
Belakangan selalu saja ada nomor baru masuk ke ponsel Adinda yang memperlihatkan kedekatan dan kemesraan Ryan Alaska bersama Vita Ayunda sebagai rekan bisnis, baik itu di pesta perjamuan, sampai pesta kecil menyambut pernikahan Frans dan Nia, dua pasangan itu terlihat kompak dan bahagia.
Sebuah foto yang membuat Adinda cukup greget ketika melihat Ryan dan Vita ada dalam satu kamar, dimana suaminya itu sedang tertidur pulas dan terlihat Vita ada disampingnya. Foto yang belum jelas kebenarannya dan memang sengaja dikirim kepada Adinda.
Tersirat di pikiran Adinda, pikiran-pikiran negatif sebagai pria dan Wanita yang sudah sama-sama dewasa, mustahil jika tidak melakukan apa-apa.
"Mengapa Ryan lebih memilih wanita yang bukan haknya malah mengabaikan diriku yang lebih pantas." Adinda teringat ketika Ryan marah besar saat kejantanannya sempat ia nikmati.
"Mengapa aku harus cemburu, Ryan tidak memiliki perasaan apa-apa kepadaku, pernikahan ini hanya sebatas mencari keuntungan saja dan itu memang kehidupan mereka, aku lah orang ketiga yang datang merusak suasananya!" gumam Adinda tetap menyalahkan dirinya, wajahnya yang kusut meletakkan ponsel itu begitu saja.
Adinda yang sudah sering merasakan kekecewaan terhadap cinta membuat ia lelah dan berusaha kembali kepada dirinya.
Mengalihkan semua pikiran jahat itu dengan menelpon sang kakak, berselancar di dunia Maya, melihat kehidupan kebahagiaan orang lain, serta mencari ide-ide bisnis, Adinda juga sudah menulis list apa saja yang akan ia kerjakan setelah melahirkan nanti, ia tetap memilih tinggal sendiri untuk membesarkan anaknya.
"Kehidupan ini, tidak selalu berjalan dengan apa yang semestinya kita inginkan, kerasnya badai cobaan, tidak sepenuhnya datang dari Tuhan, melainkan karena kebodohan dan kesesatan manusia itu sendiri, tapi aku percaya, ini adalah kesempatan, serta jalanku untuk kembali fokus kepada Tuhanku, bahwa semua yang ada di dunia itu adalah pandangan fatamorgana yaitu hanyalah titipan semata, setiap ada jadwal pertemuan pasti akan ada jadwal perpisahan, tidak ada yang abadi, kecuali hubunganku dengan Tuhanku!"
Sejak dulu Adinda memang tidak terlalu banyak memiliki teman dan dalam aktivitas yang membosankan baginya, sampai detik ini juga, ia tidak memiliki pergaulan luas ataupun geng yang bisa di ajak ngobrol asyik, selain ibu mertuanya, Nabila dan beberapa teman dekat saja. Perasaan kesepian itulah yang membuat Adinda mudah jatuh cinta kepada seseorang Lelaki, apalagi pria itu sangat sesuai dengan kriterianya.
*
Malam-malam hari, Adinda selalu tidak bisa tidur, di tambah lagi kehamilannya yang sudah berjalan hampir 5 bulan, rasa gelisah dan takut akan berjalan sendiri kedepannya mulai menghantui, sesekali Adinda terbangun, saat mendengar ibu mertuanya batuk, keluar sebentar dari kamarnya.
Rasa kebosanan itu memaksa Adinda ingin ngobrol di kamar mertuanya dan memperhatikan janda paru baya itu, selesai sholat tahajud.
"Mama baik-baik saja kan? Apa galon air dispensernya habis?"
"Masih Ada?" ucap senyum Khaliza.
"Kamu belum tidur?" pukul menunjukkan 01.30 wib dini hari.
"Tidak bisa tidur Mah, Belakangan Mas Ryan tidak pulang dan tidak pernah memberi kabar!" ucap lesu Adinda.
"Iyah, dia lagi sibuk, tidak apa-apa nanti dia akan pulang?" jawab santai Khaliza, terlihat sedang minum vitamin.
"Apa dia memberi kabar pada Mamah?"
"Kami sudah sepakat, Ryan sudah izin ke Mama, kalau dia tidak pulang artinya pekerjaannya cukup urgent dan sangat padat, bolak balik tidak efisien baginya?"
"Ouh!"
"Kamu kangen?" senyum Khaliza memperhatikan wajah menantunya itu.
"Enggak Mah, jika Mas Ryan tidak memberikan izin kepada Adinda tidak ada apa-apa, asalkan jangan kepada Mama!"
__ADS_1
"Iyah!"
"Belakangan ini Mas Ryan dekat dengan seorang wanita bernama Vita Ayunda, Apa Mama kenal?"
"Tidak kenal!" jawab singkat Khaliza.
"Dia mantan kekasihnya!" ujar Adinda.
