
Setelah mengubah penampilannya menjadi pria eksklusif, Ryan berjalan santai menuju meja kerja sambil membawa jasnya dan menyelimutkannya di kursi.
"Sarapan sudah siap loh!" seru Adinda.
Ryan tetap terlihat dingin dan cuek, hanya fokus menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke kantor, sebelum memakai jas dan membawa peralatan kantor, Ryan bergegas melangkah keluar untuk sarapan sejenak, kemudian pria itu melangkah santai melewati posisi Adinda, ia menganggap keberadaan wanita itu seperti tidak ada disana. Namun dengan cepat Adinda menarik tangan Ryan dan mendorong tubuh kekar itu menuju cermin.
"Kamu mau apa lagi sih?" hardik kecil Ryan.
"Lihat di cermin, penampilan kamu sudah ok, tapi mata panda mu🐼! Uuh... sangat jelek, merusak penampilan dari atas sampai bawah!" komentar Adinda.
"Itu semua gara-gara kamu!" jawab kesal Ryan.
"Gara-gara aku?" Adinda tidak terima disalahkan.
"Sudahlah Adinda, aku capek bertengkar terus sama kamu, hari ini aku banyak schedule yang harus fokus aku kerjakan, tolong jangan ganggu aku!"
Ryan melangkah pergi.
"Sebab itu lah aku ingin bertanggung jawab untuk menutup mata panda mu yang jelek itu?" celetuk Adinda.
"Benar juga yah, hari ini kan aku ada meeting besar dengan X-Tren!" gumam Ryan, ia memberhentikan langkahnya dan tak berapa lama Adinda melewati pria itu dengan cuek sambil berkata;
"Yah sudah, kalau tidak mau?" dengan cepat tangan Ryan menangkap lengan Adinda.
"Ok, lakukanlah!" ucap masam Ryan.
"Em...!" Adinda bergegas mengambil koper make up nya.
"Duduk!" perintah Adinda.
"Sudahlah berdiri saja?"
"leherku sakit, kamu terlalu tinggi!"
"Hem!" Ryan akhirnya mengalah dan duduk di kasur tepat di hadapan Adinda, dengan cepat Adinda merampas dagu Ryan sampai membuat pria itu terkejut, Ryan sedikit salah tingkah ketika Adinda fokus menatap wajahnya.
"Jangan tatap mataku?" peringatan Ryan yang terlalu pede.
"Aku tidak menatapnya!" bantah Adinda.
Tangan lentik itu mulai lihai melukis serta meratakan mata panda Ryan dengan foundation natural sehingga efek gelap dan cekung di area mata Ryan tertutupi dengan sempurna, Adinda juga memberikan polesan bedak tipis untuk meratakannya, pekerjaan yang cukup cepat dan simpel.
"Tidak perlu pakai lipstik, aku tidak suka!" ungkap Ryan bangkit saat Adinda sudah bersiap-siap memberikan polesan warna bibir natural kepada Ryan.
Kemudian Ryan memastikan wajahnya di depan cermin sambil berkata dalam hati kecilnya;
"kerja yang cukup bagus!" kemudian Ryan melangkah berjalan cuek keluar dari kamar.
"Hemm, bukannya ngucapin terima kasih!" gumam sebel Adinda.
Di meja makan sudah terhidang Roti selai strawberry dan coklat dalam hiasan wajah tersenyum yang dicetak gokil oleh Adinda, serta segelas kopi segar buatannya, khusus untuk sarapan Ryan Alaska pagi itu.
Adinda membawakan jas dan tas berisi peralatan kantor Ryan dari kamarnya, lalu duduk menemani sang suami.
"Itu gambar wajah kamu yang jelek!" senyum Adinda.
Tanpa kata atau malas ribut, pria itu meratakan selai yang menjadi lukisan wajah dan kembali menambahnya.
__ADS_1
Tanpa kata Adinda juga ikut bersama sarapan bersama Ryan.
"Enak yah...Hehehe!" cengengesan Adinda memecah suasana.
"Biasa aja!" jawab jutek Ryan dengan cepat memakan roti kemudian, menyeruput kopi.
Mata Ryan sedikit terbelalak takjub saat mengetahui rasa kopi itu begitu enak dalam racikan yang pas.
"Kenapa? tanya Adinda ternyata memperhatikan Ryan.
Ryan terlihat diam kembali bertingkah normal.
"Tidak enak yah?" tanya Adinda penasaran.
Ryan reflek mengangguk menyatakan iya
"Coba Aku rasa!" Adinda ingin memastikan.
"No...No...No!" Aku tidak ada waktu lagi menunggumu untuk meracik kopi yang baru, Ryan dengan cepat menyeruput hangat kopi itu hingga habis.
Adinda menatap bengong😮 Ryan sambil berpikir🤔
Tidak berapa lama Khaliza muncul dari hadapan mereka.
"Ryan, apakah hari ini kamu sudah mulai bekerja Nak!"
"Iyah Mah!" jawab Ryan bersiap-siap memakai jasnya dengan rapi.
"Mama doakan semoga semuanya lancar yah!" ucap Khaliza dan Ryan langsung memeluk haru dan mencium tangan ibunya.
