Terkasih Tak Termiliki

Terkasih Tak Termiliki
Bermotor


__ADS_3

Celyn tidak mau menunda makan malam Chung Chuan. Apalagi setelah makan pekerjaan Chung Chuan pasti masih berlanjut. Ia pun segeta menyuruh Chung Chuan memutuskan panggilan vidionya. Setelah panggilan terputus, Celyn menatap ke depan dengan pandangan kosong. tersurat senyum pahit di bibirnya mengingat cinta yang dia alami terhalang perberdaan bangsa, perbedaan budaya bahkan perbedaan agama.


''Ya Allah kenapa hati ini perih sekali membayangkan cinta ini mungkin akan berakhir. Kenapa Kau menciptakan kami berbangsa-bangsa?Astaghfirullah'' gumam Celyn lalu beristighfar sambil mengusap kepalanya.


Celyn pun beranjak untuk kembali ke kamarnya. Di depan pintu ia termenung sambil memegang handle pintu. Dilepasnya handle pintu kamarnya dan berbalik menghadap pintu kamar Chung Chuan. Rasa rindu yang besar menggelitik hatinya mendorongnya masuk kamar Chung Chuan. Dengan mata tertutup ia menghirup dalam-dalam aroma parfum Chung Chuan yang sengaja ia semprotkan ke gorden saat ia membersihkan kamar itu.


Setiap masa panen semangka dan mangga Chung Chuan tidak akan pulang kerumah untuk itu dia menyarankan Celyn menyemprotkan parfumnya di kamar supaya Celyn selalu merasa dekat denganya. Sedangkan Chung Chuan membawa parfum Celyn untuk disemprotkan ke bantal saat ia akan tidur.


Celyn membuka gorden dua lapis di jendela kamar Chung Chuan. Ditariknya kursi putar Chung Chuan ke depan jendela. Lalu ia pun duduk sambil menatap bintang dan bulan di langit malam. Meskipun matanya ke langit tapi pikiranya masuk ke lorong waktu. Dalam waktu dekat dia akan pulang ke negara I, sedangkan belum ada tanda-tanda Chung Chuan tertarik untuk mualaf.


Chung Chuan hanya memberi kebebasan dan menunjang Celyn untuk beribadah tapi tidak menunjukan ketertarikanya untuk memeluk islam. Sudah dapat dipastikan sang umi tidak mungkin merestui mereka. Apalah daya semakin kesini cinta Celyn semakin besar dan semakin dalam. Begitu berat untuk nengakhiri semuanya.


''Ya allah dengan mudah kau membalikan bumi hingga hambamu bisa merasakan siang untuk beraktivitas dan menikmati malam untuk beristirahat. Baliklah hatinya, tunjukan kuasa-Mu padanya agar dia bisa percaya padamu. Hamba sangat mengasihinya Ya Allah. Tapi hamba lebih takut kehilangan-Mu. Apa yang harus hamba lakukan?'' gumamnya seiring cairan bening yang menetes dari ekor matanya.


Pagi harinya Celyn terbangun. Lehernya terasa sangat pegal. Dan dia Baru sadar kalau semalaman tidur di kursi. Celyn menoleh melihat jam di atas meja kerja chung chuan. Ternyata sudah jam 6. Ia pun segera ke kamar mandi luar untuk membersihkan diri dan berwudlu. Celyn melewatkan shalat fajarnya.


Celyn kembali berangkat nebeng mobil tuan besar Xiao. Hanya mobil beliau lah yang rutenya melewati kebun sayur dan kebun mangga yang letaknya berdekatan.


Pulang pun biasanya tuan besar Xiao akan menghampiri Celyn tapi tidak untuk kali ini. Jam kerja sudah mau selesai. Sasana yang baru saja riuh mendadak sunyi. Meskipun heran tapi Celyn tidak ambil pusing. Celyn tengah mengangkat keranjang tomat, tiba-tiba sepasang tangan kekar merebutnya. Aroma parfum yang cukup ia kenal. Jatungnya berpacu lebih cepat.

__ADS_1


'' kenapa mengangkat sendiri? buat apa pekerja disini?'' suara bariton yang sangat ia rindukan. Celyn pun melepas keranjangnya. matanya beralih ke sosok tinggi yang kini berdiri di sampingnya.


