
Lenggak-lenggok langkah Vita di area Bandara, terus menuju ke arah wanita yang sudah menunggunya, Nia Devira langsung menyambut manis kedatangan Vita Ayunda.
"Halo Beb!" keduanya cipika cipiki
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Nia.
"Baik!" Angguk manis Vita.
"Yuk, kita langsung nongkrong!" ajak Nia menuntun Vita melangkah menuju mobil jemputan khusus untuk Nia Devira.
Dua sahabat itu memilih cafe yang nyaman untuk melepas penat, sekaligus membangun rencana mereka yang sebelumnya sudah pernah diperbincangkan melalui via chat.
*
Cafe XX, Setelah memesan makanan, Keduanya mulai berbicara intens.
"Aku enggak mengerti mengapa Tan, harus menikahi Adinda, mantan sekretaris Frans itu, padahal kau tidak bisa dibandingkan dengan wanita itu," ucap Nia berkata dalam ekspresi shock.
"Jadi keluarga Woong yang mengadakan pesta buat mereka?"
"Hem, semua karena, kemauan Madam Elena dan ini kesannya benar-benar dadakan!" celoteh Nia.
"Ini seperti tamparan besar untuk keluarga Woong, kenapa Tan melakukannya, apa ia sengaja melakukannya untuk mempermalukan keluarga Woong!" ujar Vita
"Entahlah, Tan yang sekarang sudah berbeda, ia persis seperti Ayahnya, menikahi gadis biasa asal Padang yang sampai sekarang tidak diterima di keluarga Woong, lagi-lagi Tan yang sekarang Ryan benar mengikuti jejak Ayahnya, tentu Paman Lim kecewa dong dan yang membuat aku tidak habis pikir, Frans juga ikut-ikutan membela Adinda, ia juga pernah menjadi mantannya dan ini yang membuat aku gerah Vit, keduanya begitu melindungi perempuan itu."
"Apa jangan-jangan anak yang dikandung oleh perempuan yang bernama Adinda itu adalah hasil hubungannya dengan Frans?" Vita sudah menaruh curiga.
Nia mulai meneguk sedikit minuman, wajahnya tertekuk stres.
"Entahlah, perasaan ini yang terus menghantuiku, Tapi Ryan mengakuinya!"
"Kita tidak tau kan? Permainan apa yang sedang mereka jalankan!"
"Sebab itu aku butuh bantuanmu Vita, rebut kembali Tan Woong menjadi milikmu, aku akan melenyapkannya, janin yang ada di perut si pe*acur itu, karena kedepannya, aku benar-benar tidak siap jika harus menerima kenyataan, janin itu adalah milik Frans. Seharusnya ia sudah mati di tangan om Deny, namun Tan dan Frans benar-benar Ngotot membela wanita itu, sangat menyebalkan!" ucap Nia dengan emosi yang berat.
"Nia, kamu jangan khawatir, Fokuslah pada pernikahanmu saja, jangan biarkan ada sebab yang terus menunda pernikahan kalian, aku siap membantumu, karena sampai kapanpun, Tan adalah milikku!" ucap sinis Vita.
"Terima kasih!" keduanya tersenyum dan siap membuat rencana baru untuk Adinda Aira.
__ADS_1
***
Setelah mengantarkan Adinda pulang, Ryan langsung kembali menemui sang Paman yaitu Lim Woong.
"Assalamualaikum!" salam manis Adinda waktu sudah mendekati pukul 20.00 malam hari.
"Kenapa pulang lama sekali Nak?" tanya lembut Khaliza.
"Maaf yh Mah!" Adinda pun menceritakannya, jika mereka sempat pergi ke wahana permainan.
"Jangan marah yah Mah!"
"Kenapa harus marah, kalian itu kan pengantin baru, harus ada waktu masa-masa berduaan!"
"Mamah!" senyum cengengesan Adinda.
"Jadi Ryan pergi lagi?"
"Iyah Mah!"
"Kemana?"
"Hem, tuh anak apa tidak ada lelahnya, harusnya dia libur dulu satu minggu!" ucap Khaliza.
"Benar sih Mah, Mah Adinda ke kamar dulu yah!"
"Baiklah, Jangan lupa sholat isya?"
"Iyah Mah!"
Adinda pun mulai masuk kedalam kamar dan membersihkan dirinya.
"Mumpung tidak ada Ryan, aku pakai saja kamar mandinya!" gumam Adinda.
