
Rangsangan halus dan lembut dari Ryan membuat libido Adinda naik, tidak bisa dipungkiri jika setelah melakukan malam pertama, kenikmatan itu seperti candu yang ingin diulang kembali. Keduanya terjerat rasa hasrat tak terbendung.
Ryan masih beraksi nakal di belakang tubuh Adinda kemudian menyentuh lembut tangan wanita itu, meletakkan baskom kecil tempat sayuran yang masih dalam pegangan Adinda, tangan Ryan lanjut melepas celemek yang melilit di tubuh sang istri.
"Jika seorang suami meminta dilayani, maka istri tidak boleh menolak!" bisik manja Ryan.
Ryan Lanjut dengan mengecup manis bibir Adinda. Cuaca pagi itu masih gelap, di dapur yang sepi, adegan cumbu panas mereka terjadi tanpa sepengetahuan Khaliza.
Tiba-tiba Adinda teringat dengan video Ryan yang sedang bercumbu bersama Vita, membuatnya menjadi ilfeel.
"Mengapa kamu tidak melakukannya dengan Vita!" ucap Adinda membuat tindakan mesum Ryan terhenti dan fokus menatap wajah wanita itu.
"Bukankah kau yang mengatakan, jangan berzina, hanya kamu satu-satunya wanita yang boleh aku sentuh, kapanpun aku mau!"
"Ma... maksud aku, ceraikan aku dan menikahlah dengan Vita!" ucap gugup Adinda.
Tidak mau berdebat soal itu, Ryan mengangkat Adinda dan membawanya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu.
Di dalam kamar, serangan fajar dari Ryan yang bertubi-tubi membuat Adinda kewalahan, adegan malam pertama mereka akan segera kembali terulang, Ryan tampak begitu bernafsu sekaligus ingin melampiaskan perasaan cintanya.
Diam-diam terlihat Ryan sengaja merekam cumbuan panas mereka yang akan di hadiahkan untuk Frans. Ryan sudah memutuskan akan menjadi pengkhianat di belakang sahabatnya itu.
"Ri...Ryan...sebaiknya kita jangan sering-sering melakukannya, ini masa suburku. Aku takut hamil!" ucapan gugup Adinda sambil mengeluarkan des*han kecil.
"Memangnya kenapa kalau kamu hamil, ada yang melarang, aku harus mengganti anakmu yang hilang itu!" ucap Ryan tidak perduli tetap melanjutkan aksi nakalnya dan membantu Adinda melucuti pakaiannya.
"Melayani serta memuaskan ku adalah tugas utamamu sebagi istri!" bisik Ryan yang sudah tidak terkendalikan.
*
Pagi itu adegan malam pertama mereka akhirnya terulang kembali, hanya ada suara desah*n berat dan jeritan kecil di kamar Ryan. Raut wajah Adinda penuh keterpaksaan, tetapi ia tidak bisa mencegah perlakuan mesum Ryan kepadanya, karena meski ia mengaggap pernikahan mereka tidaklah serius, namun Adinda tetap tidak boleh menolak jika Ryan yang memaksanya.
Adinda dihantui rasa ketakutan, ia berpikir bercinta dengan Ryan hanya akan mengulang nasib yang sama ketika bersama Frans, karena menurut Adinda Ryan masih memiliki hubungan dengan Vita.
Setelah selesai, Ryan kembali terkapar memeluk manja Adinda, tubuhnya serasa lemas mengantuk, ingin tidur sejenak, sebelum ke kantor.
Adinda tidak bisa sepenuhnya menikmati permainan itu, ia hanya sedih dengan dirinya dalam pandangan lesu seorang wanita, seperti sudah mati rasa.
"Bukankah dia selalu mengatakan kalau aku ini tidak menarik!"
"Aku sudah mirip seperti si pelacur yang malang, tempat pelampiasan hasrat pria-pria egois!"
__ADS_1
"Serasa semua laki-laki sama saja, bajingan, hiks...Ryan, kau pun sama dengan Frans, sudah memiliki hubungan dengan Vita, tapi masih saja menikmati ku!" gumam sedih Adinda buru-buru bangkit memakai pakaian lengkapnya dalam raut yang kesal.
*
Adinda hanya mencuci wajah dan tangannya saja, kemudian tergesa-gesa ke dapur untuk melanjutkan masakannya, sebelum Khaliza keluar dari kamar dan mencarinya.
Ternyata benar, tidak berapa lama kemudian Khaliza keluar dari kamar.
"Mah serealnya sudah siap, mari sarapan!" senyum Adinda.
Spontan Khaliza tertuju (salfok) pada leher Adinda ada bekas kecupan Ryan berwarna merah.
"Ada apa dengan lehermu, kok! Merah-merah begitu?" tanya Polos Khaliza.
Reflek Adinda terdiam mematung.
