Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 65 - Nasihat Kehidupan


__ADS_3

Khaliza terus melangkah membawa Adinda menuju kamar tamu.


"Mama senang sekali kamu memilih rehat di rumah ini, artinya Mama punya teman ngobrol lagi!" ucap polos Khaliza.


"Iyah Mah!" senyum Adinda kembali cerah setelah berada bersama ibu mertuanya itu.


"Adinda, Mama dan Bi Surti sudah siapkan kamar yang nyaman buat kamu, mari lihat sini!" Khaliza perlahan membuka kamar tamu yang disulap menjadi senyaman mungkin untuk kamar seorang anak perempuan.


"Nah, dengan begini, kamu tidak susah lagi ke kamar mandi!"


"Terima kasih banyak yah Mah!" senyum bahagia Adinda memeluk Khaliza.


"Yah sudah, rehat lah!"


"Baik Mah, sebentar Adinda mau ke kamar mandi dulu!"


*


Melihat hal itu, Ryan bergegas bangkit memanggil ibunya dari bibir pintu.


"Mah..Mamah!" panggil Ryan dengan nada sedikit memaksa.


"Ada apa!" Khaliza terpaksa keluar sejenak menemui Ryan.


"Kenapa Mama malah menyuruh Adinda di kamar tamu, bagaimana jika dia perlu sesuatu di malam hari, siapa yang akan memperhatikannya?" protes Ryan.


"Memangnya selama ini kamu memperhatikannya? Perduli dengannya? Kamar mandi saja kamu tidak ingin berbagi!" jawab gemes Khaliza kepada putranya itu.


"Yah, ini kan pengecualian Mah!"


"Halah, sudahlah, Mama tidak percaya dengan kamu Ryan, dalam kondisi seperti ini, Adinda itu butuh ketenangan sendiri, pria seperti kamu tidak akan paham, takutnya Adinda yang sedang depresi, melihat wajah bawel kamu, yang ada ia semakin pendarahan!"


"Apa in sih Mah, itu tidak mungkin lah, Mama berdosa Lo, jika memisahkan kami seperti ini!" ancam Ryan.


"Ini pengecualian!"


"Trup!" Khaliza langsung menutup pintu kamar sampai Ryan terkejut.


"Aaargh Mama payah, benar-benar nyebelin!" gerutu Ryan menggaruk kecil rambutnya. masuk ke dalam kamar dengan raut wajah kesal.


*


Setelah Adinda keluar dari kamar mandi. Ia merasa kedinginan lalu Khaliza mengarahkannya agar segera naik ke atas kasur.

__ADS_1


"Ayo gunakan kaos kakimu!" pinta Khaliza kemudian Adinda menyandarkan tubuhnya di kepala kasur kemudian menyelimuti setengah tubuh lemah itu.


(Meskipun Adinda bukanlah sosok menantu yang istimewa secara kasta, namun Khaliza merasa Nyaman dengan menantunya itu yang tidak suka membantah, bawel, penurut, serta mau belajar. Keduanya mudah akrab karena suka ngobrol bersama, sama-sama kesepian, saling belajar dan mengajar bersama. Hubungan mereka tidak sebatas menantu dan mertua saja, melainkan sudah terjerat dalam hubungan seperti layaknya seorang sahabat, ibu dan anak, kakak dan adik. Khaliza adalah sosok ibu mertuanya yang cukup pengertian, tidak monoton dengan prinsip atau gila kehormatan, ia tetap mendidik dan menganggap Adinda adalah putrinya sendiri, hal ini membuat Adinda mudah terbuka dan juga menganggap Khaliza adalah ibu kandungnya sendiri)


"Bagaimana sekarang perasaanmu, Adinda!" tanya Khaliza melihat raut wajah Adinda yang masih rapuh bahkan menuju depresi, sorotan matanya terlihat sayu dan kosong. Bagaimana tidak? Ia harus merasakan tamparan keras ketika melihat Frans akhirnya berbahagia dengan wanita lain setelah sudah memberikan segalanya untuk pria itu dan yang paling menyedihkan lagi, di hari pernikahan itu pula, Adinda mendapatkan perlakuan kejam sampai harus kehilangan si jabang bayi. Hal itu sudah dirancang manis oleh Nia dan Vita sebagai kado pernikahan untuk Nia dan Frans.


Adinda menceritakan semua kejadian itu dengan detail dalam lelehan airmata yang tidak bisa berhenti.


"Menangis lah Nak, menangis lah sampai kau puas!" ucap Khaliza.


Tangis Adinda yang tertahan selama ini akhirnya pecah dipelukan Khaliza, Ia menangis sesenggukan melepas kepenatan di dadanya, Adinda ingin tampil tegar di hadapan Nabila dan Ayahnya, meski sebenarnya ia sangatlah rapuh.


