Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 91 - Tidak Terduga.


__ADS_3

Nia Devira, menangis terisak-isak dengan nasib dirinya;


"Pah, Mah, Nia salah apa? Kenapa Frans selalu saja menyelingkuhi Nia! Hiks...hiks...! Ini sakit sekali!" Isak tangis Nia dalam pelukan sang Bunda, rasa sakit itu semakin parah, ketika Nia sudah mengetahui hubungan terlarang Frans dengan sahabatnya sendiri.


"Nia, bersabarlah Nak!"


"Sampai kapan Mah, sampai kapan?"


"Kan Mama sudah peringatkan dari awal, jika Frans itu tidak pernah mencintai kamu, kamu saja yang terlalu keras kepala!"


Nia histeris menangis berlari ke kamarnya lalu mengunci pintu, di dalam hati Nia, ia tidak pernah berhenti mencintai Frans Albar dan belum ingin bercerai dari pria itu, tetapi hatinya lelah dengan Frans yang terus berselingkuh dengan wanita lain bahkan dengan sahabatnya sendiri.


*


Nia teringat dengan pertengkaran hebatnya bersama Frans, sebelum Frans meninggalkan rumah mereka.


"Aku tidak pernah mencintai kamu Nia, aku hanya mencintai Adinda, aku mau menikahi kamu hanya karena aku ingin mendapatkan 50% bagian saham Aditama untuk X-Tren," ucap Frans terang-terangan tidak ada lagi yang disembunyikan.


"Kau memang bajingan Frans?"


"Iyah, aku memang bajingan dan semakin bajingan karena kamu, sejak Aditama tidak memberikan apa-apa kepadaku dan satu lagi, kau sudah membunuh anak yang ada di dalam kandungan Adinda, aku tidak bisa memaafkannya, kau tidak tau seberapa besar perjuanganku untuk menyelamatkan kandungan Adinda sampai aku harus rela menikahkannya dengan Ryan!" bentak keras Frans kepada Nia.


"Ternyata kau memang pria gila!" bentak balik Nia.


"Ahahahaha, aku memang Gila dan kau lebih gila karena begitu ingin menikahi pria gila seperti aku, aku sudah katakan aku tidak ingin menikahi kamu, tapi kalian selalu memaksaku dengan iming-iming kebohongan palsu!"


"Itu karena kamu tidak setia dengan ku sehingga Papa meragukannya, semua salah kamu Frans?"


"Setia? Memangnya kau bisa setia kepadaku, sejak dulu, kau lebih selalu memilih clubing dengan teman-teman mu daripada bersamaku. Jangan paksa aku setia jika tubuhmu juga sering digerogoti oleh pria lain!"


*


Nia kembali menangis dalam jatuhan air yang membasahi tubuhnya.


"Kenapa kau tidak pernah mengerti Frans, sejujurnya aku sungguh sangat mencintaimu, aku berusaha setia kepadamu, kau yang selalu berselingkuh, sehingga Papa tidak lagi mempercayaimu dan aku tidak paham apa kelebihan perempuan yang bernama Adinda itu dan sekarang kau tega tidur dengan Vita, kau benar-benar kejam, Frans!" Isak tangis Nia terus menerus di bawah jatuhan air, akhir-akhir ini, putri Aditama itu sering pusing dan lemas.


*


Sementara Ryan dan Adinda tengah berbahagia, pria itu tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan sang isteri dari dokter wanita, spesial kandungan yang memang sudah Ryan persiapkan untuk Adinda.


Setelah selesai, Dokter kandungan itu segera berbicara kepada Ryan dan Adinda.


"Untuk Nona Adinda Aira, 80% masih dalam tahap kemungkinan positif hamil?"


"Mengapa masih dalam tahap kemungkinan? Apa alat kalian tidak bisa mendeteksinya?" ucap jutek Ryan.


Sontak tangan Adinda mencubit kecil paha sang suami.


"Aduh?" ucap kaget Ryan. Adinda menunjukkan wajah marahnya.

__ADS_1


Dokter itu hanya tersenyum, lalu berkata;


"Mas Ryan, semua berawal dari segumpal kecil darah hingga berlanjut ke proses berikutnya, usia kandungan itu memiliki proses dan kita harus menunggu, titik gumpalan yang ada di rahim Nona Adinda masih terlalu kecil, jadi kita belum bisa menentukan 100%, tapi Insya Allah saya yakin itu merupakan tanda kehamilan. Seminggu kemudian coba kita lakukan pengecekan kembali?" senyum sang Dokter.


"Terima kasih yah Dok!" ucap cepat Adinda menarik Ryan keluar.


"Haduh, percuma saja jadi dokter kandungan jika tidak mengetahui orang hamil atau tidak?"


celoteh Ryan menuju mobil.


