Terkasih Tak Termiliki

Terkasih Tak Termiliki
Penghianatan


__ADS_3

Semua mata melihat melihat heran pada Celyn tapi tidak berani bertanya. Chung Chuan mengenalkan Celyn pada penanggung jawab pekerja di sana.Setelah cukup puas berkeliling Chung Chuan mengajak Celyn Kembali ke bangunan yang tadi. Chung Chuan menarik Celyn masuk ke ruang berukuran 3×5 tersebut. Ternyata di dalamnya seperti tempat kos. Ada tempat tidur susun, di sampingnya ada meja. Dapur dengan kompor listrik dan lemari es mini.


''Masaklah sesuatu untuk kita makan siang. Di dalam lemari es ada beberapa sayuran yang bisa dimasak'' ujar Chung Chuan. Sebelum menghilang kembali untuk bekerja ia mengecup punggung tangan Celyn.


''Budaya di tempat saya berbanding terbalik.'' ucap Celyn sambil tersenyum.


''Maksudnya?''


''Maksud saya kalau budaya di negara dan agamaku, ketika suami mau berangkat kerja istri menyalimi begini (sambil mempraktekan) lalu istri yang mencium punggung tangan suami. Ayahku membalasnya dengan mengecup puncak kepala ibuku'' jelas Celyn.


Chung Chuan tersenyum lalu mengecup puncak kepala Celyn. ''Begini lebih baik... Cukup manis''. komentar Chung Chuan lalu kembali mengawasi pekerja.


''ok'' jawab Celyn sambil melepas topinya. Celyn membuka lemari es lalu mengira-ira masakan apa yang bisa dia buat. melihat sayuranya hanya wortel, jagung dan ketang Celyn keluar untuk memetik daun ubi jalar yang tadi dia lihat.


Setelah setengah jam berkutat dengan kompor Celyn menyajikan nasi, sup jagung, tumis daun ubi jalar- udang dan steam ikan bawal. Diluar mulai ramai suara pekerja. Celyn melihat dari kaca jendela.Nampak pekerja yang mulai mengantri makanan. Rupanya ada yang bertugas untuk memasak jadi tidak perlu masing-masing dari mereka memasak tentunya kurang efisien.


Dari balik tiang muncul sosok yang dia tunggu dari tadi. Saat masuk dia menjulurkan tanganya ''Apakah salam tadi berlaku saat pulang kerja?''


Celyn tersenyum sambil menggapai tangan Chung Chuan untuk menyalimi. Dilanjut Chung Chuan mengecup puncak kepala Celyn. Setelah itu Celyn mencuci tangan lalu beralih ke meja yang sudah berisi hidangan.


Chung Chuan melihat hidangan diatas meja kecil di ruangan itu, beralih ke wastafel kamar mandi untuk cuci tangan. Sementara Celyn mengambilkan nasi dan sup ke dalam mangkuk untuk Chung Chuan. Orang di negara ini terbiasa makan dengan nasi di taruh mangkuk kecil lalu piring untuk menaruh lauknya.


Mereka makan bersama. Chung Chuan pertama kali makan siang dengan masakan Celyn. Soal makan dia tidak terlalu pilih-pilih. Tapi perlu di akui selain orangnya yang cocok di hati, masakanya juga cocok di lidah.


'' Ternyata kamu juga pandai memasak...'' puji Chung. Celyn hanya menanggapi dengan senyuman. Celyn tidak terbiasa bicara saat makan.


Setelah selesai Chung Chuan mempersilahkan


Celyn untuk shalat sementara piring kotornya ia yang mencuci. Setelah istirahat beberapa saat merekapun kembali bekerja hingga pukul empat. Sampai rumah sudah hampir pukul enam karena sebelum pulang tadi Celyn shalat dulu. Celyn segara menuju dapur mengambilkan air putih hangat untuk Chung Chuan lalu mencuci piring. Setelah itu dia mandi lalu shalat maghrib.

__ADS_1


Celyn harus bergerak cepat. Setelah shalat maghrib dan isya di gudang ia kembali ke rumah untuk menyetrika. untung saja halaman yang luas ini sudah menjadi tugas pekerja lain.


Melihat pintu kamarnya yang tertutup Celyn merasa dejavu. Tapi kini dia sudah bisa membaca keadaan. Hari ini Celyn menyetrika dengan di temani Chung Chuan kembali. Bedanya mereka berdua sibuk dengan kerjaan masing-masing.


