
Waktu sudah menujukan hampir tengah malam, sepasang kekasih masih berdebat di dapur. ''Tapi airnya sudah penuh, minumlah'' Celyn protes.
'' ha ha ha kamu minumlah dulu seteguk baru aku akan melepaskanmu.'' kata Chung Chuan.
''Huh kenapa aku merasa seperti sandera'' keluh Celyn.
''Aku tidak menyanderamu tapi aku akan memenjarakanmu di ruang dasar hatiku.'' gombal Chung Chuan.
''Puft he he '' Celyn tertawa mendengar gombalan receh Chung Chuan. '' Ayolah lepaskan aku dan minumlah aku sudah mengantuk''.
'' Minumlah seteguk''. Akhirnya Celyn menuruti kemauan Chung Chuan. Setelah itu Chung Chuan mengambil alih gelas itu lalu menegak habis air di dalamnya sambil melepas pelukanya. Dia tidak merespon Celyn yang meminta gelas untuk di cuci. Chung Chuan berniat untuk mencuci gelasnya sendiri. Celyn mematikan semua lampu di lantai satu meninggalkan lampu yang menerangi tangga.
Mereka pun begandengan tangan menaiki tangga. Sebelum memasuki kamar masing-masing Chung Chuan mengecup puncak kepala Celyn yang tertutup hijab ''selamat malam tidurlah dengan nyenyak besok jam 9 kita berangkat ke ladang.''
''Selamat malam ge ge'' balas Celyn. Meskipun tidur agak terlambat tapi Celyn berusaha bangun lebih awal karena ia akan diajak ke ladang.
Pagi hari jam 8 Nyonya Lu turun mencari Celyn ''Celyn sebentar lagi ada orang datang dia akan bantu kamu kerjakan tugasmu, jadi tolong ajar dia!".
''Maaf mamak semua tugas saya sudah hampir selesai. Saya rasa tidak perlu meminta bantuan orang lain. Karena menyetrika baju pun bisa saya lakukan malam hari'' tolak Celyn.
'' Hah ya kah? Kamu bangun jam berapa?'' tanya nyonya Lu.
''Jam 4 mamak, tidak apa-apa selain bantu Hui jie-jie memasak semua bisa saya atasi.'' jawab Celyn.
__ADS_1
''Owh ok saya akan telephon itu orang tak perlu datang'' kata nyonya Lu lalu naik. Celyn melanjutkan pekerjaanya, sampai selesai. Lalu membuatkan sarapan untuk tuan besar Xiao, nyonya Lu dan Chung Chuan. Semua disajikan di atas meja. Setelahnya Celyn bergegas menaiki tangga menuju kamarnya untuk bersiap. Sayangnya di ujung tanga ia melihat Chung Chuan kemari, Celyn pun mengurungkan niat awalnya.
Baru saja berbalik dan menuruni satu anak tangga Chung Chuan menghentikanya. ''Berhenti.... mau kemana kamu?''
''Turun untuk mengupas telur ge ge.'' jawab Celyn.
''Mengupas telurku? Itu belum saatnya... (Chung Chuan menampilkan ekspresi mesumnya) bukankah itu hanya akan kamu lakukan pada suamimu?'' kata-kata yang terlalu fulgar hingga membuat Celyn si gadis polos memendelikan matanya. Melihat eksperi Celyn, Chung Chuan tertawa puas ''ha ha ha... Sudahlah kamu naik untuk bersiap kan? bersiaplah! Aku akan menunggumu di bawah untuk sarapan.'' kata Chung Chuan sambil mencubit gemas hidung Celyn.
Celyn kesal dengan keusilan Chung Chuan dia menampik tangan Chung Chuan sambil cemberut lalu hendak menuju kamarnya. Saat berpapasan Chung Chuan menarik pinggang Celyn memaksa memeluk Celyn dengan tangan kananya tangan kirinya mengangkat dagu Celyn lalu mengecupnya '' jangan cemberut, karena saat kamu cemberut bibirmu sangat menggoda bagiku. Membuat aku ingin menggigitnya.''
''Ikh lepaskan. Tingkah ge ge kali ini menyebalkan'' berontak Celyn.
'' Ok aku minta maaf, tidak akan aku ulangi janji... jangan marah ya!'' bujuk Chung Chuan. Celyn mengangguk sambil berusaha melepaskan pelukan Chung Chuan. ''Tersenyum dulu baru aku lepaskan''. Celyn pun tersenyum lalu Chung Chuan melepas pelukanya.
