tahun.
Ryan langsung tersenyum manis, terjongkok di depan Livia lalu reflek merangkul gadis kecil itu, Ryan tidak menduga jika pesta itu bisa mempertemukan ia kembali dengan keluarga Ayahnya yang sangat ia sayangi.
"Tentu sangat merindukan kamu sayang!" ucap lembut Ryan dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak begitu sibuk dan sulit dihubungi!" ucap Livia dalam bibir cemberutnya.
"Maaf yah, jangan ngambek dong, jelek!" ucap senyum Ryan mengelus rambut halus Livia.
"Kembali ke rumah lagi kak, bawa Kakak ipar kami yang cantik ini, kita bisa bermain bersama!" pinta polos Livia.
Mereka reflek tersenyum lebar.
"Kakak pasti akan kembali sayang, untuk saat ini, kakak harus mengembara dulu yah, kamu harus tetap semangat dan harus menjadi kebanggaan Woong!"
"Aku sudah mulai mahir belajar bela diri, tapi tetap butuh bimbingan kakak!" rengek Livia. memeluk Ryan.
("Ryan sangat menyayangi mereka!" gumam Adinda ikut terharu)
***
Pesta pernikahan itu telah terjadi, semua sudah kembali seperti semula. Setelah Ryan berpamitan dengan orang-orang terkasih, akhirnya ia resmi membawa sang istri ke rumah ibunya dan tinggal bersama mereka.
Adinda terpaksa melanjutkan hidupnya bersama Ryan Alaska, pria yang sebenarnya bukan ingin ia nikahi.
*
Sebuah mobil sedan hitam mengantarkan mereka sampai ke depan sebuah rumah. Ryan memohon kepada ibunya agar tidak membuat acara apapun untuk penyambutan pengantin baru.
Adinda hanya membawa beberapa pakaian saja dalam satu koper, selebihnya ia titipkan di rumah Nabila dan keperluan lainnya akan menyusul.
"Ibuku memiliki riwayat jantung koroner, jadi tolong jaga sikapmu, ucapan mu, jika kau tidak bisa menuruti peraturan di rumah ini, silahkan keluar. Rumahku tidak semewah rumah Frans dan aku adalah Ryan Alaska bukan Tan Woong jadi aku tidak bisa menuruti sikap hedonisme yang berlebihan itu!" peringatan tegas Ryan.
"Baiklah Bos!" ucap Adinda.
__ADS_1
Ryan melangkah lebih dulu membawa kopernya kecilnya, kemudian Adinda menyusul dibelakangnya sambil menggeret kopernya yang cukup besar, sebagai pernak-pernik perlengkapan wanita yang jauh lebih banyak.
"Ini seperti Babak baru yang menegangkan!" batin Adinda tarik nafas lebih panjang.