Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 83 - kejutan


__ADS_3

Hari mulai malam.


Di lain tempat terlihat Nia dan Vita sedang nongkrong asyik bersama, keduanya tetaplah berteman baik, seperti tidak ada kejadian, Nia yang kerjanya hanya berpesta dan hura-hura dengan teman-temannya.


Ketika hendak pulang, keduanya jalan bergandengan menuju mobil masing-masing.


Tiba-tiba Nia merasakan sesuatu.


"Aku seperti mencium aroma parfum Frans!" gumam Nia sudah sangat mengenal bau khas Sang suami.


Ternyata bau parfum tubuh Frans masih melekat tipis di tubuh Vita, meski Vita sudah membersihkan dirinya.


Nia tidak bertanya langsung atau menegurnya, namun ia mulai mengutus seseorang untuk mengintai gerak-gerik sahabatnya itu.


*


Setelah aksi nakal Ryan itu itu terjadi, pria itu membawa Adinda menuju salah satu boutique. Wajah Pasangan pasutri itu terlihat sumringah, setelah sudah beberapa kali melakukan hubungan intim.


"Gimana mau cerai, jika terus-terusan melakukan hubungan badan seperti ini?" gumam pikir Adinda, yang terus menatap jalan, ia terkejut jika tangan Ryan sudah mengelus-elus manja paha nya.


"Aduh jangan bilang dia mau lagi, gawat😣!" gumam Adinda membalas senyum Ryan yang reflek menatapnya.


"Semakin kesini, entah mengapa aku semakin takut, aku merasa setelah Ryan bosan denganku, kelak dia akan pergi meninggalkanku!"


Tidak terasa mobil Ryan di salah satu parkiran luas sebuah gerai Boutique mewah.


Adinda tidak mengetahui jika butik itu adalah salah satu aset Woong yang sudah resmi menjadi milik Ryan dan ibunya.


"Kita mau kemana?" tanya Adinda memastikan.


"Menurut kamu?"


"Mau beli baju?"


"Yap!" Ryan langsung turun membukakan pintu mobil untuk Adinda sambil berkata;


"Aku harus mengganti pakaianmu yang sudah banyak aku sobek."


Adinda hanya tersenyum manis.


*


Saat keduanya masuk, Manjager dan para staf disana langsung menyambut hangat dengan memberikan penghormatan kecil sebagai pemilik Boutique.


Sebelum ada kata penyerahan, Madam Elena sudah memerintahkan Ryan untuk mengelola dan berperan sebagai pemilik beberapa Boutique yang memang diwariskan kepada Yong Woong. Sehingga para staf sudah tidak asing lagi kepada Ryan Alaska sebagai pemilik Boutique itu.


"Wah, pelayan disini memberikan penghormatan, kayak kita sebagai pemiliknya saja yah!" tawa polos Adinda menepuk kecil bahu kekar Ryan.


"Pembeli adalah Raja!" ucap Ryan.


Begitu masuk ke dalam butik, Adinda mulai sibuk melihat-lihat pakaian mewah disana, sementara Ryan berkoordinasi sejenak dengan manajer Boutique.


Adinda begitu terkejut saat melihat harga yang tertera, karena pelayan membawa Adinda kepada pakaian berkualitas premium.


*


"Mau yang mana, pilih saja!" bisik Ryan tiba-tiba sudah mendapati Adinda setelah berkomunikasi dengan sang manager.


"Aku rasa disini cukup mahal, ini boutique tempat dimana kalangan artis dan pengusaha kaya membeli pakaian, sebaiknya kita cari di luar saja?" bisik Adinda di telinga Ryan.


"Hem, memangnya brp harganya?"

__ADS_1


"Satu potong pakaian, paling murah 5 juta an!"


"Hem!"


"Ambil saja, tidak masalah, aku yang bayar!"


"Kamu kan lagi butuh uang untuk membayar pinalti keluar dari X-Tren!" ungkap Adinda.


"Ouh, kalau itu ada, kamu tenang saja!"


"Ryan, sebaiknya untuk membayar pinalti itu, gunakan uangmu sendiri, jangan pakai uang dari Woong, agar mereka tidak meledek mu!" ucap Adinda.


"Kalau untuk sekedar membelikan baju kamu, aku masih sanggup!" senyum manis Ryan.


"Kita cari yang lebih murah saja yuk?" Adinda menarik tangan Ryan keluar menuju pintu.


