
Dari samping ia memanggilku. Penampilannya sempurna dengan tucedo berkelas. Dia datang untuk menjemputku. Aku pun mengikutinya. Namun aku tercengang karena di sana bukan mobil yang terparkir. Melainkan sebuah kereta kencana yang di tarik seekor kuda. Bagian bawah terbuat dari tembaga. Dan bagian atas entahlah dari kayu atau besi aku tidak tahu pastinya, Tapi yang jelas itu terlapisi emas. 'Orang sepenting apa yang tengah mengunjungi taman ini juga' pikirku.
Aku mencoba menilik sekeliling mungkin mobilnya terparkir di sisi lain. Tapi ternyata dugaanku salah. Kakakku membuka pintu kereta lalu membimbing aku menaiki kereta itu dengan mengulurkan tangannya. Aku pun menurut meskipun ragu. Aku duduk di kursi yang bernuansa putih. Mataku mengamati hiasan pada kereta itu yang semakin mempercantik kereta kencana itu.
Kak Kia duduk di depan. Dan dia mulai memimpin kudanya untuk menarik kereta kencana yang sudah terkait di badan kuda. Keluar dari taman kami melewati sebuah jembatan yang cukup panjang sangat panjang. Di ujung jembatan aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal. Tidak salah lagi dia Chuan ge.
flash back of....
Ting... Suara notifikasi ponsel menyadarkan Celyn dari lamunannya. Tapi ia tidak berniat mempedulikannya. Ia tengah merasa gundah. Bagaimanapun perasaan cintanya pada Chung Chuan masih menguasai hatinya. Tapi Celyn bukan orang yang bodoh yang tidak memahami maksud mimpi apalagi pengakuan Hizkia barusan.
'' Ya Allah... Engkau lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba. Kuatkan hamba, tegarkan hamba karena sebaik-baiknya jalan adalah sirotol mustaqim. Hamba berserah pada takdir-Mu. Bantu hamba untuk ikhlas. Aamiin..." gumam Celyn lalu menutup matanya.
Pagi harinya Celyn bangun pukul lima. Ia meraìh ponselnya. Dan ada sepuluh pesan masuk dari Hizkia. Celyn membuka satu per satu pesanya.
'Dek... di dalam bingkisan tadi ada obat yang bagus untuk kamu saat ini. Kalau nyeri kamu minum semua. Tapi kalau tidak yang naproxen jangan di minum'
'Dek'
'Ada tidak?'
'sudah tidur?'
'Kenapa tidak bales ?'
'Kamu marah karena pengakuanku tadi ya?'
'Jangan marah ya... aku cuma pengen ngungkapin perasaanku. Kamu nggak harus terima juga '
' Aku harap kata-kata ku tidak mempengaruhi hubungan kita '
'Aku minta maaf jangan marah lagi ya '
'Aku bakalan ngilangin perasaanku yang nggak seharusnya tapi jangan marah...'
Celyn membelalak membaca pesan dari Hizkia. Ia sungguh tak menyangka Hizkia akan menganggap ia marah. Jemarinya yang lentik dengan kuku yang tidak terlalu panjang yang diwarnai dengan kutek yang tembus air mengetik pesan balasan untuk Hizkia.
'Maaf kak semalam aku sudah tidur dan ini baru bangun . Terimakasih atas obat nya nanti aku minum '
__ADS_1
Celyn lalu bangkit. Namun sebelum kakinya menapak di lantai ponselnya kembali berbunyi.
Ting...
Celyn pun meraih ponselnya yang tadi sudah dia letakkan di atas nakas.
Hizkia 'Syukurlah aku kira marah '
Celyn membalas 'Tidak... Tidak ada yang harus di salahkan dengan perasaan kadang yang salah cara kita mengambil keputusan '
Hizkia ' Benarkah? Apa ada masukan untuk
ku? Karena aku pernah berusaha memupus perasaan ini tapi semakin aku berusaha melupakan kamu semakin aku mengingat kamu. Aku sudah pernah melakukan shalat istikharah tapi aku semakin yakin akan perasaan ini '
Celyn bergumam "bismillah " Lalu ia mengetik ' Kita ikuti saja alurnya...'
Hizkia ' Apa artinya kamu bersedia menghabiskan sisa waktu kita bersama? jangan jawab dulu. Siang ini aku jemput. Kita makan di luar π€ππ'
Celyn tersenyum 'Baiklah...'
