
Adara yang berada di jok belakang masih sibuk dengan lamunannya mengenai Arhan yang sangat tulus kepadanya dan bahkan sekarang bayinya lahir dan Arhan tidak menunjukkan sedikit sikap yang tidak menyukai bayinya. Justru Arhan seperti seorang ayah yang sangat bahagia atas kehadiran bayinya.
Pernikahan mereka yang telah memasuki kurang lebih 6 bulan hanya waktu yang singkat untuk pertemuan ke-2nya. Adara menolak keras pernikahan itu dan sering bersikap seperti anak kecil pada Arhan. Sampai akhirnya kesabaran Arhan runtuh dan pernah sekali menghina dan memakai Adara.
Ya sejak saat itu Adara sedikit mengubah sikapnya. Apalagi saat perubahan sikap Arhan yang sangat dingin padanya sampai akhirnya Arhan kembali hangat. Adara tidak bisa bohong jika dia merasa nyaman dan sangat membutuhkan Arhan. Namun ada menara gengsi yang terlalu tinggi dan tetap sok cuek.
Semua sangat terasa saat Arhan kembali ke Milan. Menara gengsi itu hampir runtuh dengan dirinya yang ingin menyusul ke Milan. Namun terjadi kendala sehingga tidak ada pertemuan Antara Arhan dan Adara.
Beberapa lama setelah tidak bertemu. Bertemu kembali dan Arhan membawanya kerumah sakit datang di saat yang tepat. Menemaninya saat melahirkan genggaman tangan yang sangat erat yang seolah membuat Adara tidak takut apapun. Merasakan kecupan hangat di keningnya dapat di rasakannya.
Pria itu yang di paksa menikah dengannya begitu tulus dan sangat berhati luas dan sekarang telah memberi nama pada putranya. Apa yang Adara tidak pikirkan saja di pikirkan Arhan. Nama indah yang di berikan padahal Alvian bukan darah daging Arhan. Namun Arhan seolah menjadi seorang ayah yang sebenarnya.
Gejolak hati pasti di rasakan Adara. Dia gadis normal sesuai dengan usia dan perasaannya yang mulai luluh dengan sikap Arhan yang memang tidak pernah salah dan hanya Adara yang menggap semua itu salah.
"Owe owe owe owe owe,"
"Adara tersadar dari lamunannya panjangnya ketika bayinya menangis.
"Sepertinya den Alvian haus Nona," ucap Bibi yang mencoba mendiamkan bayi itu.
"Lalu harus bagaimana Bi, aku tidak bisa melakukannya di sini," sahut Adara. Dia masih sangat mudah dan masalah menyusui tidak bisa di lakukan dengan mudah dan masih perlu belajar banyak.
Tiba-tiba mobil yang di kendarai Arhan berhenti di pinggir jalan.
"Biarkan Azizie mendiamkan bayinya sebentar," ucap Arhan yang paling tau apa yang harus di lakukannya.
"Baiklah. Papa juga ingin ke toilet dulu!" sahut Herlambang yang turun dari mobil.
Mereka berhenti di depan Restaurant dan Herlambang bisa mampir ke toilet itu. Arhan juga langsung keluar dari mobil dan membuka pintu mobil di bagian bibi.
"Berikan padaku Bi!" ucap Arhan. Bibi mengangguk dan langsung memberikan pada Arhan. Lalu bibi keluar dari mobil dan Arhan bergantian masuk yang duduk di samping Adara.
__ADS_1
Tangan Adara siap siaga untuk menggendong bayi itu dan perlahan Arhan memberikannya. Adara pasti sangat repot dan begitu gugup bagaimana cara menyusuinya. Jika di rumah sakit dia memakai pakaian Pasien dan itu sangat mudah dan sekarang dia memakai dress yang membuatnya bingung.
"Maaf!" ucap Arhan yang tiba-tiba menurunkan resleting belakang dress Adara.
"Apa yang kau lakukan pekik Adara kaget!"
"Pelan kan suaramu anakmu bisa takut padamu," jawab Arhan.
"Ya kau mau apa buka-buka pakaianku," ucap Adara memelankan suaranya.
