
Obrolan Adinda dengan Gunawan akhirnya berhenti dengan suara panggilan dari Ryan Alaska.
"Perasaan baru keluar sebentar saja, Ryan langsung menelpon! Dari tadi telponnya ditungguin tapi enggak nelpon-nelpon!" gumam sebel Adinda sedikit takut menerima panggilan dari Ryan.
Adinda memang sengaja tidak memberitahu Ryan tentang pertemuannya bersama dr Gunawan, karena ia yakin Ryan tidak akan memberikan izin, apalagi tujuan Adinda ingin berkonsultasi dengan dr Gunawan tentang masalah pencegahan kehamilan, Ryan sangat ingin Adinda hamil sedangkan Adinda sendiri belum siap untuk mengandung lagi, mereka adalah pasangan yang cukup unik dan memang selalu bertentangan sejak awal.
"Mas sebentar yah!" pinta Adinda ingin menerima panggilan Ryan, ia sedikit menjauh dari meja makan itu.
*
"Assalamualaikum!"
"Wa'alakumsalam!"
"Kenapa lama sekali?" ucap Ryan yang begitu memperhatikan fokus wajah istri dan situasi di belakangnya.
"kamu ada dimana?" langsung bertanya.
"Hem, aku...aku keluar sebentar!" jawab ragu Adinda.
"Keluar? Dimana?" bertanya lagi.
("Aduh kasih tau enggak yah!" Adinda mulai panik)
"Bersama dr Gunawan di Resto Xx yang tidak jauh dari rumah Mama!"
"Apah!" sangking kagetnya, Wajah Ryan berubah jelek.
Bersama dr Gunawan di Resto Xx yang tidak jauh dari rumah Mama!" kembali mengulang, karena Ryan rada peka.
"Kencan?" tebak Ryan.
"Bukan!"
(Penyakit jatuh cinta yang sedang menyerang Ryan diantaranya;
1 Cemburuan, berfikir negatif saat pasangan dengan dengan pria lain.
2 Mendadak posesif
3 Minta diperhatikan terus
4 Suka salah tingkah
5 Ditinggal sebentar langsung panik
6 Sadap WhatsApp ponsel Adinda
7 kalau sudah bucin, bicara enggak nyambung, pendengaran sedikit peka
8 banyak pertanyaan
9 Mager dari ranjang
10 Mood tidak tentu arah)
"Bukan? lalu apa?" ucap Ryan
__ADS_1
"Jangan marah dulu Ryan, dr Gunawan sedang melakukan seminar di rumah sakit Xx di sekitar rumah dan kami janjian untuk bertemu di Resto sebelahnya!"
"Janjian?"
"Jangan salah paham dulu, aku hanya ingin bertanya tentang masalah rahimku saja, tidak ada yang lain?" ucap Adinda dalam nada memaksa, agar Ryan percaya kepadanya.
"Tidak ada yang lain? Tapi kau menemuinya sendiri di luar, bukan di klinik, maksudnya apa?" introgasi Ryan mulai sewot.
Adinda terdiam.
"Adinda, apakah di dunia ini, dokter kandungan hanyalah Gunawan?"
"Tapi dia dr yang sejak dari awal sudah mengenal riwayat kondisi rahimku!" ucap Adinda dalam wajah memelas.
Ryan tersenyum sinis.
"Ryan aku mohon, ini hanya...!"
"Oke, kamu jangan kemana-mana sebelum aku datang kesana!"
"Trup!" Ryan langsung menutup ponselnya.
*
Siang itu Ryan menelpon Adinda, bermaksud ingin menyuruhnya bersiap-siap, mengajak sang istri makan malam di luar bersama sang Bunda.
Khaliza memperhatikan raut kusut wajah Ryan setelah kembali dari apotik saat di mobil.
"Apa kata Adinda!" Khaliza mengetahui jika Ryan sedang menelpon istrinya.
"Makan malamnya entar aja yah Mah, Adinda sedang tidak di rumah, ia makan di luar bersama dr Gunawan!" Mood Ryan langsung berubah buruk dan masam.
"Kamu cemburu?"
"Entahlah!" ucap berat Ryan dalam tarikan nafas kelelahan, langsung melajukan mobilnya.
("Alhamdulillah, jika Ryan memang sudah jatuh cinta dengan Adinda, karena cemburu tandanya cinta!" senyum batin sang bunda)
***
"Maaf yah Mas, sedikit lama!" ucap Adinda kepada dr Gunawan.
"Tidak apa-apa Adinda!" senyum manis Gunawan.
"Apa kamu belum siap untuk hamil?" tanyanya.
Adinda mengangguk, menunduk.
"Coba kamu bicarakan baik-baik kepada Ryan, tapi Adinda, menurut saya, sejatinya, tidak semua perempuan itu mendapatkan, kesempatan, kepercayaan titipan anak dari Tuhan, banyak sekali dari mereka yang saya temui, sudah menghabiskan milyaran rupiah hanya untuk mendapatkan satu orang anak saja, tapi mereka gagal, tetap tidak bisa karena memang, Tuhan tidak mengizinkannya, Jadi ketika Tuhan menitipkan sebuah nyawa di dalam rahim kamu, maka terimalah dia, bahagialah akan kehadirannya. Jangan mengeluh, jangan berpikir terlalu jauh setelah itu, apakah kita sanggup membesarkannya atau tidak, apakah nantinya kita hanya berjuang sendiri atau tidak, semuanya sudah diatur dan Tuhan tidak akan pernah salah pilih memberikan titipannya kepada makhluknya."
kata-kata dr Gunawan itu sedikit mampu menenangkan kepanikan diri Adinda yang begitu trauma, takut mengalami fase perjalanan cintanya mirip seperti bersama Frans.
