Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 48 - Malam Yang tidak terduga.


__ADS_3

Sesampai di rumah, Ryan tidak bicara apa-apa wajahnya lesu dan sedikit pucat, pria itu langsung menuju kamarnya.


Khaliza dan Adinda bahkan tidak berani menegur pria itu.


"Adinda, tampaknya Ryan cukup lelah, bisakah kau buatkan minuman wedang jahe untuknya?"


"Em...Tapi Adinda tidak begitu pandai Ma!"


"Mari sini biar Mama ajarin!"


Keduanya bekerja di dapur, pelan tapi pasti, Khaliza mulai mengalihkan tugasnya mengurus Ryan kepada Adinda.


*


Sambil Membawa wedang jahe, Adinda masuk menuju kamar dan melihat Ryan sudah telungkup di atas kasur, ia tampak stress dan penuh tekanan.


Sejak mengetahui banyak tentang konflik kehidupan Ryan dari ibunya, mendadak Adinda merasa sangat iba kepada Ryan, wanita itu memberanikan diri membuka sepatu Ryan yang masih melekat di kakinya.


Ryan tersentak bangun.


"Hei perempuan murahan, apa yang kau lakukan!" hardik keras Ryan yang masih terbawa emosi, sehingga membuat Adinda terkejut hebat dan sangat takut melihat wajah marah Ryan.


"A...aku hanya ingin melepas sepatumu saja!"


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri!" ucap Ryan membuka sepatunya dalam kondisi amburadul. Pemuda itu bangkit dan langsung menuju kamar mandi, Adinda dengan sabar menaruh rapi sepatu milik Ryan.


"Kenapa dia pulang marah-marah, wajahnya juga memar, apa dia bertengkar lagi dengan Pamannya?" Adinda bertanya-tanya.


**


Dibawah curahan air shower, Ryan membasahi kepala dan wajahnya yang serasa panas terbakar.


"Ryan, satu pinta Papa kepadamu Nak, apapun yang terjadi, tetaplah berpihak pada ibumu, jangan tinggalkan dia, dia sangat mencintai kamu lebih dari dirinya sendiri!" pesan Yong kepada putranya sebelum menghembuskan nafas terakhir.


"Sampai kapan konflik ini akan berlalu, Pah, mengapa kau begitu kejam, meninggalkan semua beban ini kepadaku, aku tidak bisa bicara kepada siapapun, perang batin ini sungguh menyakitkan, sampai kapan Lim itu bisa melihat sedikit saja kehidupanku dan ibuku yang sedang terpuruk disini, aku lelah, aku benar-benar lelah!"


Airmata itu jatuh tenggelam bersama cucuran air yang menghujaninya. Menangis dan menjerit, namun tak ingin ada yang mendengar, luka itu sebenarnya sungguh dalam Ryan rasakan walau tanpa tetasan darah dan bekas yang terlihat.


Adinda masih penasaran dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu, diam-diam wanita itu mengintai keberadaan Ryan dari balik pintu kamar mandi, Pria itu masih dengan kebiasaannya tidak mengunci kamar mandinya hanya menutup begitu saja, sedikit terbuka, Adinda nekat memperhatikan Ryan yang terduduk dalam guyuran shower air sambil menangis terisak-isak tertahan, Adinda bisa melihat tangisan seseorang dalam beban dan tekanan kehidupan. Konflik keluarga Ryan yang berkepanjangan.


"Kasihan Ryan, Setelah bertemu pamannya dia sangat stres!"


Adinda kembali menutup rapat pintu kamar mandi dan keluar dari kamar, hatinya ikut sedih melihat kondisi Ryan.

__ADS_1


"Apakah kau sudah memberi wedangnya?" tanya Khaliza.


"Sudah Mah, Mas Ryan lagi mandi!"


"Ingatkan dia untuk sholat Isya yah!"


"Baik mah!"


"Mama akan kasih tau Ryan, agar membiasakan sholat berjamaah dengan kamu!"


"Mah!" Adinda memegang tangan lembut Khaliza.


"Tolong jangan paksa Mas Ryan dulu yah Mah, ini pernikahan yang benar-benar tidak dia inginkan, mungkin segalanya perlu proses panjang, Adinda tidak ingin menuntut banyak dari Mas Ryan, dia sudah berkenan memikul aib ini, itu sudah lebih dari cukup!" ucap lembut Adinda dengan mata mulai berkaca-kaca dalam perasaan campur aduk.


"Yah, Baiklah, kau harus banyak bersabar dengan perlakuannya, jangan mudah sakit hati dengan ucapan kasarnya, ia memang memiliki sifat keras dan tempramental tinggi kepada siapa saja!"


"Iyah Mah, apa mama mau makan, biar Adinda siapin?"


"Mama mengaji dulu yah!"


