
Alvian masih bingung di tempatnya dengan coklat yang masih di tangannya.
"Alvian!" tegur Adara yang menghampiri Alvian. Adara datang bersama dengan Arhan.
"Mama!" sahut Alvian.
Mata Adara melihat coklat di tangan Alvian dan Adara langsung melihat Arhan.
"Kamu memberinya coklat?" tanya Adara dengan wajah menuduh Arhan. Arhan melihat coklat di pegang Alvian dan Arhan juga tidak tau sama sekali.
"Aku tau kamu bisa membelinya 1 pabrik coklat. Tapi ini bukan bisa membeli atau tidak. Aku tidak memberi Alvian coklat itu karena alasan. Karena aku tau apa akibatnya jika dia tidak makan coklat," tegas Adara yang langsung marah-marah pada Arhan.
"Apa-apaan sih kamu," sahut Arhan yang sudah ndi sembur saja.
"Ya ini apa. Aku melarang dan kamu yang memberinya. Jadi kamu yang apa-apaan di sini!" tegas Adara.
"Isssss mama jangan marah-marah terus. Papa tidak kasih Alvian coklat," sahut Alvian yang kesal dengan mamanya itu.
"Jika tidak papa kamu siapa yang kasih?" tanya Adara.
"Tadi ada om-om yang kasih Alvian coklat," jawab Alvian.
"Apah!" pekik Adara.
"Siapa yang kasih Alvian?" tanya Arhan.
"Tadi orangnya sudah pergi. Alvian juga tidak tau siapa om itu," jawab Alvian.
"Lalu sejak kapan kamu itu suka menerima pemberian dari orang asing?" tanya Adara yang pasti ada aja yang membuat Adara marah.
"Mama sudah bilang sama kamu berkali-kali. Jangan pernah menerima apa-apa dari orang asing!" tegas Adara penuh penekanan pada putranya itu. Alvian menunduk. Dia tau dia salah dan akan mengakui dan tidak berani melawan.
"Buang coklatnya!" titah Adara.
Alvian masih ragu membuangnya dan masih di pegangnya dengan dia yang masih menunduk dan Adara yang sejak tadi kesal mengambil kasar coklat itu dari tangan Alvian.
"Kamu itu apa-apaan sih Azizie," Arhan langsung mencegah perbuatan istrinya yang menurutnya kelewatan.
__ADS_1
"Apa!" tegas Azizie.
"Kamu masih mau belain. Aku mengajarinya yang benar dan kamu malah membelanya. Kamu mau selanjutnya Alvian akan terus menerima apapun yang di berikan orang asing," tegas Adara.
"Aku tidak membela Alvin. Tetapi seharusnya cara kamu tidak seperti ini. Kamu bisa bicara pelan-pelan dan ini tempat umum. Memberitahu anak itu tidak perlu pake kekerasan. Jadi jaga sikap kamu," tegas Arhan mengingatkan Adara.
"Aku yang lebih tau bagaimana cara mengajarkan Alvian!" tegas Adara.
"Jadi kamu juga ingin Alvian punya sifat seperti kamu. Keras kepala, suka marah-marah. Bagaimana Alvian tidak akan mengikut watak kamu yang tidak benar itu. Jika kamu saja memberitahunya dengan keras!" tegas Arhan. Kalau Arhan sudah mengeluarkan kata-kata pedasnya pada Adara. Adara pasti terdiam dan hanya mengumpat kekesalan dengan mengepal tangannya.
"Selalu merasa paling benar. Jika ingin mendidik anak. Didik terus. Jangan hanya pergi kembali. Pergi kembali dan tidak sok tau," tegas Adara yang langsung pergi begitu saja.
Dia pasti sudah lelah merawat Alvian dan juga mendidiknya dengan caranya. Sebenarnya Adara seperti ibu pada umumnya. Ya ibu pasti lebih posesif dan terkadang suka marah. Namun Arhan berbeda yang mungkin sering lembut pada Alvian.
Adara mungkin kesal. Karena Arhan seolah menyalahkannya dan tidak bejus dalam mendidik. Padahal Adara terus bersama Alvian sementara Arhan hanya datang pergi dan datang pergi. Jadi bagaimana Adara tidak semakin kesal.
Arhan menghela napasnya melihat kepergian Adara. Arhan melihat Alvian dan Arhan langsung berjongkok di depan Alvian dengan memegang ke-2 bahu Alvian dan kepala Alvian kembali tegak.
"Kenapa mama melarang Alvian menerima sesuatu dari orang yang tidak di kenal?" tanya Arhan.
