
"Aku hanya ingin merasakan layaknya seperti wanita normal yang merasakan kebahagiaan. Aku hanya ingin sekali saja bisa menjadi istri. Aku sudah melakukan semuanya, aku juga banyak berkorban, aku berusaha belajar, berusaha memperbaiki diri. Walau terkadang kamu tidak pernah menganggap sedikit saja jika aku berusaha untuk pernikahan kita," Adara masih terisak mengungkapkan semuanya yang di dengarkan oleh Arhan.
"Dan sekarang kamu ingin pergi. Membiarkan ku menghadapi semua ini. Jika seperti ini lalu apa semua selama ini usahaku sia-sia. Aku tidak tau Arhan apa yang kamu pikirkan saat aku mengatakan semua ini. Tetapi pada intinya aku mencintaimu," ucap Adara lagi yang mengucapkan kata cinta itu.
Arhan memejamkan matanya mendengarnya. Lalu Arhan berbalik badan dengan cepat. Langsung memegang ke-2 pipi Adara dan menempelkan bibirnya pada Adara. Hal spontan dan tiba-tiba itu mampu membuat Adara terkejut. Namun tetap dia menerimanya dan perlahan matanya terpejam dengan menerima ciuman Arhan yang semakin dalam.
Ke-2nya kerap hanyut dalam ciuman. Air mata Adara yang masih keluar. Mungkin Arhan bisa merasakan asin. Karena memang Adara tidak hentinya menangis. Namun ciuman yang di berikan Arhan. Ciuman yang semakin dalam mampu membuat ketenangan di hatinya.
Lama berciuman akhirnya Arhan melepas ciuman itu dengan perlahan wajahnya menjauh dari wajah adara dengan mata keduanya yang sama-sama perlahan terbuka. Mata yang saling menatap dengan penuh arti. Napas yang memburu dengan Adara masih terasa sesak karena menangis.
Tangan Arhan perlahan turun dari pipi Adara, hingga melepasnya dan Arhan perlahan pergi dari hadapan Adara. Adara hanya bingung dan pasti sangat kecewa dengan Arhan yang tetap pergi walau dia sudah mengakui perasaannya dan bahkan mereka berciuman.
Ternyata tidak. Langkah Arhan terhenti di depan pintu. Arhan ternyata menutup pintu yang terbuka sedikit. Bukan hanya itu Arhan juga menuju tirai jendela yang menutup tirai jendela yang tadinya terbuka.
Lalu Arhan kembali pada Adara dengan keduanya yang kembali saling berhadapan. Saling menatap dengan dalam. Debaran jantung yang berdebar begitu kencang. Tangan Arhan perlahan memegang pinggang Adara dan langsung menggendong Adara ala bridal style dan Adara hanya diam dengan tangannya yang mengalung di leher Arhan.
Tatapan mata ke-2nya tidak terhenti. Arahan melangkah menuju tempat tidur. Menaiki tempat tidur dengan lututnya menyentuh ranjang, membaringkan perlahan Adara dan mencium kening Adara. Jantung Adara semakin kencang berdebar saat Arhan menindihnya dan Arhan perlahan mencium kening Adara membuat Adara memejamka matanya.
Setelah itu Arhan mencium mata Adara yang masih ada air matanya, mencium lembut pipi Adara. Wajah Adara di berikan ciuman yang sangat lembut membuat Adara hanya memejamkan mata dengan tangannya yang saling menggenggam erat karena begitu jantungan.
Merasakan kenyal di bibirnya yang ternyata Arhan kembali mencium bibirnya. Mereka berdua kembali berciuman dengan romantis, saling menerima dan saling membalas ciuman dengan lembut dan tanpa menggebu-gebu itu.
Ciuman yang berakhir pada bibir Adara memberikan ruang bagi Adara untuk bernapas. Adara pikir sudah selesai. Ternyata bibir Arhan berpindah pada leher jenjangnya. Debaran jantungnya semakin tidak menentu dengan perasaannya yang mulai gelisah. Sentuhan dari Arhan mampir membuatnya melayang-layang dengan hembusan napas Arhan di lehernya membuatnya hanya menikmati setiap ciuman yang di berikan Arhan.
Tangan Arhan perlahan naik pada bagian dada Adara. Sembari memberi ciuman Arhan membuka kancing baju bagian dengan Adara. Namun hanya beberapa saja. Karena Arhan berhenti ketikan tangannya di pegang seolah ingin dia berhenti melakukannya.