Adinda mengangguk dengan senyuman manisnya. Wanita itu kembali masuk memperhatikan suasana kamar yang sepi.


"Ryan!" panggil Adinda mencari di area kamar ganti hingga teras balkon.


"Ryan?" Adinda berlari mendapati Ryan dengan ekspresi terkejut hebat, pria itu terduduk lemas dengan kondisi wajah yang pucat dan dalam pandangan sayup-sayup terlihat ia sudah memakai handuknya.


"Ryan apa kau baik-baik saja?" menepuk-nepuk kecil pipi Ryan, Adinda begitu khawatir dan panik melihat kondisi suaminya itu. Tampilan seseorang yang cukup lelah dan hampir putus asa.


Adinda berusaha memapah Ryan bangkit dan keluar menuju kasur. Tidak terduga saat berdiri, handuk Ryan melorot jatuh ke bawah.


"Ih, gawat! Ini rezeki nomplok atau kesialan?😱" gumam kocak Adinda jantungnya terasa berdebar-debar jika berhadapan dengan kejantanan milik Ryan, bercampur aduk dengan rasa panik, namun Ryan sudah terlihat memakai ****** *****.


"Handukku!" ucap lemas Ryan.


"I..Iyah!" Adinda melingkarkan handuk itu di bagian area perut bawah Ryan dengan mata mengintip.


"Jangan gila donk Dinda, bisa-bisanya kamu mengambil kesempatan di dalam kesempitan ini!" gumam Adinda yang tidak munafik suka dengan pesona tubuh Ryan, namun sayang, lelaki itu belum tertarik untuk menggauli Adinda meskipun sudah resmi menjadi istrinya, ditambah lagi, Adinda yang masih dalam kondisi mengandung anak dari temannya.


Wanita itu terus berjuang memapah tubuh berat Ryan hingga membaringkannya di atas kasur, kemudian dengan sigap Adinda mengambilkan pakaian Ryan, lalu kembali ke dapur untuk menghangatkan minuman wedang yang sudah sempat dingin, tampak Ryan memaksakan diri memakai pakaiannya sendiri.


Kemudian Adinda kembali masuk.


"Minum Wedang ini, aku sudah memanaskannya" setelah minum sedikit, Ryan minta diselimuti, tubuhnya terlihat menggigil.

__ADS_1



"Ya Allah, Suhu tubuhnya panas sekali (demam tinggi)" ucap Adinda cukup panik.


Tiba-tiba Khaliza masuk ke dalam kamar Ryan, seperti ada detak hati seorang ibu dengan kondisi buruk putranya.


"Bagaiman kondisi Ryan?"


"Tubuhnya panas sekali Mah!" jawab khawatir Adinda.


"Sebentar, Mama akan panggilkan Dokter, kamu kompres saja dia!"


"I..Iyah Mah!"


Khaliza langsung memanggil Alam Syah sebagai Dokter andalan mereka.


*


"Ryan hanya demam biasa dan ia sangat kelelahan baik fisik maupun pikiran, sebaiknya tiga hari ke depan ia wajib istirahat total!" komentar Ryan memberikan petunjuk asupan dosis obat kepada Adinda.


Sejenak, terlihat Khaliza berbincang-bincang dengan Alam Syah di ruang tamu.


*


Malam itu Adinda tidak bisa tidur, sepanjang malam ia terjaga dan terus mengganti kompres Ryan hingga demamnya kembali normal.


Meski suhu tubuhnya sudah mulai normal, Ryan tampak gelisah dengan mata terpejam sambil memegangi kejantanannya dari balik selimut, sebuah reaksi pria dewasa yang tidak di sadari.


"Kenapa dia terus memegangi si Jhon Tralala Nya?" gumam Adinda. Merasa penasaran Adinda perlahan membuka selimut, mengintip-ngintip ☺️


"😱 Adinda terkejut untuk pertama kalinya bertemu dengan 'Jhon' kejantanan Ryan yang sangat kekar dan belum selesai rasa kaget itu, Ryan menekan kepala Adinda dengan cepat agar bersenang-senang bersama si 'Jhon' untuk kepuasan dirinya, Adinda mengerti apa yang Ryan maksud dan melakukannya dengan baik.


(Pisang Bakar...Yummy...Yummy🤤🤤)


Kerja Adinda cukup sempurna malam itu hingga membuat Ryan puas, tenang dan langsung tertidur pulas.


Mereka melakukan semi malam pertama yang tidak sempurna, hanya kepuasan untuk pria saja.


*


Saat terbangun, Ryan sudah mendapati Adinda tertidur di sampingnya.


Ryan menatap wajah Adinda dengan seksama, sambil berkata dalam hati;

__ADS_1


"Apa yang sudah ku lakukan padanya tadi malam??" gumam Ryan bertanya-tanya mulai mengingat.


__ADS_2