Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 21 - Pertemuan Pertama Khaliza dan Adinda


__ADS_3

Ketika Nabila mendengar suara mobil Ryan, terlihat ibu dua anak itu kepo, menyoroti mobil Ryan yang sedang parkir dari balik tirai.


"Din, Ryan sudah datang, ayo siap!" ucap centil dan heboh Nabila mulai merangkul kecil adiknya, keluar dari kamar. Ia tampak girang.


"Duuuuh, kenapa jadi kakak yah? Yang deg-degan!" ucap Nabila.


"Mungkin kakak kali yang jatuh cinta sama Ryan, kan pandangan pertama kalian langsung suka!" celetuk Adinda.


"Hush, kamu ada-ada aja, apapun yang terjadi, tetap Mas Bram ku lah yang paling ganteng!" jawab Nabila.


"Awas selingkuh!" ledek Adinda.


"Amit-amit jabang bayi" Nabila mengulang kata- kata itu berkali-kali sambil mengetuk kepalanya dan kepala adiknya.


Adinda hanya tersenyum melihat tingkah kakaknya🤭


"Coba sini kakak lihat!" Nabila heboh membidik penampilan adiknya dari depan, belakang, samping bahkan sampai memutar-muter tubuh Adinda!"


"Ih👺 kakak! Udah deh, lebai, kayak mau kontes aja!" protes Adinda.


"Siapa tau bajunya ada yang sobek!"


"Baru beli kok sobek!" keluh Adinda tidak habis pikir dengan ucapan kakaknya yang sedikit kocak dan heboh.


"Din, denger yah, jangan sampai buat kakak kecewa lagi, keluarkan semua jurus maut mu, untuk memikat ibunya Ryan, buat ia terkesan dengan kamu sehingga mau menerima kamu menjadi menantunya!"


"Jurus apa sih? Males ah, Dinda yah begini apa adanya!"


"Maksud kakak, kamu jangan terlihat bego-bego amat, dihadapan dia!"


"Hemmmm...!" respon Dinda setengah terpaksa menuruti kemauan kakaknya.


"Tling-Tling!" Terdengar bunyi Bel tanda Ryan sudah di depan pintu.


"Biar kakak yang buka!" Nabila bergegas membuka pintu rumah itu.


Sambil menunggu pintu terbuka, Ryan memperhatikan kaca jendela yang pernah ia bobol, sudah diperbaiki dan kembali seperti semula.


"Ryan!" sapa manis Nabila dengan senyum terbaiknya.


"Ouh, Dinda nya ada?" tanya santai Ryan dengan sikap dinginnya.


"Ada...ada...!" angguk cepat Nabila bersemangat.


"Din! sini" panggil Nabila dengan jemarinya.


"Dia sudah siap kok, mau mengajak kerumah yah!" tanya Nabila (basa basi) pria itu tampak lesu dan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Iyah?" angguknya dalam pandangan sedikit tertunduk (Ada rasa malu di hati Ryan, ia merasa seperti pria bodoh yang mau saja melakukan hal konyol dari perintah Frans)


Saat Adinda muncul, Ryan reflek mengangkat kepalanya, tidak bisa dipungkiri kecantikan Adinda mampu menyihir setiap pandangan kaum Adam, namun tetap saja di hati dan pikiran lelaki itu tidak ada kebanggaan terhadap diri Adinda yang membuat dirinya kagum, selain hanya kecantikannya saja.


"Biasanya pakaian terbuka, ini kenapa sopan?" kata hati Ryan, membandingkan pakaian Adinda waktu pertama kali bertemu.


"Adinda pergi dulu yah kak!" ucap lembut Adinda cipika-cipiki di kedua pipi mereka.


"Hati-hati yah sayang, ingat pesan kakak!" bisik Nabila.


Adinda mengangguk dan mulai melangkah.


"Permisi!" ucap Ryan kepada Nabila lalu berjalan di depan.


"Duuuuh, aura-aura pria seperti inilah yang membuat para ladies membeku🥶 dengan kedinginannya, dingin sedingin es di kutub utara!" gumam Nabila.


Nabila dalam gaya kocaknya, diam-diam menguntit keduanya dari balik tiang sambil meneropong ke arah Ryan dengan sebelah tangannya, Ryan yang sedang berjalan di depan tampak acuh meninggalkan Adinda menuju mobilnya.


"Duh, aku harus membuka halaman berapa tentang psikologi kejiwaan pria-pria dingin sejenis ini, harus segera mempelajari seperti apa kelemahannya agar Adinda mudah menaklukkan Ryan!" ucap Nabila.


Adinda yang mengetahui aksi kocak sang kakak, mengusirnya dengan menggoyangkan tangannya tanpa suara.


Tidak lama kemudian, mobil Ryan meninggalkan rumah kontrakan Adinda.


