
Pagi hari di kota A...
''Umi pulangnya agak sorean aja ya, lagian kan Salwa sekolah. Dari pada di rumah sendiri. disini dulu nanti minta perawat yang biasa untuk mengantar jalan jalan keluar bangsal. Tapi ingat pakai kursi roda. Nanti Kia yang urus berkas kepulanganya.'' Ceramah Hizkia setelah menyuapi Najwa sarapan.
Sebenarnya dia sudah tidak betah mencium bau rumah sakit mau sebagus apa kamarnya, mau sebaik apa pelayaannya rumah tetaplah lebih nyaman. Tapi dia tidak mau merepotkan. Dia faham maksud Hizkia selain tidak membiarkan dia sendiri di rumah juga supaya, Hizkia bisa tetap bekerja dan mengantar kepulangan Najwa. '' iya, tenang saja. Urus dulu pekerjaanmu. Umi tidak terburu-buru.'' jawab Najwa.
Setelah Hizkia keluar perawat yang biasanya masuk. Najwa sudah tidak terjerat selang infus, sebenarnya dia sudah bisa makan dan mandi sendiri. Tapi Hizkia memperlakukanya seperti bayi.
'' Sus, terimakasih tapi saya bissa sendiri nggak usah diladeni. Toh saya sudah sembuh. Suster bisa mengerjakan yang lain'' kata Najwa sambil tersenyum.
''Tidak apa apa bu Najwa ini tugas saya.'' jawab suster tersebut.
Najwa tidak memaksa dia tidak mau mempesulit orang lain. Najwa mengisi waktunya dengan nonton tv dan tidur. untuk pertama kalinya selama di rumah sakit ini Hizkia tidak menghampirinya di jam makan siang. Setelah hampir pukul satu Salwa datang, masih dengan seragam lengkap.
''Umi jadi pulang hari ini kan?'' tanyanya.
''jadi sayang, nunggu kak Kia bentar.'' jawab Najwa.
'' Kenapa harus nunggu kak Kia, kata umi kita sudah banyak menyusahkanya? Apa nggak lebih baik kita pulang sendiri?'' tanya Najwa yang merasa keberatan terlalu banyak hutang budi pada Hizkia.
'' Bukan begitu sayang, bukanya selama disini nak Hizkia yang menanggung biaya pengobatan ibu? dia juga sudah merawat ibu dengan baik. Tadi dia meminta ibu menunggunya, masak menunggunya saja tidak bisa. Apala0gi kalau kita pulang begitu saja, seperti orang yang sudah ditolong malah kabur tanpa terimakasih. Kan nggak bagus juga.'' terang Najwa
__ADS_1
''ooooh'' ''umi nanti malam kan mau vidio call kak Celyn, nih Salwa udach nyisain uang buat beli kuota. Tapi kita nggak bisa beli kue...''ucap Salwa dengan wajah sendunya.
Najwa mengusap kepala Salwa yang berhijab. ''Doa dan semangat lebih ia butuhkan nak...''
Salwa membantu Najwa mengumpulkan barang yang sudah Najwa kemas tadi, dan menaruhnya di dekat pintu. Sejam kemudian Hizkia datang bersama seseorang.
''asalamu alaikum'' Hizkia
''Waalaikum salam'' Najwa dan Salwa.
melihat barang barang sudah di kemas bahkan disiapkan di dekat pintu Hizkia meminta sang supir untuk membawanya ke mobil. Hampir bersamaan dengan suster yang tadi membawa kursi roda. Najwa sedikit terkejut dan berkata ''nak umi kan sudah sehat, kayaknya ngak perlu kursi roda. Dengan berjalan kan bisa merenggangkan sendi yang kaku'' alasan Najwa.
''umi yakin?'' tanya Hizkia yang di angguki Najwa. ''Baik kalau begitu jaga umi saya jangan sampai jatuh.'' ucap Hizkia pada sang perawat. Najwa hanya terseyum dan geleng geleng kepala karna sikap Hizkia.
