
Saat hendak berangkat, Ryan terkejut melihat ada sebungkus obat terletak di laci bufet saat dimana pria itu sibuk mencari jam tangan yang ia pakai 3 hari yang lalu dan lupa menaruhnya dimana.
"Obat apa ini?" gumam pria itu langsung mencari tau bersama google, ternyata sejenis obat anti pencegahan kehamilan setelah atau sebelum berhubungan, namun obat itu adalah obat generik biasa yang tidak bekerja dengan optimal jika hubungan suami istri sering dilakukan.
"Jadi dia tidak ingin hamil?"
"Apa ini karma bagiku yang terlalu banyak menolak memiliki anak dengan wanita," gumam Ryan sedikit kecewa.
Ryan diam saja tidak mempermasalahkan hal itu. Ia tau Adinda masih belum siap untuk hamil.
*
Khaliza mempercayakan Adinda untuk menemani Ryan.
"Kalau tangan kanan kamu sakit, gimana bawa mobilnya?"
"Udah sembuh kok!" jawab cepat Ryan membuat dahi Adinda mengerut kecil.
Di dalam mobil, Ryan masih dengan seribu cara modus kebucinan nya, sengaja mengacak rambutnya agar minta diperhatikan, ternyata benar Adinda langsung peka.
"Rambut kamu Memang seperti itu?" tanya Adinda, pertanyaan yang sangat disukai Ryan.
"Tadi aku lupa menyisirnya!" ucapnya ceplos Ryan memberikan sisir kepada Adinda.
"Tolong sisir kan, aku mau buka chat WA dulu!" pinta Ryan, dengan sabar Adinda menyisirnya rambut Ryan dengan rapi sampai dua bibir itu tersenyum.
"Makasih yah!"
Adinda mengangguk manis.
*
Akhirnya keduanya berangkat menuju salah satu Apartemen sekaligus tempat pertemuan Ryan Alaska bersama orang pilihan Crush untuk mengurus segala keperluan berkas peralihan atas nama Yong Woong menjadi Tan Woong, seorang pemuda yang juga bersuku Tionghoa, bernama Hardianto (nama Indonesia) atau Ley Feng (Nama Tionghoa).
Begitu melihat kedatangan Ryan, Hardianto langsung menyambut dengan hormat, mereka berjabat tangan hangat, keduanya langsung berkomunikasi menggunakan bahasa Mandarin.
Adinda terlihat hanya menunggu di luar ia merasa enggan untuk masuk ke dalam.
Menyadari keberadaan Adinda tidak Ada disampingnya, Ryan langsung menyusulnya keluar. Ternyata Adinda berdiri bersandar di sebuah dinding.
"Ayo masuk!" ajak Ryan.
"Aku di luar saja!" senyum cengengesan Adinda justru malah menjauh.
Tidak ingin merayu dan membuang waktu, Ryan yang tidak pandai membujuk wanita dengan gaya brutalnya langsung mengangkat Adinda masuk, membuat wanita itu terkaget-kaget.
"Ryan, turunkan aku, malu di lihat orang!" berontak Adinda sambil mencubit kecil suaminya.
Pria itu tidak perduli, sampai Hardianto ikut tersenyum manis melihat kelakuan romantis keduanya.
__ADS_1
Ryan baru menurunkan ketika sampai di ruang tamu, tepat di hadapan Hardianto.
"Kamu duduk disini saja yang manis jangan kemana-mana!" ucap Ryan.
"Ih si Tanduk benar-benar kekanak-kanakan!" gumam Adinda cukup malu tidak berani menatap Hardianto.
"Hahaha, Biasalah seorang istri terkadang cukup sulit untuk ditaklukkan!" tawa cengengesan Ryan dengan bahasa Mandarinnya kelas Hardianto.
"Haha, betul Mas Ryan, tapi romantis banget!" puji Hardianto mengacungkan jempolnya
*
Hardianto mulai mengeluarkan beberapa dokumen penting.
"Ini hanya sekedar pemberitahuan saja, sebagai formalitas dan legalitas berkas, Mas Ryan dan Ibu Khaliza harus menandatangani langsung dihadapan Tuan besar Lim di Singapura sebagai akhir penyerahan yang sah!"
"Ok!" Ryan mulai memperhatikan satu per satu, berkas-berkas yang tersusun rapi.
"Semua sudah saya kirim ke email Mas Ryan juga Ibu Khaliza!"
"Terima kasih!"
Kemudian Hardianto mulai mengajak Ryan dan Adinda berkeliling Apartemen Luxury itu, keduanya mulai berbincang.
"Iyah!"
Mereka berkeliling melihat-lihat suasana, Apartemen ada beberapa hal yang harus direnovasi.