"Hanya membuka resnya saja agar kau mudah melakukannya," jawab Arhan.
Akhirnya res itu terbuka dan dress Adara sedikit longgar dengan pakaiannya yang hampir turun. Arhan membuka jasnya dan menutupkannya kebagian depan Adara. Karena di pastikan dres itu sudah terbuka di bagian depannya.
"Lakukanlah!" titah Arhan.
Adara tidak menanggapi dan menyusu buah hatinya yang memang sudah bisa di lakukannya. Ya dres yang di kenakannya harus turun. Tetapi ada jas penutup bagian depan yang aman-aman saja.
**********
Malam hari yang begitu dingin. Hujan yang turun begitu lebat, suara petir yang sangat kuat.
Owe-owe owe owe owe owe owe owe.
Ternyata suara Alvian terdengar sangat rewel. Memang seperti itulah bayi yang tengah malam akan rewel dan Adara yang berusaha untuk mendiamkannya.
Dengan memakai kimono dan rambutnya yang terurai panjang Adara menggendong bayinya yang sejak tadi tidak bisa diam. Dia sudah melakukan banyak hal. Namun tetap bayinya terus menangis mengalahkan suara hujan yang memenuhi kamar itu.
Arhan yang tadinya tertidur. Membuka matanya dengan memijat pangkal hidungnya. Arhan menoleh kearah suara itu dan melihat Adara yang kesulitan mendiamkan bayinya. Arhan menghela napasnya dan turun dari ranjang.
"Ada apa?" tanya Arhan membuat Adara kaget dengan Arhan bersuara tiba-tiba yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Dari tadi menangis terus. Aku tidak tau salahnya apa," jawab Adara membalikkan tubuhnya.
"Mungkin dia haus?" tebak Arhan.
"Aku sudah memberinya tetapi tidak mau," jawab Adara apa adanya.
"Aku bingung!" Adara tampak sangat lelah.
Mata yang mengantuk dan kebingungan untuk mendiamkan bayinya. Bahkan matanya bergenang yang mungkin ingin menangis. Bisa saja Adara juga terkena baby blouse.
"Berikan kepadaku!" titah Arhan. Adara pun memberikannya dan Arhan menggendongnya sambil bergerak-gerak mengayun agar bayi itu diam.
Wajah Adara masih terlihat panik dan seperti orang takut.
"Istirahatlah biar aku yang mendiamkannya," ucap Arhan.
"Tapi!" sahut Adara.
"Sudah sana! Kamu pasti kecapean. Mata kamu sudah sangat merah. Kamu harus tidur," ucap Arhan dengan sangat lembut.
Adara pun mengangguk dan dengan keraguan menuju tempat tidur. Dia yang sudah berbaring di atas tempat tidur melihat ke arah Arhan yang mendiamkan Alvian yang sangat rewel.
Ada nyanyian indah yang keluar dari mulut Arhan seperti trik untuk mendiamkan Alvian membuat suara itu semakin lama semakin memelan.
Alvian mungkin sudah lelah menangis sampai akhirnya Alvian perlahan diam dan sama dengan Adara. Matanya yang terus melihat Arhan. Lama kelamaan terpejam. Karena Adara juga terlihat sangat lelah. Masih 17 tahun sudah memiliki anak dan pasti itu sangat tidak mudah.
Setelah memastikan Alvian sudah tertidur Arhan meletakkan kembali di atas tempat tidur khusus untuk Alvian. Arhan merasa lega. Alvian bisa tidur juga. Setelah itu Arhan pun menghampiri tempat tidur. Adara juga tidur nyenyak tanpa selimut.
Arhan langsung menyelimutinya dan menatap sebentar wajah lelah Adara. Arhan pasti sangat tau apa yang di rasakan Adara dan maka dari itu dia terus berada di sisi Adara menemani Adara untuk menjaga bayi itu yang tidak akan tau sampai kapan. Karena pasti Arhan akan kembali ke Milan lagi.
Tatapan itu teralihkan dan Arhan pun mematikan lampu tidur dan dia langsung menaiki tempat tidur yang berbaring di samping Adara. Memejamkan mata perlahan. Karena juga sudah pagi.
__ADS_1
Bersambung