Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 73 -Siapa Pengirim Mawar.


__ADS_3

Adinda masih melongo memperhatikan bunga itu dari samping, atas, bawah, seumur hidupnya ia belum pernah menerima rangkaian bunga mawar merah sebanyak itu.


"Bunga sebesar ini pasti harganya enggak main-main kan atau selama ini aku punya pengagum rahasia yang punya berhektar-hektar kebon bunga mawar?" pikiran kocak Adinda.


"Apakah dari Frans?" Adinda masih menebak bunga itu datang dari pria yang pernah berkesan di dalam hatinya.


"Atau dari dokter Gunawan?" ungkapnya lagi.


"Atau dari Bima, teman sekantor dulu!"


Macam-macam tebakan Adinda soal si pengirim mawar merah sebagai tanda seseorang yang sedang jatuh cinta berat mengigat mawar yang diberikan cukup banyak, Namun Adinda sama sekali tidak menuduh Ryan sebagai si pengirim itu.


*


Vita tidak pernah jera untuk menganggu kehidupan rumah tangga Ryan dan Adinda, ia terus mengirimkan foto mesra kebersamaannya bersama Ryan agar Adinda tidak jatuh cinta dengan Ryan, terakhir yang membuat Adinda kesal dan risih, Vita mengirimkan video cumbuan singkatnya bersama Ryan, dalam video itu Adinda yang terus menggoda Ryan, meski pria itu sudah berkali-kali menolaknya. Adinda juga sudah memblokir nomor-nomor kiriman itu, tetapi Vita seakan-akan tidak pernah jera. Hal itu lah membuat Adinda tidak pernah menduga bahwa sebenarnya Ryan Lah pria yang mengirimkan bunga untuknya.


*


Sampai selesai mandi, ia masih tetap memperhatikan bunga itu.


"Gimana yah? Mau dibuang juga sayang? Pasti Ryan akan menuduh ku lagi, aku ini wanita penggoda!" gumam Adinda melamun memandangi bunga mawar itu.


"Assalamualaikum!" Terdengar Khaliza pulang.


"Wa'alakumsalam!" Adinda bangkit dan bergegas membukakan pintu untuk ibu mertuanya dan langsung menarik tangan Khaliza.


"Sini cepat Mah!"


"Ada apa?"


"Ma, seseorang telah mengirimkan bunga kepadaku, tapi aku tidak tau siapa pengirimnya?"


Sejenak Khaliza memandangi bunga itu.


"Wah? ckckck cantik sekali!" decap kagum Khaliza sebagai wanita pengagum bunga dan tanaman.


"Apa ini jangan-jangan pertanda buruk yah Mah?"


"Kamu yakin pengirimnya seorang pria dan ditujukan kepada kamu?" tanya Khaliza lagi.


"Kata petugasnya pengiriman begitu?"


"Apa ada yang sedang menyukai kamu?" tanya Khaliza balik.


"Adinda tidak tau Mah!"


"Jangan-jangan si Frans itu yang mengirimnya?"


(Mertua dan menantu kompak menuduh si pengirim adalah Frans, sama sekali tidak ada yang menuduh Ryan lah yang sebenarnya mengirimkan mawar merah itu, yang diam-diam sudah menyadari cintanya kepada Adinda, namun masih terlalu berat dan bercampur malu mengatakannya secara langsung)

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita buang saja Mah, siapa tau di dalamnya ada mawar yang beracun!" ajak Adinda.


"Jangan, ini mawar asli, kalau jenis merah darah seperti ini pasti harganya mahal banget, bibitnya di import dari luar, belum lagi perawatannya, biarkan saja ia mengering dengan sendirinya!" Khaliza mengenali jenis mawar, karena salah satu bunga favorit Khaliza adalah Mawar merah.


"Apa kamu tidak suka bunga?"


"Suka Mah, tapi Adinda lebih merasa khawatir!"


"Dulu Ayah mertuamu juga pernah memberi Mama sekuntum mawar merah🌹, walaupun hanya sekuntum, tapi rasanya Masya Allah bahagia banget."


Adinda ikut tersenyum melihat raut wajah Khaliza yang begitu bahagia mengenang masa percintaannya dengan sang suami.


"Dulu juga sempat banyak perempuan yang datang mengirimkan bunga, coklat dan gift lainnya kepada Ryan, semasa dia SD, SMP bahkan juga masih berlanjut sampai ia berada di Singapura, tapi kamu tau sendiri Ryan selalu cuek dengan wanita!" ucap senyum Khaliza.


"Atau jangan-jangan si pengirim adalah seorang wanita yang sedang jatuh cinta kepada Ryan."


"Bisa jadi yah, sudahlah tidak perlu terlalu dipikirkan!" jawab Khaliza.


"Baiklah Mah!"


"Ouh iyah, kamu sudah bisa nyetir kan?"


"Sudah Mah!"