Ibu satu anak itu juga meneteskan airmata melihat nasib pilu Adinda.


Khaliza mengambil sebuah buku yang sudah dia persiapkan di kamar itu.


"Bacalah buku ini, semoga bisa menghiburmu!"


Adinda menerimanya dengan senang hati, hampir, semua buku yang Khaliza berikan ia baca sampai tuntas.


Di Prolog buku itu tertulis sebuah arti dari kutipan ayat salah satu surat Al-Qur'an


"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."


"Adinda, ketahuilah, apabila hujan semakin deras, maka kehadiran pelangi semakin dekat dan apabila malam semakin pekat, maka kehadiran fajar juga semakin dekat. Percayalah Nak, di dunia ini, tidak ada satupun kejadian tanpa seizin Tuhanmu. Yang baik itu datang dari Allah dan yang buruk itu datang dari diri kita sendiri. Hari ini, Allah menghancurkan habis hatimu tentang sebuah harapan besar kepada manusia, agar kau kembali kepadanya, benar-benar kembali!"


"Betul Mah, selama ini, aku masih berharap jika Frans akan kembali kepada ku?" ucap Adinda.


"Jangan meratapi nasibmu, apabila kau sabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah, maka kau lulus dari ujian ini dan tentu derajatmu semakin tinggi!"


"Terima kasih yah Mah, sekarang Adinda merasakan, jika musibah ini adalah sebuah kenikmatan, selain Adinda lebih mengenal siapa Tuhanku, Adinda juga dipertemukan dengan seorang ibu penyejuk hati, aku sangat bersyukur!"


"Alhamdulilah kalau begitu, jangan bersedih lagi yah, Nak, Tersenyumlah!"


Angguk Adinda dengan senyum manisnya.


"Mama juga pernah merasakan keguguran, persis seperti kamu ini, jenis kelaminnya juga sudah terlihat, yaitu perempuan, pada saat itu Mama sangat sedih dan kecewa, namun tidak berapa lama Allah kembali menghadirkan seorang bayi, yaitu Ryan Alaska, semoga kamu juga seperti itu, ada pengganti yang lebih baik!"


Mendengar hal itu Adinda sedikit menunduk.


"Tapi Mah! Ini adalah pernikahan yang bukan seperti biasanya, kasihan Mas Ryan, tidak mungkin ia terus menerus terbelenggu dengan pernikahan ini, ia juga harus menikah dengan wanita pilihannya, kami belum sempat membicarakan tentang perceraian, karena ini di luar dari prediksi!"


"Iyah sih?" jawab lesu Khaliza yang sudah Terjerat Rasa sayang kepada Adinda sebagai menantunya, namun Khaliza tidak bisa memaksa kehendaknya.

__ADS_1


"Mah, walaupun nanti Adinda tidak bersama Mas Ryan lagi, Adinda akan melamar pekerjaan menjadi pelayan di rumah ini, agar bisa mengurus Mama bersama Bi Surti!!" ucap senyum Adinda menghibur wajah sendu Khaliza.


"Hehehehe, kamu ini bisa saja!" tawa senyum keduanya memecah tangis pilu itu.


***


Ryan sudah mulai terlihat bertelepon dengan tentang masalah pekerjaan kepada Frans. Namun Ia masih bungkam tentang masalah keguguran Adinda.


"Bisakah kita bertemu besok!" ajak Frans.


"Okey!" jawab cepat Ryan tanpa banyak bicara tentang masalah pribadi mereka.


*


"Apa yang mereka perbincangkan mengapa lama sekali!" gumam Ryan menempelkan daun telinganya di pintu kamar.


Kepo dan mulai kepo.


Tidak terduga Khaliza membuka pintu dengan cepat hingga membuat Ryan hampir tersungkur.


"Astaghfirullah!" ucap Kaget Khaliza.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" hentak Ibu satu anak itu.


"Mah, Ryan tau Ryan ini salah, tapi sudah lah Mama jangan marah-marah terus!" ucap mewek Ryan.


Khaliza hanya menunjukkan tampang kecewanya.


Ryan melihat ke Arah Adinda.


"Jangan ganggu dia, dia sudah tidur!" ucap Khaliza pergi meninggalkan kamar itu.


Ryan masih juga menatap Adinda.



Merasa Khawatir, Diam-diam Ryan menyentuh dahi Adinda, bola mata wanita itu reflek terbuka, membuat Ryan gugup salah tingkah.


(("Ee...e...e..cilub ba...🙈"))


"Ma..maaf, aku pikir kau demam?" ucap Ryan


"Aku sudah baikan, Oh Iyah, bagaimana dengan berkas perceraian kita, apa kau sudah mengurusnya!" ucap Adinda membuat Ryan terdiam.

__ADS_1


__ADS_2