
Di sore hari. Adara yang ke luar dari Villa yang sedang berjalan-jalan. Meski pernah tersesat. Namun Adara tidak jera untuk keluar dari Villa tanpa ada yang menemaninya.
Tetapi kali ini jalan-jalannya tidak jauh dari Villa yang kebetulan di dekat Villa mereka ada taman bunga yang banyak. Jiwa anak-anaknya muncul yang bisa-bisanya mengejar kupu-kupu dengan wajahnya yang berseri-seri dan kelihatan sangat bahagia.
Karena saking bahagianya dengan lari-lari seperti anak kecil. Membuat Adara tersandung batu dan hampir saja tengkurap. Sangat untung ada Arhan yang tiba-tiba datang memegang ke-2 tangan Adara dan membuat Adara tidak jadi mencium tanah.
Adara membuang napasnya dengan perlahan kedepan dan mengangkat kepalanya. Melihat sosok yang lagi-lagi menyelamatkannya. Siapa lagi jika bukan Arhan.
"Jangan lari-lari," ucap Arhan menegangkan tubuh Adara. Namun Adara salah tingkah dengan menghela napasnya perlahan kedepan dan mengalihkan pandangannya dari Arhan.
Adara juga tidak mengatakan apa-apa yang langsung pergi.
"Mau kembali tersesat!" Arhan mengingatkan Adara membuat langkah Adara terhenti.
"Aku akan menemanimu!" ucap Arhan yang melangkah melewati Adara. Adara tidak protes dan menyusul Arhan. Ya jangan sampai dia kembali tersesat lagi.
**************
Sekarang ke-2nya berjalan bersama. Hanya diam tanpa ada pembicaraan. Baik Arhan yang hanya diam dengan melihat di sekelilingnya dan baik juga Adara yang juga diam.
"Apa itu?" tanya Adara saat menunjuk sesuatu yang bercampur di rumput yang tinggi.
Sangat aneh menurut Adara buah kecil yang banyak rambut-rambutnya yang membuatnya bingung.
"Aku ingin lihat!" Adara langsung mendekati tempat itu dan Arhan juga menyusul Adara.
"Apa ini?" tanya Adara sekali lagi.
"Itu namanya ciplukan," jawab Arhan.
"Apa itu?" tanya Adara dengan dahinya yang mengkerut.
"Itu buah," sahut Arhan yang memetiknya dan membukanya. Lalu menyodorkan pada mulut Adara membuat Adara reflek memundurkan kepalanya.
"Ini makanan?" tanya Adara.
Arhan mengangguk. Dengan keraguan Adara membuka mulutnya yang memakan buah dengan biji hitam-hitam itu yang baru pertama kali di lihatnya.
"Manis," ucap Adara mengecap- ngecap mulutnya.
"Kamu beruntung. Karena ada yang manis dan ada yang tidak," ucap Arhan.
"Benarkah?" tanya Adara. Arhan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku mau ambil banyak," ucap Adara yang sangat bahagia yang langsung memetik buah liar itu. Adara memang sangat random. Namun melihat Adara seperti itu membuat Arhan tersenyum.
"Ini tidak ada pemiliknyakan?" tanya Adara yang terus mengambil buah itu.
"Ini tanaman liar dan paling kamu hanya bersaing dengan burung," ucap Arhan.
"Kok gitu?" tanya Adara.
"Karena burung yang sering memakannya," jawab Arhan.
Adara membulatkan matanya dengan sempurna dan langsung melihat ke arah Arhan.
"Jadi kau memberikanku makanan burung!" pekik Adara dengan wajah terkejutnya.
"Burung suka memakannya," jawab Arhan.
"Lalu sebenarnya ini bisa di makan manusia atau tidak?" tanya Adara memastikan dengan nada suara keras.
"Bisa," jawab Arhan.
Adara melihat Arhan dengan tatapan Adara penuh keraguan.
"Jika aku mengatakan bisa maka bisa. Ambilah jika kamu masih mau makan," ucap Arhan.