"Karena takut makanan itu nanti ada sesuatu dan orang asing juga bisa punya niat jahat nantinya," jawab Alvian.
"Tadi Alvian sudah menolak kok pah. Tetapi Om itu memaksa dan pergi begitu saja," jawab Alvian.
"Ya sudah lain kali jangan ulangi lagi ya. Nanti mama bisa marah lagi," ucap Arhan.
"Iya pah. Alvian minta maaf. Alvian tidak akan makan coklatnya tapi jangan di buang ya pah kan membuang makanan tidak boleh," ucap Alvian membuat Arhan tersenyum.
"Anak papa pintar sekali," sahut Arhan dengan mengusap-usap rambut Alvian.
**********
Setelah acara pesta selesai. Alvian dan Arhan pulang kerumah. Karena kesal Adara tadi pulang terlebih dahu dan sekarang dia sudah mengganti pakaiannya dan duduk di depan cermin dengan memakai perawatannya yang banyak sebelum tidur.
Ceklek.
Arhan dan Alvian memasuki kamar dan melihat Adara yang tampak ketus. Alvian dan Arhan saling melihat dan Arhan menggerakkan kepalanya seakan memberi kode. Alvian mengangguk dan langsung berlari menghampiri Adara dengan memeluk pinggang Adara.
__ADS_1
"Mama Alvian yang cantik. Alvian minta maaf ya mama," ucap Alvian yang mengeluarkan jurusnya untuk meluluhkan hati Adara. Namun Adara sama anak aja tetep aja jual mahal dan wajahnya terus cemberut dengan tetep melakukan aktivitasnya.
"Mama jangan marah lagi. Alvian minta maaf mah. Alvian janji tidak akan melakukan hal itu lagi mah," ucap Alvin yang terus melihat Adara.
Adara menghela napasnya dan melihat kearah putranya yang memeluknya itu. Melihat wajah Alvian yang penuh dengan rasa kasihan membuat Adara tampak tidak tega.
"Janji tidak akan melakukan itu lagi?" tanya Adara.
Alvian menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Alvian tidak boleh menerima apapun dari orang lain!" tegas Adara
"Iya mah. Alvian janji tidak akan melakukan hal itu lagi mah," ucap Alvian dengan mengangkat 2 jarinya.
"Ya sudah mama sudah memafkan. Jangan membuat mama kesal lagi dan jangan membantah apa yang mama katakan," ucap Adara. Alvian mengangguk saja.
"Makasih mama cantiku," ucap Alvian mencium pipi Adara membuat Adara tersenyum. Alvian lalu memeluk Adara begitu erat dan Alvian mengajungkan jempolnya pada Arhan. Ada diskusi antara ayah dan anak itu sebelumnya.
Tetapi melihat Alvian begitu dekat dengan Adara membuat Arhan tersenyum. Mudah sekali bagi Alvian meluluhkan hati Adara dan langsung mendapat maaf. Arhan sendiri saja sudah beberapa tahun tidak bisa meluluhkan hati Adara keras seperti batu. Apa Arhan harus belajar dari Alvian. Ya Arhan harus sering konsultasi pada putranya itu agar dia bisa meluluhkan hati Adara.
*********
Pagi hari kembali tiba dengan sinar matahari yang sangat terik. Namun pagi-pagi seperti ini sudah terjadi keributan di dalam kamar. Teriakan Adara yang di kerjai Alvian dengan Adara yang lari-lari di kejar Alvian.
"Alvian cukup! Hentikan! Alvian!" tegas Adara.
"Issss mama penakut. Hanya kecoa saja kok," sahut Alvian yang memegang dengan enteng kecoa tersebut.
"Mama bilang buang! Ini tidak lucu Alvian!" tegas Adara.
"Mama kecoa ini sangat lucu. Mama itu aneh tau," ucap Alvian.
"Buang tidak!" tegas Adara.
"Nggak mau, nih!" Alvian kembali memberikan pada Adara dan Adara yang ketakutan langsung kembali lari. Melihat mamanya yang ketakutan seperti itu menjadi hiburan untuk Alvian. Adara sudah lari-lari menaiki tempat tidur sana sini dan Alvian terus mengejarnya sampai Arhan keluar dari kamar mandi.
Arhan hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya. Adara yang terus menghindari putranya itu menabrak dada bidang dada Arhan dengan kedua tangan Adara berada di dada Arhan dan Arhan yang kaget reflek memegang pinggang Adara yang mana tadi Adara dan dia hampir saja jatuh.
__ADS_1
Bersambung