Arhan bingung dengan hal itu. Apa Adara menolaknya? Gairah yang sudah terbakar di dalam dirinya membuatnya mengangkat kepalanya dan melihat ke wajah Adara. Napas yang naik turun, dengan tatapan mata dingin menatap Adara seolah bertanya kenapa?
__ADS_1
"Maaf!" ucap Adara yang menjawab pertanyaan yang tidak di tanyakan itu
"Bukannya aku tidak mau melakukannya. Tetapi aku sedang datang bulan," lanjut Adara dengan alasan yang memang tidak tidak akan bisa melanjutkan kegiatan itu. Walau gairah yang semakin panas.
"Maafkan aku," ucap Adara yang merasa bersalah pada Arhan.
Namun nyatanya Arhan tidak masal. Arhan menghela napas yang masih naik turun dan mencium lembut kening Adara. Kemudian memebelai pipi Adara dan mengecup sekilas bibir Adara. Gairah di dalam diri Arhan mulai hilang walau sebenarnya sangat sulit baginya untuk mengontrol dirinya. Namun dia harus menyadari hal itu tidak bisa di lakukan lantaran sang istri datang bulan.
Berhenti di tengah jalan tidak apa-apa. Arhan berbaring di samping Adara. Lalu membawa Adara kedalam pelukannya dan mencium pucuk kepala Adara.
"Kamu marah?" tanya Adara yang takut. Jika itu adalah sebuah kesalahan yang membuat Arga marah.
"Kenapa harus marah. Aku tidak marah. Justru aku bahagia. Karena malam menjadi sejarah bagiku. Dia mana aku benar-benar punya peran sebagai suami," jawab Arhan dengan suara seraknya.
"Kita istirahatlah!" ucap Arhan. Adara menganggukkan kepalanya. Arhan semakin mempererat pelukan itu. Walau gagal tetapi tidak apa-apa. Itu adalah kemajuan dalam hubungan mereka.
**************
Mentari pagi kembali tiba. Adara dan Arhan sudah bangun. Malam yang tidak terjadi membuat ke-2nya cukup canggung.
"Hmmm, kamu tidak jadi pergi kan?" tanya Adara yang memastikan. Arhan mengendus tersenyum mendengarnya.
"Tidak!" jawan Arhan membuat Adara tersenyum.
"Lalu kenapa mengambil koper?" tanya adara melihat Arhan menuju koper.
"Ingin memasukkan kembali pakaian ke dalam lemari," jawab Arhan.
__ADS_1
"Biar aku bantu," sahut Adara begitu semangatnya membuat Arhan tersenyum tipis.
"Aku mana mungkin pergi. Karena Alvian pasti akan memarahiku. Karena sepertinya aku membuat mamanya menangis belakangan ini," ucap Arga.
"Alvian! Memang Alvian mengatakan apa?" tanya Adara.
"Dia bilang aku tidak boleh membuat mamanya menangis dan jangan-jangan kamu lagi yang menyuruhnya!" ucap Arhan.
"Tidak kok," sahut Adara dengan cepat, "aku mana pernah mengatakan apa-apa kepadanya. Jadi aku tidak tau," ucap Adara.
"Hmmm baiklah," sahut Arhan.
"Jadi kamu tidak jadi pergi karena Alvian atau karena aku?" tanya Adara yang ingin memastikan.
"Apa itu ada bedanya?" tanya Arhan menaikkan alisnya. Adara mengangguk pelan.
"Karena kamu," jawab Arhan membuat Adara tersenyum. Adara sekarang tidak mau menjadi saingan Alvian. Maklum lagi bucin jadi agak egois.
Arhan mengehela napas dan mendekati Adara. Lalu membawa Adara kedalam pelukannya.
"Aku tidak membiarkan kamu menghadapi semua ini sendirian. Alvian bukan anak orang lain. Tetapi aku ayah dan kamu ibunya," ucap Arhan membuat hati Adara benar-benar sangat bahagia.
"Maafkan aku Azizie sudah membuat matamu jatuh belakangan ini. Aku harus sadar. Jika aku tidak bisa pergi dan tidak mungkin pergi dari mu," ucap Arhan.
Huhhhh Adara rasanya ingin terbang tembus ke langit ke-7 mendengar perkataan Arhan yang membuatnya sangat bahagia. Tidak rugi bagi Adara mengungkapkan perasaannya. Gengsi sudah tidak adalagi di kampus Adara dan Adara sudah sangat bahagia dengan Arhan yang tetap di sisinya dan memberinya kebahagiaan.
Bersambung
__ADS_1