"Benar si Mas!"
Tidak berapa lama Gunawan menerima panggilan dari seseorang.
"Sebaiknya saya permisi dulu yah, saya tidak bisa lama-lama disini!"
__ADS_1
"Ouh, terima kasih banyak yah Dok sudah berkenan meluangkan waktunya buat saya!"
"Sama-sama, semoga kamu bahagia selalu!"
"Dokter juga begitu!" jawab senang Adinda dengan senyuman yang polos.
Gunawan akhirnya meninggalkan Adinda sendiri di meja itu, sementara Adinda harus tetap menunggu kedatangan Ryan.
*
Kondisi Frans yang masih saja sering melamun. Tidak bisa dipungkiri ia masih mengingat tentang sosok Adinda yang memang wanita itulah yang ada di dalam hatinya, meski nafsunya terpuaskan oleh wanita lain tetapi Adinda tetap menjadi cinta pertama di hatinya, perasaan yang tidak bisa mati meski ia sudah berusaha membunuhnya, bahkan Frans masih terpikir untuk menarik kembali sosok Adinda dari Ryan Alaska.
"Harusnya kisah ini tidak seperti ini, aku sungguh menyesal, harusnya aku tidak menikahkannya kepada siapapun," batin penyesalan Frans yang begitu kecewa dengan Ryan yang sudah berjanji tidak akan mencintai Adinda namun ia mengingkari.
Sore menjelang Malam itu, kebetulan Frans ada di lokasi resto tempat Adinda dan Gunawan bertemu, ia baru saja selesai bertemu dengan seorang teman bisnisnya. Berada di sekitar rumah Mama Ryan, membuat Frans langsung teringat kepada Adinda, ia berniat ingin melewati rumah Ryan, namun betapa terkejutnya pria itu saat mendapati Adinda yang tengah duduk sendiri menunggu kedatangan Ryan, bahkan ia merasa tidak percaya, seperti pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Apa dia bersama Ryan!" gumam Frans.
Frans memutar arah langkahnya langsung mendapatkan posisi duduk Adinda, dari kejauhan ia sudah tersenyum rindu sampai jantungnya berdetak, karena selama ini jika ingin bertemu Adinda harus dalam dampingan Ryan Alaska.
Frans langsung mengambil posisi duduk di hadapan Adinda.
"Adinda!" ucap lembut manis Frans.
"Hah!"😳 detak Jantung Adinda hampir saja berhenti, ia begitu terkejut, mengapa menunggu Ryan Justru Frans lah yang muncul.
Sontak Adinda bangkit dan lari ketakutan, menjauhi Frans.
"Adinda tunggu!" ucap Frans langkahnya terlalu cepat dan menarik tangan Adinda.
"Frans lepasin aku, jangan sentuh aku!" hentak Adinda yang begitu membenci pria itu.
"Sebentar saja, please sebentar saja, aku mohon🙏" rengek Frans.
Sejak dari itu langkah Frans juga dalam pengawasan seseorang utusan Nia Devira.
"Aku hanya ingin minta maaf!" ucap Frans berlutut di hadapan Adinda.
Adinda tetap berlari menuju parkiran, ia taku Ryan akan melihatnya bersama Frans.
"Adinda!" tetap nekat mengejar wanita pujaan hatinya itu hingga ke area parkiran yang sepi.
langkah Adinda begitu mudah dalam kejaran Frans.
"Jangan ganggu aku Frans, Aku mohon !" jerit Adinda ketakutan.
"Adinda aku hanya ingin minta maaf? Kau tidak pernah memberi kesempatan kepadaku untuk kita bisa bertemu berdua!"
Adinda kembali melangkah pergi melewati Frans, namun pria itu menarik kuat tangan Adinda hingga menyentuh dada pria itu, Frans begitu gregetan kangen tidak tertahankan sehingga tidak bisa mengontrol dirinya, ia langsung memeluk Adinda dan memegang kepala wanita itu sambil berkata;
"Aku minta maaf, aku minta maaf, aku tau aku ini salah, aku memang salah, aku pria bajingan, kau layak membenciku, hanya itu yang bisa aku katakan!" dalam mata berkaca-kaca Frans yang hampir menangis, kata-kata dalam perasaan yang langsung keluar dari hati, sudah lama sekali Frans ingin meminta maaf secara langsung kepada Adinda namun Nia dan Ryan selalu menghalanginya dan tidak memiliki kesempatan. Ryan langsung menawarkan genjatan senjata jika Frans ingin bertemu berdua kepada Adinda.
Adinda berusaha berontak.
"Please sebentar saja Adinda, sebentar saja mungkin ini yang terakhir kalinya," kata-kata Frans yang keluar begitu saja.
Adinda terbengong.
__ADS_1
Tidak terduga Ryan muncul dari belakang dan melihat tindakan tidak terpuji mereka.
.