TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 40 Beberapa bulan kemudian.


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Adara berdiri dari tempat duduknya di meja rias. Sangat sulit Adara yang berdiri. Karena perutnya yang sudah membesar. Tidak terasa kehamilannya yang memasuki usia 7 bulan. Tubuhnya yang kecil membuatnya sangat imut saat hamil tua seperti itu.


"Nona Adara baik-baik aja?" tanya Bibi yang memasuki kamar dengan membawakan nampan yang berisi makanan dan minuman seperti biasa yang di konsumsi Adara.


"Adara tiap kali terus merasakan sakit pada perut Adara Bi," jawab Adara.


"Mungkin bayinya nendang-nendang non. Jadi itu hal biasa," sahut Bibi.


"Tapi kenapa rasanya sakit," sahut Adara yang memang terus mengeluh.


"Sakit saat mengandung itu adalah kesempurnaan sebagai seorang wanita. Jadi Nona Adara harus bersyukur dengan rasa sakit yang menjadi anugrah," ucap Bibi.


"Benarkah seperti itu?" tanya Adara.


Bibi mengangguk.


"Ya sudah ayo Nona Adara makan dulu," ucap Bibi Adara mengangguk dan duduk di sofa untuk melanjutkan sarapannya seperti biasa.


"Tidak terasa ya Nona kandungan Nona sudah 7 bulan," ucap Bibi.


"Kalau 9 bulan. Artinya Adara melahirkan?" tanya Adara.


"Iya Non," jawab Bibi.


"Lalu Adara boleh sekolah lagi kan?" tanya Adara yang pasti merindukan masa-masa sekolahnya.


"Pasti Boleh Nona. Non Adara punya cita-cita dan impian yang sangat tinggi. Jadi setelah anak ini lahir. Hidup Non Adara akan aktif kembali di mana Nona Adara akan bisa bersekolah lagi," ucap Bibi. Sepertinya itu yang di tunggu-tunggu Adara.


"Tetapi walau seperti itu. Nona Adara jangan lupa. Jika punya kewajiban sebagai seorang Ibu. Jadi harus tetap menjaga bayinya," ucap bibi yang mengingatkan.


"Dan Bibi akan bantuin Adara kan?" tanya Adara.


"Kalau itu sudah pasti," sahut Bibi tersenyum.


"Makasih Bi," sahut Adara.


"Ya sudah sekarang lanjutin sarapannya. Bibi ke belakang dulu ya," ucap Bibi.


"Iya Bi," Adara menganggukkan kepalanya.


"Tapi sudah beberapa bulan. Aku tidak pernah melihatnya atau mendengar namanya," batin Adara wajahnya yang kembali murung. Sepertinya Arhan dan Adara tidak pernah bertemu sampai sekarang.


************


Adara keluar dari kamarnya menuju lapangan golf dan kebetulan ada Lucia yang sedang bermain Golf. Adara mengkerutkan dahinya ketika melihat Lucia yang memakai kaos putih hot pants dan juga memakai topi.


"Lucia!" panggil Adara yang buru-buru berjalan menghampir Lucia. Walau Adara kesulitan dengan perutnya yang besar.

__ADS_1


"Apa sih! Panggil-panggil," sahut Lucia kesal yang harus berhenti bermain golf karena kedatangan Adara yang menggangu.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa memakai tongkatku?" tanya Adara yang ternyata itu yang membuatnya marah.


"Ya ampun Adara hanya tongkat golf saja sudah membuat kamu heboh sendiri," sahut Lucia kesal.


"Tapi ini punyaku dan tidak ada yang boleh melainkan," sahut Adara yang ingin mengambil tongkat itu. Namun Lucia langsung menjauhkan dari tangannya.


"Lucia kembalikan!" pintah Adara.


"Apaan sih. Ini hanya tongkat. Dan terserah aku mau memakai yang mana," ucap Lucia.


"Kamu boleh memakai yang mana saja. Tapi jangan ini. Dan kamu tau itu dari dulu tidak ada yang boleh memakai tongkat ini. Karena punyaku almarhum ibuku dan ini untukku!" tegas Adara yang menarik dari tangan Lucia.


"Aku hanya meminjamnya kamu itu pelit banget sih. Lagian nggak ada juga yang memakainya dari pada menganggur mending aku pakai," tegas Lucia yang tidak memberikan tongkat itu dan saling rebut dengan Adara.


"Nggak bisa Lucia. Kamu bisa ambil yang lain jangan ini!" sahut Adara.


"Kamu juga nggak make Adara. Lihat kamu itu sedang hamil perut kamu besar. Jadi biarkan aku yang make!" hina Lucia dengan menarik tongkat itu.


"Nggak bisa! Kembalikan!" Adara tidak mau kalah.


