
Hari yang mencekam itu akhirnya berlalu, sebuah tragedi pilu yang membuat hati semuanya merasa lelah, pusing, terjerat rasa penyesalan yang besar, tidak menduga, mengapa akhirnya menjadi seperti itu?
Akhir perjalanan seseorang merupakan rahasia sang pemilik kehidupan, dimana setiap jiwa itu selalu saja berpikir, bahwa kebebasan kehidupan yang ia jalani selama ini tidak akan ada yang menghakiminya kelak. Padahal, jelas-jelas kematian sesuatu yang pasti dan sangat dekat.
*
Proses hukum terus berlanjut, para konglomerat itu berlaga keras dengan ego mereka masing-masing mengandalkan kekuatan kekayaan dengan menghadirkan pengacara-pengacara handal untuk menuntut hak mereka masing-masing.
Sebagai pengabdian terakhir seorang Ryan Alaska untuk sahabatnya Frans Albar, ia tidak meninggalkan sahabatnya itu mulai dari proses pembersihan mayat Frans di rumah sakit sampai acara duka di rumah besar Deny Sulaiman dan akan segera berlanjut dalam proses pemakaman. Kabar yang menggemparkan kalangan bisnis dan semua orang benar-benar terkejut dan tidak menduga.
Semua keluarga dalam buronan wartawan, termasuk Ryan Alaska, Ryan meminta bantuan kepada Crush untuk mengamankan ketat di rumah ibunya, agar para awak media dan siapapun tidak diizinkan untuk masuk ke area komplek perumahan tempat tinggal Khaliza dan Adinda.
Sementara mayat Vita Ayunda dibawa langsung oleh keluarganya menuju California. Vita sendiri masih memiliki status warga negara asing, kewarganegaraannya di Indonesia dalam pengurusan.
*
Frans meninggalkan orang tuanya lebih dulu, Deny Sulaiman dan Adella Bonanza ibu dari Frans serta satu orang adik lelaki dan satu orang adik perempuan. Mereka hanya terduduk lemas menyambut tamu yang datang memberikan bela sungkawa yang sebesar-besarnya.
Adella hanya bisa menangis meratapi Nasib sang putra, ia begitu membanggakan dan menyayangi anak sulung lelakinya itu, hati seorang ibu yang cukup hancur lebur ketika mendapati sang putra sudah tidak bernyawa dalam bungkusan kain kafan.
*
Proses pemakaman Frans Albar.
"Hiks..hiks..hiks...hiks...!" tangis dalam keluarga dan kerabat.
"Anakku...Anakku...!" ucap Adella masih meraung-raung dihadapan nisan pemakaman Frans yang bertabur bunga. Hati seorang ibu yang belum bisa ikhlas atas kepergian anaknya.
Pemakaman selesai, suasana kembali sepi.
Ryan dengan seragam hitamnya terjongkok lesu di hadapan nisan Frans Albar sambil berkata;
__ADS_1
"Mungkin ini salah satu perjalanan hidupku yang harus aku lalui, setelah kehilangan Seorang Ayah, aku juga harus kehilangan kamu, Frans! Sahabat terbaik ku, meskipun belakangan ini, kita selalu bertengkar, tapi aku tetap menjadikan kamu adalah sahabat terbaikku, dulu aku terlalu mudah untuk membunuh orang lain, tidak pernah perduli seperti apa perasaan keluarga mereka yang ditinggal, hari ini Allah mengajarkan kepadaku, arti sebuah kehilangan nyawa, bahwa kita tidak akan pernah merasakan sebuah perasaan, jika kita tidak mengalaminya.
Harusnya aku tidak meninggalkan kamu sendiri, dalam tekanan batin yang luar biasa, karena aku pernah berada di posisi itu, dihadapkan dengan paksaan, meski hati ini selalu berontak, untungnya aku punya sosok ibu yang hebat, ibu yang tidak pernah mementingkan egonya dan meninggalkanku dalam kondisi terpuruk, mendekap ku dikala aku lumpu!
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mu, Frans!
Bagiku seperti apapun hancurnya kamu, dimata ku;
You are the good Boy & my best Friend.
