
Pernikahan Ryan Alaska dan Adinda tinggal menghitung jam.
Dunia publik bisnis seketika heboh dan cukup terkejut, namun respon mereka benar-benar tidak terduga, justru memberikan tanggapan baik juga senang serta mengucapkan selamat dan doa untuk kedua pengantin kecuali mereka yang di dalam hatinya sudah tertanam rasa iri dan dengki.
Malam Pengantin tampak dekorasi gedung mulai hampir finish, calon Pengantin tidak diizinkan lagi bepergian kemanapun kecuali untuk perawatan diri.
*
Terlihat Crush mendapati Elena Shera yang juga sibuk dengan penampilannya esok hari.
"Malam Madam, ada kabar yang cukup mencengangkan!" laporan Crush.
"Ada apa?"
"Tidak terduga dan ini benar-benar kejutan hebat, akhirnya Tuan ku Lim Woong, besok pagi akan hadir di acara akad pernikahan Tan Woong, ia juga mengundang semua keluarga Woong dan staf perusahaan beserta aliansi yang bergabung!" ucap Crush yang juga ikut bahagia sampai ia tersenyum tipis.
Reflek sosok Madam itu tersenyum kegirangan dan sangat puas, akhirnya ia berhasil menarik paksa suaminya yang berjiwa egois over dosis itu.
"Terima kasih atas laporannya Crush, aku sangat bahagia mendengar berita ini!"
"Sama-sama Madam!"
***
Persiapan sudah mencapai 98% hampir rampung.
Malam pernikahan, Adinda memilih tidur di rumah Nabila, ia sudah tidak lagi berada di rumah kontrakan Frans bersamaan dengan keluarnya wanita itu dari X-Tren serta sudah berpamitan dengan teman-teman kerja lainnya, bahkan Adinda juga menjual mobil dan barang mahal pemberian Frans termasuk pakaian dan perhiasan, ia ingin menghilangkan semua pemberian Frans agar tidak menjadi pengingat kenangan pahit selama menempel ditubuhnya.
Meski akan menikah dengan Ryan keponakan kandung seorang Lim Woong, Adinda mulai berpikir dan bertekad untuk menyimpan uangnya dengan baik sesuai arahan sang kakak yang berpesan kepada Adinda;
"Bahwa kita wanita harus mandiri, tidak bisa bergantung 100% kepada pria!"
Adinda tidak lagi menghabiskan uangnya hanya untuk perawatan kecantikan dan Fashion namun ia mulai berpikir untuk menata kehidupannya di masa depan terutama saat setelah melahirkan.
Mendengar berita pernikahan itu, seorang pria bernama Ivander Jiro dan keluarganya mendatangi rumah Nabila, ia adalah Ayah kandung Nabila dan Adinda.
__ADS_1
Tampak mereka berkumpul di rumah Nabila dan keluarganya. Suami Nabila juga menyambut hangat keluarga sang istri.
Nabila akhirnya menceritakan semua prihal pernikahan serta apa yang sudah terjadi kepada adiknya itu karena ia merasa bahwa peran Ivander sebagai Ayah cukup penting di acara pernikahan Adinda esok hari.
"Trup!" Nabila kembali keluar dari kamar Adinda setelah memastikan sang adik sudah mematikan lampu tidur. Ivander ingin berbicara kepada putri keduanya itu.
"Maaf Ayah, Adinda sudah tidur!" ucap kecewa Nabila.
Adinda memilih tidur dan enggan bicara kepada Ivander Jiro. Ia masih menaruh dendam tersendiri kepada Ayahnya, merasa tidak butuh sosok pria itu lagi.
"Kalau begitu, kami pulang dulu, biarkan saja Adinda tidur dan beristirahat, ia butuh tenaga untuk besok hari!"
Nabila tetap menyambut baik keluarga Ayahnya itu, namun ia bisa mengerti perasaan Adinda yang masih labil yang sedang mengalami kisah cintanya yang menyedihkan.
"Nabila harap Ayah dan Ibu (Mama tiri) datang besok pagi?" pesan Nabila.
"Aku pasti akan datang untuk memenuhi tugas akhir ku!" jawab Ivan.
"Terima kasih Ayah, semoga Ayah selalu sehat, tetaplah doakan agar kehidupan Adinda baik-baik saja dan ia bisa bahagia!" ucap mewek Nabila yang jauh lebih dewasa daripada Adinda.
Ivan langsung memeluk putri sulungnya itu dan tangis Nabila pun pecah dalam pelukan sang Ayah.
