Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 46 - Kebersamaan yang hangat.


__ADS_3

Ryan bergegas bangkit dari duduknya dan menghampiri Adinda.


"Syukurlah, dia masih tidur!" Pria itu kembali menyematkan jas yang menjadi selimut tidur Adinda, sambil menatap jam dinding.


"Sudah pukul 3 sore, ia belum bangun juga!"


"Hei?" Ryan menepuk Pipi Adinda.


"Bangun, ini kantor, bukan kamar pribadimu!"


Adinda pun terbangun dengan menggerakkan tubuh malasnya melawan sisa kantuk itu, ia masih terlihat dalam keadaan menguap berat🄱


"Apa isi rantangnya sudah habis?" Adinda berjalan menuju meja kerja Ryan.


"Kau sudah bisa pulang!" pinta Ryan.


"Hem, enak sekali tidur di kantor mu ini, harusnya tadi aku bawa guling kesini!" kata Adinda memperhatikan isi rantang yang telah habis dan menyusunnya kembali.


"Kau tidak membuangnya kan?"


"Itu masakan ibuku, aku tidak boleh membuangnya!" Lidah Ryan yang sudah mengenal masakan ibunya.


"Em, benar sekali, yah sudah, kalau begitu aku pulang!" ucap Adinda.


"Eh tunggu, mengenai mobil, akan aku usahakan secepatnya!" ucap Ryan.


"Benarkah (Mata Adinda langsung berbinar-binar)Yei, Adinda reflek berlari langsung memeluk Ryan!"


"Terima kasih sayangku!"


"Hei...Adinda, ih lepasin!" Ryan berusaha melepas pelukan itu.


"Dengar, mobil itu aku belikan bukan hanya untukmu, melainkan agar kau bisa membawa ibuku kemana pun ia mau, terutama cek up kesehatan!"


"Siap Bos qyu!"


"Apakah kemarin kau seperti ini centilnya kepada Frans? Dasar kau memang perempuan penggoda, membuat aku alergi saja!" hardik Ryan.


"Apa kau sedang cemburu!" tanya Adinda.


"Apah, cemburu? Ahahahaha!" tawa lepas Ryan membuat wajah Adinda mengerut berpikir tajam.


"Untuk apa aku cemburu, aku tidak punya kepentingan disana?"


"Yah sudahlah, kalau begitu aku pulang!" ucap Adinda berjalan santai menenteng rantangnya terus menuju pintu keluar.


Ryan kembali duduk di kursi kerjanya, namun sejenak ia berpikir, entah mengapa ia cukup gelisah sambil mengingat bisikan Adinda.

__ADS_1


"Apa kamu tidak khawatir, tadi itu mata si supir taxi cukup jelalatan, aku takut sekali, padahal jika berkendara sendiri itu jauh lebih aman!"


"Jika terjadi apa-apa dengannya, maka Frans akan menyalahkan aku, lagian aku cukup lelah?" gumam Ryan


Ryan melihat sisa pekerjaannya yang hampir rampung, masih bisa dilanjutkan nanti malam, seperti biasa, selama ini Ryan lebih banyak bekerja malam hari dari rumah (work from home)


Pria itu pun dengan sigap menelpon stafnya untuk melanjutkan beberapa tugas penting yang harus mereka kerjakan hari itu, kemudian Ryan merapikan kecil meja kerjanya lalu dengan sigap menyusul Adinda yang hampir saja keluar dari gedung GMC.


"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Adinda terkejut dengan kehadiran Ryan.


"Aku pikir aku pulang saja?" ucap Ryan.


"Pulang?" tanya heran Adinda.


Ryan cukup jutek berjalan cepat memasuki mobilnya. Sementara Adinda masih terbengong, sampai suara klakson mobil Ryan memanggil masuk Adinda.


"Apa kau ingin mengajakku jalan-jalan?" tanya polos Adinda.


"Tidak! Aku sedikit lelah saja, setelah acara pernikahan itu aku belum ada istirahat, pekan depan akan lebih sibuk lagi, aku pikir aku harus istirahat, sekalian mengantarkan kamu pulang!"


"Betul sekali!" sambut ceria Adinda.


"Tapi, beli makanan dulu yah, aku lapar?" rengek Adinda.


Mau tidak mau akhirnya Ryan memenuhi permintaan Adinda, mereka menuju tempat jajanan (food court) yang ramai menjual ragam cemilan dan makanan sekaligus ada wahana permainan terlengkap dengan tongkrongan asyik, mereka menyempatkan untuk mencoba beberapa menu best seller disana, sampai melihat atraksi beberapa penjual dalam menghidangkan dagangan mereka.


