
Setelah yakin akhirnya Adara pun mengangkat telpon tersebut dengan kembali menghela napasnya.
"Hallo!" sapa Adara dengan gugup.
"Kamu di mana? Kenapa lama sekali mengangkat telponnya?" tanya Arhan.
"Oh tadi Alvian menangis. Jadi aku mendiamkannya dulu. Makanya lama mengangkat telponnya," jawab Adara bohong.
"Lalau bagaimana sekarang? Apa dia masih menangis?" tanya Arhan.
"Kalau sekarang tidak. Alvian sudah diam dan dia baik-baik saja," jawab Adara yang berusaha tenang.
"Aku senang mendengarnya dan semoga dia memang selalu baik-baik saja dan kamu juga. Tidak ada masalahkan dengan kamu?" tanya Arhan.
"Tidak ada," sahut Adara.
"Kamu sendiri bagaimana apa baik-baik saja?" tanya Adara dengan memberanikan dirinya menanyai kabar Arhan.
"Aku baik-baik saja," jawab Arhan yang apa adanya.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Adara dengan tersenyum. Arhan yang jauh di sana juga tersenyum.
Adara dan Arhan mengobrol panjang lebar di telpon dan obrolan mereka sangat nyaman sampai menelpon hampir satu jam dari Alvian tadi yang bangun sampai Alvian yang tertidur kembali.
Akhirnya panggilan itu berakhir dan Adara membawa Alvian masuk kembali kedalam rumah, membawanya masuk kedalam kamar dan meletakkannya di tempat tidur Alvian.
"Kamu istirahat ya sayang. Tadi kamu sudah menelpon papa dan pasti sebentar lagi kita akan bertemu papa," ucap Adara mencium kening Alvian.
Adara menghela napasnya dan tersenyum sepertinya dia sangat bahagianya hari ini yang mungkin juga karena mendapatkan telpon dari Arhan.
Adara melangkah menuju dingding dan melihat kalender. Lalu memberi silang pada kalender itu yang ternyata Adara menandai hari-hari mencoret hari-hari yang sudah berlalu dan semua itu harus di tunggunya untuk bertemu dengan Arhan yang tidak akan lama lagi.
Ternyata LDR dengan suaminya membuat tantangan sendiri bagi Adara. Ada rasa rindu yang belum bisa di ucapkan.
Hufffff
__ADS_1
" Hari-hari ini pasti tidak akan terasa kok dan aku harus bersabar. Karena sebentar lagi aku pasti lulus sekolah," batin Adara dengan menghela napasnya.
Hanya tinggal beberapa bulan lagi maka dia akan bertemu dengan Arhan. Adara masih mengingat kata-kata Arhan yang ingin memulai hubungan dengannya dan itu sangat di tunggu-tunggu Adara.
***********
Hari Minggu ini Adara sedang bermain golf. Dengan memakai kaos ketat dan rok pendek dia bermain golf dengan menggunakan tongkat almarhum ibunya.
"Ternyata peringatan ku tidak mempan," tiba-tiba suara itu membuat Adara menghentikan permainannya dan melihat kebelakang yang ternyata ada Lucia yang tiba-tiba mendatanginya dengan kedua tangan Lucia di lipat di dadanya.
"Peringatan apa lagi?" tanya Adara heran dengan wajah datarnya.
"Kenapa kau satu kelompok dengan Brian. Kau sengaja mengajaknya untuk belajar bersama dengan kelompok bareng," ucap Lucia dengan sinis yang pasti berpikiran buruk terus kepada Adara.
"Aku tidak mengajaknya dan itu Noni yang mengajaknya," jawab Adara apa adanya.
"Jangan bohong. Jika seperti itu kau kan bisa menolaknya," sahut Lucia.
"Aku tidak bohong dan Noni yang mengajaknya dan aku tidak bisa menolaknya karena itu hak Noni," tegas Lucia.
Namun Adara memegang jari telunjuk tersebut dan menjatuhkan tangan Lucia.
"Aku sudah mengatakan tidak tau apa-apa dan terserah kamu percaya atau tidak dan jika kamu ingin memberitahu satu sekolah. Maka silahkan aku tidak peduli sama sekali dan itu bukan urusanku," tegas Adara yang tidak takut dengan ancaman Lucia. Bahkan tidak mempan baginya ancaman tersebut. Karena dia sudah mendengarkan apa yang di katakan Arhan pas
"Adara tunggu!" Lucia menarik tangan Adara dan Adara langsung menghempaskan kasar tangan tersebut.