"Aku tidak mau," sahut Livia.


"Kembalikan!"


"Tidak!"


"Kembalikan!"


"Tidak!"


"Adara kamu itu benar-benar menyebalkan ya!" umpat Lucia yang emosi parah dan langsung mendorong Adara dengan kuat yang membuat Adara terduduk di lantai dengan memegang perutnya.


"Arhhhhh!" keluh Adara kesakitan yang memegang perutnya.


"Syukurin emang enak! Makanya jangan mengganggu kesenangan ku!" umpat Lucia kesal yang menjatuhkan tongkat itu di samping Adara.


Namun Adara terlihat kesakitan memegang perutnya yang membuat Lucia heran dan mendadak takut.


"Sakit! Tolong! Sakit!" Keluh Adara kesakitan.


Tiba-tiba Lucia melihat darah keluar dari dress Adara yang membuat Lucia kaget dengan menutup mulutnya yang menganga dan matanya terbuka sempurna.


"Sakit!"


"Tolong aku Lucia!" pintah Adara yang berderai air mata.


"Aku tidak melakukan apa-apa," ucap Lucia yang panik dengan melihat di sekelilingnya dan tidak ada siapa-siapa dan Lucia langsung pergi meninggalkan Adara. Karena takut dia yang di salahkan.

__ADS_1


"Kucia!"


"Tolong!"


"Lucia!"


Adara kesakitan yang meminta tolong. Namun Lucia tidak peduli dan tetap pergi. Adara sudah menahan rasa sakit yang luar biasa sampaikannya dahinya yang berkeringat dingin. Tidak tau apa yang terjadi pada kandungannya.


*********


Lucia yang takut di salahkan karena melukai Adara. Akhirnya Lucia menghindari dan pergi keluar rumah dengan buru-buru.


"Untung saja Om Herlambang tidak ada di rumah. Jadi tidak ada yang tau apa yang terjadi. Lagian dia juga sih yang menggangguku dan membuatku marah. Itu pelajaran untuknya," batin Lucia dengan kesal.


Saat Lucia ingin menuju mobil. Tiba-tiba mobil BMW berhenti di belakang mobil yang akan di masuki Lucia. Dan sang pengemudi juga keluar dari mobil itu yang ternyata Arhan. Mata Lucia langsung melotot melihat Arhan dengan Lucia yang kesulitan menelan salivanya yang seolah takut dengan kedatangan Arhan.


Namun Arhan berekspresi biasa saja saat berpapasan dengan Lucia. Namun karena Lucia melihatnya dengan seperti itu membuat Arhan juga melihat Lucia dengan heran.


Dan Lucia buru-buru masuk mobil seperti orang ketakutan yang membuat Arhan heran. Namun Arhan tidak peduli dan langsung memasuki rumah dengan menghela napasnya. Mobil yang di kendarai Lucia juga sudah melaju dengan sangat cepat yang menghindari kejadian yang di lakukannya pada Adara.


*********


"Mas Arhan!" sapa Bibi yang melihat Arhan memasuki rumah.


"Bi Sri," sahut Arhan tersenyum yang menghampiri Bi Sri.


"Ya ampun mas Arhan pulang?" tanya Bibi yang tidak percaya melihat Arhan yang akhirnya pulang setelah begitu lama pergi.


"Iya Bi kebetulan ada keperluan. Jadi harus kembali ke Jakarta," ucap Arhan.


"Ohhhh, di kirain keperluannya untuk melihat Nona Adara," sahut Bibi dengan menggoda. Arhan hanya tersenyum saja mendengarnya.


"Atau memang itu salah satunya!" tebak Bibi.


"Biji ini ada-ada saja," sahut Arhan geleng-geleng.


"Ya sudah Bi. Saya mau ke perpustakaan dulu ya. Ada yang mau di ambil," ucap Arhan.


"Mas Arhan ini. Pulang-pulang bukannya langsung ke kamar istrinya melihat ke adaan istrinya. Malah langsung keperpustakaan," ucap Bibi.


"Udah-udah Bibi jangan bicara itu lagi. Saya duluan ya," ucap Arhan.


"Mau Bibi buatin teh tidak?" tanya Bibi menwarkan.


"Boleh," sahut Arhan.


Bibi mengangguk dan Arhan langsung pergi menuju perpustakaan.


"Nona Adara pasti senang dengan Mas Arhan yang pulang. Semoga Nona Adara tidak gengsi dan mas Arhan bisa betah di Jakarta dan tidak kembali ke Milan!" batin Bibi yang malah kesenangan. Ya dia yang paling senang dengan kedatangan Arhan yang pulangnya bukan di rencanakan dan memang karena ada keperluan penting.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2