
Ke-2nya masih tetap saling melihat dengan jantung ke-2nya yang masih berdebar dengan kencang.
"Azizie!" lirih Arhan dengan suara beratnya.
"Hmmm, Hay!" sapa Adara gugup mengangkat tangannya. Dia hanya berusaha untuk tenang agar tidak gugup di depan Arga. Padahal dia sudah sangat bergetar dan tubuhnya begitu dingin.
"Kamu datang kemari?" tanya Arhan yang masih tidak percaya istrinya itu ada di depannya. Arhan juga mendadak gugup yang biasanya Arhan selalu tenang.
"Iya aku datang kemari," jawab Azizie.
"Kamu sendirian?" tanya Arhan.
"Ada Bi Sri dan juga Alvian. Mereka mau kemari kok. Tadi masih ada yang di lakukan. Jadi akan menyusul secepatnya. Aku juga tidak tau apa yang mau di kerjakan Bi Sri memang ada-ada daja," jawab Adara pasti itu hanya alasannya saja. Karena itu adalah skenario dari nya.
"Oh begitu ternyata. Aku pikir kamu datang sendiri," ucap Arhan.
"Mana mungkin aku datang sendiri," jawab Adara dengan tersenyum tipis.
"Ayo masuk!" ajak Arhan. Adara mengangguk dan mengikuti Arhan yang mempersilahkannya masuk. Adara membuang napasnya perlahan ke depan. Adara merasa Adara bisa melewati tahap pertama.
Adara sudah berada di dalam Apartemen mewah dan sangat rapi itu. Arhan memang laki-laki yang rapi dan sangat higenis, rapi dan sangat bersih. Jadi wajar tempat itu sangat rapi. Namun Adara tidak ingin fokus kemana-mana dan masa bodo tempat itu seperti apa. Fokusnya hanya pada pria tampan yang sangat dirindukannya. Bertambah tampan.
"Kenapa tidak bilang. Jika datang ke mari?" tanya Arhan menghadap Adara.
"Memang papa tidak bilang apa-apa?" Adara kembali bertanya yang pasti dia bisa membalikkan kata-kata.
"Tidak. Papa tidak mengatakan apa-apa. Makanya aku kaget kamu tiba-tiba datang. Dan kalau aku tau aku pasti menjemputmu," jawan Arhan.
"Mungkin papa lupa memberitahunya," sahut Adara. Bagaimana Herlambang mau memberitahu Arhan. Adara sudah memberi pesan terlebih dahulu.
"Begitu rupanya," sahut Arhan tersenyum tipis.
Mata Arhan jatuh pada leher Adara dan melihat kalung pemberiannya membuat Arhan senang. Pasti senang. Apa yang di berikannya di pakai istrinya. Hadiah ulang tahun yang lain belum sempat di buka Adara. Hanya punya Arhan yang di bukanya dan di pakainya. Adara juga sengaja memakainya.
"Kamu apa kabar?" tanya Arhan yang lupa mempertanyakan kabar istrinya itu.
__ADS_1
"Hmmm baik," jawab Adara.
"Selamat untuk kelulusan kamu. Aku dengar dari papa. Kamu lulus dengan nilai terbaik," ucap Arhan.
"Iya makasih," sahut Adara.
"Dia hanya bertanya saja. Apa tidak ada refleks atau melakukan hal spontan untuk memelukku gitu," batin Adara yang kelihatan menunggu-nunggu sesuatu. Ya dia sudah menyuruh Bibi datang belakangan. Agar nanti tidak malu di depan Bibi. Tetapi apa yang di atur Adara kelihatannya tidak sesuai.
"Kamu mau minum tidak?" tanya Arhan.
"Hmmm, boleh," sahut Adara yang tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu aku siapkan sebentar ya. Kamu duduk aja, sekalian nungguin Bibi dan Alvian," ucap Arhan. Adara menganggukkan kepalanya.
"Argggghhh!" tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita di dalam rumah itu yang mengejutkan Adara. Namun bukan hanya Adara Arhan juga kaget. Wanita yang tiba-tiba berteriak dan keluar dari salah tu kamar di ruangan itu.
Wanita dengan memakai pakaian minim itu. Hanya dengan hotpants dan juga tantop putih membuat Adara kaget dengan pertanyaan siapa wanita itu yang berteriak itu.
"Ada kecoa!" teriak wanitanya itu yang langsung berlari ke arah Arhan dan memeluk Arhan yang kelihatan sangat ketakutan.