Sikap Adinda inilah yang membuat Ryan semakin kagum kepadanya, meski Adinda sudah tau Ryan adalah si pewaris tahta dari kerjaan nan kaya raya, namun ia tidak bertingkah seperti kebanyakan wanita yang langsung menuntut banyak hal, pria itu mulai menyadari ternyata Adinda sudah jauh berubah bukan wanita yang silau dengan kekayaan atau itu adalah sifat aslinya, yang selama ini Ryan tidak ketahuan, sifat manja materialisnya hanyalah sekedar pelampiasan dari seorang anak perempuan yang ingin diperhatikan dan mencari jati diri kebahagiaan.


Idel bulus Ryan tidak berhenti sampai disana, ia Langsung memberikan kode kepada staf untuk mencegah Adinda.


"Nona, jangan pergi dulu, sebenarnya, khusus untuk hari ini, kita memberikan penawaran spesial!" ucap si pelayan.


"Ouh yah? Penawaran spesial bagaimana?"


"Semua pakaian disini, kita akan berikan diskon 80% minimal pembelian 5 pcs!"


"Ouh Iyah!" mendengar hal itu Adinda langsung tersenyum kegirangan.


"Diskon?" batin sumringah Adinda.


"Gimana?" tanya pada Ryan.


"Langsung borong!" ucap santai Ryan.


*


"Em! kalau boleh tau, diskon sampai sebesar 80% itu, diskon apa yang Mba?" tanya kepo dan polos Adinda kepada kasirnya saat melakukan pembayaran.


"Diskon, dimana si pemilik Boutique sedang jatuh cinta dengan kekasihnya, ini hari jadian mereka!"


"Ouh Iyah!" ucap Adinda tersenyum lebar, mendengar hal itu, Ryan hanya menahan senyumannya.


"Sampaikan kepada Bos kalian, semoga berbahagia sampai kepada pernikahan!" ucap tulus Adinda.


"Baik Mba, nanti kita akan sampaikan!" jawab sumringah mereka, padahal di pemilik Boutique ada dibelakang Adinda.


Setelah Adinda membayar. Ryan berbisik pada stafnya;


"Kerja bagus, nanti saya akan tambah bonus kalian!"


"Terima kasih Pak!" ucap sumringah mereka.


dan para staf pun mulai bergosip.


"Itu istri Bapak Ryan kah?"


"Ia benar mereka sudah menikah?"


"Apa Istrinya tidak tau jika ini Boutique suaminya!"


"Aku pikir tidak!"

__ADS_1


"Wah so sweet sekali!"


"Mereka sangat serasi!"


"Bla...."


"Bla...."


*


Di dalam mobil.


Ryan langsung mentransfer ke rekening Adinda, menggantikan uang yang terpakai untuk belanja pakaian dan Ryan juga membayar kekurangan uang penjualan di boutique karena memang tidak ada diskon disana.


"Sudah aku transfer!" ucap Ryan.


"Tapi kamu sudah kasih uang bulanan, aku pakai itu saja dulu!"


"Enggak apa-apa!" ucap Ryan mengusap-usap puncak kepala Adinda, tanda sayangnya kepada sang istri.


"Kalau kamu mau belanja lagi, belanja saja, karena apa yang aku dapatkan, ada hak kamu?" ucap romantis Ryan membuat Adinda terharu.


"Apakah ini sekedar rayuan?" gumam Adinda.


"kamu sedang merayuku?"


"Yah begitulah, meskipun aku bukan tipe pria yang pintar merayu!" ucap Ryan mulai menjalankan mobilnya.


"kamu lapar?"


"Iyah?"


*


Keduanya mencari tempat makan dan makan malam bersama.


Semakin hari Ryan semakin menunjukkan sikap cinta, sayang dan perhatian kepada sang istri.


Mereka seperti pengantin baru yang mulai berbulan madu.


Semakin lama bersama, tidak bisa dipungkiri Ryan merasa kehadiran Adinda begitu membuat hidupnya lebih bersemangat, meskipun awal pernikahan mereka sangat buruk.


"Kamu makan yan banyak yah!"


Adinda sampai pangling bahkan terkagum-kagum melihat perubahan sifat Ryan yang bawel, dingin dan selalu salah, kini berubah manis dan perhatian.



Adinda yang sedikit kocak, justru memegang dahi Ryan.


"Kamu tidak sedang sakit kan, kenapa begitu baik dan perhatian sekali belakangan ini?"


Ryan hanya tertawa geli.


"Sudah cinta!" jawab singkatnya.


"Bukankah seorang playboy sudah biasa menyatakan cinta!"


"Hem!" ucap senyum Ryan menanggapi santai Adinda yang belum percaya dengan cintanya.


"Kita bungkus juga buat Mama yah?"

__ADS_1


"Ok sip!" sifat Adinda yang selalu memikirkan ibunya, yang membuat Ryan sudah memastikan diri, bahwa Adinda lah wanita yang dia inginkan.


*


__ADS_2