Chung Chuan yang selesai lebih dulu beralih ke gawainya. ''Lyn'er apa kau sudah makan?'' tanyanya tanpa menoleh.


''Setelah ini ge ge..'' jawab Celyn.


''Kenapa kamu selalu menunggu malam baru makan?'' tanyanya kembali.


''Efisiensi waktu, biasanya setelah menyetrika aku turun untuk makan - cuci piring - shalat.'' jelas Celyn.


''Bukankah kamu bilang shalat yang malam dimulai pukul setengah delapan? kau bisa herhenti menyetrika sejenak. Lalu turun makan-shalat - cuci piring baru lanjut setrika kan? makan terlalu malam tidak baik untuk kesehatanmu!" nasehat Chung Chuan.


''oh ok mulai besok saya ralat. Terimakasih ge ge'' jawab Celyn.


'' Hah maksud ge ge?''


'' Berterimakasih lah padaku dengan menjaga dirimu dan kesehatanmu untuku'' jawab Chung Chuan sambil mengedipkan sebelah mata.


blush.... wajah Celyb memerah. Ketika Crlyn turun Chung Chuan pun ikut turun tapi tujuanya ruang kerja. ''Lekas selesaikan pekerjaanmu lalu tidurlah besok kita akan ke ladang lagi. Dan bangunlah seperti biasa jangan tolak orang yang akan datang membantumu.'' perintah Chung Chuan sambil menarik tengkuk Celyn untuk mengecup kepala Celyn yang habis mengangguk patuh.


Itulah yang dia suka dari Celyn. Meski kecantikanya biasa-biasa saja tapi dia gadis yang sangat menjaga diri, patuh, ceria dan tulus. Jauh berbanding terbalik dengan mantan kekasihnya dulu yang sangat cantik, bodynya ok tapi terlalu ambisius hingga rela tidurl dengan sutradara untuk karirnya.


flash back on


Sore itu Keluarga Xiao menghadiri undangan ulang tahun pernikahan di sebuah hotel di loby hotel pandangan mata Chung Chuan menangkap sosok yang ia kenal. Ia berpamitan pada keluarganya untuk pergi sebentar. Karena penasaran ia pun mengikuti nya untuk memastikan dia benar-benar kekasihnya. Pasalnya tadi siag kekasihnya ini telephon dan berkata tidak bisa menemani Chung Chuan menghadiri pesta karena tiba-tiba kepalanya pusing.


Setelah memastikan wanita itu benar kekasihnya, Chung Chuan mencoba menghubungi nomernya. Wanita itu merogoh gawainya melihat kontak si penelephon ia sedikit menjauh dari laki-laki yang tadi ia gelayuti.

__ADS_1


'' wei.... ada apa?'' suaranya parau kalau tidak melihat langsung pasti berfikir orang ini benar-benar menahan sakit.


''Kamu dimana kenapa ramai sekali?'' Chung Chuan masih berharap ia salah paham.


''Aku sedang periksa ke dokter'' jawabnya.


''Kamu sendiri? siapa yang mengantarmu? Apa perlu aku temani?'' tanya Chung Chuan menahan amarah.


''Tidak perlu aku sudah ditemani mommy, bukankah kalian sedang berada dirumah paman Xiao Feng Han?'' dalih wanita itu.


''Ok kalau begitu, nanti aku ke tempatmu'' ujar Chung Chuan lalu menutup panggilanya.


Setelah dua orang itu memasuki lift Chung Chuan menghampiri recepsionis.


'' Permisi, baru saja tuan saya memesan kamar bersama seorang gadis, tuan saya rambutnya belah pinggir dan mengenakañ jas abu. Beliau meninggalkan Hpnya di mobil. dan saya mau mengantarkanya bisa tau kamar tuan saya?'' ChungChuan beralasan.


''Oh kamar atas nama tuan Ye?'' tanya recepsionis.


''Ya benar,''


''Kamar beliau no 204 di lantai 6''


setelah mengucapkan terimakasih Chung Chuan segera menuju kamar tersebut.


ting....


Pintu lift terbuka nampak lorong memenjang dengan nuansa klasik. Chung Chuan menelusuri lorong.


tbc

__ADS_1


__ADS_2