"Hehehehe, i..ini bekas gigitan nyamuk Mah, tadi Adinda menggaruknya terlalu kuat!" jawab cengengesan Dinda berusaha menutupi bekas kecupan itu dengan bajunya.
"Hem, enggak Ryan, enggak Adinda, dua-duanya sama-sama bertingkah aneh!" gumam Khaliza.
*
Setelah keramas, Adinda langsung berusaha mengeringkan rambutnya, ia malu jika sang mertua yang perhatian itu menyoroti dirinya yang setiap hari keramas, Adinda yang sudah menyatakan akan segera bercerai dari Ryan, kini Adinda merasa malu, mengatakan pada Khaliza jika sebenarnya ia sudah dua kali melakukan hubungan badan bersama Ryan.
*
Gedung Acara Grand Opening.
Menggantikan Madam Elena, Khaliza di panggil untuk memberikan sambutan kata pengantar, wanita itu juga sangat lancar saat harus dituntut berbahasa Inggris membuat Adinda kagum, ternyata ibu mertuanya itu tidak hanya cantik, sholehah, cerdas, namun mahir berbahasa asing dan melahirkan seorang anak lelaki terbaik.
Tepuk tangan meriah menyudahi kata sambutan Khaliza.
Wanita paru baya itu langsung kembali ke tempat duduknya bersama Adinda.
"Adinda, tadi itu Mama sangat nervous sekali!"
"Penampilan Mama, keren banget, Adinda sampai terpukau!" puji sang menantu.
*
Acara cukup meriah dengan pemotongan pita, tumpeng lalu lanjut makan bersama diiring musik.
Tanpa disadari ternyata Vita Ayunda juga diundang dalam acara Grand Opening itu.
"Halo Mama Khaliza apa kabarnya?" sambut Vita dengan senyum manisnya.
"Baik, kamu Vita Ayunda!"
__ADS_1
"Benar Mom, Jangan sampai enggak kenal begitu dong, Vita adalah pacar Ryan!" ucap centil wanita itu.
"Ini anak, bicaranya benar-benar tidak punya sopan santun!" batin kesal Khaliza.
"Ouh yah, Ryan nya mana?" tanya Vita.
"Dia sibuk, cari saja di kantornya?" jawab ketus Adinda menarik tangan Khaliza segera menghindar dari si pelakor.
"eei, Mau kemana, buru-buru amat! Saya belum selesai bicara?"
"Mau bicara apa?" tanya sopan Khaliza.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua itu benar -benar wanita tidak tau malu yah, senang dan bangga sekali bertengger dengan perusahaan Woong dan Madam Elena, padahal kalian dua wanita yang tidak dianggap disana, yah seperti pengemis, apalagi Mom Khaliza!" ucapan hinaan Vita membuat Adinda berang meradang, Khaliza hanya menunduk tidak membalas.
Ketika acara selesai, Adinda berkata kepada Khaliza.
"Ma, tunggu di mobil yah, sepertinya ada barang Adinda yang ketinggalan di dalam."
"Baiklah!" ucap Khaliza kembali ngobrol dengan rekannya disana.
Vita yang sedang tertawa asyik bersama temannya, terkejut saat mendapati Adinda yang langsung menarik tangannya dan membawa Vita ke sebuah ruang sepi.
Dengan perasaan geram dan Dendam membara, Adinda mendorong kuat tubuh Vita dan langsung menampar keras pipi wanita itu.
"AW!" Vita terkejut hebat.
"Kau boleh puas telah mengganggu hidupku dan membunuh anakku, tapi jangan pernah sekali-kali kau sampai menghina ibu mertuaku, aku yang akan membunuhmu!"
"Dulu kau menggoda Ryan, sekarang ibunya, pintar kamu yah cari pembelaan, dasar wanita sampah," hina Vita.
Vita berusaha merekam kejadian itu, namun Adinda langsung membuang ponselnya.
Vita balik menampar dan mendorong Adinda.
Duel seru itu cukup sengit antara istri sah dan si pelakor.
Keduanya saling serang dan saling hajar, Adinda berhasil menang karena ia juga bisa melakukan bela diri.
Dengan geram Adinda menjambak kasar rambut Vita sambil berkata;
"Jangan hanya pandai menyebutku wanita sampah, kau juga sampah yang menjijikkan, adukan saja kasus ini kepada siapa saja yang kau mau, aku tidak takut, karena aku juga punya aksi kejahatanmu yang bakal menyeret Aditama Lukman! Dengar Vita
Jika kau ingin Ryan, ambil saja, aku tidak perduli!" ucap Geram Adinda menunjukkan video rekaman pengakuan si pelaku yang menyuruh untuk menghabisi nyawa Adinda dan si jabang bayi.
*
__ADS_1
*
Guys, sahabat ku semuanya, jangan lupa tonton iklan buat author, like, komen, vote, gift, share dan lainnya.πππ dukung kalian sungguh sangat berartiπ€π€