Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 16 Resign Dari X-Tren


__ADS_3

Kantor pusat X- Tren (Gambar hanyalah sebuah ilustrasi)



Setelah menandatangani kesepakatan dengan Frans, Ryan membereskan semua urusannya di markas Bodyguard, sekaligus pamit kepada temannya yang lain, bahwa Ryan sudah tidak menjadi ketua tim mereka lagi.


Sore itu Ryan menemui Deny Sulaiman di kantor besarnya sebagai Presiden Direktur X-Tren. Ayah Frans itu cukup terkejut dengan surat pengunduran Bodyguard andalannya yang secara tiba-tiba.


"Apa kamu punya masalah dengan Frans?" tanya Deny.


"Tidak Om!"


"Lalu, mengapa kamu mengundurkan diri secara tiba-tiba seperti ini?"


Ryan terlihat diam cukup bingung menjelaskannya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Lim Woong?" (Sedikitnya keluarga Deny Sulaiman mengetahui konflik Ryan dengan Pamannya)


"Sama sekali tidak Om?" jawab cepat Ryan.


"Lalu?" tanya Deny memperhatikan fokus kepada Ryan merasa penasaran sambil bersandar di kursi besarnya, Ryan sedikit menunduk. Ia terlihat enggan bicara.


"Eem...Tidak ada laporan jelek yang saya terima tentang dirimu, kerja kamu cukup bagus bahkan bisa dikatakan hampir sempurna!"


Ryan masih terlihat diam, ia ragu mengungkapkan alasan itu.


"Apakah kamu ingin bayaran yang lebih tinggi!"


"Tidak Om! Ryan...Ryan ingin menikah dan mengembangkan lagi usaha Papa!"


"Menikah??"


"Benar Om!"


"Sebenarnya itu tidak masalah!" jawab santai Deny.


"Ryan takut tidak bisa membagi waktunya nanti?"


"Em...Begitu yah!"


"Yah, Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu, namun jika kamu butuh pekerjaan ini, kamu bisa masuk kapan saja!"


"Terima kasih banyak Om!" Akhirnya Deny Sulaiman menyetujui surat pengunduran diri Ryan Alaska. Lelaki itu tetap memberikan sejumlah uang sebagai jasa terbaik Ryan selama bekerja bersamanya.


"Ryan minta maaf yah Om! Jika ada salah!" Ryan menjabat tangan Deny Sulaiman dan bersiap keluar dari X- Tren.


"Sama-sama, om juga!"


*


Begitu Ryan keluar dari ruangan Deny Sulaiman, tetap saja pesona lelaki itu menjadi pusat perhatian staf wanita yang bekerja disana. Tidak banyak yang mengetahui identitas Ryan sebagai keturunan Keluarga Woong, kecuali sejumlah konglomerat pengusaha kaya yang pernah menjalin kerja sama dengan PT Woong Asian Group.

__ADS_1


Setelah Ryan menyelesaikan masa-masa kerjanya, hati pemuda itu cukup berkecamuk bahkan ia tidak berani pulang untuk bertemu dengan sang ibu, Ryan sempat terdiam di atas motornya dalam pandangan jauh memandang.


"Bagaimana menjelaskannya kepada Mama, jika aku harus menikah dengan mantan kekasih Frans yang sudah hamil, saat ini aku hanya memikirkan tentang Mama, kesehatan Mama... haruskah aku lagi-lagi membuatnya kecewa...Mama harus menangis lagi...Ya Allah, sungguh berat sekali cobaan yang Engkau berikan, aku benar-benar tidak sanggup!" gumam Ryan dalam mata berkaca-kaca. Namun pria itu tidak punya tujuan lagi, selain kembali ke rumah ibunya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


*


Adinda juga terlihat sedang membereskan, beberapa file sebelum meninggalkan kantor cabang X- Tren, kediaman Frans Albar.


Terlihat Vero menghampiri meja kerja Adinda dengan langkah terburu-buru ketika melihat temannya sedang membersihkan meja kerjanya.


"Din, lu yakin bakalan resign?" tanya Vero.


Adinda hanya mengangguk tanpa kata.


"Kenapa?"


"Aku mau menikah Ver?" jawab lesu Adinda.


"Menikah?"


"Iyah!"


"Sama si Bos?"


"Bukan? Bos kan calonnya Nia Devira?"


"Tapi kok bisa barengan begitu yah?" Vero yang tidak mengetahui kehamilan Adinda maupun hubungannya dengan Frans.


"kebetulan aja!"


"Itu hanya gosip!"