Ryan dan Adinda tidak ketinggalan untuk menyicipi banyak cemilan termasuk pisang bakar, keduanya makan bersama. Sesekali Ryan menatap senyum keceriaan Adinda secara diam-diam dengan wajah tekuknya. Pasangan sejoli itu lanjut bermain game bola capit dan permainan lainnya, namun keduanya selalu gagal meraih boneka.


"Aku tidak mahir dengan permainan begini, tapi sangat mahir dengan yang disana (menunjuk ke arah permainan lotre atau judi skala kecil) dengan sigap, Adinda langsung menarik tangan Ryan.


"Aku mau Boneka yang besar itu!" tunjuk Adinda.


Ryan si Raja judi berpikir sejenak, memang benar dalam waktu yang singkat ia bisa mendapatkan boneka keinginan Adinda, wanita itu pun bersorak kegirangan.


"Aku juga bisa mendapatkan hadiah terbesarnya!" kata Ryan, yaitu satu set perlengkapan memasak.


"Yah sudah kalau begitu ayo pasang lagi!" ajak Adinda.


Ryan menjitak kecil dahi Adinda.


"Dasar kamu, kasihan mereka jika aku yang main, hadiahnya akan habis!"


"Hem sombong sekali kamu!"


"Bukan sombong, itu sudah pekerjaanku bertahun-tahun selama di Singapura, semua trik kode permainan lotre dan judi sudah menjadi santapanku!"


"Hem!"

__ADS_1


Saat Adinda melihat sesuatu yang terang nan indah, tanpa jaim apalagi merasa malu, ia begitu takjub dan ingin sekali menaikinya, memberikan boneka itu kepada Ryan.



"Aku mau main komedi putar🤤!" rengek Adinda lagi.


"Sudah ayo pulang!" Ryan terkejut, ternyata Adinda sudah melangkah cepat menuju loket untuk membeli karcis.


"Benar-benar ni anak, masa kecilnya cukup suram!" ejek Ryan.


"Ayo!" ajak Adinda.


"No!" Ryan menolak dengan wajah masam, namun Adinda tetap ingin menaikinya.


Setalah Ryan menaruh boneka itu ke dalam mobil, Komedi putar pun mulai bergerak, Ryan hanya memandangi kegirangan Adinda yang terus melambaikan tangannya di setiap putaran.


Tidak bisa dipungkiri hari itu Ryan cukup menikmati perjalanan sederhana mereka dengan senyum tipisnya.


"Tlililit!" panggilan Crush.


"Jangan Lupa, pukul 8 malam Lim akan menunggumu!"


"Aku belum tau apakah aku harus bertemu dengannya atau tidak!" jawab Ryan.


"Tapi dia ingin bertemu dengan mu dan ini sangat penting!"


"Trup!" Crush langsung memutus ponselnya.


Sejenak pria itu termenung dengan konfliknya bersama sang Paman yang selalu membuat pikirannya stress bahkan semakin memanas.


"Apa yang sedang dia rencanakan untukku?" gumam Ryan.


"Ryan (panggil Adinda mengejutkan lelaki itu dari lamunannya) aku mau main yang itu, yang ini, yang Ono!"


Tunjuk Adinda sesuka hatinya membuat Ryan tepok jidat, pria itu malu dengan tingkah kekanak-kanakan Adinda, ditambah lagi dirinya yang lelah dengan banyak pekerjaan.


"Ayo pulang!" ucap Ryan menggeret Adinda sampai ke area parkiran.


"Aku tidak mau pulang!" bantah Adinda.


Tidak sabar, Ryan terpaksa mengangkat wanita itu dan meletakkan di bahunya.


"Ryan aku ini sedang hamil!" Kau begitu ceroboh.


"Aku tidak paham, benarkah ada anak di dalam perut mu itu, kau sungguh pecicilan, benar-benar tidak bisa diam" omel Ryan dalam bahasa Mandarin.


__ADS_1


Di waktu yang sama di lokasi yang berbeda, tampaklah wanita cantik nan sexy bernama Vita Ayunda sedang turun dari Bandara, wanita bangsawan yang pernah sempat dijodohkan oleh Tan Woong dan menjadi mantan kekasihnya, Nia Devira sengaja memanggil wanita itu datang ke Indonesia untuk merayu dan kembali merebut Tan Woong sang mantan kekasih dari Adinda Aira.


__ADS_2