TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 97 Hal mencurigakan.


__ADS_3

Jakarta.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan juga ada hambatan. Akhirnya Arhan, Adara dan Alvian kembali ke Jakarta.


Mobil mereka sudah memasuki gerbang rumah Adara. Namun di depan gerbang terlihat Lucia bersama seorang pria yang mobilnya masih di depan gerbang. Lucia yang melihat mobil Aran terlihat panik dan bahkan Lucia menyuruh Pria asing itu untuk buru-buru pergi.


"Siapa yang bersama Lucia?" tanya Adara pada Arhan yang melihat Pria itu terus.


"Aku juga tidak tau," jawab Arhan. Brian juga melihat Pria itu bahkan sampai menengok kebelakang.


"Bukannya itu Om yang memberikan coklat untuk Brian," batin Alvian yang mengingat bahwa orang yang bicara dengan Arhan itu adalah Pria yang memberikannya coklat.


"Alvian kenapa?" tanya Arhan melihat putranya itu dari kaca spion seperti ada sesuatu pada Alvian yang masih menoleh kebelakang.


"Tidak apa-apa pah," jawab Alvian


"Aduh Alvian bohong sama papa. Bagaimana ini. Bagaimana jika papa marah," batin Alvian yang tidak pernah bohong. Jadi bohong dan itu hal yang besar menurutnya.


Akhirnya mobilnya berhenti juga tepat di depan rumah mereka.


"Yes akhirnya sampai juga!" sahut Alvian dengan semangatnya.


"Alvian Happy?" tanya Adara.


"Sangat mah. Makasih sudah mengijinkanku Brian ketempat nenek. Alvian sangat bahagia bisa liburan," ucap Alvian yang membuat Adara dan Arhan tersenyum.


"Ya sudah sekarang kita turun," sahut Arhan yang membuka safety beltnya dan turun terlebih dahulu. Namun Alvian juga buru-buru turun sebelum Arhan membukakan pintu mobil. Saat Arhan ingin membukakan pintu mobil untuk Adara tangan Alvian sudah terlebih dahulu membuat Arhan mengkerutkan dahinya.


"Alvian aja yang melakukannya untuk tuan putri," ucap Alvian dengan tersenyum. Arhan juga tersenyum melihat kelakukan Brian yang sekarang sudah mengikuti apa yang di lakukannya.


"Silahkan turun tuan Putri," ucap Alvian mempersilahkan ibunya itu. Adara hanya geleng-geleng dengan kelakukan Alvian. Adara juga melihat ke arah Arhan. Arhan mengangkat ke-2 bahunya.


"Mama adalah orang yang sangat istimewa untuk Alvian dan papa. Jadi Alvian harus seperti papa yang siap siaga untuk mama," ucap Alvian dengan kelancarannya dalam bicara.


"Iya-iya deh," sahut Adara yang sudah turun dari mobil dan memegang pucuk kepala Brian.


"Kakek juga ingin di jadikan istimewa seperti itu!" tiba-tiba terdengar suara membuat Alvian menoleh ke arah pintu dan Herlambang sudah berdiri di sana.

__ADS_1


"Kakek!" sahut Alvian dengan berteriak dan langsung berlari pada Herlambang dengan Alvian memeluk Herlambang.


"Huhhhh" Alvian kangen banget sama kakek. Alvian merindukan kakek," ucap Alvian dengan memeluk erat.


"Kangen tapi kenapa pulangnya lama sekali dan tidak pernah menelpon kakek," ucap Herlambang yang sepertinya ngambek. Karena Alvian yang tidak mengabarinya.


Alvian melepas pelukan itu dan melihat kearah kakek.


"Alvian ada kok telpon kakek," ucap Alvian.


"Hanya 1 kali saja," sahut kakek.


"Maaf kakek. Soalnya bermain dengan kakek Amir, nenek Aminah sangat seru. Alvian jarang-jarang bertemu dengan kakek dan nenek di malang. Kalau kita sering bertemu," ucap Alvian yang menjelaskan pada Herlambang agar Herlambang tidak kecewa.


"Iya-iya. Kakek mengerti. Kakek hanya bercanda saja sayang. Sudah sekarang kita masuk. Alvian harus ceritakan semuanya kepada kakek dengan semua yang terjadi saat liburan," ucap Herlambang.


