
Selama tiga hari, Ryan harus beristirahat di rumah sesuai anjuran Dokter Alam. Namun tetap saja, ia tidak bisa lepas total dari laptopnya, sehingga harus bekerja dari rumah. Selama itu pula, Khaliza berinisiatif memerintahkan Adinda agar melayani semua keperluan Ryan, tidak perlu membantu dirinya dan Surti dalam mengurus rumah. Menghadapi sosok Ryan itu tidak muda bagi Adinda, ia sudah seperti sekretaris pribadi Ryan dalam membantu semua keperluannya.
Ryan Alaska pun mengambil kesempatan dengan surat pernyataan yang telah ditandatangani oleh Adinda. Layaknya seorang pria jika sudah dilayani wanita, maka ia akan mendadak berubah manja mengalahkan tingkah anak kecil yang berusia 2-5 tahun.
"Din, tolong ambilkan ini, itu, bawakan kesana!"
"Susun berkas ini yah!"
"Oh Iyah, aku lapar perlu cemilan."
(minta dibuatkan cemilan)
"Aku ingin makan ini, coba kamu pesankan online!"
Namun Adinda Aira tetap saja melakukannya dengan senang hati tanpa mengeluh, ia tidak bisa menolak.
Hampir setiap hari pula Nabila memberikan tips dalam melakukan pelayanan terhadap suami, Nabila juga berpesan;
"Adinda, layani saja keperluan Ryan tanpa rasa mengeluh, kau tidak akan bisa mengendalikannya, kakak sudah membaca dirinya yang memiliki karakter cukup keras, jadi hadapilah dengan santai dan sabar, kerjakan saja apa yang diperintahkan nya, trik yang sudah kakak berikan itu, cukup bisa menyelam kamu dari keegoisannya, ini juga tidak untuk selamanya, hitung-hitung kamu membalas kebaikan Ryan dan ibu mertuamu yang baik hati, jadilah obat penyembuh di rumah itu Adinda, menjadi seorang Ryan juga tidak mudah."
"Ada lagi?" tanya si Adinda yang sweet dan sudah menerima takdir hidup bersama Ryan.
"Hem...tentu pasti ada dong, sudah kamu istirahat saja dulu?" perintah Ryan.
"kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi manis begitu, patuh banget, baguslah!" batin Ryan tersenyum tipis.
*
Untungnya si jabang bayi ini tidak bawel, cukup Ryan saja yang bawel, aku juga sehat-sehat saja, ia seolah-olah tau seperti apa posisi ibunya, hanya terkadang, bangun tidur suka sedikit mual. Setelah lahiran aku akan lebih fokus mengurus dan membesarkan anak ini, sebisa mungkin meniru pola kesabaran bunda Khaliza dalam mendidik anaknya. perkataan hati Adinda sambil mengelus perutnya.
*
Ryan minta disuapin selama bekerja, begitu juga saat minum obat, tidak terduga pekerjaan Ryan banyak yang selesai.
Sebelum tidak ada perintah dari Ryan, Adinda memilih tidur, ia memang selalu mengantuk sebagai reaksi kehamilan yang ia rasakan.
*
"Kamu tampaknya lelah sekali, mau aku pijat?" Adinda menawarkan diri mulai menjalankan trik pelayanan ala Nabila.
"Boleh!" ucap cepat Ryan, selama di kusuk ia menahan geli dengan tangan Adinda yang halus.
Sore hari, Adinda kembali menawarkan pelayanan lagi kepada Ryan.
"Mau aku creambath!"
"Boleh juga!" jawab cepat Ryan.
__ADS_1
"Haduh, ternyata kamu punya bakat juga jadi tukang kusuk, lumayan lah!" ucap senyum Ryan yang sedang menikmati pelayanan plus-plus dari Adinda.
"Itulah, ini juga lagi belajar, rencananya setelah lahiran dan bercerai dari kamu, aku mau buka usaha seperti ini, layanan spa buat pria-pria!" ucap ceplos Adinda.
"Oii Iyah!" Ryan tersenyum cengengesan.
"Kamu yang jadi pelayannya?"
"Iyah, sebelum sanggup mengaji karyawan maka owner wajib turun!"
"Hem, baguslah, tapi itu termasuk profesi wanita penghibur namanya!" ucap datar Ryan.
"Enggak apa-apa lah, yang penting menghasilkan cuan yang banyak!" ucap gokil si Adinda dengan santai membuat Ryan terdiam sebel.
"Dulu Frans, juga kamu perlakukan seperti ini?" tanya kepo Ryan.
"Iyah!" jawab bohong Adinda membersihkan tangannya, tanda pekerjaannya telah selesai.
"I..Iyah!" batin Ryan yang tidak suka mendengarnya.
"Jadi semua mantanmu kamu perlakukan juga seperti ini?" tanya Ryan makin sewot.