Hardianto menyerahkan kunci dan berkas penting Apartemen kepada Ryan Alaska.
*
Hingga sore menjelang, Ryan dan Adinda kembali ke dalam mobil, masih dalam area parkiran.
"Jadi itu adalah salah satu Apartemen mewah milik Woong yang akan diserahkan kepada kamu?" tanya Adinda dalam raut wajah heran.
"Benar, ada yang sudah resmi otomatis jatuh ke tangan aku, ada juga yang masih dalam pengurusan, prosesnya cukup rumit dan panjang, karena Papa sudah terlanjur meninggal jadi banyak surat-surat kuasa yang harus diurus!"
"Hem!"
"Kenapa?"
"Enggak apa-apa!"
"Kamu kaget yah, aku ini ternyata keturunan dari keluarga bangsawan?"
__ADS_1
Adinda mengangguk,
"Tapi dulu...kamu sekolah di SMP yang biasa?"
"Kamu tau sendiri kan, sudah mencapai 25 tahun, pernikahan Papa dan Mama itu tidak mendapatkan restu penuh dari Woong, aku juga antara dianggap dan tidak, ini sebuah penantian Mama yang sangat panjang, meskipun dulu kakek Chen sudah merestui mereka dan sudah memberikan bagian untuk Papa, tapi Lim bersikeras tidak ingin memberikannya.
Aku tidak tau seperti apa nasibku jika tanpa Mama, dia itu manusia hebat, kuat, mungkin Tuhan sudah takdirkan dia untuk Papa, cintanya tulus banget, enggak mengharapkan apapun, tidak ada wanita yang sanggup mendampingi pria bernama Yong kecuali Khaliza, mungkin jika Papa tidak menikah dengan Mama, semua harta ini tidak terkendalikan dengan baik, aku yakin Lim baru menyadarinya sekarang. Kamu benar, kesabaran itu akhirnya berbuah dan ini waktu yang tepat.
Aku tidak pernah berhenti menyalahkan diriku ketika Mama divonis penyakit jantung koroner sensitif, aku benar benar marah pada diriku hingga memaksa diriku ini harus berubah dan meninggalkan segala perbuatan maksiat,.sesuai keinginan Mama, bahkan memilih untuk keluar dari Woong!"
(Mata Ryan berkaca-kaca langsung menepis air mata yang ingin terjatuh, Adinda juga ikut merasakan kesedihan Ryan yang selama ini berjuang bersama ibunya)
"Aku ini terlihat kuat, padahal aku sangat cengeng, wanitalah manusia yang paling kuat di dunia ini, Aku mengerti, mengapa Mama ingin aku segera menikah, agar aku bisa memiliki keturunan, lebih bijaksana dan berpikir dewasa, tapi mencari pasangan hidup, tidak semudah membalikkan telapak tangan, meskipun banyak wanita yang ingin dinikahi.
Setiap malam aku berpikir apakah jantung Mama masih bisa bertahan sampai waktu yang benar-benar, dimana aku siap melepasnya pergi menyusul Papa!" ucap mewek Ryan jatuh dipelukan Adinda.
Adinda reflek mengelus manja rambut Ryan, keduanya saling menatap, terbawa suasana hingga membuat Ryan harus mengecup bibir manis wanita itu. Perasaan itu tidak terkendalikan sampai di Jhon tiba-tiba terhentak bangun.
Ryan ingin mengajak Adinda melakukan hubungan intim di dalam mobil.
"Ryan, jangan, disini ada petugas satpam!" ucap Adinda menolak.
"Ini parkiran VVIP, tidak ada yang berani masuk!" ucap Ryan memaksa Istrinya agar segera membuka pakaiannya sambil meluncurkan serangan cinta.
"Sekali-kali kita cari tempat yang berbeda donk!" bisik Ryan yang sedang di mabuk Asmara.
"Mau nolak tapi mis "VIVI" ku juga berdenyut, ah!" gumam Adindaš£
Tapi kamu harus janji, setelah ini mengurus surat perceraian kita!" ucap Adinda.
"Hem!" Angguk cepat Ryan.
"Sebelum cerai kamu bayar pajak dulu?"
"Pajak apa?"
"Pajak kehamilan!" ucap ceplos Ryan.
*
"Ih, uh, ah!" Adinda pun mencubit, memukul, menjambak Ryan.
Guncangan dahsyat terjadi di mobil dalam parkiran yang sepi.
Merasa kurang puas, lanjut di Apartemen, lagi dan lagi melakukan bercinta, di gempur habis-habisan sampai lemas.
__ADS_1
"Keramas lagi?" gumam Adinda.
*