
Melihat sikap Frans yang semakin tidak sehat kepada Ryan, ia mulai berpikir untuk kedepannya menyusun rencana yang lebih baik.
"Tlililit!" tiba-tiba ponsel Ryan berbunyi, panggilan dari nomor baru, namun tidak asing bagi Ryan, dahi pria itu terlihat berkerut, sambil berkata dalam hati;
"Ini nomor digit panggilan Crush (orang kepercayaan di keluarga Woong) sudah hampir satu tahun ia tidak menghubungi ku, untuk apa dia tiba-tiba menelepon ku, apa Lim sedang kepo melacak masalah ini," Ryan sudah membatin dan mulai bertanya-tanya, terlihat ia masih mengabaikan panggilan yang terus berdering hingga terlewatkan satu panggilan tidak terjawab.
Ponsel Ryan kembali berdering. Ryan akhirnya menerima panggilan itu.
Percakapan menggunakan bahasa Mandarin-Inggris.
"Halo!"
"Apa kabarmu, aku harap kau baik-baik saja!" ucap tegas Crush.
"Seharusnya, kita tidak perlu lagi berkomunikasi seperti ini!" Ryan langsung mengenali suara Crush yang sudah bekerja bertahun-tahun untuk Tan Woong.
"Aku ingin bertemu denganmu di Hotel XX. Tepat pukul 20.00 wib Malam."
Tanpa kata penjelasan, Crush langsung mematikan ponselnya.
"Hehπ mau apa lagi si Lim??" ucapan kesal Ryan.
Ruangan Fitting Room, galery gaun pengantin.
Minggu siang yang sangat cerah, tetapi tidak secerah wajah Adinda Aira, ia tampak lesu dan kehilangan semangat, tidak pada umumnya wanita yang akan menikah, pasti berbahagia dan heboh ketika mencoba gaun pengantinnya.
Berbeda dengan Ryan, justru Lelaki itu semakin antusias untuk melanjutkan pernikahan paksa mereka, ia setuju dengan keputusan sang Bunda, dengan jalan ini lah ia bisa membawa GMC kembali hidup tanpa meminta bantu kepada keluarga Woong, Lim menutup akses Ryan di dunia bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan Woong Asian Group.
Gaun pengantin Adinda terlihat biasa saja, kualitas yang standar. Biasanya ia cukup detail dengan gaun dan pakaian, namun hari itu tidak ada semangat dan keceriaan di wajah dan pikiran Adinda.
Tidak lama kemudian Ryan dipersilahkan masuk untuk melihat penampilan Adinda, Ryan langsung menyoroti penampilan Adinda dari ujung kaki sampai ujung kepala, tidak ada senyuman di wajah wanita itu.
"Ngapain pakai fitting gaun segala jika harus mencoba gaun kualitas yang banjir di pasaran loak seperti ini!" gerutu Ryan yang mengenal kualitas bahan tekstil yang standar maupun mewah.
"Apa kalian tidak punya produk yang lebih bagus?" ucap Ryan kepada staf disana.
Si staf terdiam.
Tidak berapa lama manajer penanggung jawab di galery pengantin itu berlari kecil mendapati Ryan, ternyata ia mengenal Ryan merupakan keponakan Lim Woong.
"Maaf Mas Ryan, ada yang bisa kami bantu!" ucapnya dengan hormat.
__ADS_1
"Apakan tidak ada gaun yang lebih bagus untuk nona ini? Warnanya tidak cerah dan kualitas bahannya sangat standard!" protes Ryan.
Sang manager langsung memandang raut wajah marah kepada staf bawahannya itu, karena telah memberikan gaun yang jelek kepada Adinda, calon istri Ryan Alaska atau yang lebih mereka kenal dengan sebutan Tan Woong di dunia bisnis.
"Saya minta maaf, saya minta maaf (staf wanita itu berkali-kali menunduk) saya hanya menjalankan perintah dari Nona Nia Devira, awalnya Mas Daniel Flow utusan Tuan Frans sudah memilihkan gaun yang paling mahal untuk Nona ini, tapi Nona Nia protes besar dan akhirnya Tuan Frans menyetujui, jika gaunnya di ganti dengan model dan kualitas standard."
"Ouh, tidak apa-apa, tidak apa-apa, saya suka kok gaunnya, tidak perlu diganti lagi, pilihan Nona Nia pasti sudah bagus?" ucap Adinda tau diri jika semua biaya pernikahan itu ditanggung oleh Frans dan tentu Nia juga ikut andil sebagai calon istri Frans.
Adinda buru-buru masuk ke ruang ganti dan langsung mengganti gaun itu dengan pakaian awalnya.
Tidak berapa lama, terlihat Adinda sudah selesai dan langsung menuju pintu keluar. Ia tidak mengajak ataupun memperdulikan Ryan.
"Apa Mas Ryan ingin mencobanya, disini koleksi new arrival terbaik kami!" ucap sang manager mengarahkan lokasi pakaian pria kepada Ryan.
"Tidak perlu, aku punya stelan kemeja yang jauh lebih bagus dari pada koleksi kalian!" jawab ketus dan kecewa Ryan.
Adinda berjalan dengan cepat menuju mobil Ryan.
"Hei!" panggil Ryan berlari kecil mengejar Adinda kemudian menghalau cepat langkah perempuan itu hingga terhenti.
"Jika kau ingin gaun yang bagus, aku masih bisa menyewanya!" ucap Ryan.
Hari itu hati dan perasaannya benar-benar berantakan, mendengar ocehan itu reflek membuat Ryan tersenyum geli namun ia menahannya dan langsung terbatuk-batuk kecil yang dipaksakan untuk menghilangkan raut wajah tawanya.