"Baiklah kek ayo Alvian punya cerita yang sangatlah panjang," sahut Brian dengan semangatnya dan mereka langsung masuk. Tinggal Arhan dan Adara yang saling melihat.


"Semakin hari ceritanya semakin banyak," ucap Adara.


"Kamu juga ikut mendidiknya. Karena setiap hari Alvian hanya mengatakan ingin seperti kamu," sahut Adara membuat Arhan tersenyum.


"Ayo masuk!" ajak Arhan. Adara menganggukkan kepalanya dan mereka langsung memasuki rumah. Sementara Lucia tidak tau apa hubungannya dengan pria yang memberikan Alvian coklat saat di pesta Perusahaan.


**********


Lucia memasuki rumah dengan wajahnya yang terlihat panik.


"Lucia!" tegur Herlambang membuat Lucia kaget dan melihat ke arah Herlambang.


"I-iya om," sahut Lucia dengan gugup.


"Tadi Om melihat di depan ada tamu. Kenapa hanya sampai gerbang saja. Kenapa tidak masuk kedalam?" tanya Herlambang. Lucia begitu terkejut mendengar perkataan Herlambang.


"Lucia! Kenapa kamu diam?" tanya Herlambang yang mengejutkan Lucia.


"Oh itu Hmmmm itu bukan siapa-siapa. Dia hanya menanyakan alamat dan kebetulan Lucia tadi ada di depan," ucap Lucia dengan gugup memberikan alasannya.

__ADS_1


Ekspresi Herlambang antara percaya dan tidak. Dia merasa seperti ada sesuatu pada Lucia.


"Ya sudah Om kalau begitu Lucia naik ke atas dulu!" ucap Lucia yang pamit dengan buru-buru. Herlambang hanya diam saja.


"Gawat jika sampai Om Herlambang mengetahui siapa orang itu aku yang akan brabe," batin Lucia dengan kepanikannya yang berjalan buru-buru menaiki anak tangga.


**********


Adara hari ini mengantarkan Alvian ke sekolah. Adara yang menyetir dan Alvian duduk di sampingnya.


"Mama kapan Alvian masuk SD?" tanya Alvian yang sudah ingin sekolah SD.


"Harus menunggu 2 tahun lagi," jawab Adara.


"Huhhh lama sekali. Padahal Alvian ingin memakai seragam merah putih dengan topi sekolah," sahut Alvian.


Dia melihat ada anak sekolah yang di antar orang tuanya yang memakai seragam sekolah membuat Alvian ingin sekolah SD. Karena sekarang di usianya yang 4 tahun Brian juga di sekolahkan Adara.


Sekolah khusus sebelum masuk SD. Karena Alvian begitu pintar dan jika pun masuk SD. Alvian tidak akan kalah dengan teman-temannya yang usianya jauh di atasnya.


"Alvian harus bersabar. Biar bisa cepat sekolah," ucap Adara.


"Padahal Alvian sudah besar. Tapi belum sekolah juga," sahut Brian.


"Alvian sekolah itu bukan hanya karena badannya besar atau kecil. Tetapi juga usianya yang harus pas," ucap Adara mengingatkan Alvian.


"Begitu rupanya," sahut Alvian dengan wajah sedihnya.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Alvian dengan tidak bersemangatnya. Adara juga hanya tersenyum saja. Namun tiba-tiba Adara melihat dari kaca spion ada mobil di belakangnya.


"Sejak tadi mobil itu selalu ada. Apa mobil itu mengikutiku," batin Adara yang mencurigai mobil yang sejak tadi mengikutinya.


"Tidak Adara mobil itu tidak mungkin mengikuti kamu. Lagi pula untuk apa. Itu hanya perasaan kamu saja. Lagian ini juga jalan umum. Jadi pasti banyak kendaraan yang berada di belakangmu," batin Adara yang berusaha untuk berpikir positif tentang kendaraan yang memang sejak tadi mengikutinya.


Ternyata memang benar Adara di ikuti oleh pria yang lagi-lagi bertemu dengan Alvian dan juga yang pernah menemui Lucia. Pria misterius itu sangat mencurigakan dan sepertinya punya maksud.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2