Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 58 - Mengagumi Adinda.


__ADS_3

Setelah selesai menelpon dr Gunawan, Adinda terdiam sejenak mengingat peringatan dari sang dokter, bahwa kandungannya memiliki perkembangan tingkat sensitif yang cukup rawan. Sebagai ibu yang sedang mengandung, ia harus berjuang dan menjaga ekstra kesehatannya, mulai dari pola makan, istirahat yang cukup, jangan berpikir terlalu berat sampai dengan kecelakaan ringan ataupun berat seperti benturan perut yang keras atau mengangkat beban yang cukup berat, karena semua itu akan mempengaruhi janin yang sudah berbentuk manusia, tidak bisa dianggap sepele karena jika tidak! Kondisi kandungan Adinda bisa mengalami hal fatal yaitu menuju kecacatan ataupun kematian pada si jabang bayi.


*


Sementara Ryan sampai terduduk lemas bertanya-tanya, mengapa ia bisa sampai terjatuh. Ryan belum menyadari dirinya yang terlalu kepo terhadap Adinda sampai tersandung kabel.


Akhirnya, Pria itu batal mendengarkan percakapan Adinda dan dr Gunawan, ia lebih memilih merapikan kabel-kabel yang berserakan di bawah meja kerjanya.


"Bagaimana kalau Adinda yang tersandung? Parah ni!" gumam Ryan.


*


Adinda kembali masuk.


"Siapa yang menelepon kamu malam-malam begini?" introgasi arogan Ryan pura-pura tidak tau, Hampir setiap malam Ryan sendiri bertelepon asyik dengan banyak wanita, namun Adinda tidak pernah kepo apalagi sampai bertanya.


"Dr Gunawan!" jawab santai Adinda.


"Malam-malam begini, dia menelpon kamu buat apa? Apa dia kekurangan pekerjaan?" celetuk Ryan dengan ucapan mengejek.


"Dia hanya menjelaskan kembali hasil USG ku kemarin!"


"Itu hanya alasan si pria tua itu saja!" gumam Ryan semakin sewot.


"Mulai besok, kamu tidak perlu cek USG dengan dr Gunawan lagi, aku rasa kemampuannya masih di bawah standard (Ryan mengambil beberapa kartu nama para dokter kandungan wanita lalu menyerahkannya kepada Adinda)


Kamu bisa cek up setiap bulan kepada salah satu diantara mereka, jika ada waktu, aku yang akan mengantarkan kamu dan setiap bulan, aku akan perintahkan mereka, agar wajib untuk follow up setiap bulannya tentang kondisi kehamilan kamu!" ucap Ryan.


"Tentang itu, bicaralah langsung kepada kak Nabila, aku tidak enak jika berpindah Dokter begitu saja tanpa alasan yang jelas. Soalnya, dr Gunawan adalah sahabat dekat Mas Bram, Kak Nabila juga sudah mendaftarkan lokasi rumah sakit tempat aku bersalin nanti dengan dr Gunawan!"


"Atau jangan-jangan kamu yang terlalu suka dengan dokter pria, apa kamu nyaman organ intim kamu bakal di kobok-kobok oleh pria!" celotehan Ryan yang mulai nyeleneh dan semakin sewot, karakter Ryan yang tidak suka dibantah.


"Kamu bicara apa sih Ryan? Aku tidak paham, sudahlah, besok saja kalau mau berdebat, aku mau istirahat dulu," ucap Adinda pergi meninggalkan suaminya.

__ADS_1


"Huuuft!" raut wajah Ryan tampak kesal.


*


Setelah sholat isya, Adinda tidak lupa berdoa kepada Tuhan seluruh alam, meminta setiap perlindungan dan setiap harapan, sebelum tidur, Adinda juga sudah mulai menyempatkan dirinya untuk membaca surat Al-Qur'an walaupun hanya sebentar saja. Sayup-sayup suara merdu itu terdengar jelas sampai ke telinga Ryan hingga mampu menenangkan jiwanya, membuat lelaki yang masih duduk di meja kerjanya itu tidak fokus lagi dengan laptopnya, hampir separuh isi otak Ryan justru dipenuhi tentang Adinda.


*


"Apa Mama yang membimbingnya selama ini?"


"Bagaimana caranya agar Adinda tidak cek up lagi dengan dr tua itu, bagaimana juga menjelaskannya kepada Nabila...Ah!...tidak-tidak-tidak, dia akan berpikir aneh tentang diriku yang terlalu obsesi dengan Adiknya...itu tidak bisa!"