"Boleh juga, sekalian jadi model fashion week paris, pasti keren tuh!" sambut senyum Ryan cukup geli membayangkan gaun pengantin Adinda adalah kain sarung.
Adinda tidak perduli dengan candaan Ryan, ia lanjut berjalan cepat menuju mobil, setelah Ryan menekan tombol (buka) kunci remote mobilnya, Adinda masuk tanpa perdebatan lagi.
"Apa kau lapar?" ucap Ryan di dalam mobil, perutnya mendadak terasa lapar setelah seharian emosi dengan kemarahan.
"Tolong antarkan aku pulang, jika kau keberatan aku akan naik taxi saja!" ancam Adinda.
Ryan pun akhirnya menuruti kemauan Adinda. Suasana cukup hening, tidak ada percakapan di dalam mobil, Adinda terus membuang wajahnya ke arah jendela, baginya pemandangan sore di kota besar itu lebih menarik daripada pria tampan, sixpack nan muda yang ada di sebelahnya.
Perjalanan mereka akhirnya sampai di tujuan yaitu tiba di rumah Adinda.
Sebelum turun, Adinda sempat berkata;
"Ryan, jangan paksakan dirimu jika tidak ingin menikah dengan ku, kau berhak menolak tawaran dari Frans."
Adinda langsung turun dan membanting pintu mobil, Reflek Ryan terkejut.
__ADS_1
"Ternyata jika perempuan marah cukup seram juga?" batin Ryan garuk-garuk kepala, wajahnya meringis karena memikirkan nasib pintu kaca mobilnya yang dibanting seenaknya oleh Adinda.
((Mobil Babam Ryan tinggal atu-atu nya guys! sudah banyak yang terjual))
"Mau gimana lagi, hanya inilah jalan satu-satunya!" ucap Ryan menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
***
Terlihat rumah Daniel Flow penuh dalam sergapan beberapa sekelompok orang tidak dikenal. Daniel Flow adalah orang kepercayaan sekaligus asisten Frans yang satu-satunya mengetahui hubungan gelap percintaan antara Frans dan Adinda.
Daniel Flow diikat kuat dalam mulut terbungkam di atas lantai, kemudian punggungnya di pijak oleh seorang dari sekelompok pria misterius.
Asisten Frans itu tinggal sendiri, karena keluarganya berada di luar kota, malam itu ia tidak menduga dengan tragedi yang menimpanya di rumahnya sendiri, ia tidak bisa meminta bantuan kepada siapapun termasuk Frans.
Sekelompok pria misterius itu adalah pasukan Kopasus Mafia milik Lim atau keluarga Woong yang dulunya dibentuk langsung oleh Lim dan Tan Woong (Ryan Alaska) karena banyaknya serangan tidak terduga menghantam perusahaan judi ilegal mereka.
Tan Woong ditunjuk langsung oleh Lim sebagai pimpinan besar mereka dan masih menjadi pimpinan mereka sampai saat ini meskipun sudah hampir dua tahun, sosok Tan Woong menyatakan keluar dari sekelompok itu. Lim tidak bisa mencari pengganti Ryan Alaska untuk tim khusunya itu. Sehingga Lim masih bernafsu ingin mengambil Ryan kembali.
Tidak ada yang tau termasuk Frans sendiri jika ternyata Ryan adalah pimpinan tim kopasus mafia Pamannya, kecuali orang tuanya dan keluarga Woong, sebuah identitas yang sangat dirahasiakan, keluarga Frans hanya mengetahui jika Ryan memiliki kemampuan bertarung yang hebat dari didikan Lim Woong.
Semua anggota kopasus gelap disana wajib mengenakan topeng hitam dan putih saat beroperasi.
Salah seorang dari mereka memaksa Daniel Flow untuk mengatakan hubungan percintaan antara Frans, Adinda dan mengapa Ryan harus menikahi wanita yang bernama Adinda itu.
Awalnya Daniel tidak ingin mengakuinya, namun mereka membawa besi panas merah yang siap membakar lidah Daniel Flow jika masih terus bungkam. Tim yang terkenal sadis, tempramental tinggi, sangat terlatih dan tidak memiliki hati nurani jika sedang menghabisi lawan ataupun pengkhianat.
"Jangan...jangan...jangaaaaaan...!" jeritan histeris ketakutan Daniel yang sudah bermandikan keringat, lelaki itu mengalami ketakutan hebat yang luar biasa sampai ia tidak menyadari jika celananya sudah basah kuyup (ngompol).
...B E R S A M B U N G...
Assalamualaikum, Buat para Readers Sarah Mai tersayang, terima kasih banget πππ kalian sudah setia menunggu update setiap hari dan membaca sampai di Bab ini, terutama yang sudah membaca semua karya Sarah Mai. Terima kasih sekali. Semoga murah rezekinya dan sehat selalu.
Author minta maaf hanya mampu up satu Bab per hari karena banyaknya rutinitas di dunia nyata yang tidak bisa author tinggalkan, jika ada waktu luang mungkin bisa crazy up.
Jangan lupa, setelah membaca Novel TERJERAT RASA. Yuk tinggalin jejak-jejak manis kalian, seperti Like, Vote, gift, star 5, comment dan jangan lupa juga tonton iklan untuk author yahπ
Jejak manis itu merupakan seperti bayaran atau koin jika di aplikasi berbayar, untuk setiap karya yang author berikan, sehingga author lebih semangat menulis dan bertapa di goa mencari ide ceritanya (hehehehe).
Salam hangat dari Sarah Mai,β€οΈβ€οΈβ€οΈ
wassalam.
__ADS_1