Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 57 - Secercah Senyuman


__ADS_3

Tersapu angin sepoi-sepoi, Adinda masih mengajak Ryan melihat-lihat suasana pantai yang indah sambil berjalan menuju parkiran Mobil.



Sesekali Ryan mulai penasaran dan mencuri-curi senyuman manis Adinda dengan wajah dinginnya yang cuek sambil menikmati suasana sejuk disana.


"Aku punya pertanyaan kepada kamu Ryan?" ucap Adinda menghentikan langkahnya.


"Pertanyaan apa?"


"Kenapa kamu sejak dulu sangat tidak menyukaiku, apa kita pernah punya selisih di kehidupan sebelumnya?"


Ryan reflek tersenyum tipis.


"Apa yah, aku risih aja dan ingin terus usil kepada kamu, karena bagiku kamu itu adalah wanita yang terlalu lebay dengan kecentilan mu itu, terutama dihadapan para siswa yang kehidupan finansial mereka yang high class (kaya), terlihat norak dan wanita yang mudah dibeli dengan harta, jadi aku sudah tidak terkejut jika mendapati kamu hamil dengan Frans...sudah berapa pria kah yang kau tiduri!" introgasi Ryan dengan mata seramnya.


Mendengar hal itu, Adinda naik pitam, dalam gaya kocak pinggangnya di hadapan Ryan, sambil menatap tajam pria itu penuh amarah, lalu menginjak cepat sepatu Ryan dengan sendal bertumitnya.


"AW!" reflek Ryan kesakitan.


"Kamu kasar banget sih, kalau kamu pria sudah aku tinju!" omel Ryan kesakitan.


"Tidak apa-apa, tinju saja!" tantang Adinda.


"Huuuft!" raut kesal Ryan.


"Dengar baik-baik yah Ryan, aku tu hanya terjerat kepada pria bernama Frans saja, kami baru dua kali berhubungan badan, nasib sial menimpaku, sehingga aku bisa hamil, selebihnya aku tidak pernah tidur dengan lelaki manapun, bahkan berciuman pun tidak."


"Bohong, semut saja tidak percaya dengan omongan mu, apalagi aku manusia!"


"Itu terserah kamu, mau percaya atau tidak? Sejak kematian ibuku, Aku menjadi wanita pemurung dan mudah putus asa, hal itu semakin sempurna ketika melihat Ayahku tersenyum manis, mencium mesra istri keduanya. Selama ini, Nabila lah yang selalu menguatkan aku, sampai aku bertemu dengan Frans, sikap centil dan menggoda yang kau lihat itu, hanya peran topeng yang aku pakai, agar orang-orang tidak mengetahui keresahan hatiku sebenarnya, apa yang sedang aku alami, aku tidak ingin orang-orang mengejek ku lalu memanfaatkan kelemahan ku itu dan aku juga tidak ingin Nabila mengkhawatirkan diriku, kakak yang aku sayangi!" ucap Adinda termenung menatap langit yang indah bertabur bintang, rambut indahnya tersapu angin sepoi-sepoi.


Ryan hanya berdiri mematung memperhatikan wajah sendu nan datar itu.


"Sudahlah, ayo pulang, aku tidak percaya apa yang sedang kau katakan!" Ryan menarik tangan Adinda.


"Hei...aku bukan sapi! Jangan tarik aku!" seru Adinda, namun Ryan tidak perduli.


*


Sesampai di mobil, Ryan langsung menyalakan musik dan udara yang sejuk serta nyaman. Belum jauh mobil melaju, terlihat Adinda sudah tertidur pulas karena perutnya yang kenyang serta begitu nyaman di dalam mobil Ryan.

__ADS_1


"Ckckck, nih anak Langsung molor!" celetuk Ryan kembali fokus pada setirnya.


*


Dalam perjalan menuju pulang, terlihat Ryan begitu resah dengan perasaannya, ia kembali mengingat kata-kata Adinda yang begitu jelas terngiang di pikirannya malam itu;


"....Kau bebas mau pacaran dengan wanita manapun, itu bukan urusanku, tapi seperti harapan Mama, lebih baik menikah daripada berzina!"


"Apa yang dikatakan Adinda memanglah benar, karena pernikahan ini hanya sementara dan terjadi karena perjanjian dari keuntungan kami berdua, tapi mengapa aku gelisah dengan ucapannya itu???" batin Ryan, ia memperhatikan dengan seksama wajah tidur pulas Adinda, ketika mobilnya berhenti di lampu merah.


Tampilan Raut wajah dari seorang wanita yang lelah dengan kehidupan percintaannya, lebih memilih tegar dan pasrah menjalani hidupnya, tidak lagi mengharap apapun itu atau kembali melangkah kan dirinya untuk menjalin kisah percintaan yang baru, ingin rehat dari kisah percintaan itu dan fokus kepada dirinya sendiri.