*


Dalam tidur Adinda, ia terpikir untuk tidak menghadiri pesta pernikahan Frans, setelah membaca surat email terselubung Frans yang berisi;


"Adinda, besok aku akan menikah dengan Nia, kau harus pahami aku dan tolong mengerti aku, jika aku memang harus menikahi Nia, ini sudah jalan yang harus aku tempuh sebelum kita bersama, tapi ini hanya sementara saja, percayalah, suatu hari nanti aku akan kembali kepadamu!"


Adinda membuang ponselnya, lalu terbaring tidur. Tidak lama kemudian Ryan, juga terbaring di sebelahnya.


"Ryan, bagaimana jika besok aku tidak perlu hadir dipesta pernikahan Frans dan Nia?" tanya Adinda.


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku...!"


"Menurutku jika kamu tidak hadir, ini akan menambah kecurigaan mereka tentang rumor hubunganmu dengan Frans!"


Adinda terdiam.


"Aku takut, bagaimana jika nanti anak ini lahir, Nia akan memaksaku untuk tes DNA!"


Ryan Pun mulai tampak berpikir dan menatap wajah kesedihan Adinda, wanita itu juga menatap dirinya, sejenak keduanya saling berpandangan di atas ranjang.

__ADS_1


"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak bisa kamu pikirkan, biarkan itu menjadi urusan Frans, karena pada hakikatnya, kita tidak akan bisa lari dari kesalahan dan tanggung jawab!" ucap Ryan yang sebenarnya ingin memeluk Adinda dengan raut wajah meweknya, namun pria itu gengsi untuk memulainya sampai akhirnya Adinda berbalik membelakangi Ryan. Tetap saja Ryan mengetahui jika Adinda sedang menyembunyikan jatuhan airmatanya di atas tindihan bantal.


Lelaki itu juga terlihat gelisah memikirkan seperti apa kelanjutan kisah mereka.


"Sudah sejauh ini aku melangkah, apakah aku akan melepaskan Adinda begitu saja, sementara Mama begitu nyaman bersamanya, ia memang bukan wanita yang istimewa. Namun, ia mampu memberikan ketenangan di rumah ini, dulu aku berpikir sosoknya akan merepotkan dan menjadi beban, ternyata aku salah.


Apakah Nabila ingin mendekatkan Adinda dengan dr Gunawan itu agar Frans tidak bisa kembali kepada Adinda lagi, tapi tidak semudah itu juga, aku masih penasaran, bagaimana trik jitu Frans untuk lepas dari Nia dan Aditama, setelah ia selesai mencapai tujuannya, benarkah ia tidak akan terjerat disana?


Ryan menatap tubuh Adinda dari belakang, Lagi-lagi ia merasa penasaran dan ingin memastikan apakah Adinda masih menangis?


Saat Ryan meninggikan posisi tidurnya lalu mengintip Adinda dari balik tubuh wanita itu, tidak terduga Adinda mengubah posisi tidurnya menghadap kepada Ryan, pria itu sempat terkejut ingin menghindar, namun kedua bola mata Adinda masih dalam kondisi terpejam.


"Aman!" gumamnya.



Ryan tertegun terus menatap wajah Adinda, ada sisa tetesan airmata di pelipis matanya. pria itu masih memperhatikan dengan seksama wajah Adinda, terbersit rasa iba serta khawatir yang dalam, ia harus membantu wanita malang itu hingga jantungnya berdetak.


"Semakin kesini aura keibuannya semakin terlihat!" ucap senyum-senyum Ryan yang puas menatap wajah Adinda dari dekat.


Tangan kekar Lelaki itu sejujurnya ingin bergerak mengelus manja Adinda, namun masih terasa kaku dan malu jika ketauan oleh Adinda sendiri. Semakin hari Ryan mulai terjerat oleh perasaannya sendiri.


*


Dalam isi kepala Ryan yang mulai mengagumi kecantikan si bumil, Adinda Aira.



Ryan masih belum bisa tidur, ia masih duduk santai, termenung sambil menikmati sebatang rokok kesayangannya. Banyak pikiran yang harus ia tuntaskan.


*


Hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Nia Devira dalam riasan gemerlap pengantinnya yang cantik. Riuh-riuh orang-orang mulai sibuk dalam mempersiapkan hajatan besar nan mewah itu.


*


__ADS_2