Sebuah pemandangan indah dari hubungan darah, antara Ayah dan anak.
***
Pukul 04.00 wib Adinda sudah bersiap akan berangkat menuju tempat dimana ia akan menjadi pengantin atau ratu sehari.
Mobil sedan berwarna hitam dengan plat lambang W dalam pengawalan ketat terlihat sudah menjemput sang calon pengantin wanita.
Sebelum Pamit, tampak Nabila sudah mempersiapkan semua kebutuhan adiknya, Adinda memeluk erat sang kakak, Nabila bisa merasakan pelukan adiknya tersirat jiwa ketakutan dan keraguan.
"Doakan Adinda ya kak!" ucap meweknya.
"Tentu sayang, secepat mungkin kami akan segera kesana!" ucap Nabila.
__ADS_1
"Iyah!" angguk Nabila mulai melangkah pergi.
"Adinda!" panggil Nabila saat ia ingin membuka pintu mobil.
"Tetap semangat yah sayang, kakak selalu ada bersamamu" Nabila mengepal tangannya sebagai lambang sugesti kekuatan untuk adiknya.
Adinda hanya mengangguk dan tersenyum tipis, Nabila terus memandangi adiknya sampai mobil jemputan itu menghilang dari pandangan mata.
*
Di dalam mobil Adinda merenung akan nasib dirinya.
"Sampai disini aku mulai paham, bahwa apa yang kita miliki ini hanya lah fatamorgana, semua bersifat sementara dan terbatas Ketika aku siap untuk bertemu maka aku juga harus siap untuk berpisah.
Kelelahan hati ini juga mengajarkan aku tentang sebuah cinta, bahwa tidak ada cinta yang abadi selain cinta kepada Tuhanku, sang pemilik jiwa raga ini, maka berhentilah terlalu mencintai sosok makhluk karena semua itu hanyalah bersifat semu atau hanya sekedar titipan.
Kehidupan ini akan terus berjalan bersama waktu yang tak pernah mau tau tentang kegagalan atau keberhasilan ku hari ini, namun waktu jua lah yang akan mengantarkan cerita kehidupan manusia, akankah berakhir seperti apa? Senang atau sedih tergantung dengan apa yang sudah kita lakukan kemarin."
Kesalahan itu pula yang membawa Adinda Aira pasrah di kehidupan selanjutnya
Ruang rias pengantin.
Para tim make over wedding organizer pagi itu mulai sibuk dengan tugas mereka masing-masing, Setelah mandi sempurna ala pengantin, sholat subuh, terlihat Adinda sudah duduk di depan cermin besar yang dikelilingi dengan lampu cahaya penerang terbaik. Adinda sudah bersiap-siap, wajahnya akan dirubah menjadi wanita tercantik di acara pesta megah itu.
Sementara Ryan masih berada di rumahnya, setelah sholat subuh ia tidak bisa tidur lagi, lanjut berolahraga termasuk berenang dan berlari dan lainnya.
Sesudah mengantarkan Adinda, terlihat mobil jemputan beserta pengawalan ketat itu telah tiba di depan rumah Khaliza untuk menjemput calon pengantin pria.
Sementara Khaliza yang masih terduduk di depan sajadahnya menangis terharu dan penuh syukur kepada Tuhannya, kembali ia juga mengingat Yong Woong, suami tercinta yang telah tiada, terlintas rasa rindu dan ingin sekali wanita itu berkata kepada suaminya.
"Abang, anak kita akan menikah hari ini, kau pasti senang!"
"Terima kasih ya Allah, Engkaulah pemilik scenario terhebat dan terbaik, ini seperti hadiah besar yang Engkau siapkan untukku, dimana saat aku telah ikhlas dan pasrah maka di saat itu juga satu per satu doa ku Engkau kabulkan, lancar tanpa hambatan apapun, entah pernikahan ini salah atau pun tidak, tapi aku sangat bahagia dan bersyukur melihat Anakku memberanikan diri memilih menjalankan ibadah mulia ini, kedepannya hanya Engkau yang Maha mengatur segalanya. Aku percaya tidak ada yang kebetulan, semua sudah ketetapan MU!"
Khaliza terbayang dengan ucapan Ryan tahun lalu, dimana pemuda itu genap berusia 24 tahun.
__ADS_1
("Ryan apa kamu tidak terpikir untuk menikah Nak!" tanya lembut Khaliza.
"Mah, jangan minta yang aneh-aneh! Target Ryan berumah tangga itu usia 35 sampai 40 tahun!" jawab enteng Ryan kala itu membuat Khaliza sedih)