Sontak Najwa dan Salwa tertegun. 'menmani di rumah' bukan kamar yang mereka khawatirkan tapi dengan keadaan mereka sekarang mereka tidak bisa menyjikan makanan yang layak bagi tamu. ''Nak jangan seperti ini umi mohon. Lagian besok hari minggu Salwa juga nggak sekolah. Umi tidak akan sendirian. (pandanganya beralih ke perawat) sust, maaf bukanya saya tidak suka ditemani suster, apalagi suster sangat sabar, ramah dan telaten. Tapi Allah tidak suka hal yang berlebihan. Saya bukan anak kecil yang tidak bisa menjaga diri. Lagi pula saya sudah sembuh. Ada Anak saya juga menemani saya. Saya rasa ini berlebihan. Maaf ya sus...''
Karna Najwa bersikeras tidak mau membawa perawat itu pulang akhinya Hizkia mengalah. mobil mereka pun melaju meninggalkan rumah sakit. Tapi Salwa dan Najwa menyadari kalau mobil itu tidak mengarah ke alamat yang mereka kasih ke supir tadi. Terbesit rasa khawatir dari pikiran Salwa, bagaimanapun mereka baru kenal beberapa hari. Salwa bertanya '' kak, kita mau ke mana? apa kita salah jalan? ini kan menuju pusat kota....''
Hizkia di samping kursi kemudi tertawa '' gadis, jangan terlalu pintar. kamu akan segera tau setelah memasuki bekas gudang yang gelap (Hizkia memasang wajah jahat) jangan coba coba keluar dari mobil atau teriak. Karna baik kamu maupun umimu adalah tawananku sekarang. Kalian akan ku jadikan kelinci percobaan, dan aku akan mengambil organ kalian. Setelah menjualnya aku bisa mendapatkan uang yang banyak hahahaha''
Najwa awalnya terkejut, tapi ia duduk tepat di belakang Hizkia menangkap ekspresi sang supir yang menahan senyum.
__ADS_1
''Umi'' Salwa benar benar ketakutan danmerapatkan duduknya di dekat uminya seiring mobil itu memaduki pelataran yang cukup luas. Najwa yang melihat label sebuah toko roti di pintu bangunan itu faham maksud Hizkia. Hizkia membuka pintu dan sekali lagi mengingatkan Salwa
''ingat jangan coba coba untuk kabur. atau...'' pandanganya beralih ke supir '' jaga dia lakukan apapun alau mereka mencoba untuk kabur'' Hizkia kembali menampakan wajah sangarnya.
Setelah Hizkia menutup pintu mobil, Salwa kembali merengek ''umi....''.
Tapi Najwa hanya tersenyum mengingat dulu Celyn dan suaminya juga suka sekali menjahili putri sulungya ini. Sifatnya yang polos menjadi sasaran empuk mereka. Melihat reaksi Salwa, Najwa pun tak tega. ''Tenanglah nak dia hanya iseng, betul kan pak?'' Najwa meminta permbenaran dari sang supir.
''Oh sepertinya kalian belum bisnis tuan saya sebenarnya'' jawab sang sopir yang membuat Salwa makin takut. sama dong ... aku jga belum tau sebesar apa bisnis bosku ini batin sang supir.
''ish kalian ini. Bisa bisanya bos sama pekerja berkolaborasi'' sindir Najwa.
Tak sampai sepuluh menit Hizkia kembali dengan sekotak black fores di tangannya. Dia melihat tampang Salwa hampir tertawa tapi ia tahan. Dua puluh menit kemudian mobil mereka memasuki jalan perkampungan yang tak asing bagi Salwa. Salwa baru mengerti kalau ia dikerjai. Hizkia menolehnya sambil tersenyum.
''Kenapa, kurang puas sudah bikin Salwa takut?'' marah Salwa. Hizkia semakin terpingkal pingkal.
Najwa menyadari sikap putrinya kurang sopan menegurnya ''Salwa...''
'' hahhaha sepertinya pulang nanti aku benar benar akan minta mama nglairin adek buat aku. hahaha'' ujar Hizkia.
''hahhh'' Salwa, Najwa dan sang supir terkejut dengan kata kata Hizkia. Bagaimana tidak, 'minta adik?' bahkan seusia Hizkia sudah saatnya di panggil 'papa'.
__ADS_1
tbc