Selamat jalan kawan, selamat jalan, suatu hari nanti pasti aku sangat merindukan mu dan disitulah aku berharap, bisa bertemu lagi denganmu, meski bukan di dunia ini!" ungkap Ryan mengusap nisan Frans Albar dengan Airmatanya, lalu bangkit dari ziarah kubur itu
*
Terlihat Adella benar-benar marah kepada suaminya, terjadi kegaduhan suami dan isteri di rumah mereka.
"Kematian Frans itu karena kamu, Pah?" bentak keras Adella kepada suaminya.
"Andai saja kamu tidak memaksa Frans menikah dengan Nia, dia pasti tidak akan frustasi seperti ini!" tangis Pilu Adella.
"Itu karena kamu yang terlalu memanjakannya, ia tidak punya mental sebagai pria!" bentak keras Deny kepada sang istri tidak ingin disalahkan.
"Mental apa yang kau bicarakan, Frans itu manusia, bukan hewan, sudah berapa kali ia mengatakan jika dia tidak mencintai Nia, tapi kau terus memaksanya dan kemarin kau mengusirnya, lalu sekarang ia benar-benar pergi untuk selamanya, kau puaskan!" jerit Adella di hadapan wajah Deny.
"Aaargh!" jerit Deny melangkah pergi masuk ke dalam kamar, membanting pintu dengan keras.
"Hiks...hiks...hiks....!" tangis Adella yang tidak ada habisnya.
"Mah!" ucap sang putri menguatkan ibunya keduanya berpelukan.
*
__ADS_1
Sepucuk surat (print) dalam lembaran kertas putih yang dikirimkan dari email Frans kepada Ryan Alaska atau Tan Woong. kertas putih itu di tindih sebuah pulpen terletak di meja kerja Deny Sulaiman.
Deny mengambil surat itu lalu membacanya dengan tangan sedikit bergetar.
"Papa, Maafkanlah aku, aku tidak bisa menjadi apa yang engkau inginkan, tidak bisa mencapai angan-angan dan cita-cita yang engkau dambakan selama ini, aku sudah mencobanya tapi aku sangat lelah, Maafkan aku Papa aku tidak sanggup, aku adalah anak lelaki mu yang gagal di matamu dan sangat memalukan, tidak bisa membanggakan keluarga, aku menerima semua hukuman darimu termasuk tidak menginjak X-Tren lagi, tapi satu pinta ku pah! Cukuplah ini terjadi pada diriku saja, jangan sampai pernah terjadi kepada adik-adikku lagi, tolong berikan mereka kebebasan hati, kebebasan untuk bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Aku sangat menyayangi kalian, sungguh sangat menyayangi kalian, bahkan lebih dari diriku yang tidak berarti ini!"
Tangan Deny semakin bergetar, ia buru-buru membuka kacamatanya, airmata itu bercucuran bagai hujan membasahi bumi, ia pun menjerit sekuat tenaga;
"Aaaaaaaaaaaaaaaarg!" teriak keras Deny kesal dengan dirinya.
"Hiks....hiks...hiks...menangis sesenggukan , hati yang sakit, penuh penyesalan setelah menyadari ternyata anaknya benar -benar pergi untuk selama-lamanya.
***
Sementara keluarga Aditama juga dalam kekacauan yang tidak terhingga, pasalnya sang putri harus berada di sebuah kurungan tersendiri (isolasi) Dokter kejiwaan memvonis dirinya cukup berbahaya bagi manusia, perlu ada penanganan khusus untuk masa penyembuhan tidak tau sampai berapa lama.
"Dokter apakah anak saya bisa sembuh?" tangis Anggita yang cukup dalam menusuk hati.
"Kita akan usahakan dengan berbagai macam terapi!"
"Baiklah dok, setelah proses hukumannya selesai, kita akan langsung membawanya ke luar negeri, dimanapun pengobatan tercanggih kami akan jalani!" ucap Anggita yang terus menepis Airmatanya.
*
Setelah kejadian itu, Adinda masih tampak murung dan sedih, Ryan menyentuh tangan halus Adinda.
"Sayang, aku tau kau pasti merasa bersalah dengan hal ini!"
Adinda langsung memeluk Ryan.
"Aku takut...hiks...hiks...takut sekali!" tangis Adinda dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa menyalahkan mu, semua ini memangnya maunya Frans, bukan salah kamu!" ucap lembut Ryan mengelus manja rambut halus sang istri.