
Padahal malam itu Ryan berniat akan menyuguhkan makan malam spesial di luar untuk Adinda bersama sang bunda, namun apalah daya, ia terdiam dalam hati yang sangat panas, kecewa saat mendapati istrinya sedang berpelukan dengan pria lain.
"Prok👏👏...Prok...Prok...Prok!" Ryan bertepuk tangan untuk mereka.
"Ri...Ryan?" ucap Adinda gugup reflek menolak kuat tubuh Frans.
"Bukan...Bukan...!" Adinda gugup menggeleng.
"Teruskan saja, berpelukan lah dengan mesra, setelah itu kalian lanjut lagi di hotel atau Apartemen!" ucap kesal Ryan yang sejak dari dulu selalu saja emosian jika melihat Adinda jatuh ke pelukan pria lain.
"Ryan, ini bukan seperti yang kamu lihat?" Adinda mencoba menjelaskan.
"Heh, aku harus menemui kalian di atas ranjang, mendapati kamu hamil lagi, seperti itu? Tadinya bersama Gunawan, sekarang balik lagi ke pria yang sudah membuat hidupmu hancur, apa memang kebahagiaan kamu seperti itu!" ucap marah Ryan.
Adinda terdiam, bingung harus menjelaskan dari mana.
"Jawaaaab!" bentak keras Ryan semakin marah besar, saat melihat Adinda tidak bisa menjawab pertanyaan Ryan, ia terlihat ketakutan.
Frans langsung menepuk bahu Ryan.
Ryan dalam emosi tinggi berbalik meninju keras pipi Frans, keduanya reflek saling menyodorkan pistol di kedua kening masing-masing secara serentak.
"Ryaaaan!" jerit histeris Adinda kebingungan.
"Aku sudah bilang, siapa diantara kita yang akan bertahan hidup, kau atau aku, tapi kau harus tau Frans! Ini adalah permainan mu, aku tidak ingin terbakar bersamamu!" ucap tegas Ryan.
(Frans sendiri sudah menyadari jika dirinya sedang tidak aman dalam intaian besar oleh orang-orang Aditama)
"Aku memang pria bajingan yang sudah menghancurkan hidup Adinda, tapi aku tidak pernah membentak ia sampai sekasar itu, dia tidak salah, Aku lah yang memeluknya hanya sekedar ingin meminta maaf. Ryan, Aku menitipkan bersama mu agar ia terlindungi bukan semakin menderita, Jika kau tidak mencintai Adinda, segera akhiri pernikahan kalian!" ucap Lantang Frans. Ryan semakin emosi mendengar ucapan Frans dan mulai mengokang senjata apinya.
"Kau memang tidak pantas untuk hidup!" ucap Ryan.
Suasana lokasi begitu sepi, konflik dua persahabatan itu semakin memanas, meski sebelumnya mereka pernah tertawa bahagia bersama-sama, kompak bak sepasang kekasih, polos sebelum terjerat dengan cinta dan kekuasaan.
Dalam airmata bercucuran Adinda hadir di tengah-tengah keduanya.
"Tembak saja aku, akulah yang harus mati, karena sudah menyebabkan kalian menjadi seperti ini!" ucap Adinda dalam derai airmata.
Dua mata tajam Ryan dan Frans yang tajam saling menantang serat tidak ingin mengalah.
Akhirnya Frans menurunkan senjatanya berbalik arah, pergi meninggalkan mereka.
*
Ryan ingin mengejar Frans dan menghabisi pria itu. Namun Asiana mencegah Ryan.
Ryan langsung menarik kuat tangan Adinda dengan emosi dan memasukkannya ke dalam mobil.
Membawa Adinda ke Apartemen miliknya dalam laju kecepatan mobil yang cukup kencang.
*
__ADS_1
Ryan menarik paksa Adinda keluar dari mobil dan membawanya ke Apartemen.
"Ryan kau mau apa sih! Sakit, lepasin aku, aku bukan binatang harus di paksa seperti ini!" gerutu Adinda berusaha melepaskan diri dalam pegangan kuat tangan Ryan yang membawa ke Apartemen.
Wanita itu berusaha berontak bahkan ingin lari dari Ryan.
"Aku mau pulang!" rengek Adinda.
Saat genggaman tangan Ryan terlepas, Adinda mencoba untuk pergi. Namun Ryan langsung mengangkat Adinda masuk ke dalam Apartemennya.
"Ryan! Apa yang ingin kau lakukan!" teriak Adinda.
"Diaaam" jerit penuh amarah Ryan, dalam emosi tinggi, pria itu begitu kesal sampai menumbuk sebuah dinding berlapis kaca dan kaca itu terlihat retak, jemarinya terluka.
"Aaargh!" Adinda menjerit.
"Kau harus di bersihkan dari najis, ayo?" Ryan menarik paksa Adinda, membawanya menuju kamar mandi.
