
Orang-orang yang ada di pesta tersebut pasti bertanya-tanya mengenai bocah laki-laki yang tampan itu. Namun Adara sudah tidak peduli jika ada yang bertanya-tanya, mencari tahu atau mencibirnya. Karena dia sudah lulus sekolah dan Alvian memang tidak ingin di sembunyikan Adara di acara ulang tahunnya. Jadi Adara masa bodo dengan pemikiran orang-orang.
Dia sangat bahagia dengan kehadiran Alvian di dalam hidupnya dan apapun pikiran orang-orang tidak akan mempengaruhi Adara. Bagi Adara Alvian adalah anugrah yang terindah yang di titipkan kepadanya.
"Siapa anak itu?"
"Aku juga tidak tau!"
"Keponakannya?"
"Atau adiknya?"
"Bukannya Adara anak tunggal ya? Jadi mana mungkin ada adik atau keponakan?"
"Mungkin saudaranya,"
Suara berbisik-bisik itu sudah mulai terdengar dan sampai ke telinga Herlambang. Namun Herlambang tidak panik dan biasa saja menanggapi cemoohan orang-orang yang ada di pesta itu. Dia juga bangga dengan tindakan Adara yang seolah tidak ingin menyembunyikan Alvian.
"Lihat mah, apa dia tidak takut orang-orang tau. Jika dia sudah menikah dan punya anak!" bisik Lucia.
"Biarkan saja Lucia, lagian ngapain juga kita harus mengurusnya. Nggak penting. Dia kok yang rugi nantinya," sahut Mayang yang tidak mau ambil pusing.
"Iya sih mama benar," sahut Lucia yang juga ikutan tidak mau pusing.
Setelah memberikan putranya itu kue ulang tahun Adara kembali ketempatnya dan mendapat tepuk tangan dari teman-temannya.
"Buat teman-teman semua yang ada di sini. Kalian semua silahkan nikmati makanannya ya. Nikmati pestanya dan enjoy. Pesta ini untuk kita semuanya. Merayakan kelulusan kita semua," ucap Adara dengan menjamu dengan baik teman-temannya itu.
"Baiklah Adara santai saja. Soal makan kami juaranya dan perayaan ini sangat istimewa," sahut salah seorang pria. Adara mengangguk saja.
"Adara kamu Happy ya bersama teman-teman kamu. Papa masuk dulu, ini acara kamu dan teman-teman kamu," ucap Herlambang yang sudah tua dan sebaiknya tidak bergabung dengan anak-anak remaja itu.
"Iya pah. Makasih untuk kehadiran papa di sini," sahut Adara.
Herlambang hanya mengangguk dan langsung meninggalkan tempat tersebut yang membiarkan pesta anaknya bersama teman-temannya. Bibi juga membawa Alvian masuk kedalam. Karena Alvian juga harus beristirahat. Jangan sampai Arhan tau Alvian tidur malam. Bibi bisa kenak omel.
"Adara siapa anak kecil tadi?" tanya Noni yang penasaran pada Adara.
__ADS_1
"Alvian!" jawab Adara dengan singkat.
"Ya maksud aku itu siapanya kamu?" tanya Noni dengan kepo.
"Adara!" tiba-tiba Brian menghampiri Adara.
"Iya ada apa Brian?" tanya Adara.
"Selamat ulang tahun ya," ucap Brian yang memberikan kado untuk Adara.
"Ya ampun Brian kamu repot-repot sekali harus memberikan hadiah. Ini tidak perlu tau," sahut Adara yang merasa tidak enak dengan Brian.
"Namanya juga datang ke pesta ulang tahun. Jadi harus memberikan hadiah," ucap Brian.
"Benar itu Adara. Terima aja kali," sahut Noni.
"Iya-iya deh. Makasih ya untuk hadiahnya. Melihat kamu datang saja aku sudah senang kok," sahut Adara yang akhirnya mengambil hadiah tersebut.
"Sama-sama Adara dan aku memang harus datang. Ini hari special kamu," ucap Brian. Adara hanya tersenyum saja.
"Ya sudah Brian, Noni kalian nikmati pestanya ya. Aku mau menyapa yang lain lagi," ucap Adara yang langsung pamit dari kedua temannya itu. Adara menyapa sahabat-sahabatnya yang belum di sapanya.
Suatu keberuntungan bagi Adara yang tidak harus menjawab pertanyaan Noni dan lagian hal itu juga tidak penting untuk di jawab. Dia tidak harus menjelaskan siapa Alvian.
