
Rangkuman surel yang sudah diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia,
Post on 4 Nov.
From AdindaAira24@gmail.com
Dear, Tuan besar yang terhormat, Lim Woong.
Ini adalah tulisan dari seseorang yang hina dan begitu kotor, tidak ada pantasnya untuk berbicara, tulisan ini hanya akan memenuhi spam di email pemiliknya. Saya tidak yakin dan juga tidak berharap, jika surat ini akan dibaca oleh Tuan Lim.
Terima kasih sudah menghadiri pernikahan saya bersama Ryan Alaska, pernikahan yang penuh dengan drama, kisah yang hanya akan menertawakan siapa saja yang mengetahuinya, kehadiran Paman di pesta itu sungguh sebuah kehormatan besar bagi saya, meskipun kata Restu itu masih terlalu jauh untuk didapatkan, bagai bintang di atas langit.
Surat ini tidak bertujuan untuk meminta harta, pujian ataupun belas kasihan, surat ini ditulis dengan tujuan, saya yang ingin berbagi kisah tentang kehidupan seseorang. Tulisan ini murni dari niat saya sendiri tanpa paksaan ataupun perintah.
Terlampir foto-foto pernikahan Khaliza dan Yong Woong. Diam-diam, selama ini Adinda merangkumnya di sebuah galeri yang bersumber dari Khaliza sendiri.
Ini adalah foto tentang pernikahan cinta sejati dua insan manusia yang melukiskan bahwa segudang harta, penampilan, kehormatan, derajat sosial, kekuasaan, tidak akan mampu mengalahkan cinta.
Terlampir Foto-foto Ryan masa Remaja bersama hingga ia dewasa serta meraih prestasi, termasuk foto-foto galau Ryan yang sering melamun karena konfliknya bersama sang Paman
Seorang anak lelaki hebat berbakat, ia mulai berjalan terus mengikuti arah kehidupan dari seseorang yang ia yakini, hingga jauh berjalan, ia pun tersadar bahwa perjalanan itu hampir saja akan memutuskan sebuah tali, tali erat yang sudah terlilit kuat di tubuhnya, yaitu tali pusar seorang ibu selama sembilan bulan yang sudah berjuang keras memberikan kehidupan di alam kandungan.Tanpa tali kuat itu, mustahil ia hadir di dunia ini.
Hampir setiap hari batinnya menangis dan iapun bekerja keras, bukan untuk harta, melainkan bagaimana caranya agar tali yang sudah sempat ia robek sendiri kini kembali utuh sempurna dan semakin kuat melilit tubuhnya, karena ia percaya, hanya tali itulah yang mampu mengantarkan ia menuju kebahagiaan di kehidupan ini hingga akhir nanti.
Kita semua adalah manusia yang penuh ego, selalu mengikuti kemauan sendiri sampai kita lupa, sebenarnya waktu itu diam-diam terus menyeret kita menuju akhir perjalanan.
Finish nya, hanya dua saja yaitu, bahagia dengan keegoisan kita, atau justru penyesalan yang siap menertawakan.
Memberikan senyuman kepada keluarga adalah finishing yang membahagiakan dan tidak akan pernah ada kata penyesalan, Semoga Paman Lim dan keluarga besar selalu sehat dan semakin berjaya.
Namun....
__ADS_1
Jika penyesalan itu yang datang, semua hanya terjadi dalam satu kali perjalanan, tanpa boleh mengulang cerita untuk memperbaikinya kembali.
Adinda merangkum foto-foto gemes Ryan di masa kanak-kanak bersama Yong Woong dan dan Khaliza serta Lim Woong. Kebersamaan indah itu sempat terjadi sampai keegoisan Lim sendiri yang meruntuhkannya, terjerat nafsu yang terlalu besar akan harta, kemudian lanjut menampilkan foto-foto Ryan dan ibunya selama berjuang dan bertahan keras di akhir kepergian Yong, Adinda mengumpulkan semua foto itu dari Khaliza lalu mengemasnya dalam Video menggunakan sound - sound menyentuh hati.