"Sejak dulu, Ryan itu sudah di gemari banyak wanita, bahkan sejak TK dan SD (senyum Khaliza) namun tidak ada satupun wanita yang ia kenalkan kepada Mama atau sekedar cerita, Mah sosok wanita ini loh, yang Ryan sukai atau sekedar tertarik, Mama bahkan sempat terpikir apakah anakku memiliki kelainan atau tidak? Biarpun Mama ini adalah ibu kandungnya, ia tetap tidak ingin mau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Setiap lebaran, tahun baru, atau hari apa itu namanya kasih sayang...Mama lupa!"
"Valentine Mah!" jawab cepat Adinda.
"Iyah, banyak sekali gift yang berdatangan, baik untuk Mama, maupun untuk Ryan sendiri, gift-gift itu tidak lagi datang setelah Ryan berangkat ke Singapura?"
"Apa yang membuat Mama bisa setia sabar menjalani kehidupan ini, membesarkan anak sendiri tanpa suami, tentu itu sangat berat?" tanya Adinda.
"Keikhlasan dan kesabaran...(Khaliza menatap wajah Adinda yang lesu)
Adinda, kamu itu wanita yang baik, buat dirimu lebih berharga, berhentilah menuntut apa saja kepada manusia, baik itu perhatian, simpatik, cinta dan kasih sayang, karena manusia sebenarnya tidak mampu memberikannya, walaupun itu ada, hanya terhitung kecil itu pun dengan syarat ada rasa timbal balik yang saling didapatkan, sepenuhnya akan banyak dipenuhi rasa kecewa, jika kau ingin mendapatkan cinta yang besar, carilah Tuhanmu, maka hanya Dia-lah yang mampu memberikannya!"
"Adinda sampai tertegun mendengar ucapan Khaliza, sebuah pengajaran hidup yang mampu menyadarkan dirinya yang selama ini tidak memiliki arah?"
Adinda reflek memeluk Khaliza.
"Terima kasih banyak yah Mah, pelan-pelan Adinda akan terus belajar untuk memperbaiki diri!"
Adinda memilih tidur di kamar ibu mertuanya.
***
Sedikit demi sedikit, Khaliza berhasil memberikan nasihat kepada Adinda sehingga membuat wanita itu lebih tegar dan bersemangat.
*
Suatu sore, Nabila datang ke rumah Khaliza untuk mengajak Adinda memeriksakan kandungannya yang semakin besar atau jadwal USG.
"Kak, periksanya nanti saja lah!"
"Eh, jangan anggap remeh Adinda, kau belum pernah memeriksakannya!" nasihat Nabila.
"Maaf yah Nabila, Ryan masih sangat repot!"
"Ouh tidak apa-apa Tante, tidak apa-apa, ini bukan tugas Ryan melainkan tugas saya!" ucap Nabila malu-malu menghadapi ibu mertua adiknya itu.
__ADS_1
*
Akhirnya keduanya pun pergi. Saat mobil Nabila keluar dari rumah Khaliza, tidak lama kemudian Ryan Alaska sampai di rumah.
*
"Assalamualaikum!" sapa Ryan.
"Wa'alakumsalam!" Setelah membersihkan tubuhnya, Ryan baru merasa kamarnya sepi tanpa Adinda.
"Kemana anak itu?" gumam Ryan mulai celingak-celinguk mencari keberadaan Adinda, hingga ia bertanya kepada ibunya.
"Adinda kemana Mah?"
"Tadi Nabila datang menjemputnya untuk memeriksakan kandungan Adinda!"
"Kok! Dia enggak ada izin sama Ryan?"
"Mama kurang tau, mungkin dia tidak ingin menganggu kamu!" ucap Khaliza menghidangkan cemilan.
"Makan dulu!" ucap Khaliza.
"Makasih Mah!"
***
Praktek spesialis kandungan Spog Dr Gunawan Smith.
Adinda akhirnya melakukan pemeriksaan kandungan berteknologi canggih, bersama Dokter tampan berusia 38 tahun. Gunawan adalah seorang Duda, sudah memiliki satu anak, ia juga sedang mencari Jodoh. Pria itu adalah sahabat baik Bram suami dari Nabila.
"Ini Adinda yang kamu ceritakan kemarin yah Nabila!"
"Benar banget Mas Gunawan!" jawab Nabila malu-malu.
Gunawan reflek tersenyum manis memandang Adinda, ia adalah calon kandidat kuat yang kemarin sempat Bram dan Nabila akan jodohkan.
Bram meminta tolong kepada Gunawan agar menikahi adik iparnya itu yang sudah terlanjur hamil oleh pacarnya, respon Gunawan cukup baik saat itu, namun sayang, Gunawan sedang berada di Malaysia dalam urusan pekerjaan.
Saat Gunawan sedang menjelaskan tentang kondisi kehamilan Adinda, Nabila diam-diam mengambil foto keduanya dari belakang dan langsung iseng memajang di status dengan menggunakan caption;
"Kok sweet yah?"
("Jika nanti Ryan dan Adinda bercerai, tidak ada salahnya, pelan-pelan aku akan kembali menjodohkan Adinda dengan Gunawan" gumam Nabila)
__ADS_1
*
Status itu tidak sengaja dilirik oleh Ryan Alaska.