"Apa lagi maumu?" sentak Adara.
"Kau berani sekali kepadaku Adara. Kau pikir aku main-main. Aku akan mengatakan kepada semua orang apa yang terjadi. Jika kau masih berani mendekati Brian!" tegas Lucia dengan mengancam Adara dengan matanya yang melotot.
"Lakukan!" tantang Adara yang tidak takut
"Aku rasa kau itu pintar Lucia. Jadi lakukan apa yang mau kau lakukan. Gunakan otakmu sebelum bertindak dan aku rasa kau tau siapa papah," ucap Adara sinis.
"Kau menggunakan om Herlambang untuk berkuasa," sahut Lucia.
__ADS_1
"Aku mempunyai papaku. Jika kau tidak suka. Kau bisa pergi dari rumah ini dan jangan pernah menggangguku lagi. Karena aku benar-benar tidak akan membiarkanmu melakukan lagi hal yang ingin kau lakukan. Jadi sebaiknya kau dengarkan baik-baik apa yang aku kataka sebelum aku kehilangan Kesabaranku!" tegas Adara dengan penuh keseriusan dan Adara langsung pergi dari hadapan Lucia yang meninggalkan Lucia diam dan tidak berkutik.
"Argghhh! Sial!" umpat Lucia dengan napasnya yang naik turun. Pasti tidak pernah di duganya jika Adara berani kepadanya.
"Dia kembali menyombongkan dirinya. Dia benar-benar sangat kurang ajar," umpat Lucia yang penuh dendam pada Adara.
Adara memang tidak akan takut dengan Lucia. Lagian jika semua itu terjadi Herlambang pasti tidak akan tinggal diam dan Adara sangat yakin jika Lucia tidak mungkin melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.
************
"Adara mengatakan seperti itu?" tanya Mayang yang benar-benar tidak percaya mendengar apa kata Lucia.
Setelah mendapat teguran dari Adara. Lucia langsung menemui Mayang di kamarnya dan menceritakan semuanya kepada Mayang.
"Wajahnya dengan penuh kesombongan itu mengatakan semua itu kepadaku dan bahkan ingin mengusirku," ucap Lucia yang tidak Terima dengan apa yang di katakan Adara.
"Anak itu benar-benar kurang ajar dia semakin lama semakin berani, dia pikir siapa dirinya," umpat Mayang yang juga marah pada Adara.
"Dia akan terus merendahkan kita mah dan kita tidak bisa melakukan apa-apa. Karena dia yang punya kuasa," ucap Lucia.
"Lucia kamu sebaiknya jangan mencari masalah dulu dengan Adara. Mama tidak mau jika apa yang di katakannya menjadi benar. Sebaiknya kamu harus tenang dulu dan kontrol diri kamu," saran Mayang.
"Jadi mama menyalahkan Lucia atas semua ini," sahut Lucia.
"Siapa yang menyalahkan kamu Lucia. Tidak ada yang menyalahkan kamu. Mama hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Mama tidak mau nanti kamu ke bablasan dan akhirnya kamu juga yang sulit dan kita mendapatkan masalah," jelas Mayang yang menegaskan.
"Tapi dia yang salah mah. Dia bermaksud mendekati Brian. Brian adalah pria yang Lucia sukai dan mama tau itu. Dia yang salah dan tadi dia berbicara seenaknya dan mama malah menyalahkanku dan seakan menyuruhku untuk mengalah," ucap Lucia dengan kesal.
"Bukan seperti itu Lucia. Mama mengatakan semua itu demi kebaikan kita semua dan yang mama lakukan hanya untuk kamu dan kehidupan kita. Kamu mau mendapatkan masalah dari Herlambang hah!" ucap Mayang.
"Ya nggak mah. Cuma masa iya kita harus mengalah terus," ucap Lucia.
"Kita tidak harus mengalah. Ini demi kebaikan kita berdua dan kamu tenang aja mama pasti melakukan yang terbaik untuk kamu," tegas Mayang.
"Argghhh terserah mama. Percuma bicara pada mama. Nggak ada solusi," ucap Lucia dengan kesal. Mayang hanya menghela napas saja.
__ADS_1
Bersambung