Salah satu kebahagiaan berharga ku adalah hadir di tengah-tengah keluarga yang cukup hangat dan memiliki ibu mertua yang luar biasa hebat. Khaliza Rahmah mampu bertahun-tahun hidup memikul beban tanpa restu demi cinta sejati seorang pria bernama Yong Woong, ia tidak mampu keluar dari cinta itu karena sudah terjerat di dalamnya.
Terlampir Foto-foto kebersamaan Lim dan Yong Woong, kakak beradik yang selalu kompak bahkan tidak terpisahkan sebelum keduanya menikah.
Tidak terduga, tulisan sederhana dan editan amatiran dari kumpulan foto yang dibuat oleh Adinda berhasil melibas hati Lim yang keras sehingga membuat mata pria itu berkaca-kaca bahkan hampir terjatuh.
Lim hanya membalas surel dari Adinda dengan dua kata;
"Terima Kasih!"
Lim buru-buru menutup tablet pintarnya, lalu membuka kacamatanya, menghapus kumpulan titik air mata.
Konflik batin itu sebenarnya tidak hanya menghancurkan Khaliza dan Ryan tetapi juga Lim sendiri.
*
Convention Hall Pernikahan Frans Albar dan Nia Devira. Putra dan putri salah satu pengusaha konglomerat di Indonesia.
Megahnya acara pernikahan Frans dan Nia membuat kagum semua orang disana.
Sejenak langkah Adinda terhenti, saat mulai jalan bersama Ryan, memasuki lokasi Pesta.
"Ada apa?" tanya Ryan.
"Bagaimana jika aku pulang saja!" pinta Adinda entah mengapa ia begitu ragu dengan perasaannya yang tidak baik.
__ADS_1
"Pulang?" ucap Ryan terheran-heran.
Adinda mengangguk.
"Kita baru saja sampai, mengapa harus pulang?" tegur Ryan.
"Aku merasa...!"
"Adinda, apakah kau masih saja berusaha mencintai orang yang sudah menyakiti mu lalu berharap lebih kepadanya, ia tidak hanya menyakiti mu namun mempermainkan mu seenaknya!"
"Bukan begitu, aku hanya tiba-tiba merasa tidak nyaman!" Adinda menunduk.
"Dengar aku baik-baik, dengan kau menghadiri pesta pernikahan Frans, tersenyum tegar dihadapannya, itu salah satu balasan keras untuknya, artinya kau menunjukkan dirimu itu baik-baik saja, meskipun tidak menikah dengannya!" ucap Ryan menguatkan Adinda.
Adinda kembali tegar lalu berusaha meyakinkan kuat dirinya untuk melihat kebahagiaan Frans dan Nia.
Saat Ryan dan Adinda memasuki Ballroom mewah itu. Sontak Vita Ayunda berjalan dengan langkah cepat gemulainya menyambut kedatangan Ryan Alaska.
"Aku sudah lama menunggumu!" bisik Vita.
"Biarkan kami dulu masuk menyapa pengantin, aku bersama Adinda!" ucap tegas Ryan membuat wajah wanita itu kesal dan seram, mirip ratu iblis bergentayangan.
Terlihat Frans dan Nia dalam pasangan serasi di atas pentas pelaminan yang megah, senyum Nia begitu sumringah menikmati kemegahan pestanya.
Frans sempat memandangi ke arah Adinda dengan wajah datarnya.
Meja kursi Ryan dan Adinda ternyata sudah diatur satu meja berdampingan dengan Vita Ayunda, wanita itu juga tidak mau kalah, ia duduk tepat disebelah Ryan Alaska dan mulai sibuk menghidangkan makanan untuk Ryan.
Vita juga mengajak Ryan untuk bertemu kepada kedua orang tuanya yang sudah jauh-jauh hadir, datang dari California untuk menghadiri pesta megah Frans dan Nia.
Ryan yang tidak bisa menolak karena ia terlibat projects besar bersama Vita anak perusahaan milik orang tuanya. Tentu sebagai Aliansi kerja, ia tidak dapat menolak.
"Tunggu sebentar yah, aku harus bertemu dengan orang tua Vita ada schedule project yang harus kami perbincangkan!" bisik Ryan kepada Adinda.
"Ia tidak apa-apa, pergilah!" Jawab senyum Adinda.
__ADS_1
Kesendirian Adinda ternyata menjadi incaran dua pria asing yang tidak dikenal, yang siap mencelakai dirinya.