"Makanya sabar, aku kan sudah bilang belum waktunya!" ucap Adinda.


"Dua hari lagi kita akan berangkat ke Singapura!" ucap Ryan.


"Akhirnya?" senyum Adinda.


"Tapi aku masih sangat ragu dan belum percaya apakah Lim benar-benar mengembalikan hak waris Papa kepadaku?"


"Tapi kan semua sudah diurus?"


"Entahlah, aku masih ragu saja!"


keduanya terdiam.


"Besok, aku ingin lihat Ayahku, boleh yah?" pinta lembut Adinda.


Ryan tersenyum manis sambil mengelus rambut lembut Adinda.


Keduanya berpelukan manja di dalam mobil.


*


Siang menjelang sore, Ryan pergi membawa Adinda ke pantai, me time sejenak, selama ini Ryan hanya menanamkan perilaku buruknya kepada Adinda hingga wanita itu sedikit mengalami rasa trauma yang berat, Ryan berjanji mulai dari kehamilan Adinda, ia akan terus meluangkan waktu me timenya bersama keluarga, berusaha menjadi suami dan calon Ayah yang baik, meninggalkan segala langkah buruk yang selama ini ia tempuh.


Keduanya sepakat untuk tidak menoleh kebelakang lagi dengan masa lalu, terus berjalan mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka juga tidak ingin membahas tentang kasus perceraian Frans dan Nia, serta perselingkuhan Frans dengan Vita.



Keduanya santai berjalan menyambut sore hari, Ryan menyingkirkan manja untaian rambut Adinda yang menutupi wajah cantiknya, keduanya saling menatap.


"Sejak dari dulu, kamu sudah menyukaiku Kan?" tuduh centil Adinda.


"Enggak Ah!" ucap Ryan malu-malu.


Keduanya tampak begitu bahagia, Ryan dengan jahilnya menggendong Adinda berputar - putar bak sedang berakting dalam filim Bollywood.


"Ryaaaan!" jerit bahagia Adinda.


*

__ADS_1


Sebelum pulang, Adinda sempat menemani Ryan untuk sejenak berhenti di sebuah kantor perusahaan tekstil sejenak.


"Kamu ikut enggak, aku di mobil saja yah!" pinta Adinda.


"Jangan lupa kunci pintunya!"


"Iyah sayang!" senyum bahagia Adinda membuat Ryan bahagia.


(Ciciye 🥰🥰🥰 yang udah sayang-sayangan)


*


Ryan sempat bertemu dengan beberapa staf manager tekstil di bawah kendalinya.


Tidak berapa lama ponsel pria itu berbunyi, ia sempat mengabaikannya hingga akhirnya Ryan mencari lokasi yang aman untuk menelpon.


"Tlililit!"


"Frans?" ucap Ryan sendikit ragu menerimanya.


Frans yang sudah banyak menghabiskan hari-hari galaunya dengan minuman beralkohol. Siang menjelang sore itu, entah mengapa ia ingin menelepon Ryan.


"Ada apa?" ucap datar Ryan.


"Sebagai sahabat apakah kau mau memaafkan aku?"


Ryan terdiam!


"Apa yang bisa aku lakukan selain menerima maaf kamu," ucap Ryan.


"Terima kasih!" jawab Frans


"Ryan kau harus tau jika Adinda sedang dalam incaran pasukan Aditama!"


"Apa!"


"Vita sudah ditahan oleh Nia di sebuah gudang, aku takut Adinda juga sebagai incarannya!" ucap Frans.


Tanpa menjawab, Ryan berlari kencang ke arah mobilnya, ia semakin panik ketika tidak menemuka Adinda.


"Prak!" seseorang memukul bagian kepala Ryan hingga pria itu tersungkur.


"Ryan, apa yang terjadi!" panggil Frans dari telponnya.


"Adinda diculik jerit Ryan" ponselnya terbuang dan pasukan Aditama menginjak ponsel Ryan sampai retak.


Ryan menahan kesakitan berusaha mengejar mobil yang membawa Adinda. Ia sempat meminta bantuan kepada petugas kemananan di sana, namun mobil membawa Adinda sudah melaju sangat kencang.


"Sial!" hari itu Ryan tidak membawa persiapan pistol di sakunya, padahal ia sering membawanya, paling tidak meletakkannya di mobil. Namun hari itu ia tampak lengah karena langkahnya hanya membawa Adinda menuju dokter kandungan.

__ADS_1


Ponselnya tampak retak parah, Ryan masuk ke mobilnya lalu mengejar ketertinggalannya.


Frans juga bergerak cepat, ketika apa yang ia khawatir terjadi, ia tidak ingin lagi Adinda menjadi korban dari pertikaiannya dengan Nia Devira.


__ADS_2