Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 61 - Firasat Buruk.


__ADS_3

Khaliza terlihat berjalan menuju dapur, sedangkan Surti sedang mencuci pakaian kotor di area belakang, saat sedang mengambil gelas, tiba-tiba saja gelas itu tergelincir dari pegangan tangan Khaliza yang begitu terasa licin.


"Tar💥"


"Astaghfirullah!" ucap kaget wanita itu.


"Ada apa Bun!" Surti sontak berlari dalam raut wajah khawatirnya, setelah mendengar suara pecahan gelas dari area dapur.


"Enggak tau nih Sur, pas saya mau ambil gelas, tiba-tiba saja gelas terlepas begitu saja dan terasa licin dari tangan saya."


Surti dengan sigap mengambil gelas yang baru dan menuangkan air mineral untuk Khaliza. Wanita itu duduk dengan tenang.


"Yah sudah Bun, biar Surti saja yang bersihkan!"


"Terima kasih yah Sur!" angguk Surti mengambil alat lalu membersihkan serpihan gelas yang bertaburan di lantai.


"Ya Allah, semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpa keluarga ku, Lindungilah Anankku, Ryan dan Adinda dimanapun mereka berada, tapi mengapa dari semalam perasaan ku ini tidak enak!" gumam Khaliza berusaha menenangkan hatinya yang gelisah.


Khaliza juga sempat mengirimkan pesan kepada Ryan, agar setelah pulang pesta bergegas pulang, tidak pergi kemana-mana lagi.


*


Akad pernikahan Frans dan Nia akhirnya selesai dengan sempurna, mereka kini sah menjadi pasangan suami istri baik di mata hukum maupun agama.


Tersirat rasa sedih dan kecewa besar pada Adinda, ia kembali mengelus perutnya dalam tatapan kosong.


"Hari ini pernikahan Ayahmu Nak, Maafkan Mama tidak bisa mencegahnya, Mama harap, kelak kau menjadi anak yang kuat, jika suatu hari nanti engkau mendapati Ayahmu bukanlah milik ibumu!"


*


Vita dengan agresifnya lanjut menggandeng Ryan bak prangko yang terus menempel tidak ingin dilepaskan, wanita itu benar-benar tidak perduli jika Ryan sendiri datang ke pesta itu bersama istrinya. Ryan semakin asyik dan terbuai mengobrol bersama rekan bisnis mereka dan sahabat lamanya, mereka seakan-akan sedang mengadakan reuni besar dengan pasangan masing-masing, pria itu pun larut dan lupa bahwa sebenarnya ia datang ke pesta itu bersama Adinda.


Ryan telah mengabaikan Adinda dan sudah terlalu lama meninggalkannya sendiri di meja pesta itu, Adinda mulai tampak bosan sambil celingak-celinguk memperhatikan disekelilingnya yang juga asyik dengan kesibukan pribadi masing-masing, tidak ada satupun yang ia kenal di acara itu dan benar-benar menyesal ikut hadir disana.


Adinda memperhatikan Frans yang sedang Berbahagia dengan pernikahannya, ia juga memperhatikan Ryan yang asyik dengan Vita dan teman-teman lainnya. Suasana itu telah membuat mental wanita itu yang tidak ingin lagi menjalin hubungan asmara dengan pria mirip seperti Ryan dan Frans.


Setelah Selesai, Ryan yang hendak bangkit kembali menuju Adinda sontak Vita menarik tangan Ryan lalu mengajaknya ke sebuah ruangan kecil.


"Kamu mau mengajakku kemana?" tanya Ryan.


"Aku ingin bicara kepadamu!"


"Kita bisa bicara di meja saja, lagian Adinda sendiri disana.


"Ini sangat intim Ryan!"


"Tapi Adinda sendiri, tidak ada yang dia kenal disini!" ucap Ryan.


"Sudahlah, dia kan sudah dewasa, buat apa kamu memikirkannya!" bantah Vita yang terus menarik Ryan, membawa pria itu ke sebuah ruangan tertutup dan mendudukkannya di sebuah sofa.


Vita mulai beraksi nakal kepada Ryan dengan tubuh sexy nya yang menggoda kaum Adam.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai kamu Ryan, tidak rela melihat kau menikah dengan wanita lain, aku ingin sekali mengandung anakmu, Ryan!" ucap Vita terus memberikan sentuhan halus di wajah Ryan dengan rangsangannya.


"Kau ini bicara apa sih!"


"Ayo lah Ryan!" ajak Vita penuh nafsu berusaha mencumbui Ryan.


"Vita, aku ini bukan Tan lagi yang dulu kau kenal!" ucap Ryan.


"Tapi aku percaya kamu itu bisa lebih hebat dari Tan yang dulu!" ucap Vita semakin genit memberikan rangsangan cinta kepada Ryan, wanita itu perlahan mulai membuka jas pria itu. Sebagai Pria, Ryan tidak sanggup membendung serangan cumbuan panas Vita yang bertubi-tubi kepadanya, meski ia sudah berusaha menghindar.


