
Adara berada di dalam mobilnya yang sedang menyetir. Adara baru pulang dari kampus. Dia kuliah hari ini hanya sebentar saja. Dia juga merasa tidak enak badan dan makanya langsung pulang.
Dratttt Dratttt Dratttt.
Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Adara melihat panggilan masuk itu. Panggilan masuk itu dari no yang tidak di kenal membuat Adara bingung.
"Siapa ini," gummanya yang langsung mengangkat telpon tersebut.
"Hallo!" sapanya.
"Kita harus bicara," suara Pria itu membuat Adara kaget dengan jantungnya yang berdebar dengan kencang. Dia mengingat suara tersebut.
"Kau!" ucap Adara dengan shock.
"Berani sekali kau menelponku. Aku sudah mengatakan jangan menggangguku dan Alvian bukan anakmu!" tegas Adara dengan penuh kemarahan. Napasnya juga mendadak baik terasa sesak. Karena tidak bisa mengendalikan dirinya saat di telpon Pria yang mengaku Brian adalah putranya.
"Aku akan membuktikan jika Alvian adalah darah dagingku," ucap Pria.
"Cukup!" bentak Adara.
"Kau jangan menggangguku lagi. Aku tidak peduli. Jika kau ingin membuktikan atau tidak. Alvian adalah putraku. Jadi hentikan omong kosong mu itu," tegas Adara.
"Kamu tidak bisa menghindari kenyataan itu Adara. Dan jika kamu tidak ingin bicara kepadaku. Aku akan menemuimu kerumahmu dan akan membicarakan semua pada ayahmu," ucap pria itu membuat Adara benar-benar terkejut. Matanya yang motor dengan mulutnya yang menganga.
"Aku tidak bermaksud mengganggu mu. Tetapi aku sudah mencari Alvian begitu lama. Jadi aku mohon beri aku kesempatan," ucap pria itu yang dengan suara rendahnya.
tut-tut-tut-tut-tut-tut.
Panggilan itu di matikan secara sepihak.
"Hallo!
"Hallo!"
"Argh sial!" umpat Adara membanting ponselnya di atas jok di sampingnya. Adara mengusap kasar wajahnya dengan satu tangannya sampai kerambutnya.
"Bagaimana ini. Bagaimana jika Arhan tau yang sebenarnya. Apa yang harus aku lakukan," ucap Adara dengan kepanikannya dan Adara bahkan sudah menangis.
__ADS_1
"Argghhh!" umpatnya yang memukul-mukulkan dahinya kestir mobil. Dia benar-benar bingung menghadapi semua yang terjadi.
************
Adara mau tidak mau harus menemui pria tersebut. Dia tidak ingin pria itu datang kekeluarganya dan Adara takut akan mendapatkan masalah besar. Adara menemui Pria itu di depan salah satu gedung Perusahaan. Entahlah Perusahaan siapa itu.
"Aku berterima kasih jika kau masih mau menemuiku," ucap pria itu yang berdiri di depan Adara.
"Perkenalan aku Ramon," pria itu mengulurkan tangannya dengan sopan. Adara memang tidak mengenali pria itu. Dan tidak tau kenapa dia bisa terjebak oleh Pria itu.
"Kau masih berani memperkenalkan dirimu kepadaku. Setelah semua yang kau lakukan," sahut Adara dengan ketus.
"Kau sudah menghancurkan masa remajaku. Kau kehilangan banyak hal karena perbuatan mu. Aku tidak mengenal siapa dirimu. Tetapi bisa-bisanya aku hancur di tanganmu. Aku menerima takdirku dan membesarkan Alvian. Dan kau datang tiba-tiba mengakuinya sebagai anak. Apa kau tidak punya rasa malu untuk mengatakan hal itu," ucap Adara dengan penuh penekanan.
"Aku tau aku salah. Aku minta maaf. Tidak bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Tapi aku selama ini mencari wanita yang mengandung anak karena aku memang sangat menginginkan seorang anak," ucap Ramon dengan wajahnya penuh dengan penyesalan.