"Besok temenin Mama menghadiri grand opening perusahaan tekstil dan Fashion yah, dulu mereka adalah partner kami dan kebetulan Madam Elena sebagai investor terbesar di perusahaan itu, namun sayangnya ia tidak bisa hadir karena Lim kurang sehat, jadi dia minta tolong pada Mama untuk mewakilinya dan menyerahkan beberapa dokumen penting, Ryan tidak bisa ia cukup sibuk?"


"Adinda bisa Mah, tenang saja!"


*


Baru beberapa Minggu menikah dengan Nia Frans sudah merasa bosan bersama Nia, selain tidak ada perasaan, tingkah laku Nia tidak lebih baik dari Adinda, wanita itu cukup menjengkelkan di mata Frans, tidak perhatian dan justru Nia lah yang minta dilayani, terlalu manja membuat Frans jengkel. Mode bercintanya juga membosankan bagi Frans sehingga ia merasa tidak pernah puas di atas ranjang meski bulan madu mereka sudah cukup sempurna di negara yang sejuk yaitu Swiss.


Nia juga punya banyak kegiatan sehingga tidak punya waktu untuk menjadi istri yang penurut dan bisa melayani kebutuhan Frans.


Hubungan mereka tidak se- seru Ryan dan Adinda. Terbersit sedikit penyesalan di hati Frans mengapa ia meninggalkan Adinda begitu mudah dan tidak bisa apa-apa ketika ia sudah tau bahwa otak pelaku kematian anaknya adalah istrinya sendiri. Frans tampak tertekan ia juga banyak mengalami masalah bisnis dan justru menuai kerugian.


Ketika sudah berada di Tanah Air.


"Mas!" ajak Nia dengan pakaian dinas malamnya memeluk Frans dari belakang.


"Aku capek, mau tidur!" ucap Frans serasa tidak punya hasrat ingin bercinta kepada istrinya sendiri.


"Ryan memutuskan kerjasama dengan JFlash!" ungkap Nia.


"Besok aku akan menemui Ryan!" ucap Frans memilih tidur di kasurnya menjelang malam.


*


Setelah makan malam, Ryan sedang mengintai Adinda dari meja kerjanya, wanita itu sedang merapikan pakaian mereka yang dua hari sekali sudah terlihat berantakan.

__ADS_1


"Kenapa responnya biasa saja dengan bunga itu, padahal harganya cukup mahal!" gumam Ryan.


"Ehem...ehem...!" Ryan masuk ke dalam ruang pakaian mereka.


Dahinya sedikit berkerut tajam saat melihat Adinda sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper.


"Kamu mau kemana?"


"Aku ingin pindahin sedikit demi sedikit pakaianku ke kamar tamu!" ucap Adinda membawa kopernya keluar dari kamar, Adinda tampak cuek kepada Ryan, tidak perhatian lagi seperti dulu. Khaliza juga pasrah dengan hubungan mereka, tidak ingin mengaturnya lagi.



Ryan semakin bingung dan berpikir bagaimana caranya agar Adinda kembali lagi tidur di kasurnya.


Ryan masuk ke dalam kamar tamu, mengikuti langkah Adinda.


"Apa, kamu tidak takut tidur di kamar ini!"


"Tidak!" Adinda tetap fokus merapikan pakaiannya.


"Ouh Iyah, kamu senang dengan bunga itu?" tanya Ryan yang begitu penasaran.


"Kebanyakan wanita, pastilah senang diberikan bunga, tapi aku tidak tau siapa pengirimnya, aku jadi takut, mau di buang juga sayang."


"Takut?" ucap terkejut Ryan.


"Memangnya, kamu tau siapa yang mengirimkan bunga itu?" tanya Ryan dengan wajah sumringahnya.


"Mungkin Frans, tapi aku tidak tau juga?" jawab polos Adinda.


"Lagi-lagi Frans, Lagi-lagi Frans!" Omelan dalam hati Ryan membuat ia sebel.


"Selain Frans apa tidak ada lagi?"


"Adinda menyebutkan beberapa mantan kekasihnya dengan diawali kata mungkin, sama sekali tidak menyebutkan nama Ryan."


"Hem!" ucap dingin Ryan


"Ouh Iyah, sebaiknya bunga itu dipajang di dalam kamar kamu saja, agar saat kamu ingin tidur, kamu bisa memandanginya! itu jenis Bunga mawar terbaik di dunia, sebentar aku ambil!" ucap Ryan bersemangat.


Adinda hanya terdiam dan pasrah lalu kembali kepada lemari pakaiannya.


Ryan keluar dan mengambil kumpulan mawar dalam jumlah banyak itu, agar siap di pajang manis di kamar Adinda.


Seseorang menepuk bahu Ryan dari belakang, reflek ia berbalik cepat.


"Mama, buat kaget saja!"


"Kamu yang beli yah!" introgasi Khaliza dengan nada berbisik.

__ADS_1


Ryan terbengong


__ADS_2