
Frans mengelus-elus lembut kedua pipi Nia Devira, membuat hati wanita itu berdebar-debar. Tentu semua wanita akan tergoda dan tidak tahan dengan pesona ketampanan serta kesuksesan dari sosok Frans Albar.
"Sayang, jika hari ini kamu tidak menanamkan kepercayaan kepadaku, bagaimana kita bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu berumah tangga, jangan pernah mendengar gosip-gosip murahan tentang diriku di luar sana, itu hanya mematahkan cinta kita berdua, agar gagal menuju pernikahan!" ucap Frans meremas lembut bahu Nia, menatap tajam putri kesayangan Aditama Lukman itu.
Nia Devira akhirnya luluh dan langsung memeluk hangat kekasihnya, cinta itu sudah membuat Nia bertekuk lutut kepada Frans Albar.
"Aku hanya ingin kau percaya kepadaku!" Frans mengelus lembut rambut Nia dalam pelukan itu kemudian mencium dahi sang calon istri.
"Frans!" teriak keras Deny memanggil putranya.
Mendengar panggilan itu Frans dan Nia keluar terburu-buru dan betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat Adinda dibawa paksa dalam kondisi mulut terbungkam dan tangan terikat ke sebuah rumah milik Aditama Lukman, khusus untuk pertemuan, hal itu membuat Frans semakin panik.
"Dimana Ryan, mengapa sampai sekarang dia belum datang juga!" gumam Frans yang sudah berkali-kali menghubungi Ryan bahkan tadi ia sudah nekat menelpon Khaliza.
*
Sepuluh menit kepergian Adinda, Nabila sedikit terlambat tiba di rumah adiknya karena banyak rutinitas pagi yang harus ia kerjakan, setelah berkali-kali menekan bel dan memanggil bahkan menelpon Adinda, Nabila tidak kunjung mendapati kehadiran sang adik.
"Apa mungkin dia sudah pergi ke kantor yah? Hem, baiklah, jika begitu, aku akan ke kampus terlebih dulu, seharusnya ia memberi kabar kepada kakaknya ini, ada apa dengan anak itu, rasa cueknya cukup tajam, apa Mama Ryan tidak menyetujuinya?" pikiran Nabila bercabang-cabang hingga ia mendapat panggilan staf harus segera datang ke kampus.
Nabila pergi dengan mobilnya dan berjanji akan datang kembali menemui Adinda setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sedikitpun wanita itu tidak mengetahui atau curiga jika adiknya sedang mendapatkan panggilan paksa dari para konglomerat tentang introgasi kehamilan.
*
Terlihat Ryan masih tertidur pulas.
"Ryan... Ryan...bangun Nak!" Khaliza terburu-buru membangunkan anaknya dengan paksa.
"Hem...Iyah Mah!" saut pemuda itu masih dalam mata terpejam dalam tubuh yang bermalas-malasan.
"Sudah 3 kali Ada nomor baru yang menelpon tapi ia tidak mau menjawab!" Khaliza langsung terlihat ketakutan karena dulu ia sering sekali mendapatkan teror orang-orang misterius dari ponsel hingga jantungnya menjadi tidak sehat, ia seperti merasakan de Javu.
Mendengar itu Ryan bangkit dengan cepat.
"Siapa Mah?"
"Mama tidak tau?" tampak wajah Khaliza sedikit pucat, Ryan langsung memeluk ibunya.
__ADS_1
"Itu bukan dari siapa-siapa, mungkin dari Frans atau teman lainnya, ponsel Ryan sedang nonaktif!" senyum pemuda itu menenangkan suasana perasaan sang bunda.
Khaliza pun mengangguk tenang.
"Bangunlah, ini sudah siang!"
"Ok Mah!"
Ryan terburu-buru mengambil ponselnya, lalu membukanya, terlihat sudah banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Frans, baik pesan teks maupun pesan suara yang menjelaskan tentang permasalahan daruratnya pagi itu. Frans menyuruh Ryan segera datang dan sudah mengirimkan titik lokasi tempat keberadaannya.
Ryan yang sudah mandi setelah subuh langsung bergerak cepat mengganti pakaiannya, semuanya dikerjakan dengan kilat set...set...set, sampai pakaian yang tersusun rapi kembali berantakan demi mencari kostum yang cocok, setelah selesai, ia berlari ke dapur hanya sempat meneguk satu gelas susu yang setiap pagi Khaliza buatkan.
"Mah, Ryan pergi dulu!" Ryan mencium kilat pipi ibunya lalu pergi begitu saja.
"Ryan kamu mau kemana, belum juga sarapan?"
"Nanti Ryan ceritakan Mah!" teriak kecil Ryan yang berlari kencang mendapati sepeda motor gedenya.