"Doakan Ryan yah Mah!"
Ryan yang mulai panik karena hampir telat lupa mengambil sepatunya di dalam kamar, namun dengan sigap Adinda sudah menyiapkannya.
"Ini!"
Ryan merampas sepatunya, namun Adinda menjauhkannya.
"Biar aku pakaikan!" ucap Adinda.
"Aduuh, kamu jangan lebay deh, aku bukan Anak TK!" hardik Ryan berusaha merebut sepatunya dari Adinda.
"Ryaaaan, memangnya kenapa kalau Adinda ingin memakaikan sepatumu, Mama rasa tidak ada yang salah, ini hari pertama kamu bekerja kan, ridho istri itu adalah kunci utama langkah kami, karena kamu sudah berumah tangga!"
"Huuuft!" batin Ryan hanya bisa pasrah.
"Ayolah sayang, hayo sini!" Adinda menggandeng Ryan menuju kursi kecil untuk bersiap memakaikan sepatu kepada sang suami, sedangkan Khaliza fokus dengan sarapan rotinya.
Adinda mulai usil menggelitik i kecil kaki Ryan, hingga pria itu merasa geli namun kembali membuat raut wajahnya memerah marah.
"Adinda, aku ini sudah terlambat!" protes Ryan.
"Iyaaaa!"
"Kamu tu lebai, norak!" hardik pelan Ryan kepada Adinda agar ibunya tidak mendengar.
"Biarin!" jawab Adinda dalam wajah masa bodohnya, ia suka melihat Ryan sewot dan marah-marah sebagai misinya yang terus menggoda Ryan dengan kejahilannya.
"Dan kamu berpikir tingkah lebaimu ini akan membuat aku jatuh cinta kepadamu, jangan harap!" Ryan yang benar-benar tidak terima dengan perlakuan manja Adinda, ia cukup kesal dan tidak ingin terjerat perasaan dengan wanita itu.
__ADS_1
"Nanti pulang kerja, jangan lupa beli pisang bakar yah, beb, ini permintaan si jabang bayi Lo!" ucap genit Adinda semakin membuat Ryan sebel, wanita itu tidak pernah jera untuk terus menggoda Ryan.
"Minta saja dengan Frans!" Ryan berjalan cepat dengan wajah kesal, masam dan jutek menuju garasi mobilnya.
"Tapi kan sekarang kamu ayahnya?" rengek manja Adinda.
Sampai di depan pintu, ia lupa membawa kunci mobil.
"Aarrrghh kuncinya di atas meja kerja lagi?" keluh Ryan dengan cepat berbalik. Namun Adinda sudah memegang kunci mobil Ryan dan menggoyang-goyangkan kunci itu tepat di hadapan wajah sang suami.
"Aku mantan sekretaris, jadi tau apa saja kebutuhan kamu!"
"Keahlian dalam memikat pria maksudmu? aku pikir hanya pria-pria yang pemikirannya sedikit lemot yang akan tertarik!" ucap tajam Ryan merampas kunci itu dan langsung bergerak masuk ke dalam mobil lanjut menghidupkan mesin mobilnya. Ryan sejenak memanaskan mobil, gerbang sudah terlihat terbuka oleh Adinda sejak pagi-pagi.
Adinda berjalan menghampiri dan menepuk jendela mobil Ryan.
"Sudah dipanasi, lanjut saja!" ucap Adinda dengan gaya premannya.
Ryan dengan wajah juteknya bergerak cepat keluar dari garasi itu.
"Hahahaha, Lihat saja Ryan, aku akan godain kamu setiap hari, sampai kamu puyeng (mouddaar)" tawa puas Adinda dengan kejahilannya.
Adinda kembali ke meja makan dan menemani ibu mertuanya itu, ia sudah tidak lagi disibukkan dengan aktifitas pagi menuju kantor.
*
Ryan melaju cepat meski sesekali ia terhimpit kemacetan. Pagi itu Ryan menuju kantor X-Tren pusat dimana mereka akan melakukan meeting besar dengan para petinggi X-Tren bekerjasama dengan Aditama Group dalam tujuan mengadakan kerjasama terikat, Frans juga sudah siap menunggu kedatangan Ryan.
"Apa mereka tadi malam sudah melakukan malam pertama?" terlintas pikiran mesum Frans terhadap Ryan dan Adinda.
"Kepo"
"Kepo"
"kepo"
Frans si Kepo....
*
*
*
Pengumuman pemenang lomba kategori komentar terbaik adalah jatuh pada;
Selamat yah untuk pemenang terpilih, kirimkan alamat lengkap kalian melalui DM author di Sarahmai_07
Penilaian ini berdasarkan komentar yang paling tepat di setiap cerita per Babnya🤗
Mohon maaf yang belum terpilih jangan berkecil hati lain nanti kita buat lagi, Jujur Author sedikit kesulitan memilih pemenang karena semua komentarnya the best dan gokil.
Terima kasih, jangan lupa terus dukung author dengan like, komen, vote, gift, share meskipun tidak ada gift pemberiannya yah.
salam cinta💋💋💗💗💗 dari Sarah Mai.
__ADS_1