
Subuh yang sejuk mulai kembali datang membangunkan Adinda dan Ryan. Dalam gerak cepat, Tiba-tiba Adinda menindih tubuh Ryan dan memberikan pandangan introgasi tajam dengan wajah manisnya.
"kamu ada rencana apa tadi malam dengan tubuhku, hayo ngaku?"
"Re...re...rencana apa? Ti...tidak ada rencana apa-apa?" ucap Ryan dengan nada terbata-bata disertai dalam wajah merah jambunya.
"Yakin??" tanya Adinda lagi.
"Iyah yakin dong?" Ryan bangkit menghalau introgasi Adinda.
"Hem, awas saja kalau kamu tertarik yah, kamu akan aku sunat sekali lagi!" ucap kocak Adinda.
"Apa in sih kamu, stres yah!" Ryan buru-buru menuju kamar mandi.
*
Pagi itu Adinda terlihat sudah bersiap akan menghadiri pernikahan Frans dan Nia.
Adinda mulau selesai mandi dan merapikan rambutnya, namun masih memakai pakaian rumahan, sementara Ryan merebahkan sejenak dirinya di atas kasur.
Wanita memang butuh cukup lama untuk mempersiapkan penampilan mulai dari make up, rambut, sepatu, tas dan yang lainnya, Meskipun Ryan bersiap lebih lama namun Pagi itu ia lebih dulu selesai dengan penampilannya yang juga tampil sempurna bersama stelan jas berwarna hitam, sementara Adinda masih dalam tahap merapikan rambutnya.
"Apa kamu tidak punya warna lagi selain warna hitam dan putih!" ucap Adinda menyodorkan wajahnya kepada Ryan.
"Yah, aku suka warna itu, mau gimana lagi, untuk apa pakai warna lain jika sudah suka dan nyaman dengan warna favorit!" jawab santai Ryan.
"Buruan kamu bersiap nanti kita terlambat!"
Ucap santai Ryan menyodorkan kecil dahi Adinda dengan jemari telunjuknya, entah mengapa belakangan ia mulai sulit mengontrol diri jika terlalu dekat dengan Adinda.
"Supaya kamu dibilang setia, begitu?" hardik Adinda.
"Tidak hanya setia, tapi bertanggung jawab!" jawab bangga Ryan.
Adinda reflek dengan kocaknya bangkit membelakangi Ryan centil menggerakkan bokongnya sambil mengejek.
"Pretz untuk pria seperti kamu jika bisa setia, hihihi!" ucap Adinda seakan-akan sudah mati rasa dengan kaum Adam, lalu ia pergi mulai memakai gaunnya.
Wajah Ryan tampak tegang melihat bokong Adinda.
"Nih anak memang cukup menggoda!" ucap Ryan tarik nafas si "Jhon" miliknya mulai tersengat.
*
"Dimana Adinda!" tanya Khaliza.
__ADS_1
"Biasalah Mah lagi dandan!" ucap Ryan yang fokus dengan ponselnya.
"Tidak apa-apa kan, jika Mama tidak hadir!"
"Tidak apa-apa Mah, Om Deny sudah maklum!"
"Apakah Pamanmu juga hadir disana?" tanya Khaliza.
"Madam mengatakan, jika dia kurang sehat dan harus menjalani cek kesehatan hari ini, belum tau juga apakah ia bisa hadir atau tidak?"
"Yah, semoga dia sehat-sehat saja, jika kalian bertemu disana, tetaplah tenang dan santai, Bagaimana pun Ryan, dia adalah Pamanmu, Mama selalu berdoa ada sesuatu yang bisa menghubungkan kalian lagi untuk berdamai!"
"Iyah Mah, sebaiknya Mama tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya!"
Khaliza mengangguk tersenyum
"Haduh, lama sekali si Adinda ini, padahal ia sudah bersiap dari pukul 6 tadi!" gerutu Ryan mulai jenuh menunggunya🤨
"Namanya juga wanita pasti banyak yang diperhatikan!" celetuk Khaliza.
"Halah, Pasti wajahnya begitu juga!" ucap sebel Ryan yang sudah menunggu lama.
*
Cling💥
"Lihat penampilanku, apakah sudah bagus!" seru ceria Adinda dengan suara lembutnya.
Sontak kedua bola mata Ryan dan Khaliza tertuju pada penampilan Adinda yang sweet. Tanpa bantuan tata Rias, ia bisa mengubah dirinya menjadi cantik bagaikan sang putri Raja.