Di sisi lain...
Setelah mengungkap perasaanku pada Celyn, aku merasa sedikit menyesal. Karena Celyn menjadi diam seribu bahasa. Meskipun pada dasarnya dia memang pendiam tak seperti Salwa yang cerewet dan ceria. Tapi kali ini sikapnya memang tidak seperti biasa.
Bayangkan saja dari kami masih di taman belakang sampai aku mengantarnya pulang hanya kata 'terimakasih ' yang keluar dari mulut Celyn. Bahkan sudah berapa kali aku mengirim pesan tidak di baca apalagi di balas. Aku merasa gelisah hingga tengah malam belum bisa tidur. Aku memutuskan untuk bangun dan segera melakukan shalat hajat. Setelah itu aku mengaji hingga kantuk menghampiri barulah aku kembali ke kasurku. Aku berzikir hingga kesadaran ku hilang.
Shalawat Tarhim dari masjid sekitar membangunkan aku dari tidurku. Sebelum bangkit aku meraih ponselku dari atas nakas. Berharap ada balasan. Tapi apa yang aku harapkan menguap begitu saja ketika melihat list percakapan masih sama.
Aku pun bangkit untuk menunaikan kewajibanku. Tapi kali ini aku tidak qiroah . Entahlah rasanya sangat malas sekali. Aku kembali ke kasurku tapi tidak untuk tidur. Hanya duduk menyandar sambil mainin ponsel.
Ting...
Pesan masuk aku sangat senang karena itu pesan dari Celyn. Seketika aku kembali bersemangat.
Celyn ' Maaf semalam aku sudah tidur dan ini baru bangun. Terimakasih atas obatnya nanti aku minum. '
Aku tersenyum membaca pesannya. Aku pun mengetik 'Syukurlah aku kira marah ' lalu mengirim.
__ADS_1
Ting...
Celyn 'Tidak... Tidak ada yang harus di salahkan dengan perasaan kadang yang salah cara kita mengambil keputusan '
Membacanya aku semakin bersemangat ' Benarkah? Apa ada masukan untuk
ku? Karena aku pernah berusaha memupus perasaan ini tapi semakin aku berusaha melupakan kamu semakin aku mengingat kamu. Aku sudah pernah melakukan shalat istikharah tapi aku semakin yakin akan perasaan ini ' balas ku.
Ting...
Celyn ' Kita ikuti saja alurnya...'
Aku langsung terlonjak dan memukul bantal di samping ku. Ingin melompat-lompat juga tapi seketika aku berfikir kok kayak beruangnya Masha. Aku sujud syukur lalu membalas ' Apa artinya kamu bersedia menghabiskan sisa waktu kita bersama? jangan jawab dulu. Siang ini aku jemput. Kita makan di luar π€ππ'.
Ting...
Celyn 'Baiklah...'
Setelah bersiap aku menuruni tangga sambil bernyanyi lirih. Entahlah mungkin karena aku bahagia sekali. Dan aku tidak terbiasa bersiul karena kata kakek 'bersiul termasuk hal yang di benci'
'' Wah ada yang kejatuhan bulan ya?" sindir mamaku.
Aku menoleh dan hanya tersenyum membiarkan mama penuh tanda tanya. Aku kembali mendatarkan wajahku membiarkan mama yang terus memandangi aku penasaran.
'' Apa ada kabar gembira?" tanyanya .
'' Ayo sarapan " kataku sambil menyodorkan nasi goreng dan perkedel ke hadapannya. Aku melihat raut wajahnya yang kesal karena tidak ku jawab. Aku senang bisa menjahili mama.
π₯
Beruntung hari ini tidak ada jadwal operasi. Aku sudah memiliki recana dan semoga berhasil seperti yang aku harapkan. Hanya pemeriksaan berkala dan pasien yang rawat jalan saja tidak mebuatku terlalu sibuk. Jadi aku punya waktu untuk merencanakan sesuatu . Sungguh fokusku lebih ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam tangan ini hadiah dari Celyn. Tapi selain itu aku juga menanti jam makan siang.
π§
sejak lima belas menit lalu aju tidak ada pasien. Aku pun keluar dan bertanya pada perawat di luar " sudah tidak ada pasien ?"
'' Tidak ada dok" jawabnya.
__ADS_1
'' Kalau begitu saya pergi dulu. Dan nanti aku sudah meminta dokter hendra menggantikan saya." jelasku.
tbc