''Dasar mesum'' gumam Celyn.
Celyn menuruni tangga kembali dengan mengenakan celana jeans panjang, hem kotak biru lengan panjang yang di gulung dan kerudung tosca. Di meja makan tersaji sepotong sandwich, secangkir milo dan sarapan khusus Chung Chuan. Celyn hendak berdiri disamping Chung Chuan untuk mengupaskan telur. Tapi Chung Chuan yang menyadari kedatangan Celyn segera menarik kursi sebelahnya lalu menyuruh Celyn duduk.
''Sandwich ini, jangan bilang ge ge yang membuatnya'' Celyn merasa sungkan karena dilayani Chung Chuan.
''Kenapa? apa kau pikir aku tidak bisa membuatnya? Cobalah cicipi aku mencoba membuat sandwich seperti yang kau makan saat kita sarapan bareng pertama kali. Jadi kalau ada yang salah atau kurang bilang saja.'' kata Chung Chuan
''hah sarapan bersama pertama kali?'' itu kan sudah lama bagaimana dia bisa mengingat sedetail itu? Apakah memorynya sampai exsabyte? batin Celyn. "'Terimakasih aku akan memakanya setelah mengupaskan telur ayam rebus untuk Chuan ge ge'' Celyn tidak berani mempersingkat kata-katanya lagi. Merekapun sarapan bersama.
__ADS_1
Celyn beranjak mencuci cangkir dan piring yang kotor sementara Chung Chuan memanasi mobilnya. Di pintu depan Celyn melihat sepatu boot baru seukuran kakinya, ia menoleh ke Cung Chuan.
''Pakailah itu punyamu'' kata Chung Chuan yang memahami tatapan Celyn.
Di dalam mobil... ''Hari ini kita akan pergi ke ladang semangka di sana sangat panas apa tidak apa-apa?'' kata Chung Chuan.
''Tidak masalah...'' jawab Celyn.
''kalau nanti tidak sanggup cukup lambaikan tangan!" imbuh Chung Chuan.
''Ihk kok berasa uji nyali...'' kata Celyn. Selama perjalanan mereka saling melontar gurauan receh. Mobil memasuki jalan yang sempit, mungkin kalau berpapasan dengan mobil lain harus main maju mundur dulu untuk cari tempat yang pas. Kanan dan kiri jalan berdiri pohon karet yang lumayan tinggi tak sampai lima belas menit mobilnya melewati sebuah portal yang di jaga seorang pria bertubuh kekar. Melihat mobil Chung Chuan orang itu membungkuk.
Mobilnya di parkirkan di sebuah bangunan tanpa dinding berukuran sekitar 10×13. Sepertinya tempat ini digunakan di jam istirahat siang, atau untuk pengepakan barang. Hanya ada satu ruang berukuran 3×5 yang ada di dalam bangunan itu. Di sebelahnya ada bangunan memanjang dua lantai dan terdapat puluhan pintu yang tergembok mungkin itu adalah mess.
Chung Chuan mengambil 2 topi hampir mirip topi pantai tapi ini lebih lebar. Diberikanya satu pada Celyn langsung di pakaikan di kepalanya. ''Ikut denganku. Hati-hati di sini bisa jadi ada ular'' Chung Chuan menggandeng tangan Celyn menapaki jalan yang sedikit menurun.
Barulah mereka sampai di tempat datar yang luas. Permukaanya merupakan gundukan-gundukan tanah yang berjajar. Sebagian kecil sudah terlihat rapi tapi masih banyak yang tertutup tanaman rambat yang sudah mengering.
Beberapa orang pekerja yang mereka lalui memberi salam pada Chung Chuan, Chung Chuan hanya mengangguk. Kalaupun menjawab hanya dengan kata 'em'. he he kembali ke mode frezzer dia batin Celyn.
Chung Chuan dengan serius mejelaskan apa yang harus dilakkukan Celyn selama tuan besar Xiao, nyonya Lu dan keluarga kecil Chung Pao berlibur. Chung Chuan lebih tenang menempatkan Celyn di sini karena di tempat ini bisa memandang hampir seluruh luas perkebunan. Hal ini meminimalisir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
tbc
__ADS_1