Setelah mendapat buah ciplukan tersebut Adara dan Arhan duduk bersebelahan di atas rumput. Mereka istirahat sebentar.
"Apa aku harus mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah di lakukannya," batin Adara yang sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih. Namun Adara masih gengsi untuk melakukan.
"Kita pulang?" tanya Arhan.
"Ya sudah," jawab Azizie.
"Ya sudah ayo. Ini sudah sore," ucap Arhan.
Adara mengangguk dan langsung berdiri. Memang sudah sore hari dan mereka harus pulang.
*************
Akhirnya masa di puncak sudah berakhir di mana Adara dan Arhan yang akhirnya kembali ke Jakarta. Sebenarnya hal ini mendadak. Harusnya ada 1 Minggu lagi untuk Arhan menemani Adara di puncak. Namun Arhan tiba-tiba di telpon Herlambang dan ada yang harus di bahas membuat pasangan itu sudah tiba di Jakarta.
Tetapi walau hanya dengan waktu sedikit berada di puncak. Paling tidak banyak hal yang terjadi.
Adara yang keluar kamarnya sembari memegang ponselnya yang kebetulan berpapasan dengan Bibi.
__ADS_1
"Papa di mana Bi?" tanya Adara.
"Ada di lapangan golf Non," jawab Bibi.
"Oh begitu," sahut Adara.
"Mau Bibi temani ke sana?" tanya Bibi.
"Nggak usah Bi," sahut Adara.
"Baiklah," sahut Bibi yang langsung pergi dan Adara pun sepertinya ingin menemui papanya langsung pergi saja.
Saat ingin sampai ke lapangan golf tiba-tiba Adara berpapasan dengan Lucia yang Baru pulang sekolah.
"Enak banget ya. Ujian tetapi tidak di sekolah. Ujian sambil liburan," sindir Lucia dengan sinis.
"Aku hanya menuruti apa yang papa katakan. Dan aku juga tidak ingin ujian dengan cara seperti itu," ucap Adara.
"Kalau begitu enak banget ya punya papa yang seperti itu. Jadi bisa suka-suka kamu dan aku yang di sekolah harus menjadi korban dengan menjawab semua pertanyaan orang. Karena jika aku mengatakan yang sejujurnya om Herlambang bisa menghukumku. Siapa yang berbuat dan siapa yang harus bertanggung jawab. Kok kamu enak ya jadi orang," ucap Lucia sinis.
"Maafkan aku Lucia. Jika masalahku membuat kamu jadi terlibat. Aku janji tidak akan merepotkan mu lain kali," ucap Adara yang menyadari. Jika banyak orang yang berkorban akibat masalah yang di hadapinya.
"Udahlah nggak usah sok minta maaf. Aku tau kok. Kamu paling senang kan melihat aku seperti ini," sahut Lucia.
"Sungguh itu tidak benar Lucia. Aku tidak mengingat semua itu," ucap Adara.
"Alah Busyyit," sahut Lucia kesal.
"Pokoknya ya Adara. Jika aku harus menjadi korban lagi akibat kehamilanmu. Aku lama-lama akan mengatakan pada anak-anak di sekolah. Biar kamu tau diri," ancam Lucia.
"Aku mohon Lucia jangan lakukan itu," ucap Adara.
"Aku tidak akan melakukannya. Jika kamu berhenti melibatkan ku dan jangan mendekati Brian!" tegas Lucia.
"Apa hubungannya dengan Brian?" tanya Adara.
"Ya pokoknya kamu jangan dekat-dekat dengan Brian. Jika aku melihatnya maka tau sendiri akibatnya ingat itu!" tegas Lucia dengan menunjuk tepat di depan Adara dan Lucia langsung pergi.
Adara hanya diam saja dengan wajah senduhnya yang melihat kepergian Lucia. Adara jadi sedih dengan mengelus perutnya.
"Kehamilan ini membuat orang-orang di sekitarku terus membenciku," batin Adara yang tidak menginginkan hal seperti itu. Tetapi bagaimana lagi Herlambang hanya melakukan semuanya demi melindungi dirinya.
Bersambung
__ADS_1