Lucia yang melihat Brian sendirian langsung menghampiri Brian dengan Lucia yang membawakan makanan untuk Brian.
"Brian," tegur Noni membuat Brian langsung melihat ke arah Noni.
"Eh Noni ada apa?" tanya Brian dengan heran.
"Aku membawakan makanan untuk mu. Aku lihat kamu belum makan sama sekali. Jadi aku membawakannya," ucap Lucia yang memberikan pada Brian.
"Makasih ya Lucia. Sudah repot-repot," ucap Brian yang langsung mengambil makanan itu.
"Tidak repot-repot kok sama sekali. Justru aku senang dan aku lihat kamu juga tidak ada temannya di sini," ucap Lucia.
"Ya memang tidak harus ada temannya kan?" tanya Brian.
__ADS_1
"Iya sih," jawab Lucia.
Tiba-tiba musik dansa berputar dan para tamu undangan sudah mulai berdansa membuat Lucia tersenyum.
"Kita dansa yuk!" ajak Lucia pada Brian.
"Sorry ya Lucia aku sedang tidak mood untuk mengikuti dansa," jawab Brian yang langsung menolak permintaan Lucia. Wajah Lucia yang tadinya tersenyum langsung datar dengan penuh kekecewaan.
"Dia selalu saja menolakku. Pasti kalau Adara yang mengajaknya dia akan kesenangan dan akan menerima begitu saja tanpa adaa penolaknya. Tetapi jika aku. Dia hanya terus menolakku," umpat Lucia di dalam hatinya yang benar-benar kesal dengan Brian yang menolaknya dengan mentah-mentah.
*********
Akhirnya acara ulang tahun itu berakhir. Adara sedang sibuk di kamarnya yang mencari-cari hadiah. Dia mengacak-acak tumpukan hadiah itu seperti ada sesuatu yang di carinya.
"Nona cari apa sih kenapa di berantaki semuanya. Bibi sudah capek loh menyusun semuanya," keluh Bibi dengan geleng-geleng.
"Besok aja Non buka hadiahnya, Nona mendingan bersih-bersih lalu istirahat ini sudah malam," ucap Bibi mengingatkan.
"Aku mau cari hadiah dari Arhan Bi. Bukannya Bibi mengatakan dia sudah mengirim hadiah untukku!" jawab Adara yang ternyata mencari hadiah dari suaminya.
Dia Begitukah eksaited dengan hadiah suaminya itu dan ingin membuka hadiah pertama hanya dari suaminya. Karena Adara yang begitu penasaran hadiah apa yang di berikan suaminya.
"Bibi kenapa diam? Apa hadiahnya belum sampai?" tanya Adara yang tidak mendapatkan respon dari Bibi. Padahal dia penasaran apa kira-kira yang akan di berikan Arhan kepadanya.
"Besok hadiahnya baru sampai Nona," jawab Bibi membuat Adara kaget dengan dahinya yang mengkerut.
"Kok gitu!" sahut Adara yang tampak kecewa dengan pernyataan Bibi.
"Ada kendala dalam pengiriman. Dan mas Arhan sudah mengirim tepat waktu. Namun ada kendalanya Nona. Tapi Nona Adara jangan khawatir. Besok hadiahnya akan sampai kok," ucap Bibi yang ingin mengembalikan mood Adara yang secepat kilat langsung berantakan.
"Bagaimana kalau hadiahnya rusak atau hilang?" tanya Adara dengan panik.
"Nggak akan Nona, jangan khawatir. Hadiahnya pasti aman. Ramen dari Singapura aja aman. Ya bagaimana dengan hadiah. Jadi Nona Adara jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik aja. Nona Adara hanya cukup menunggu saja," jelas Bibi yang meyakinkan Adara.
"Ya. Tidak jadi buka hadiahnya dong," Adara dengan kekecewaannya yang sudah tidak bersemangat lagi karena hadiah suaminya tidak ada.
"Nona Adara jangan khawatir. Besok kan sudah sampai hadiahnya. Jadi sekarang sebaiknya Nona Adara bersih-bersih dan langsung istirahat. Bibi akan kembali menyusun kado-kado ini," ucap Bibi.
__ADS_1
"Ya sudahlah!" sahut Adara dengan menghela napasnya yang tidak bersemangat lagi. Bibi hanya geleng-geleng saja. Eksperesi wajah majikannya itu memang ada-ada saja. Kadang ceria, kadang manyun, dan sekarang entah seperti apa. Begitu lah memang keseharian Adara. Jadi Bibi memang sudah sangat terbiasa.
Bersambung