"Cukup! kau jangan mengatakan lagi mencari atau apapun, atau menunjukkan wajah penyesalanku. Anggap saja kau tidak melakukan apa-apa kepadaku dan biarkan aku bahagia bersama putraku. Aku sudah menikah dan pria itu menerima ku apa adanya. Aku mohon jangan hancurkan lagi kebahagiaan ku. Aku baru memulainya," ucap Adara dengan air matanya yang jatuh.
"Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan kebahagianmu. Tetapi aku juga ingin bahagia bersama Alvian," sahut Ramon yang tetap pada pendiriannya yang ingin mengambil Alvian.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Aku mohon pergilah dari kehidupan kamu. Aku yang selama ini mengandungnya dan merawatnya. Aku mohon hentikan semuanya," Adara harus benar-benar memohon karena takut Ramon akan masuk kedalam rumah tangganya dan semua impiannya akan kembali hancur.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa berat dan Adara ingin jatuh. Ramon yang melihat hal itu langsung membantu Adara dengan memegang pinggang dan tangan Adara yang membuat ke-2nya begitu dekat.
Pemandangan yang indah itu di saksikan oleh Arhan. Tidak tau sejak kapan Arhan di dalam mobil yang ada di sebrang jalan dan melihat istrinya bersama laki-laki lain dan sangat dekat sampai laki-laki itu menyentuh istrinya.
Sebagai suami pasti akan marah dan terlihat kecemburuan atas Adara dengan pria yang sama yang pernah Arhan lihat. Pasti banyak tanda tanya di kepala Arhan. Belakangan ini Adara menyembunyikan banyak hal darinya. Sikap Adara yang berubah dan inilah yang dilihatnya.
***********
Adara kembali kerumah dan masuk kedalam kamar dengan lemas. Adara duduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dan menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Adara berkali-kali membuang napasnya dengan kasar.
"Mama!" tiba-tiba Alvian masuk kamar bersama Arhan dan Alvian langsung memeluk Adara dengan Alvian mengangkat kepalanya melihat wajah lesu Adara.
"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Adara.
"Papa!" jawab Alvian.
__ADS_1
"Mama tidak jemput Alvian. Alvian sudah menunggu lebih dari 2 jam. Bu guru juga menelpon mama tetapi tidak mengangkat. Untung aja papa datang," jawab Alvian.
"Astaga!" lirih Adara yang benar-benar lupa untuk menjemput putranya.
"Maafkan mama. Mama lupa," ucap Adara yang merasa bersalah.
"Memang kamu dari mana sampai lupa?" tanya Arhan dengan suara dinginnya yang membuka lemari.
"Hmmm, itu aku, aku dari kampus," jawab Adara bohong. Arhan pasti tau itu bohong dan bahkan dia hanya menguji kejujuran Adara.
"Bukannya mama bilang tadi kekampus hanya sebentar saja. Karena mama tidak enak badan," sahut Alvian yang mewakili Arhan.
"Oh iya memang tapi tadi mama ada bertemu dengan dosen. Makanya mama lupa," jawab Kayra dengan gugup yang berbohong pada Alvian dan juga Arhan. Karena Arhan tau kebenarannya kemana istrinya itu pergi.
"Hmmm, begitu rupanya," sahut Alvian.
"Hmmm ya sudah Alvian ganti baju sana!" ucap Adara.
"Baik mah. Pah Alvian kekamar dulu ya," ucap Alvian.
"Iya Alvian," sahut Arhan. Alvian langsung pergi.
Adara menghela napasnya perlahan seakan dia begitu lega. Adara melihat ke arah Arhan yang sedang berganti pakaian.
"Kamu mau makan tidak?" tanya Adara.
"Kamu kenapa?" Arhan balik bertanya.
"Maksudnya?" Adara bertanya kembali.
"Kamu seperti orang yang penuh dengan kesalahan. Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Arhan yang masih menunggu Adara untuk berbicara jujur.
"Tidak apa yang aku pikirkan," sahut Adara.
"Begitu rupanya," sahut Arhan.
"Aku ambilkan makanan untuk mu," ucap Adara.
__ADS_1
"Tidak usah," sahut Arhan yang menolak dan setelah berganti pakaian Arhan langsung pergi. Sikapnya mulai dingin kepada Adara yang membuat Adara tidak bisa melakukan apa-apa.
Bersambung