"Tapi jujur deh, aku beneran enggak suka lihat si Nia itu, kok bisa yah si Bos menikah sama perempuan seperti itu?" Vero mulai membuka gosip panas.


"Memangnya kenapa, dia anak konglomerat besar!"


"Hadeeeh, konglomerat si konglomerat Din, tapi attitude nya itu loh, sombong, culas, kalau mesra-mesraan enggak pernah lihat tempat begitu, sudah mirip dengan perempuan kupu-kupu malam, genit kayak dedemit!" bisik Vero.


"Vero, kamu jangan ngomong sembarangan!" tegur tegas Adinda.


"Emang itu kan kenyataannya, aku yakin, taruhan berapa nih, tuh perempuan sudah sana-sini siap pakai...kalau aku jadi si Bos, punya uang banyak, perusahaan besar, cari istrinya enggak perlu konglomerat lah, yang penting berpendidikan, attitude bagus, dan pintar menjaga kehormatan!" celoteh Vero.


"Tapi baguslah, dua-duanya sama-sama penjahat kelamin, aku saja yang bodoh, bisa terjerat dengan cinta Frans, rasanya pingin mandi tanah lihat sebagai penghilang najis!" gumam geram Adinda.


"Bos juga playboy kan!" ucap Adinda kembali merapikan berkasnya.


"jika cowok itu playboy yah masih bisa diterima lah, tapi kalau cewek? Duh gimana gimana yah!"


"Udah ah, enggak usah dibahas lagi?" ucap Dinda.


"Btw...kamu mau menikah dengan siapa Din?kok aku enggak pernah lihat kamu jalan sama cowok? kalau nongkrong, kamu selalu ajak aku!"

__ADS_1


Adinda terlihat fokus menyusun berkasnya.


"Mau menikah tapi kok wajahmu cemberut, dimana-mana orang yang mau menikah itu, pasti ceria dan happy lah?" seru Vero menatap Adinda yang terus saja merapikan berkas file kantornya.


"Aku dijodohin Ver, sebenarnya aku juga belum siap menikah dengan lelaki itu!"


"Wow, Asyik donk?"


"Asyik apanya?"


"Biasanya kalau dijodoh-jodohkan seperti itu, Malam pertamanya pasti malu-malu meong gitu!" halu nakal Vero yang jauh menembus angkasa membuat ia senyum-senyum sendiri sambil menggigit bibirnya.


"Kebanyakan baca komik lu!" hardik Adinda.


"Tapi aku sedih Din😭, jika kamu tidak disini lagi?"


"Kamu itu orangnya asyik banget diajak ngobrol!"


"Ah, Itu kan perasaan kamu saja, biar aku mau traktir kamu terus!"


"Beneran, mungkin, karena kita sama-sama anak broken, jadi perasaan kita hampir sama!" ucap Vero.


"Ingin aku cerita banyak tentang masalah hidupku kepada Vero, tapi aku takut!" gumam Adinda.


"Sore ini kita nongkrong bareng yuk!" ajak Adinda tersenyum manis ke arah temanya itu.


"Cuss!" sambut girang Vero.


***


Beberapa hari tidak pulang, akhirnya Ryan sampai di rumah pukul 21.15 WIB Malam hari dengan sepeda motornya.


Saat mendengar suara motor Ryan, Khaliza langsung membukakan pintu, karena wanita itu sudah menunggu kepulangan anak lelakinya dari hari kemarin.


Terpancar aura rindu Khaliza yang sudah menanti kepulangan anak lelakinya. Hatinya langsung iba dan haru saat melihat wajah lesu dan lelah Ryan.


"Assalamualaikum!" Ryan Langsung mencium tangan Mamanya dan memeluk hangat wanita paru baya itu.


Khaliza menyambut pelukan sang anak sambil mengusap-usap kepala Ryan.


"Bagaimana kondisi Mama?"


"Alhamdulillah sehat Nak!"


"Ayo, bersihkan dulu tubuh kamu, setelah itu kita makan malam!" pinta sang Mama dengan senyum terbaiknya.


*


Ryan pun masuk ke dalam kamar pribadinya masih dalam perasaan lelah, pusing dengan beban pikiran yang berat.


Pria itu mulai menghidupkan shower mandi, mengguyur puncak kepalanya hingga ke ujung kaki dengan air hangat, dalam guyuran air yang membasahi tubuhnya. Ryan terus berpikir bagaimana caranya memberitahukan kepada ibunya, ia harus segera menikah dan tinggal bersama perempuan yang tidak ia sukai bahkan ia benci sifat dan karakternya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2