Adinda kembali melakukan perawatan diri yang menyenangkan sekaligus memanjakan dirinya🛀🧖 Betapa terkejutnya wanita itu setelah masuk ke dalam lemari pakaian, melihat ada lemari baru yang sudah tersedia untuknya.
"Wah🤩 ternyata Ryan langsung membelikannya," sorak Adinda kegirangan dan malam itu juga, ia menyusun dan merapikan pakaian mereka dengan rapi.
***
__ADS_1
Dalam sebuah ruang khusus, Apartemen mewah dan dalam pengawalan ketat, Ryan akhirnya bertemu dengan Lim Woong, pertemuan yang sudah hampir dua tahun tidak terjadi, terakhir mereka bertemu saat kematian Yong Woong.
"Kedatangan ku kesini untuk bertanya kepadamu, akhirnya kau menyetujuinya dan merelakan uangmu, hanya untuk pesta orang lain!" ucap Ryan sebagai pembuka perbincangan mereka.
"Duduklah, Apa kabar mu, tampaknya kau semakin dewasa dan semakin berani melangkah!" celoteh Lim.
Ryan di persilahkan duduk, langsung disuguhi satu botol anggur merah, minuman favorit mereka tempo dulu.
"Sudah lama sekali kita tidak bersulang!" Lim mengangkat gelasnya ingin adu jotos dengan keponakannya itu.
"Aku sudah meninggalkannya, dia (Minuman beralkohol) sudah membunuh Ayahku!" ucap tegas Ryan menolak.
"Ahahahaha, semakin cerdas dan terampil, buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya, persis seperti Yong, Baiklah aku menghargai jika kau memang sudah bertaubat!" tawa ejekan Lim hanya minum sendiri dengan tegukan kecil.
"Padahal ini minuman kesukaanmu yang dulu selalu kau minta kepadaku, bahkan kau lebih memilih minuman daripada uang?" ucap Lim.
"Aku tidak ingin terlalu lama berbasa-basi denganmu?" tantang Ryan.
"Aku dengar kau menikahi wanita yang sudah hamil demi mengais uang, Frans itu sungguh jitu atau memang mengambil momen kesempatan?" Lim kembali bergaya mengejek Ryan.
Ryan masih diam saja dengan wajah masamnya.
"Aku pikir kau sudah tidak butuh uang lagi, hanya fokus dengan surgamu itu, ternyata kau masih sangat menyukainya! Bahkan bersedia menjadi anjing di luar sana...Hahaha, dasar bocah, Haaaah, benar-benar labil, persis seperti Ayahmu! Demi wanita bodoh, rela memilih banyak hal konyol!" ucap enteng Lim.
Mendengar hinaan terhadap orang tuanya, darah muda emosi Ryan bangkit dengan cepat, ia membalikkan meja hingga gelas dan botol berjatuhan pecah disana.
"Taaaar,💥💥💥"
Membuat mereka terkejut termasuk Lim, namun ia terlihat santai saja.
Ryan langsung mencengkram kemeja Pamannya dengan wajah marah besar. Ia tidak takut dan tidak perduli meski semua pengawal Lim sudah mengarahkan senjata pembunuh kepadanya.
"Dengar aku baik-baik pria tua, kau boleh menghina diriku sampai kau puas, namun siapapun yang berani menghina Ayah dan Ibuku, menyalahkan mereka, termasuk kau Pamanku sendiri, aku sanggup membunuhmu, mencincang daging mu. Aku sudah menyetujui apa yang kau mau, bisakah? Kau tidak mengusik kehidupan pribadiku lagi. Memangnya kenapa? Jika aku menjadi Anjing di luar sana, itu lebih baik, daripada menjadi Anjing di rumah Paman Sendiri, bawa saja mati hartamu itu sampai kau tenggelam, aku berharap, nasibmu tidak sama dengan Chen (Ayah Yong & Lim) setelah tidak bisa berbicara baru ingin meminta maaf kepada ibuku, kita lihat saja nanti, siapa yang menjadi pemenangnya?" ucapan Ryan begitu jelas terdengar di telinga dan pikiran Lim, dalam tatapan merahnya ia melepas dengan menghentakkan kerah kemeja Pamannya itu.
Kemudian Ryan sempat berduel hebat dengan para Bodyguard disana, namun Lim memerintahkan agar berhenti. Ryan benar-benar mengamuk emosi dengan perasaan meledak-ledak, menghajar habis para pengawal, lalu ia keluar dari ruangan itu dengan rasa emosi yang tinggi.
Lim bersandar lemas masih gagal membujuk Ryan kembali kepadanya.
__ADS_1
***