"Aku takut kak Arhan, aku takut ada kecoa di kamar mandi!" teriaknya memeluk Arhan dengan erat dan Arhan berusaha melepaskan. Sementara Adara dengan wajah kagetnya menyaksikan hal itu dengan matanya yang melotot dan jantungnya kembali berdebar kencang. Bukan debaran jatuh cinta. Namun kali ini berbeda.
Sampai akhirnya Lulu melonggarkan pelukannya dari Arhan.
"Kak Arhan!" ucap Lulu tersenyum dengan sumringah.
Cup.
Tiba-tiba Lulu mencium pipi Arhan membuat Arhan kaget dan termasuk Adara yang langsung melotot dengan melihat apa di depannya yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari pertama bertemu Arhan. Siapa yang tidak kaget melihat wanita lain mencium suaminya di depan matanya.
"Aku merindukanmu sangat merindukanmu!" ucap Lulu dengan senyum sumringah.
Arhan yang kaget langsung melihat ke arah Adara. Dia mengingat ada Adara di dekatnya.
Napas Adara tiba-tiba tidak stabil dan perlahan mundur langkahnya. Dia benar-benar shock dengan apa yang terjadi di depan matanya. Merasa tidak mungkin.
__ADS_1
"Azizie!" lirih Arhan. Arhan kemudian mendorong Lulu dari pelukannya sehingga Lulu bergeser dan juga melihat ke arah Adara.
"Siapa wanita itu?" tanya Lulu dengan wajah herannya. Dia sejak tadi tidak melihat ada orang di ruangan itu.
"Jadi kamu tinggal bersama wanita di sini?" tanya Adara dengan tersenyum getir yang merasa kecewa dengan apa yang di lihatnya. Tangannya bergetar dengan suaranya yang juga bergetar saat bertanya pada Arhan.
"Azizie!" Arhan melangkah mendekati Adara.
"Seharusnya aku tidak datang ketempat ini. Sepertinya kedatanganku mengganggu kesenangan kalian berdua," ucap Azizie dengan matanya yang berkaca-kaca dan Azizie yang langsung pergi meninggalkan tempat itu
"Azizie tunggu!" panggil Arhan ingin mengejar Azizie. Namun tangannya di cegah Lulu.
"Kak Arhan mau kemana?" tanya Lulu.
"Apa-apaan sih kamu Lulu. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Arhan.
"Aku ingin kasih kakak Supraise," jawab Lulu santai.
"Nggak Lucu dan kamu tidak seharusnya melakukan hal seperti tadi!" tegas Arhan yang langsung mengejar Adara yang sudah pergi dengan kekecewaan.
"Kak Arhan!" panggil Lulu.
"Apa sih kenapa dia jadi marah-marah kepadaku. Memang apa yang aku lakukan? Dasar aneh!" gumam Lulu yang ikut kesal.
"Issss kecoa nya malah masih ada lagi," Lulu terlihat sangat jijik dengan kecoa yang tadi masih di temukannya.
Adara yang berlari keluar yang air matanya langsung di hapusnya. Bagai tertusuk bambu runcing hatinya saat melihat nyata di depannya. Dia begitu semangat datang ke Milan menemui Arhan, memberi Supraise untuk Arhan. Tetapi justru dia yang di kejutkan dengan semua itu. Hatinya sangat terpukul.
"Azizie tunggu!" Panggil Arhan yang mengejar Adara. Namun Adara tidak mendengarkan Arhan memanggilnya.
"Azizie tunggu kamu jangan pergi!" Arhan berhasil menangkap tangan Azizie dengan memegang pergelangan tangan Azizie.
"Lepaskan aku!" berontak Azizie melepas kasar tangannya dari Arhan. Dengan Arhan yang melihat air mata Adara. Pasti Adara kecewa dengan apa yang di lihatnya makanya dia sampai menangis.
"Kamu tenang dulu. Aku tau kamu salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya. Apa yang terjadi tadi tidak benar," ucap Arhan yang berusaha menengakan Adara.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi tadi. Kau itu benar-benar bajingan. Kau mengikatku dengan pernikahan dan menggantung kehidupanku. Sementara kau sedang asyik bersama Wanita lain dan tinggal satu atap dengannya. Cih pantas saja kau itu ingin sekali terus pergi ke Milan. Ternyata ada wanita sedang menunggumu," sinis Adara dengan kemarahannya kepada Arhan. Senyumnya itu terlihat getir dengan berusaha tetap menjaga harga dirinya di depan Arhan.
Bersambung