TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 58 Hari-hari Adara.


__ADS_3

Bagaimana Nona? sudah merasa jauh lebih baik?" tanya Bibi pada Adara yang sekarang wajah Adara tampak tersenyum yang sangat merasa bahagia.


"Iya Bi," sahut Adara dengan menganggukkan kepalanya.


"Hmmm, tapi Nona jangan lupa jaga rahasia ini. Jangan bilang-bilang sama tuan. Kalau Bibi merekam ini. Nanti tuan marah lagi dengan apa yang bibi lakukan," ucap Bibi mengingatkan yang rada-rada takut juga dengan apa yang di lakukannya. Ya ini bersifat terlalu lancang.


"Adara tidak janji Bi," Sahut Adara dengan tersenyum tipis yang sengaja menggoda Bi Sri.


"Nona jangan membuat bibi takut. Nona kan sudah berjanji," ucap Adara dengan wajah paniknya.


"Iya-iya Bi Adara hanya bercanda saja. Bibi takut amat. Mana mungkin Adara mengatakan itu pada papa," sahut Adara yang membuat bibi kembali tersenyum. Adara memang hanya bercanda saja. Ya maklumlah namanya juga Adara.


"Ya sudah Nona Adara sekarang istirahat aja. Bibi keluar dulu," ucap Bibi memegang pipi Adara.


"Makasih Bi," sahut Adara tersenyum. Bibi mengangguk dan langsung pergi.


Adara menghela napasnya perlahan kedepan. Sekarang Adara merasa jauh lebih tenang dan lebih bahagia dengan apa yang di rasakannya. Adara berdiri dari tempat duduknya dan membuka laci.


Adara mengambil kertas. Itu adalah kertas yang berisi tulisan Arhan untuk peraturan untuk Adara dan juga Alvian. Adara tersenyum melihat tulisan yang panjang itu. Memang sangat banyak aturan dari Arhan.


"Setelah kamu lulus sekolah. Kita akan menjalani pernikahan ini dengan semestinya. Kita akan memulai semuanya dari awal," kata-kata Arhan yang sebelumnya pernah di ucapkan Arhan membuat Adara tersenyum. Ya ternyata ini maksud dari perkataan itu.


Arhan tidak pernah menuntut apapun dari Adara. Baik kewajiban atau hal lainnya. Tetapi justru Arhan melakukan banyak hal untuk kebahagiannya. Bagaimana Adara tidak merasa orang yang paling bahagia.


**********


Adara kembali menjalani hari-hari nya tanpa Arhan tidak ada Arhan yang menemaninya dan Adara harus merawat bayinya sendiri. Bukan dia sendiri yang merawatnya sih Bibi pasti ikut membantu Adara. Karena itu juga pesan dari Arhan untuk Adara.


Aktivitas sekolah sudah di mulainya. Tetapi Adara membagi waktu antara sekolah dan juga Alvian. Pintar-pintar Adara dan selalu di bantu Bibi. Sementara Bibi akan mendapat arahan dari Arhan.


Adara tidak berani jika bertanya sendiri pada Arhan. Karena jika bicara dengan Arhan dia hanya akan gugup dan pasti tidak ingat apa kata Arhan. Jadi lebih baik Adara membiarkan Bibi yang berhubungan dengan Arhan.


Pagi ini Adara sudah siap-siap yang akan berangkat kesekolah. Sebelum kesekolah Adara akan memompa asinya dulu. Alvian tidak bisa minum susu formula. Karena memang sudah terbiasa dengan Asi. Jadi Adara harus memompa susunya untuk stok Alvian.


Toko-tok-tok-tok.


"Siapa?" tanya Adara.


"Bibi Non," jawan Bibi.

__ADS_1


"Masuk Bi," sahut Adara. Bibi masuk kedalam kamar


"Non Adara sudah mau berangkat sekolah?" tanya Bibi. Adara mengangguk-angguk kepalanya.


"Bibi jaga Alvian ya. Jangan sampai Alvian kenapa-kenapa," ucap Adara mengingatkan.


"Pasti Nona Adara," sahut Bibi tersenyum.


"Oh iya Non bagaimana asinya lancar tidak?" tanya Bibi.


"Bagaimana tidak lancar Adara terus makan sayur daun katu yang di suru Arhan," jawab Adara.


"Cie yang menuruti apa kata suami," sahut bibi menggoda Adara.


"Apa Sih Bi. Jangan mulai deh," sahut Adara kesal.


"Siapa yang mulai sih kan memang benar Non Adara sekarang selalu menuruti mas Arhan," ucap Bibi menggoda Adara.


