TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL

TERPAKSA MENIKAHI DIA YANG TELAH HAMIL
Episode 28 Villa.


__ADS_3


...Adara Kalea Azizie (17 tahun)...



...Arhan Hariansyah Pramono ( 24 tahun)...



...Lucia Alexander ( 17 Tahun)...



...Noni Atika Putri ( 17 tahun)...



...Brian Matteo ( 17 tahun )...



...Mayang...



...Herlambang Bramana...


"Maaf Non Bibi lama," sahut Bibi yang datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunan ke-2 orang yang saling menatap itu dan keduanya kaget dan sama-sama salah tingkah.


Termasuk Adara yang langsung menjauh dan sangat canggung dengan mengusap-usap belakang lehernya. Sementara Arhan langsung memetik buah mangga mengambil lebih dari satu


"Bibi lama sekali," ucap Adara mengalihkan situasi yang mana dirinya sangat canggung dan harus kesal supaya rasa canggungnya hilang.


"Maaf Non," sahut Bibi tersenyum cengengesan.


Adara pun diam dan masih terlihat salah tingkah yang bingung mau kemana dan mau melakukan apa. Lalu Adara memilih duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


Tiba-tiba wajah Bibi tampak berpikir "Hmmm, Bibi lupa tadi hidup kompor di dapur. Jadi Bibi lihat sebentar ya Non," ucap Bibi yang langsung pergi dengan buru-buru.


"Bi. Tetapi mangganya bagaimana?" tanya Adara yang melihat kepergian Bibi yang buru-buru.


"Issss apa-apaan sih Bibi," desis Adara kesal yang di tinggal Bibi.

__ADS_1


Arhan mengambil pisau dan mencuci mangga dengan air yang di siapkan Bibi. Lalu dia duduk di samping Adara dan tiba-tiba saja Adara malah gelisah yang terasa canggung di samping Arhan.


Arhan langsung mengupas mangga itu. Saat mengupasnya terlihat Adara yang sudah begitu selera dengan mangga tersebut dan sudah tidak sabaran ingin memakannya sampai menelan ludahnya.


"Ini!" Arga memberikan buah mangga tersebut yang sudah di potongnya.


"Ambil!" ucap Arhan yang melihat Adara bengong dan Adara yang tersadar dari lamunannya langsung mengambil mangga tersebut karena memang itu sudah sangat ingin memakannya.


Wajahnya mengkerut saat merasa kecut pada mangga itu. Eksperesi Adara mampu membuat Arhan mendengus dengan tersenyum.


"Apa yang lucu," sahut Adara membuat wajah Arhan langsung datar.


"Yang lucu. Tidak! Tidak ada yang lucu," jawab Arhan yang kembali memotong buah mangga tersebut.


"Kau sedang mengejekku," tuduh Adara dengan wajah cemberutnya.


"Jangan berpikiran buruk. Aku tidak mengejekmu," sahut Arhan dengan santai.


Kemudian Adara mengambil potongan buah berikutnya dengan cepat. Padahal Arhan belum memberikannya.


"Pelan-pelan tanganmu bisa terkena pisau," tegur Arhan melihat kecerobohan Adara.


Bagaimana tidak? apa yang di lakukan Adara membuat membuat Arhan kaget. Belum siap memotong mangga, Adara sudah mengambil begitu saja yang kebetulan memang tidak ada piring sebagai tempatnya.


Arhan hanya menghela napas saja melihat Adara dan juga menyalahkan dirinya. Tidak ada gunanya berdebat dengan Adara. Pasti Adara ingin menang. Dan ternyata Bibi tidak kedapur untuk mematikan kompor. Bibi malah bersembunyi di balik pohon dan menyaksikan suami istri yang wajahnya sama-sama datar. Namun ke-2nya sangat menggemaskan.


"Nona Adara akan menyadari semakin lama. Jika mas Arhan adalah pilihan yang terbaik dari tuan Herlambang untuk Nona Adara," batin Bibi tersenyum.


Bibi sengaja memberi waktu untuk pasangan itu untuk ada waktu berdua. Makanya ketika mendapatkan kesempatan Bibi langsung pergi dengan alasan yang banyak.


**********


Setelah menikmati mangga yang muda yang di temani Arhan. Mereka berdua berjalan-jalan di sekitar perkebunan dengan langkah yang serentak yang perlahan. Namun keduanya sama-sama diam. Dengan arah pandang yang sibuk dengan yang lain.