Adinda terus berontak. Namun Ryan tidak perduli, ia memandikan istrinya itu hingga basah kuyup.
"Najis apa?"
"Najis para pria?" Ryan melucuti pakaian Adinda.
"Ryan aku tidak melakukan apa-apa, kamu jangan gila!" Adinda mulai marah menolak tubuh Ryan.
"Kau itu istriku, aku berhak atas kamu!" ucap marah Ryan memegang kuat dagu Adinda.
"Aku benci sama kamu Ryan!" Adinda memukuli Ryan tanpa henti dengan Airmatanya.
"Heh, lalu kau akan pergi bersama Frans, apa kau belum puas jika Frans sudah menghancurkan hidupmu, siapa yang selama ini menolong mu!"
"Siapa yang mau balik lagi dengannya!"
"Aku ini seorang pria, jangan pernah mencoba untuk mengajariku, sedangkan kau adalah wanita bodoh, terlalu mudah masuk ke dalam jerat Frans!"
"Kenapa kau tidak percaya dengan ku Ryan!" tangis Adinda.
"Bagaimana aku harus percaya dengan mu, jika kau tidak pernah jujur denganku!" ucap Ryan.
"Katakan untuk apa kau bertemu dengan Gunawan?" tanya Ryan.
"Hanya konsultasi saja!" jawab Adinda.
"Heh, kau pikir aku tidak tau, jika kau bertemu Gunawan ingin meminta obat penunda kehamilan!"
("Kenapa dia bisa tau" gumam Adinda)
"Tidak!" ucap Adinda.
Ryan langsung mengeluarkan kapsul anti hamil dan menghempaskan ya ke lantai
__ADS_1
Sontak Adinda terkejut.
"Itu apa? Jangan kau pikir aku tidak tau jika kau selalu mengkonsumsi setelah kita berhubungan!" ucap marah Ryan langsung membuka baju nya, sekujur tubuhnya pria itu juga ikut basah.
Adinda terdiam.
Ryan menarik tengkuk leher Adinda sambil berkata;
"Mengapa bersama Frans kau merasa tidak Masalah jika hamil, sementara denganku tidak? Padahal jelas-jelas, aku adalah suami yang sah untukmu."
"A...aku hanya belum siap saja, bukan tidak mau!"
"lalu kapan siapnya? Aku butuh anak!" ucap Ryan lanjut mencumbui Adinda.
Adinda tidak bisa berontak selain hanya bisa pasrah, Ryan mulai mencumbui panas Adinda. Di bawah jatuhan air, setelah bertengkar hebat, keduanya kembali melakukan hubungan suami istri.
Adinda kembali memuaskan Ryan.
"Aarg! Sakit!" rengek Adinda.
("Kali ini lebih dalam biar cepat sampai!" gumam Ryan)
"dan hari ini adalah hari masa suburku!" gumam Adinda.
*
Setelah mandi dan terlihat segar, Ryan terkulai lemas dengan dahi tertekuk di atas sofa, sedangkan Adinda tampak selesai berganti pakaian, Adinda memperhatikan tangan Ryan yang terluka, wanita itu pun berinisiatif mencari perban lalu mengobati tangan Ryan, ia tidak tega dan mulai merasa bersalah, serta menyadari jika Ryan adalah pria yang banyak sekali membantunya.
Ryan sempat terbangun dan terkejut, saat sentuhan tangan halus Adinda bekerja di tangannya, pria itu membiarkan sang istri melakukannya.
Utusan Ryan juga sudah mengirimkan rekaman cctv Resto tepat di lokasi Adinda dan Gunawan bertemu sampai bertemu dengan Frans.
"Aku minta maaf!" ucap Ryan tidak tega melihat raut wajah Adinda yang sedih.
"Tidak apa-apa, aku lah yang salah!" ucap Adinda membuat hati Ryan semakin merasa bersalah, ia memeluk Adinda dan mengelus manja rambut halus wanita itu.
"Tolong jangan samakan aku dengan Frans!" ucap Ryan.
Pelan-pelan Adinda mulai menjelaskan kronologis awal pertemuannya dengan Frans, meskipun Ryan sudah mengetahuinya lebih dulu, Adinda juga menceritakan bahwa iapun sangat takut pada saat itu.
*
Malam yang begitu indah, untuk mendinginkan hubungan mereka, Ryan tetap mengajak Adinda makan malam romantis bersama.
Hingga pulang ke rumah.
***
__ADS_1
Scandal perselingkuhan Frans dan Vita juga sudah sampai ke telinga Aditama.
Nia dan para bodyguard wanitanya datang menghampiri kediaman rumah Vita di tengah malam dan sepertinya rencana Nia sudah terbaca oleh Frans, Vita tampak sudah tidak berada di rumahnya dengan alasan bisnis keluar kota.