"Iyah!" jawab cepat Adinda lagi.
"Ngapain aja kalian di kamar mandi?" pernyataan Ryan yang semakin aneh.
"Kami?"
"Yah iyahlah!"
"Main kuda-kudaan ππ main bebek-bebek anππ terus cengkram-cengkraman ππ lanjut senggol-senggolan...uih...seruπ!" tingkah gokil Adinda yang sudah setengah waras, lalu keluar dari kamar mandi Ryan dengan tawa cekikan kecilnya.
"Nih anak kalau di ajak bicara tidak pernah serius!" ucap sewot Ryan, Adinda berhasil membuat pria itu kehilangan mood bagusnya.
*
Setelah segar, terlihat Ryan duduk santai di teras kamarnya sambil melihat kolam ikan kecil, pria itu sedang menikmati suasana tinggal di rumahnya yang nyaman, dalam hembusan rokok, entah mengapa ia masih juga kepo memikirkan tentang hubungan Adinda dengan Frans sampai satu batang rokok itu habis.
"Apa karena pelayanan Adinda yang bagus, makanya Frans ingin Adinda kembali lagi padanya?" gumam Ryan.
"Tuan besar, ini wedangnya yah, minumlah selagi hangat!" ucap manis Adinda membuyar kan lamunan Ryan, wanita itu mulai bergerak ingin meninggalkan Ryan.
Dengan cepat Ryan menarik tangan Adinda seraya berkata dengan wajah bengisnya.
"Dasar kamu memang perempuan murahan? hanya demi uang, mau melakukannya dengan Frans?" ucap sebel Ryan.
Mendengar hal itu, Adinda hanya tersenyum manis lalu menjatuhkan bokongnya di pangkuan Ryan.
"A!" ucap terkejut Ryan si Jhon nya tersenggol sedikit.
Adinda tidak perduli ia malah duduk dengan santai di pangkuan pria itu sambil berkata;
"Ryan, aku ini memang perempuan murahan sejak dulu, makanya nanti, setelah aku lahiran, cepat-cepatlah menceraikan aku, jangan pakai lama yah sayang!" ucap lembut Adinda menyentuh lembut pipi Ryan, wajah pria itu memerah
__ADS_1
"Awas!" pinta Ryan menyuruh Adinda bangkit.
"Hihihi!" tawa Adinda pergi meninggalkan Ryan.
"Dia Ketawa lagi!"
*
Adinda juga menemani Ryan bermain game bersama.
Lanjut bernyanyi, awalnya Ryan menolak bernyanyi bersama namun, lama kelamaan ia ikut akhirnya berkenan juga.
*
Malam harinya, Adinda mengajak Ryan cari jajanan, Pria itupun menurutinya.
"Aku tidak tau jajanan pinggiran yang enak!" ucap Ryan.
"Aku tau, tenang saja!" jawab Santai Adinda.
Keduanya keluar hunting jajanan pinggiran jalan yang sebenarnya tidak kalah nikmat dengan restoran-restoran berkelas yang biasa Ryan nikmati.
Malam yang indah bagi keduanya dalam perut yang terasa kenyang.
*
Keduanya bersiap tidur, Adinda tampak heboh membawakan ember yang tidak terlalu besar berisi air hangat sedikit bercampur serbuk rendaman kaki, ia tampak strong dan bersemangat.
"Apa lagi tuh!" batin Ryan dalam wajah melompong, selama rehat mendapat serangan servis bertubi-tubi dari Adinda.
"Ayo rendam kaki kamu, ini bagus untuk kesehatan dan melepas lelah!" ucap Adinda.
"Tidak usah lah!!" ucap datar Ryan.
"Hem, kenapa tidak mau, padahal perlakuan in baru spesial kepada kamu saja, Frans tidak pernah aku buat seperti ini!" ucap Adinda kembali mengganggu Ryan.
"Iyah sudah kalau tidak mau, embernya aku bawa lagi?"
"Eh!" cegah Ryan dengan cepat mencelupkan kakinya ke dalam ember, Adinda lanjut memijat kecil kaki Ryan.
"Nih anak terlalu lebai atau gimana yah, tapi enak juga, tubuhku sangat fit sekarang!" gumam Ryan menikmati layanan itu.
"Sudah selesai, sekarang kamu sudah Bisa bobo yah, jangan bawel lagi!"
"Lebay kamu!"
"Enggak apa-apa lebai yang penting kamu sehat, cup...cup...!" ucap Adinda centil pergi membawa ember itu.
Ryan tersenyum-senyum geleng-geleng kepala melihat tingkah Adinda. Pria itu tampak senang.
*
__ADS_1
"Tlililit!" ponsel Ryan berdering dari nomor yang tidak tersimpan.
"Halo sayang, apa kabar, aku kangen berat sama kamu?" suara lembut menggoda Vita terdengar jelas ditelinga Ryan.