Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 97 - Pertemuan dengan Lim


__ADS_3

Ryan sempat melayani celotehan dua sepupu tampan dan cantiknya itu, karena ia sudah menganggap mereka sebagai adik-adiknya yang selalu menghibur dirinya dikala sedang galau.


"Livia, Fan, kakak Tan ingin bertemu dengan Daddy! Pergi bermain!" (bahasa Inggris)


"Oke Moms!" jawab patuh mereka berlari menuju taman.


*


Bagi Ryan, kembali bertemu dengan Lim Woong, serasa bertemu lagi dengan sang mantan, ada perasaan grogi, gugup dalam jantung yang berdetak lebih cepat. Hal itu ternyata juga dirasakan oleh Khaliza Rahma. Terakhir, Ryan bertemu dengan Lim setelah pernikahannya dengan Adinda, namun hubungan mereka masih dalam kondisi yang sangat memanas.


Ryan terus berjalan menuju ruangan keberadaan Lim Woong dalam iringan Crush dan pengawal lainnya.



Iringan itu Kemudian diikuti oleh Khaliza, Adinda dan Madam Elena yang menemani mereka menuju kediaman Lim Woong di ruangan perjamuan khusus tamu-tamu penting, terlihat disana sudah hadir sepupu-sepupu Lim, mereka juga bagian dari keluarga Woong yang memang sengaja diundang untuk menyaksikan penyerahan hak ahli waris Yong Woong kepada putra semata wayangnya yaitu Tan Woong (Ryan Alaska)


Saat Ryan dan keluarga telah sampai, semua yang berada di ruangan itu seketika berdiri ketika melihat kedatangan putra Yong. Suasana ruangan itu menjadi senyap dan kaku, semua mata tertuju pada Ryan dan Lim,


Ryan memandang Lim dengan sorotan mata sendu, begitu juga dengan Lim. Mereka terasa canggung dan gugup, namun hati Ryan terasa iba ketika mendapati wajah pamannya itu sedikit tampak lelah, banyak pikiran dan tidak setegar dulu lagi. Ryan yang sudah kehilangan Ayah dan kakeknya, begitu takut jikalau sang Paman juga akan menyusul, Lim satu-satunya sosok pengganti Ayah bagi Ryan, pria itu terbayang dengan pesan sang bunda, jika ialah yang seharusnya meminta maaf terlebih dahulu.


Langkah Ryan berjalan tanpa ragu, terus melangkah mendekati keberadaan Lim.


"Kehadiranku untuk datang kesini bukan karena soal harta, tapi aku sadar, pertikaian kita tidak akan ada ujungnya, hanya meninggalkan sesak di dalam dada serta kehancuran, Yong dan Chen telah tiada, satu-satunya pemimpin yang bisa menggantikan mereka adalah kamu, Paman yang sangat aku banggakan dan aku hormati.


Aku minta maaf, sungguh ingin meminta maaf, aku tidak bisa menjadi apa yang benar-benar kamu inginkan, karena aku berhak untuk memilih jalan kehidupan ku sendiri. Kedatangan ku kesini juga karena aku merasa khawatir dengan kesehatan mu, aku takut, tidak ada lagi yang bisa mengendalikan Woong, tidak ada lagi ayah dari Livia dan Fan, tidak ada lagi pemimpin yang sangat aku banggakan," ucap Ryan dengan nada sedih dan menunduk.


Mendengar ucapan Ryan, Mata Lim seketika itu berkaca-kaca menatap Ryan, tanpa berkata lagi, ia langsung memeluk pria yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri, keduanya saling berpelukan hangat. Semua yang menyaksikan disana begitu senang, sebuah pemandangan yang sangat haru, tampak Elena, Khaliza, Adinda juga berpelukan, mereka sangat bahagia dengan kembalinya dua pemimpin sejati yang selama ini bertikai.


"Aku juga minta maaf, aku lupa jika kamu sudah dewasa!" ucap Lim membuka kacamatanya, menghapus titik airmata itu.


Lim juga memberikan penghormatan maafnya kepada Khaliza Rahma dan sudah benar-benar menerima kehadiran Khaliza sebagai kakak iparnya.


Mereka kemudian bersuka ria, menikmati hidangan yang sangat lezat, tidak ada lagi pertikaian dan argumentasi yang begitu menegangkan, kemudian ada perbincangan resmi Lim yang disaksikan semua orang disana bersama pengacara dalam penyerahan hak waris Yong kepada Tan Woong berupa piagam berbentuk Cristal bercampur emas.