*


"Kemana Ryan dan si perempuan itu, mengapa mereka tidak terlihat!" gumam Adinda masih menunggu.


"Nona!" seorang petugas pelayan tiba-tiba menepuk lembut bahu Adinda.


Sontak wanita itu terkejut.


"Ada seorang teman yang sedang mencari Nona, ia berada di area toilet, karena disini terlalu berisik!" ucap pelayan itu berbicara keras di telinga Adinda.


"Teman? Siapa?" tanya Adinda cukup terheran-heran, di pesta itu ada teman yang mencarinya.


"Saya tidak tau, saya hanya menyampaikan pesan saja!" jawab si Pelayan lalu bergerak pergi.


"Ouh, terima kasih yah!" jawab Adinda. Merasa penasaran besar, dan mulai jenuh duduk disana, ia pun akhirnya berjalan menuju area toilet yang lumayan sepi.


Wanita itu dengan polosnya terus melangkah dengan lambat sambil mencari keberadaan sosok teman yang sedang mencarinya.


Semua keberadaan cctv, telah di amankan dengan sempurna, sebuah tindakan yang sudah direncanakan oleh seseorang untuk menghabisi nyawa Adinda.


Tidak terduga seseorang bertubuh besar, langsung menyekap kuat mulut Adinda, dan membawanya ke sebuah tempat yang aman.


"Hemm...lepaskan aku... lepaskan!" teriak Adinda dalam dekapan sang penjahat.


*


Sementara Vita terus berusaha mencumbui Ryan Alaska di sebuah ruangan tertutup.


"Tlililit!" ponsel Ryan berdering keras, ia pun Langsung menolak tubuh Vita.


"Siapa sih itu, mengganggu saja. Aku harap kerja mereka cukup bagus dan rapi?" ucap sebel Vita.


*


Panggilan dari dari Khaliza.


"Halo Mah!"


"Ryan, jika nanti selesai pesta, kalian segera pulang yah!" Khaliza kembali mengingatkan putranya, karena ia merasa pesan yang ia kirim tidak dibaca oleh Ryan.


"Baik Mah!"

__ADS_1


"Oh iyah, dimana Adinda, mengapa ia tidak bisa dihubungi, Mama ingin bicara sebentar ada titipan obat Mama yang sudah hampir habis!" ucap Khaliza.


"Baiklah Mah, aku akan mendapatinya!"


"Apa kamu tidak sedang bersamanya?" tanya Khaliza terheran-heran.


"Tadi, Hem...maksudnya ini Ryan lagi di toilet!" ucap bohong Ryan mulai gugup.


"Yah sudah, nanti telpon Mama lagi yah!" baik Mah.


Vita kembali menarik tangan Ryan.


"Vita, aku tidak bisa melayani nafsumu!" ucap tegas Ryan.


"Kenapa, apa kau sudah di pelet dengan perempuan itu!" hentak Vita menatap tajam Ryan Alaska.


"Huuuft!" Ryan tarik nafas dalam.


"Aku pikir kau itu perempuan yang berpendidikan dan punya derajat sosial tinggi, tidak pantas melakukan hal begini di saat suasana ramai!" ucap Ryan kembali memakai jasnya lalu melangkah menuju pintu keluar.


"Ryan, kalau kau berani meninggalkan ku sendiri disini, aku akan memutuskan semua kontrak kerja bersamamu!"


Ryan tidak perduli, ia pergi meninggalkan Vita di ruang kamar itu dan kembali ke meja awalnya bersama Adinda.


"Ryaaaaaaan!" ucap geram Vita yang selalu gagal menguasai pria itu.


"Lihat saja Ryan, aku akan membuat GMC lumpuh tanpa X-Tren!" ucap Vita dalam mata marahnya.


Betapa terkejutnya Ryan, saat mendapati meja tanpa Adinda.


"Kemana dia!" batin Ryan mulai mencari.


*


Adinda yang pura-pura pingsan berusaha berontak sekuat tenaga lalu melarikan diri dari ruangan itu.


"Kejar dia jangan sampai kabur!" teriak pria itu kepada temannya.


*


"Tlililit!" Ponsel Ryan kembali berbunyi.


"Ryan to..to...tolong aku, dua pria ingin membunuhku!" ucap Histeris Adinda.


"Adinda Ka..ka..mu ada dimana?" jawab panik Ryan berlari keluar dari ruangan pesta itu.


Karena tidak mengerti, Adinda mengirimkan gambar lokasi keberadaannya dengan tangan bergetar hebat. Lokasi yang sudah di siapkan tidak ada orang di area itu.


Ryan dengan sigap langsung mencari dan berusaha menemukan Adinda. Ia tidak mengenali lokasi itu dan bingung harus bergerak ke arah mana.


__ADS_1


*


__ADS_2