Adinda tampil dengan gaun simpel namun sangat mewah, penampilannya mampu membuat Ryan terdiam, tidak marah lagi dan cukup terpana. Meskipun perut Adinda terlihat sedikit membesar, namun tidak menghilangkan body goalnya yang bagus.
"Waaaah, kamu cantik sekali Adinda!" puji haru Khaliza.
Adinda Pun tersipu malu.
"Tapi kenapa atasnya terbuka!"
"Iyah sih Mah, ini pilihan butik Mas Ryan, semua modelnya terbuka!" ucap Adinda merasa bersalah.
"Yah sudah, lain kali kamu ada niat kan untuk menutupnya!"
"Iyah Mah!" Angguk cepat Adinda.
"Ehem, Yah sudah kalau begitu, ini sudah terlalu lama, Ryan dan Adinda pergi dulu yah Mah!"
"Hati-hati yah Nak!" ucap Khaliza memperhatikan langkah keduanya.
__ADS_1
"Hem, Belakangan ini, mereka sudah jarang berkelahi, Bagus lah!" gumam Khaliza tersenyum menatap anaknya.
*
Sesampai di dekat mobil, Adinda tergelincir kecil lalu Reflek Ryan langsung sigap menangkap sang istri.
"E...eh!"
otomatis Keduanya berpandangan manis.
"Maaf!" ucap Adinda.
"Tidak apa-apa!" jawab Ryan.
Di sepanjang jalan, Ryan juga sering melirik wajah Adinda, baik secara ia sadari maupun tidak.
"Apa penampilan ku hari ini terlalu buruk yah?" ucap Adinda.
"Kalau buruk, tidak mungkin di lirik!" jawab dingin Ryan sambil menahan senyuman manisnya berusaha fokus kepada setirnya.
Mendengar jawaban Ryan, Adinda langsung tersenyum lebar.
*
Mobil Ryan terus melaju menuju convention hall lokasi pesta pernikahan Frans dan Nia.
Terlihat, Vita sudah menunggu disana dan ia sudah tidak sabar menyambut kedatangan Ryan Alaska yang akan menjadi pasangannya di pesta mewah itu.
*
Singapore, Pukul 08.00 pagi hari.
Lim Woong terpaksa mewakilkan kehadiran pesta pernikahan Frans dan Nia kepada Crush dan istrinya karena alasan kesehatan si Tuan besar yang sedang tidak stabil. Pagi itu Lim harus menjalani berbagai rangkaian pemeriksaan cek kesehatan tubuh secara detail menggunakan teknologi tercanggih, Ada Madam Elena selaku istri yang tetap setia mendampingi sang suami.
Dokter menjelaskan, Kondisi Lim memang baik-baik saja, meski usianya semakin lanjut menuju kepala 5, namun organ dalam tubuhnya bekerja lebih sehat dari usianya, ia juga diprediksi masih berkemampuan untuk memiliki anak, namun kabar gembira itu seketika sirna ketika tim medis mendapati kemungkinan besar, Lim akan terjangkit kanker Lidah sama seperti Chen, sang Ayah yang memberikan gen kromosom mirip dengan putranya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari tim-tim Dokter hebatnya, pagi itu Lim tampak terdiam lesu dan mulai merasa khawatir, ia masih tidak percaya dengan akhir tuanya memiliki cikal bakal riwayat penyakit yang sama dengan sang Ayah, padahal Lim, selalu melakukan gaya hidup sehat, agar usianya bisa hidup lebih lama demi keluarga tercinta.
Tidak bisa dipungkiri sebagai manusia biasa tersirat rasa takut di hati sosok sang penguasa itu. Reflek Lim teringat dengan ucapan Ryan yang baru-baru ini telah memberikan pernyataan keras kepadanya.
...Aku berharap, nasibmu tidak sama dengan Chen (Ayah Yong & Lim) setelah tidak bisa berbicara, kau baru ingin meminta maaf kepada ibuku, kita lihat saja nanti, siapa yang menjadi pemenangnya?"
Setelah melakukan pemeriksaan kesehatan, Hati Lim yang mulai gelisah, iseng memeriksa isi emailnya yang biasanya, pekerjaan itu dilakukan oleh Crush atau tim pembukuan terpercaya.
Tidak terduga Lim Woong cukup terkejut melihat begitu banyak surat pendek email yang masuk dari seorang wanita muda, surel itu sebagian sudah berada di dalam spam. kiriman surat dan beberapa gambar itu terhenti sejak seminggu yang lalu, sepertinya si pengirim menyerah hingga memberhentikan kirimannya karena merasa tidak pernah mendapatkan balasan.
*
__ADS_1