*

__ADS_1


"Alhamdulillah," batin Khaliza.


Di sebuah ruangan kerja, Lim terlihat tampak berbicara empat mata kepada Tan Woong, Lim sangat bahagia melihat perubahan yang sangat matang terhadap Ryan Alaska.


"Bagaimana kesehatan Paman?" tanya lembut Ryan.


"Apa kau benar-benar khawatir kepadaku?" ucap senang Lim mendapatkan perhatian dari pria yang sudah seperti anak sulungnya.


"Iyah!"


Lim menunjukkan hasil lab kesehatannya.


Ryan memperhatikan dengan seksama.


"Kau memang benar, pada akhirnya, pertikaian ini hanya akan menghancurkan kita, aku tidak ingin menjadi seperti Chen, baru bisa menerima kalian setelah ia benar-benar lumpuh!"


"Apa ini hanya masih prediksi?" tanya khawatir Ryan yang masih memperhatikan hasil scan dan keterangan laboratorium tentang kondisi batang lidah Lim.


"Semoga saja!"


(Lim Woong memerintahkan Crush agar menekan Aditama Group agar tidak menyerat nama Tan Woong di pengadilan dan masuk ke dalam kasus pertikaian bersama X-Tren, karena untuk membersihkan nama Ryan, Yong dan Lim sudah menghabiskan uang sampai menggoyangkan finansial mereka)


Lim menepuk pundak Ryan, lalu pria itu menyerahkan berkas hak waris milik Yong dengan lengkap kepadanya, tampak kesehatannya tidak setegar dulu lagi.


"Semua sudah lengkap, aku juga sudah menandatanganinya, tinggal kau dan ibumu saja! Ini adalah milikmu yang selama ini aku tahan, selanjut Crush akan mengerjakan berkas aset pribadi mu!"


"Apa paman masih membuka perjudian ilegal itu lagi!"


"Sudah tidak lagi!" jawab pasrah Lim.


Ryan sedikit lega.


*


Masalah itu akhirnya berakhir, Lim dan Elena menjamu makan malam mewah Ryan dan Khaliza, kebahagiaan menyertai mereka. Hal yang begitu sangat diimpikan oleh Ryan sampai matanya terlihat berkaca-kaca, sayangnya keharmonisan itu terjalin setelah Yong Woong telah tiada.

__ADS_1


Lim juga berencana akan mengelar pesta pernikahan untuk Ryan Alaska dan Adinda Aira kemudian mengajak mereka berlibur ke tempat destinasi terbaik dunia sekaligus menyenangkan Livia dan Fan.


Berhari-hari berada di Singapura Lim dan Elena membawa Khaliza, Ryan dan Adinda menikmati kota mewah nan kecil di Singapura.


*


Di sebuah Mall, setelah berbelanja, Adinda terlihat begitu bersemangat membeli banyak aneka rasa minuman kekinian.


"Sayang, aku banyak sekali membeli minuman! Hehehehe!" tawa cengengesan Adinda mengeluarkan 10 minuman cup kekinian.


Sontak dahi Ryan berkerut tajam.


"Banyak sekali!"


"Aku ingin merasakan semuanya!" ucap Adinda.


Wanita itu mulai menusuk sedotan lalu meminumnya sedikit, sekali sedotan Adinda langsung memberikannya kepada Ryan.


"Untuk kamu yah!" ucap Adinda, dahi Ryan reflek berkerut lagi sambil berpikir memperhatikan tingkah aneh sang istri.


Lalu menusuk minuman lagi, mencicipinya sedikit dan berkata;


"Kamu yang habisan yah sayang!" hingga minuman ke sepuluh, Adinda juga melakukan hal yang sama.


"Di beli banyak-banyak begini tapi tidak dihabiskan maksudnya gimana sih?" ucap heran Ryan.


"Aku...tadinya begitu selera, tapi, tiba-tiba setelah di minum enggak suka!" ucap Adinda.


Akhirnya perut Ryan banyak terisi air, sebagian ia kasih dengan para pengawal dengan mengganti sedotan yang baru.


"Besok ngidam apa lagi sayang!" bisik Ryan merangkul gemes sang Istri.


"Hehehehe!" tawa cengengesan Adinda.


keduanya nongkrong santai menikmati gemerlap kota Singapura sambil sayang-sayangan, sesekali tampak jemari Ryan mengelus-elus manja perut Adinda.

__ADS_1


__ADS_2