Khaliza hanya bisa menghela nafas sambil berkata;
"Huuuft, anak itu selalu terburu-buru, kasihan Ryan, ia pasti sangat lelah.
Seperti apapun buruknya tingkah laku Ryan, Khaliza selalu mendoakan anaknya dengan doa-doa terbaik, tidak pernah lelah ataupun bosan.
Pagi itu Ryan melaju dengan kecepatan tinggi dengan sepeda motor gedenya menyalip banyak kendaraan.
***
Pertemuan itu terlihat sangat tegang dan mengkhawatirkan sekali.
"Bisakah kau jelaskan tentang rumor kehamilan mu kepada kami?" tanya Deny Sulaiman, seketika para Bodyguard disana membuka cepat kain yang menyumbat mulut Adinda, agar perempuan itu bisa berbicara.
Dalam perasaan takut Adinda terlihat bingung menjawab pertanyaan Deny, ia langsung menatap ke arah Frans membuat pria itu cukup gusar.
"Kenapa kau diam saja?" bentak Deny dalam tatapan mengerikan membuat Adinda semakin takut.
Deny memerintahkan Bodyguardnya agar membidik pistol ke arah dahi Adinda.
__ADS_1
"Pistol itu akan menembus dahimu, jika kau masih tetap diam!" ancam Deny di depan Aditama Lukman, Partner bisnis sekaligus calon besannya.
"Pah! Tenanglah!" pinta Frans.
"Diam kamu!" bentak Deny berwajah masam menatap Frans.
"Pah...Pah...tidak semudah itu mengintrogasi wanita!"
Airmata Adinda hampir terjatuh, ia begitu bingung dan sangat takut. Lidahnya terasa terikat tak mampu menjelaskan semuanya.
Bodyguard mulai mengokang pistolnya.
"Pah, tenang pah!" tegur Frans menenangkan sang Ayah.
"Iyah...bukan Frans yang melakukannya!" jawab Adinda dengan bibir bergetar, menunduk diiringi derai airmata berjatuhan dalam perasaan hancur dan kecewa."
"Tapi lebih baik ia mati, karena ia sudah mencoret nama baik semuanya?" ucap Aditama memerintahkan Bodyguard pribadinya membidik Adinda dengan pistol mematikan.
Suasana itu semakin tegang dan menakutkan.
Adinda semakin ketakutan dan terus menatap Frans.
"Ryan kamu ada dimana? Sial...mengapa anak itu tidak datang juga!" ucapan kepanikan Frans.
"Benar Pah, wanita ini memang tidak pantas untuk hidup, kelakuannya sungguh meresahkan, bukankah anak yang dia kandung adalah anak Ryan mengapa sekarang tiba-tiba menjadi anak Frans, kelakuan pelacurnya itu telah mencoreng nama baik Om Deny, Papa, begitu juga dengan mas Frans, Nia tidak terima ini, dia sangat pantas mendapatkan hukuman kematian sekaligus menjadi efek jera bagi wanita lain yang suka sekali menuduh kehamilannya milik pria yang menjadi obsesinya!" ucapan geram Nia semakin memperkeruh suasana, Aditama tampak mengangguk dengan ucapan putrinya.
Sementara Frans terlihat diam saja benar-benar tidak bisa berkutik untuk membela nyawa Adinda dan anak yang sedang terancam hanya karena takut kehilangan Nia dan kepercayaan dari Aditama Lukman, ia hanya diam saja bingung harus berbuat apa.
"Apa yang harus aku lakukan, siapa yang harus aku pilih Adinda atau Nia, Om Adit jelas akan membuang ku, Mama dan Papa akan shock jika aku mengakui yang sebenarnya, Adinda juga belum tentu selamat
ketika aku harus mengakuinya, aku yakin mereka akan tetap menembaknya?" gumam kepanikan Frans yang sudah terbakar dengan permainan drama yang ia ciptakan.
Aditama tetap melanjutkan keputusannya untuk menebak Adinda di depan Frans Albar.
Para Bodyguard sudah bersiap-siap mulai mengokang senjata api mematikan itu, membidik dengan tepat di bagian dahi dan perut Adinda. Sungguh perlakuan yang cukup sadis dan mengenaskan.
Terlihat Adinda sudah pasrah dalam airmata yang membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan ku, kini aku pasrah dan ikhlas jika memang hari ini adalah waktu kematianku sudah tiba, biarlah aib ini aku bawa sampai mati dan Frans bisa berbahagia dengan kekasihnya dan semoga kakakku juga bahagia. Ini terlalu sakit dan aku berharap jangan sampai ada wanita-wanita di luar sana yang mengikuti jejak langkah bodoh ku ini!"