Celyn tak yakin yang di depanya hanya halusinasi atau benar-benar kekasih hatinya. Matanya nanar melihat sosok jangkung berjaket.


Chung Chuan menakup pipi Celyn. Dengan lembut mencium kening Celyn. Lalu berkata ''bolehkah aku memelukmu?''


Celyn pun tersenyum dan mengangguk sambil menghambur ke dada Chung Chuan. Hatinya semakin terikat oleh perasaan yang terlarang dalam hukum islam. Mereka berpelukan cukup lama. Melampiaskan kerinduan yang tersimpan. Sesekali Chung Chuan mengecup kepala Celyn. Diam-diam keduanya mengusap ujung matanya yang meloloskan air mata.


Kali ini keduanya selain merasa senang bisa bertemu juga memikirkan bahwa sebentar lagi ada perpisahan yang lebih jauh dan lebih lama. Seolah-olah kiamat sudah akan menghampiri mereka. Ada hasrat hanya ingin melewati hari-hari akhir dengan kebersamaan. 'Perasaan apa ini? kenapa aku sangat takut kehilanganya' batin Chung Chuan.


'Tuhan jangan ambil dia dariku, sentuhlah hatinya dengan hukumu. jadikan lelaki baik ini imamku yang patuh padamu aamiin' batin Celyn.


Tanpa mereka sadari para pekerja yang tadi sempat terbawa perasaan melihat adegan itu satu per satu undur diri hinga hanya tersisa mereka berdua. Tak lama Chung Chuan berkata ''ayo pulang... aku akan mengantarmu''.


Chung Chuan tidak menjawab hanya tersenyum lalh menarik tangan Celyn. ''Apa kau pernah naik motor?''


''Sering, sejak di kampung kami hanya punya motor. Beli bekas punya tetengga'' jawab Celyn mengenang masa-masa sulitnya.


''Begitu? ok kamu yang mengemudikan aku yang membonceng'' kata Chung Chuan.

__ADS_1


''Kita pulang pake motor? Tapi Chuan ge aku tidak punya surat-surat, berkendara bisa kena tilang...''


''Lyn er kita akan melewati pemukiman bukan jalan raya, itu tidak masalah''


''Hah pemukiman?'' tanya Celyn karna baik dulu pertama kali ke kebun sebelah bersama Chung Chuan menjemput nyonya Lu, maupun dengan tuan besar Xiao selalu lewat jalan raya.


'' Ya kita bisa ambil rute perkampungan. Sedikit lebih jauh tapi aku hanya ingin bersamamu.'' kata Chung Chuan sambil mengenakan jaket pada Celyn yang ia siapkan untuk Celyn.


Celyn tidak membantah lagi. Ia tahu percuma berdebat dengan Chung Chuan. Dan membiarkan Chuan memakaikan helm pada kepalanya. Motor melaju dengan lambat, karena saat Celyn menambah kecepatan Chung Chuan di belakang protes. Chung Chuan memeluk tubuh mungil Celyn dan menyandarkan kepalanya di bahu Celyn sambil menjadi GPS hidup.


Perjalanan yang biasanya (lewat jalan raya) di tempuh hanya 20an menit sekarang hampir satu jam. Setelah sampai di depan kediaman keluarga Xiao, Celyn turun dan Chung Chuan geser ke depan. ''Apa ge ge tidak masuk?'' tanya Celyn melihat kekasihnya yang kembali menstater motornya.


'' Tidak... Apa kau bisa memanggilku seperti semalam?'' protes Chung Chuan.


'' Hah... kalau begitu jangan telat makan sayang. Istirahatlah bila ada waktu senggang.'' Celyn mewanti-wanti. Celyn pun salim ala umi-abi.


Chung Chuan mengecup punca kepala Celyn sambil berbisik di telinga Celyn '' I love you darling''


blush...

__ADS_1


Wajah Celyn memerah. ''Love you to'' Balas Celyn. Chung Chuan pun melajukan mobilnya. Setelah Chung Chuan dan motornya tak nampak lagi, ia pun masuk ke rumah. Celyn segara mandi lalu shalat ashar. Kembali ia memohon dalam doa agar Allah membantu Celyn membalik kepercayaan Chung Chuan. Lalu ia ke dapur membantu Hui jie jie memasak untuk makam malam.


tbc


__ADS_2