"Udah bibi jangan ngomong itu lagi sekarang buruan ambil tas adara," ucap Adara manja.


"Non Adara manja mulu. Ambil tas sendiri aja nggak bisa. Bibi bilangi mas Arhan ya. Kalau Nona ada itu tidak bisa mandiri," ucap Bibi memberikan ancaman pada Adara dengan wajah seriusnya.


"Jadi Bibi harus bohong lagi nih sama mas Arhan," sahut Bibi.


"Issss Bibi pokoknya jangan bilang-bilang yang jelek-jelek pada Arhan Bibi harus ingat itu," ucap Adara yang takut Bibi mengadukan hal buruk pada Arhan.


"Iya-iya Nona Adara. Bibi becanda kok yang takut banget deh mas Arhan berpikira jelek, tentang Nona," sahut Bibi yang kembali menggoda Adara.


"Bibi cukup ya. Jangan bicara lagi. Isssss menyebalkan," sahut Adara kesal.


"Iya-iya non Adara. Bibi hanya mengingatkan. Non adara harus mandiri. Nanti kalau mas Arhan pulang apa-apa masih di bantuin Bibi. Mas Arhan akan tau kalau Bibi selama ini bohong," ucap Bibi mengingatkan.


"Iya-iya Bibi nanti saja kalau mau mandirinya," sahut Adara.


"Iya-iya terserah. Ayo buruan ke sekolah. Nanti terlambat," ucap Bibi.


"Iya Bi," sahut Adara yang juga sudah selesai memompa asinya dan Adara langsung berdiri dari duduknya. Menyandang tasnya dan sebelum berangkat kesekolah. Adara terlebih dahulu mencium Alvian.


Bibi hanya tersenyum melihat Adara yang walau masih remaja. Tetapi sudah seperti seorang ibu yang begitu menyayangi Alvian.

__ADS_1


"Adara berangkat Bi. Jaga Alvian dengan baik dan ingat kalau Arhan telpon jangan sampaikan yang tidak-tidak mengenai Adara. Harus yang baik-baik," tegas Adara mengingatkan Bibi.


"Siap Non Adara," sahut Bibi dengan hormat pada Adara. Adara tersenyum dan langsung berangkat ke sekolah. Bibi geleng-geleng dengan tersenyum melihat Adara yang sekarang sangat ceria.


Setelah kepergian Adara. Bibi sekalian membersihkan kamar itu. Bibi tersenyum melihat di dinding yang tertulis tulisan Arhan. Apa lagi kalau bukan pesan untuk Adara apa saja yang harus di lakukan Adara. Apa yang boleh untuk Alvian dan apa yang tidak.


Sebelum pergi Arhan memang menuliskan semuanya dulu. Karena dia tau istirnya itu tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi Arhan harus memberi ingat.


Dulu saat Adara hamil. Arhan juga melakukan hal yang sama. Tetapi Adara tidak peduli dan bahkan tidak pernah membacanya. Namun sekarang Adara sampai menempelkan pada dingding agar murah di lihat. Adara yang sepertinya mulai bucin pada Arhan.


**********


Adara dan Noni berada di sekolah yang sekarang sedang menikmati makan siang di kantin sekolah.


"Adara tidak terasa ya sekarang kita sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus sekolah," ucap Noni memulai pembicaraan sembari mengunyah makanannya.


"Kamu benar. Semua tidak terasa. Waktu sangat cepat berlalu," sahut Adara yang juga mengunyah makanannya.


"Lalu kamu mau kuliah di mana?" tanya Noni.


"Hmmmm, masalah kuliah aku belum tau. Tetapi kemungkinan di Luar Negri," jawab Adara.


"Aku sih yakin kamu pasti akan ambil kuliah di Luar Negri. Tapi kira-kira mau ambil di mana. Amerika atau London?" tanya Noni.


"Kayaknya di Milan," jawab Adara spontan. Ya tiba-tiba dia ingin ke Milan dan lulus sekolah bukannya dia harus bersama Arhan. Jadi pasti dia akan pindah ke Milan.


"Kamu ingin kuliah di sana?" tanya Noni. Adara mengangguk dengan yakin.


"Mau ambil jurusan apa?" tanya Noni.


"Belum tau. Tapi aku mau jadi desainer. Itu cita-cita ku dari dulu," jawab Adara.


"Iya sih aku tau itu," sahut Noni.


"Kamu sendiri bagaimana. Mau lanjut kuliah ke mana?" tanya Adara.


"Aku belum ada rencana. Tetapi tiba-tiba aku kepikiran untuk menikah," sahut Noni.


"Menikah!" Pekik Adara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2