"Haduh, selesai pekerjaanku!" ucap puas Nabila menghempaskan dirinya di sofa.


"Semoga anak itu berhasil!" harapan Nabila.


*


Sementara Adinda cukup tegang dengan sifat Ryan dan hanya mampu memandang ke depan, keduanya masih merasa shock. bagaimana tidak? Mereka yang baru saja bertemu kembali dalam komunikasi yang tidak akur, kemudian tanpa terduga, langsung menuju pernikahan. Batin Ryan yang tidak siap menikah muda, ditambah lagi tidak berminat menikah dengan tipe wanita seperti Adinda yang hanya mengandalkan kecantikannya saja.


Tiba-tiba Ryan melakukan Rem mendadak membuat Adinda terkejut hebat.


Lagi-lagi rem mendadak.


"Ryan, kamu bisa tidak bawa mobil?" hentak Adinda mulai kesal.


"Tidak!" jawab bohong Ryan membuat Adinda kesal.


"Di depan ada batu, perbaikan jalan, aku terkejut!" jawab ketus Ryan. Adinda kembali diam.


Perjalanan mobil Ryan, masuk gang ke luar gang, padahal ada jalan besar yang lebih mulus. Ryan sengaja membuat mood wanita itu jelek agar ibunya tidak menyukai Adinda. Ryan masih berjuang untuk mengagalkan perjodohan paksa itu.


"Rumahnya dimana sih? kok masuk gang keluar gang begini, mana gangnya sempit, banyak bocil naik sepeda!" gerutu Adinda dalam hatinya saja, ia tetap berusaha sabar karena tidak ingin membuat sang kakak kecewa.


"Hidupin AC nya donk, panas!" pinta mewek Adinda.

__ADS_1


"Lagi gak hidup, rusak!" ucap bohong Ryan yang hanya fokus pada jalannya.


"Iiiii...🥵!" Adinda terlihat kepanasan, ia seperti mandi keringat dengan jenis pakaian yang tidak biasa ia pakai.


Dalam raut yang jelek, cemberut, baju yang sedikit basah, akhirnya Adinda tiba di tempat tujuan.


Kesan pertama Adinda menatap rumah Ryan dan ibunya, sebuah rumah yang hangat tidak terlalu besar, bergaya rumah modern dan minimalis. Adinda terlihat suka seperti ada hembusan kenyamanan di jiwanya.


Dalam gaya cuek dan dingin, Ryan masuk begitu saja ke dalam rumahnya tanpa mengajak Adinda.


terlihat Khaliza yang sudah mengenakan pakaian bagus menyambut calon menantunya itu.


"Loh mana anaknya?" tanya sang ibu terheran-heran, melihat Ryan masuk sendiri.


"Ada di luar!"


"Kenapa tidak diajak masuk?"


"Ibu saja lah!" respon cuek Ryan langsung menuju dapur meneguk segelas air, ia juga terlihat kepanasan di dalam mobil.


Khaliza hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.


"Iiiii😤😤...Riyaaaan, awas kamu yah, akan aku balas perbuatan mu ini!" batin geram Adinda melihat kejahilan Ryan terhadapnya.


Khaliza pun akhirnya keluar menjemput Adinda yang masih ragu untuk masuk.


"Nak Adinda yah?" sapa manis Khaliza dengan kerudungnya. Sapaan lembut itu seketika menenangkan jiwa Adinda yang badmood.


"Ouh, Iyah Tante!" balas Adinda langsung menjabat tangan calon ibu mertuanya itu dengan sopan.


"Yuk, mari masuk!" ajak Khaliza.


"Apa benar ini ibunya Ryan, teduh dan lembut banget, wajahnya bersinar-sinar?" gumam Adinda langsung terpesona mengikuti langkah sang tuan rumah.


"Maaf, apakah Tante ibunya Ryan, hehehe?" tanya Adinda malu-malu.


"Iyah, saya Khaliza Rahmah, ibu kandung Ryan Alaska!" jawab senyum wanita paru baya itu dengan ramah.


"Yah ampun, kenapa ibunya bisa melahirkan anak mirip gorila seperti Ryan!" batin kocak Adinda.


"Ryan!" panggil sang bunda. Pemuda itupun datang dengan langkah terpaksa.


"Sini, ngapain kamu disana (menunjuk ke ruang televisi)" Khaliza mendekap Ryan sambil berbisik di telinga anaknya.


"Ryan, Rancak Bana nyo!" (Bahasa daerah padang artinya 'cantik banget nya') komentar pertama Khaliza terhadap Adinda.


"Rancak Bana, tepi tabia nyo buruak" (cantik banget tapi tingkah lakunya buruk)" jawab ketus Ryan.

__ADS_1


***


(((Maaf yh guys kalau bahasa padangnya salah, soalnya Author bukan orang padang🤣✌️))


__ADS_2