Adara melihat di sekitarnya banyak nya buah-buahan dan begitu juga dengan Arhan dengan ke-2 tangannya yang di masukkan ke dalam sakunya yang melihat lurus kedepan.


"Aku akan kembali ke Milan!" ucap Arhan membuka obrolan dengan berpamitan pada Adara yang padahal kepergiannya pasti masih lama.


"Untuk apa mengatakannya kepadaku. Kalau mau pergi ya pergi saja," sahut Adara dengan ketus.


"Kamu itu istriku Azizie. Aku harus memberitahumu dan juga memberimu pesan yang banyak sampai aku kembali," ucap Arhan yang menghentikan langkahnya menghadap Adara.


"Saat aku pergi. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik dan jangan membantah apa yang di katakan papa," ucap Arhan.

__ADS_1


"Nggak usah mengajariku. Aku tau apa yang harus aku lakukan," sahut Adara kesal yang langsung pergi dari hadapan Arhan. Namun Arhan memegang pergelangan tangan Adara membuat langkah Adara terhenti.


"Aku belum selesai bicara Azizie," ucap Arhan dengan suara beratnya.


"Lepas tanganku!" titah Adara dengan wajah serius dan kesalnya.


"Kamu bisa tidak mendengarkan aku bicara," ucap Arhan yang juga serius.


"Tidak bisa. Kenapa?" sahut Adara kesal dengan wajahnya yang menantang Arhan dan Adara langsung melepaskan tangannya dari Arhan.


"Terserah. Kamu mau pergi atau kemanapun. Aku tidak peduli sama sekali. Dan justru itu lebih bagus dan seharusnya itu dari awal dan dengar di sini tidak ada papa. Jangan mengaturku. Aku ingin tenang dan berhenti mengikutiku. Aku ingin melakukan hal yang ingin aku lakukan," tegas Adara dengan ketus yang berbicara di depan Arhan dan Adara langsung pergi dari hadapan Arhan.


Arhan menghela napasnya tanpa mengucapkan apa-apa atau menahan Adara. Karena tidak ada gunanya Adara juga tidak akan mendengarkan Arhan.


***********


Sore hari sudah tiba. Hari sangat cepat berlalu. Namun Adara yang masih jalan-jalan di luar. Karena kesal dengan Arhan yang selalu mengikutinya membuat Adara pergi dari Villa mencari tempat-tempat yang bisa menenangkan diri. Karena selain di Villa ada perkebunan keluarganya. Di dekat Vila mereka juga banyak Villa-villa lain dan tempat yang indah-indah yang bisa menenangkan Adara sampai Adara tidak sadar ini sudah petang.


"Ya ampun tidak terasa sudah sore. Aku harus secepatnya kembali ke Villa," Adara yang baru menyadari waktu.


"Ke mana ya tadi jalannya," gumamnya yang kebingungan melihat di sekitarnya yang banyak jalan dan Adara benar-benar lupa jalannya.


"Mungkin di sana," gumam Adara yang langsung pergi menuju salah satu jalan yang menurutnya dia berasal dari jalan tersebut.


**********


Arhan yang duduk di teras kamar menikmati kopi sembari membuka tabletnya. Dengan serius Arhan melihat tablet tersebut yang sepertinya pekerjaan.


"Mas Arhan!" tegur Bibi


"Ada apa Bi?" tanya Arhan yang tetap fokus pada tabletnya.


"Mas, Arhan, Nona Adara belum pulang sampai saat ini," ucap Bibi dengan wajah paniknya.


"Sebentar lagi dia juga pasti Pulang," sahut Arhan dengan santai.


"Tapi mas ini sudah malam dan Nona Adara belum kembali. Bibi takut terjadi sesuatu padanya," ucap Bibi dengan wajah paniknya.


"Dia sudah dewasa dan sebentar lagi dia juga akan pulang. Jadi biarkan saja dan tunggu saja. Dia bisa melakukan apa yang dia mau. Jadi Bibi jangan khawatir," ucap Arhan dengan tenang. Namun Bibi pasti panik dengan Adara yang tidak pulang juga.


Bibi pun pergi yang mungkin sebaiknya menunggu sebentar lagi. Sementara Arhan melanjutkan pekerjaannya yang tidak langsung panik seperti Bibi yang harus memikirkan Adara. Lagian sebelumnya Adara juga tidak ingin di ganggu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2