*


Malam gemerlap, penuh kegirangan dan keceriaan menyambut pernikahan Frans dan Nia.


Ryan sudah izin kepada Frans bahwa ia tidak bisa hadir malam itu.


"Mengapa Ryan begitu marah saat aku menyentuh Adinda, apa ia mulai menyukainya?" gumam Frans yang sudah memerintahkan banyak wanita terutama Vita untuk menggoda Ryan bahkan menyuruh mereka melayani hasrat pria itu jika diperlukan.


Nia melangkah menghampiri Vita yang dalam mood yang buruk.


"Kau bilang Ryan akan datang, mana buktinya?" ucap Vita dengan wajah kesalnya.


"Rencana apa?"


Nia membisikkan jelas ke telinga Vita.


((viu....viu...viu...ciut...Cui...cui...cret....cret... percakapan rahasia))


"Apa kau yakin?" tanya Vita meyakinkan sahabatnya itu.


"Tentu, itu adalah kado terindah untuknya yang sudah menikmati dua pria kita!"


Vita sontak tersenyum kegirangan.


"You're the best friend?" langsung memeluk Nia kegirangan.


*


Sesampai di rumah, setelah Ryan dan Adinda membersihkan diri, mereka berkumpul di ruangan keluarga, Adinda yang terlihat senang dan tidak sabar lagi menghidangkan bungkusan makanan bawaan mereka kepada Khaliza. Ibu mertuanya itu pun menyantapnya dengan nikmat.

__ADS_1


Adinda juga bercerita dengan detail tentang kebahagiaannya saat berada di pantai bersama Ryan. Pria itu hanya memperhatikan dengan gaya dinginnya, aksi riuh dan detail Adinda yang bercerita tentang keseruan mereka selama berada di pantai.


Khaliza hanya tersenyum senang melihat semangatnya Adinda bercerita.


"Mah, kapan-kapan kita berlibur bersama yah!" ajak Adinda.


"Baiklah!"


"Beneran Mama mau!" ucap Ryan meyakinkan kembali sang Bunda, sampai tubuhnya terhentak bangkit dari sandarannya.


"Yah, demi anak dan menantu boleh lah!" ucap lembut Khaliza.


"Hore...👏👏👏" Adinda reflek tepuk tangan kegirangan.


Terlihat Ryan juga tersenyum bahagia mendengar jawaban ibunya, karena hampir dua tahun kepergian sang Ayah, Khaliza hanya mengurung dirinya dengan kesendirian, ia sudah berusaha membujuk ibunya untuk pergi berlibur ke luar negeri agar menghibur diri, namun Khaliza selalu menolaknya, Ryan sempat kesal kepada ibunya yang tidak bisa move on dari kehidupan Yong, seperti orang stres, Terjerat dengan bayangan-bayangan sang suami, namun Khaliza hanya berkata kepada Ryan;


"Tidak mudah melupakan kekasih!"


Perlahan, Ryan berhasil membujuk ibunya untuk menjual rumah Yong dan menggantikannya dengan dengan rumah baru yang sekarang mereka tinggali, agar Khaliza mampu menjalani hidup tanpa terus dihantui oleh bayangan sang suami.


Kesunyian rumah Khaliza, kini ramai kembali dengan kehadiran Adinda serta celoteh-celoteh polosnya yang selalu bercerita bersama Khaliza di tambah lagi dengan pertengkaran lucu antara Adinda dan Ryan. Mulai terpancar kehangatan keluarga di rumah itu.


Malam itu Ryan juga mulai memperhatikan detail Adinda dalam mengurus keperluan ibunya saat menjelang tidur, mulai dari air hangat, vitamin, cemilan sehat, sampai dengan kaos kaki, hati pria itu mulai tentram.


*


Menjelang tidur, tiba-tiba ponsel Adinda berbunyi, panggilan datang dari dr Gunawan Smith, ahli kandungan.


"Halo, selamat malam Adinda!"


"Selama Malam Dok!"


"Saya ingin menjelaskan sedikit tentang kandungan kamu yang perlu perhatian lebih intens!"


Adinda buru-buru keluar menuju teras kamar agar percakapan mereka lebih fokus.


Melihat hal itu, Ryan langsung merasa resah tingkat tingkat tinggi, sampai dahi dan alisnya berkerut tajam.


Ia pun reflek bergerak cepat ingin menguping percakapan Adinda bersama dr Gunawan, Sangking terburu-buru nya Ryan tersandung kabel charger laptopnya sendiri yang suka sembarangan terhampar begitu saja di area meja melintasi kursi kerjanya. Ryan nyaris mencium tembok.


"Anjrit!" Makiannya dalam wajah kesal 👹👹👹

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣 ckckck, kasihannya🤣🤣🤣🤣


__ADS_2